Ruang Rumpang

Ruang Rumpang
Bu Alea


__ADS_3

Nyatanya hari tidak benar-benar menjadi penawar, nyatanya aku tidak benar benar sembuh dari rasa yang berkecamuk dalam dalam. Aku sering berbicara pada diriku sendiri tentang apakah hari ini aku baik-baik saja? atau hanya sekedar diam dan berbicara dalam hati. Mataku tidak memancarkan arti hidup yang benar-benar hidup.


Aku jadi teringat masa kecilku yang sederhana namun berbuah manis, betapa aku rindu dekapan dan tangan lembutnya, aku menginginkan ibu berada di sini sekarang, atau setidaknya seseorang yang mau menjadi kakak secara suka rela.


Aku tidak sedang berfikir betapa Tuhan memberiku kisah yang tak biasa, Aku hanya sedang menunggu kejutan apa yang Tuhan beri setelah ini?


Aku ingin menjadi sesuatu tapi rasanya sangat berat untuk bisa kesana, apa lagi melawan diri sendiri yang kerap tak karuan.


Hari hari berjalan layaknya kemarin, aku menyelesaikan apa yang harus di selesaikan, mendatangi apa yang harus di datangi dan mendengar hal yang perlu di dengarkan, Aku sedang duduk di barisan paling depan, dan seperti biasanya di belakangku ada Afit yang setia menemani tepat di belakangku. Aku senang menyadari hal ini, setidaknya semua bukan tentang perih, namun juga hal lain yang menyenangkan.


Sebentar lagi waktu mengarahkan jam pulang sekolah, aku hanya menunggu diam tanpa berbicara kepada siapa pun, rasanya kaku, batinku kembali menjadi penakut. Mata ekorku melihat Afit duduk di sebelahku tanpa meminta izin, ia memperhatikanku lama, ia memandangku tanpa bertanya sedikit pun, seakan mengerti, dan hanya duduk manis di sebelahku. Aku tak mencoba untuk menoleh ke arahnya, aku membiarkan ia yang sedang duduk tenang di sampingku penuh tanya, sedang telingaku terus mendengar hiruk pikuk kelas yang ramai sebab guru terakhir tak ada.


Serta sebentar lagi akan pulang. Mataku lurus memandang ke depan sembari sesekali berkedip, dengan terus mengatur nafas yang sesekali terasa berat.


Anak-anak yang lain ramai berteriak membahas datangnya guru baru ke kelas untuk sekedar memberi sapa. Aku cukup bosan menunggu bel pulang akan di bunyikan, sampai pada waktunya rumor itu datang. Guru yang tak pernah terlihat sebelumnya memasuki kelas lantas seakan menyihir suasana menjadi hening seketika. Jiwaku lega karna sebentar lagi akan pulang. Fikiranku tak lain hanya menginginkan cepat kembali ke rumah.


Ia seorang perempuan bernama Alea Sari, berusia setengah abad di kurang 9.125 hari, masih muda, pembawaannya lembut halus, parasnya teduh nan cantik. Ia menggantikan bu fitri yang mengajar kewarganegaraan. Pelajaran membosankan yang tiap peraturannya seakan di buat untuk di langgar. Meski aku belum pernah mencobanya, hanya saja julukan yang terngiang adalah demikian.


Bu Alea melempar senyum kesemuanya, mataku melihat jelas dan aku hanya meresponsenya datar.


Ia meminta untuk satu-satu dari kami memperkenalkan diri untuk lebih mengenal satu sama lain. Urutannya adalah ke arah belakang di mulai dari urutan paling depan dekat pintu masuk, dan aku mendapati urutan terakhir untuk memperkenalkan diri.

__ADS_1


Sesampainya padaku, senyumku tak banyak, lantas memperkenalkan diri tanpa hambatan, dan Bu Alea meresponse baik penuh senyum yang manis.


Aku melihat mata penuh cita di sana, Bu Alea seperti memiliki jiwa yang orang lain jarang punya.


Perkenalan usai, lantas bel pulang terdengar lantang, surga bagi orang orang yang telah lama menanti, saat sebelum pulang, kami semua berdoa dan mengucap salam pulang, lantas keluar satu demi satu dengan menyalami tangan Bu Alea.


Tetibanya aku yang menyalaminya


Bu Alea memujiku pelan.


"Namanya bagus" komennya penuh riang


"Nama ibu pun bagus" jawabku cepat dengan menarik senyum di bibir.


"Lebih tepatnya mengisi laman cerita Bu" jelasku singkat penuh sopan


"Tolong bantuannya ya, besok hari pertama ibu mengajar di kelas kamu."


"(Aku hanya mengangguk sopan den meminta izin untuk pergi lebih dulu)"


Aku melambaikan tangan pada Bu Alea dan menuruni anak tangga dengan cepat, langkah kaki ku pacu lebih cepat tak biasanya, telingaku samar samar mendengar Mayang dkk memanggilku, hanya saja aku berpura pura tak mendengarnya dan terus melaju seperti orang sibuk.

__ADS_1


Aku tak marah pada siapa pun, hanya saja aku merasa tidak seharusnya berbicara pada mereka dengan kondisi jiwaku yang tak stabil. Aku hanya tak ingin menjadi lebih kalut dan merasa lebih bersalah pada diri sendiri, itu saja.


Hari yang terasa hampa dengan Bu Alea yang memiliki mata teduh, jiwaku yang berkecamuk seakan terhipnotis jadi lebih lembut di buatnya, batinku lebih temaram di banding sebelum berjumpa dengannya.


Sesampainya di rumah, aku segera mengganti baju setelah memasuki kamar dan segera menyeduh es kopi capoucino di gelas biasanya, gelas berukir kaktus yang manis, sembari membuka jendela mempersilahkan udara segar memasuki ruangan.


Aku terus memandangi gelas dingin berisi kopi, sesekali ku teguk airnya dan kembali ku tatap lekat lekat, Kaktus yang manis, tak berbunga namun tetap indah. Aku mengetuk ngetuk luar gelasnya sembari tersenyum kadang juga sesenggukan menangis, lantas sebentar lagi menjadi riang. Ku teguk habis kopinya dan menyisakan es batu yang masih banyak, yang ku coba isi ulang dengan air biasa.


Aku kembali melihatinya tanpa memikirkan apa pun, lantas ku minum habis dan menghampiri kasur untuk merebah.


Aku ingin memejamkan mata, jiwaku terasa letih dengan pergulatan asa tak karuan, aku ingin istirahat sejenak, merebah tanpa harus terus berdialog tak ada ujung. Inginku sederhana namun terasa begitu rumit jika harus di jelaskan.


Aku merasa bersalah, merasa tak karuan, merasa kembali takut dan sendirian, rasa ini benar-benar menyebalkan, membuatku lumpuh seketika, lupa bagaimana menjadi riang dan menyenangkan.


Bosan pada kata dan pendapat semua orang, terasa sangat mengganggu dan membuatku risau tak karuan, meski kenyataanya aku adalah penentu untuk diriku sendiri, hanya saja ini terasa sulit, menjadi hal tak mudah, dan aku terus terusan di ambang batas normal yang pada waktu tertentu terasa sangat frustasi.


Suasana rumah hening, dan aku masih terus mencoba untuk bisa tidur dalam dekap kalut yang kadang meninggi dan kadang turun tanpa di pinta, sesekali keyakinan itu mengetuk jiwaku lagi, memberi tahu bahwa semua belum berakhir dan aku terus saja menangis menyadari hal demikian terus terjadi padaku secara random. Citaku masih banyak, inginku banyak yang belum terleasasikan lantas aku tahu batas waktuku amat singkat, semua serba terbatas dan aku perlu cepat bergegas berlari menjauhi kalut yang di dekap asa kuat-kuat


Nyatnya tidak mudah, hingga menguras air mata dan sembab berkali kali yang membuatku kesal dan menginginkan sebuah nama baru.


Bisa saja nama baru memperbarui yang terjadi, lari dari yang sudah ku ketahui dan tak ingin jadi pemikir berat di usia sangat muda, menjadi remaja yang tumbuh sehat dan bahagia.

__ADS_1


Bisakah?


__ADS_2