Ruang Rumpang

Ruang Rumpang
Mari Benahi


__ADS_3

Hei, pada waktu yang tidak pupus menyajikan suasana haru juga membahagaiakan. Teruntuk Hari yang terus bergulir membawa teman juga cerita baru yang tidak pernah bisa di tebak. Bisakah Kita berjalan beriringan tanpa membuatku merasa begitu kehilangan sesuatu yang sebenarnya dari awalpun sudah tidak di takdirkan untuk ku?


Hei, Aku berbicara pada kalian yang tidak pernah ku lihat, Namun hadir tiap aku mengalami banyak tekanan, perasaan takut akan hari esok dan masih banyak lagi. Merasa tidak aman sebab tidak mendapati pelindung.


Merasa kehidupan saat ini tidak semanis kehidupan orang lain yang di taburi aman, hangat, juga cinta selegit kueh lapis.


Apa kalian dengar?


Aku tidak mahir banyak hal, bisakah kalian membuatku hebat di kemudian hari? aku merasa sangat kecil dan tidak berguna hari ini. Terasa dunia begitu sempit dan berpihak. Aku benar-benar merasa sendirian di tengah banyak manusia yang berlalu lalang setiap hari. Dengan hidup yang berjalan amatir dengan kisah tidak sempurna.


Apa kalian Paham?


Meski apa pun yang tidak bisa di ulang, bisakah berkerjasama membuatku merasa di jaga? tidak selalu ketakutan pada esok yang sebenarnya bisa membawa pergi menari di atas lara? bagaimana aku bisa yakin secara menyeluruh jika aman saja terasa kurang?


Bagaimana aku bisa menjadi tidak penakut setelah menyadari semua yang sama sekali tidak berpihak pada diri?


"Ayolah, Aku juga ingin hebat terbang dengan sayap tanpa ketakutan akan jatuh!!!" Teriakku pada percakapanku dengan mereka.


"(Hening , mereka tetap diam)"


"Baiklah, aku yang akan menjadi kuat, kalian akan lihat" Timpalku cepat menyadari tak satu pun dari mereka menyahut.


Kini masih pagi masih buta, hanya berjeda dari hari kemarin saat aku tak masuk sekolah. Lantas hari ini aku perlu memperbaiki sakit juga hari yang sudah terlewat.


Jam dinding menunjuk pukul 5 sore dan aku mulai siap-siap datang ke sekolah dengan harapan baru, meski kecil, atau bahkan belum bisa di lihat sama sekali.


Tidak ada wajah yang di lipat atau emosi yang tidak bisa di kendalikan, sadar bahwa semakin hari menyajikan banyak cerita tidak di duga. Tugasku hanya bersiap dan menjadi bijak di dalamnya. Menjadi pemeran yang mahir membaca keadaan.


Hei hari, mari kita saling berdampingan, kamu akan terus mengikuti suasana hatiku, kini bisa ku pastikan bahwa semua akan terasa biasa saja untuk rasa yang katanya dulu sangat menyakitkan, aku akan mengambil alih mengontrolnya, dan kamu harus bertepuk tangan untukku atau setidaknya mari membuat kisah bersama dengan plot yang menakjubkan.


Meski aku menegerti ini bukan hal yag mudah, bangun dari kelumpuhan yang mulai menjalar, lantas menjadi mahir berjalan, berlari dan sebentar lagi menari dengan lihai.


Kini hari sedikit berembun sebab mentari tak kunjung datang, hawa mendung tercium jelas lewat udara yang ku hirup. Mari melangkah, langkah kaki pertama dari rumah dengan pakaian rapih. Aku mengetahui bahwa Tuhan tidak pernah pergi, pasti Tuhan membuatku aman kali ini dan seterusnya.


Perjalanan menuju sekolah


Berjalan menyusuri jalan yang sama dan tersenyum menepuk bahu sendiri, mengingatkan diri sendiri adalah yang paling utama menopang rasa sakit, terus melaju meski pendarahannya masih bisa di rasa. meski juga tidak dapat di lihat banyak mata.


Tepat di gerbang sekolah, Deru angin menyambut pelan, mengenai jaket marun ku yang hangat, aku membalasnya penuh senyum, lantas mengangguk kecil, memberi isyarat bahwa aku tahu ia menyambutku penuh suka cita.


"Pak Bin" Sapa ku sembari melambai ke arahhya saat melihat beliau membersihkan sekolahan


"Iyaa" Jawab Pak Bin riang

__ADS_1


"Mau teh atau kopi?" Ujar pak Bin memberi tawaran


"Kopi pak" Jawabku dengan senang hati


Aku duduk di teras depan pak Bin, sembari memilih kopi sachet yang ku mau, yapss betul kopi Capuccino.


"Biar Arum saja yang menyeduhnya pak" Pintaku


"(Pak Bin hanya mengangguk senang menyetujui)"


"(Air Panas ku tuabgkan di atas bubuk kopi yang sudah ada di gelas)"


"(Aromanya sangat khas, membuat candu tiap kali menyeduhnya)"


"Kopi, wanginya selalu enak ya pak?" Tanyaku sembari basa basi pada Pak Bin


"Memang, menurut pak Bin juga begitu" Timpal pak Bin cepat penuh sumringah


"Arum kemarin tidak masuk ya?" Tanya Pak Bin


"Iya, kok Bapak bisa tahu?. Tanyaku penasaran


" Murid paling pagi dan rajin berangkat sepagi ini siapa lagi kalau bukan Arum?" Jawab pak Bin sembari bertanya balik padaku


"Masa sih pak? Iyakah? Sepertinya memang iya sih" Jawabku dengan tawa renyah


"( Pak Bin ikut tertawa renyah dengan suara tuanya yang khas)"


"Kemarin bapak sisakan satu roti untuk Arum, hari ini juga ada satu. jadi ada dua buat sarapan Arum hari ini" Jelas Pak Bin sembari menyerahkan roti padaku


"(Aku tercengang seakan tak percaya)"


"Ini untuk Arum?" Tanyaku ulang


"Iya, bapak kalau ada lebih teringat Arum, sebab Arum Suka" Jawab Pak Bin senang sembari tawa


"Aku pun ikut tertawa"


"Ihh Arum senang pak, Makasih ya pak" Jawabku riang


Bukan soal makananya , namun bentuk ingatan yang luar biasa bahwa beliau ingat aku menyukainya, rasanya tembok yang tadi retak mulai terbenahi, hati mulai menerima cinta yang terlihat sederhana, namun begitu berdampak untuk aku yang ingin pulih dari pesakitan. Obrolanku terasa mengasyikan dengan Pak Bin, terasa sangat hangat dan nyaman. Hari terasa di awali dengan sangat baik.


Aku berpamitan dengan pak Bin untuk memasuki kelas, lantas pak Bin mempersilahkanku dengan hangat, pagi dengan secangkir kopi dan roti. Nikmat sekali rasanya.

__ADS_1


Sesampainya di kelas, seperti biasa kelas masih sangat sepi. Mungkin 20 menitan lagi akan menjadi ramai. Aku duduk dan bersandar di dinding penuh lega, Berhasil membawa diri untuk terus melanjutkan hari, dan tidak menjadi sesal sebab hari lalu.


Ku putuskan untuk meneruskan cerita si "Pelancong Tawa" , sebab minggu ini tetap harus berjalan dan berhasil di baca oleh penikmat kata. Aku menulisnya di Bab selanjutnya tentang hubungan yang sangat rumit dan luka tak biasa. "Nay dan Dimas Arundaya" yang terus mencari celah bisa menjadi satu kisah di harapan hati mereka masing-masing. Meski dari cerita, terlihat seperti ada yang salah tentang betapa waktu tidak meemberi kesempatan mereka memilih bersama atau tidak? namun waktu memperlihatkan seakan mereka tidak untuk terus berlanjut.


Di tengah asik menulis, tiba-tiba,


"Dorr" Kaget Afit padaku dengan senyum mengembang


"Cie jam baru" ledeknya kearahku


"Dari kamu kan" Jawabku manis kearahnya


"Kok tidak kaget?" Timpal Afit cepat


"(Aku hanya tersenyum meledek kearahnya)"


"Aku bawa nasi goreng" Ujarnya sembari memperlihatkannya padaku


"Bagaimana jika aku suapi makan?"


Tawar Afit senang hati padaku


"(Aku hanya tertawa menahan geli, melihat tingkahnya yang seakan mencari topik bicara sepenuh hati)"


"Baiklah, ayo suapi" Jawabku manis kearahnya


"Hah, serius???" Tanya Afit balik penuh tak percaya


"Iya" Jawabku meyakinkan


"(Ia menyuapiku penuh gemetar)"


"(Aku pun jadi meledeknya sejadi jadinya)"


"Mau ku suapi? eh eh eh gemetar tangannya" ledekku padanya dengan terus mengunyah dan tertawa ke arahnya.


"Hei, Afit aku tidak sakit, biar aku makan sendiri" Ujarku padanya sembari meraih sendok


"(Ia hanya tersenyum nyengir kikuk melemparkan pandangan ke arah lain)"


Kami terus berbincang sampai jam masuk kelas berlangsung, lantas istirahat dan ya, jam pulang adalah hal yang sangat menyenangkan, bertemu teman-teman baikku pulang bersama. Singgah di salah satu rumah dan mulai menggibah.


Aku sangat menikmati pemulihan hari ini.

__ADS_1


Akan terus berlanjut, sampai pada akhirnya mahir menjadi hal yang ku dapat.


__ADS_2