
Pagi telah sampai,
Aku bangun dan menyadari leherku sakit luar biasa, lantas rasa lengket yang tak karuan pada siku tangan.
"(Aku menghela nafas)"
"(Lantas aku tersenyum)"
Aku tertidur pada meja yang keras dan mengabaikan empuknya kasur, lantas melupakan es buah yang kali ini sudah tumpah sebagian sebab tersenggol tangan tanpa ku setting. Pastilah rasanya sudah berubah, tak enak untuk di makan, pada akhirnya, ia terbuang tanpa sempat termakan. Namun, rasanya ada senyum yang sampai pagi ini, dari pegalnya leher dan lengketnya es buah yang tumpah sebagian. membuatku mentertawakan diriku sendiri. Seperti waktu sedang meresponse tanyaku yang tak biasa sebelum tertidur semalam. Seperti ia memberi tahu, bahwa pada hal yang tak biasa dan tak sengaja banyak hal yang bisa terjadi meski awal terfikirkan mustahil. Aku merasa waktu sedang menepuk nepuk pundakku dan menguatkan, bahwa ia juga ingin bertemu denganku pada sesi yang ku mau.
Sesi hangat yang tak bisa beku.
Aku tersenyum kecil pada batin, dan memperbaiki keadaan yang ada.
Hari ini, waktu datang dengan anginnya yang dingin, setelah sekian lama pagi di selimuti cahaya mentari yang kelewat hangat. Sepertinya dunia mulai berubah, iklim cuaca tak lagi bisa di tebak secara akurat meski katanya dunia semakin canggih dengan alat alatnya. Sekali lagi mau Tuhan tak ada yang bisa tau, terjadi secara normal dan begitu saja, kadang perkiraan tepat, kadang jauh dari perkiraan, meski berita Tv mengatakan pagi cerah, nyatanya pagi ini mendung jadi juaranya.
Tapi aku menyukainya, menyukai mendung dan hawa udara yang di bawanya, seakan kita adalah teman. menyukai tanpa sebab bagaimana bisa terjadi. meski kadang angin kerap datang, yang darinya aku jadi kurang menyukainya juga.
Mataku tepat di depan cermin setelah mandi dan bersolek rapi. memandangi jilbab putih yang terlihat cerah. seperti mataku yang kali ini terlihat sedikit merona. sebentar lagi kesekolah, dan aku akan menyusuri jalan yang sama lagi untuk kesekian kalinya.
Tepat di depan gerbang sekolah, hawa dingin terasa menyambut, menyusup pada kulit. hanya saja ia hanya sampai pada jaket rajut marun ku yang tebal, semoga ia tak kesal, "hahahaha" tawaku dalam hati
Suasana sekolah tak ada yang berubah, tetap sepi di jam 06.30 WIB, sepertinya datang tepat pada waktu masuk sekolah jauh lebih di senangi, lantas asik jadi cerita dengan berbaris di depan saat upacara. mereka boleh memilih kisah yang akan di ulang nantinya. Dan aku akan menceritakan kisah ini sebagai pasang mata yang kerap melihat beberpa teman yang telat dan tetap senang meski harus berjalan jongkok dan bersih bersih setelah upacara. Mungkin itu cara hidup sehat mereka yang sedikit extream sebab tak sempat lari pagi.
Kali ini giliran kelasku yang bertugas.
Seperti biasa dan tak berubah Aku sebagai pembaca jalannya runtutan upacara, berbagai alat dan segalanya sudah tertera rapih di kelas, menunggu di ambil oleh masing masing orang sesuai tugasnya.
Bel tanda upacara akan segera di bunyikan oleh guru piket, dan saat itulah doa doa "agar turun hujan" terdengar dan berdesakan menuju langit, hatiku tertawa geli mendengar kekonyolan ini selalu terjadi, mengamati betapa sangat tiba tibanya seluruh orang mendadak relegius sebab upacara hari senin.
Aku hanya menyusuri tangga dan memakai almamater kebanggan sekolah,
Warna Hitam yang sudah di setrika rapi.
__ADS_1
Terlihat licin dan serasa elegan.
Aku dan teman teman yang bertugas sudah lebih dulu ambil start untuk mengambil posisi di lapangan, sembari memperhatikan kelas kelas lain turun dan berbaris, melihat betapa sulitnya guru piket harus meneriaki mereka yang di balas lucu lucuan lantas jadi geram sendiri, sebab waktu terus berjalan.
Akhirnya usai juga, drama hari senin dan memulai upacara dengan harapan dapat di lakukan dengan hikmat. Dan kini tugasku untuk memulainya. Hatiku terenyuh menyadari bahwa aku menyebut hari dan tanggal hari ini pada pembukaan upacara. Ini adalah hari kelahiranku, mana mungkin aku bisa tidak menyadarinya? Aku merasa uban kini siap mengantri untuk menjadikan putih warna rambut.
Hatiku berdebar seketika, kini semakin menua pada hari yang tak berhenti berjalan. sembari mataku melihat beberapa orang datang telat dengan dangangan es mambonya yang di letakan di ruang guru, beberapa lagi datang telat tanpa membawa tas, dan sebagian datang dengan baju basah di punggungnya.
Aku merasa mereka sudah berusaha untuk tak telat, dan menjadi disiplin semampunya, hanya saja kadang tuntutan hidup lebih berat untuk mereka bisa memilih, atau meski kadang masuk orang orang yang sengaja menjadi telat sebab kesiangan nonton bola di tv, ini akan jadi cerita ramai usai barisan upacara bubar. dan tempat singgah awal setelah bubar adalah kantin, bukan kelas dengan meja dan tempat duduk rapi. hal ini sering terjadi, sangat relevan menggelitik, lucu dan nyata. meski guru piket sudah berjaga tetap saja terjadi dan jadi bahan cerita setelah sampai kelas.
"Padahal aku sudah berdoa sungguh sungguh agar hujan,tapi takdir sedang tak berpihak" gerutu teman temanku bersahutan, aku hanya tertawa terkekeh kekeh dan duduk dengan santainya.
"Siapa tagu sebentar lagi hujan?" Celetuk ku menimpali agar mereka tak putus asa
"Aamiin, setidaknya bisa hujan hujanan sebentar" timpal mereka yang rata rata anak laki laki.
"Jangan, nanti malah kena hukum cuci motor" timpal teman teman perempuan yang lain.
Perbincangan usai, dan rencana pun di skip untuk di bahas kelanjutannya. sebab guru olahraga sudah datang mengisi kelas, kebetulan jam pertama adalah olahraga, maka kami di beri waktu 15 menit untuk ganti baju dan bersiap siap.
Meski bukan hadiah yang di harap, hanya saja setidaknya doa dan ucapan yang di dengar jauh lebih cukup.
Kami sudah siap dengan baju seragam seperti biasanya, Sesi olahraga sebentar lagi akan berlangsung, dan doa agar turun hujan juga tak henti hentinya di langitkan serentak kompak dan ramai ramai. Kecuali aku yang hanya geleng geleng dan tertawa geli mendengar dan melihat mereka.
Suara geluduk terdengar, hawa dingin mulai terasa, kilatan kilatan cahaya di langit mulai terlihat tiba tiba, seakan doa mereka sedang di proses dengan baik. Senyum kegirangan mereka mengembang yakin bahwa akan turun hujan.
Gerimis datang saat kami sampai di aula lapangan sekolah. anak anak laki terlihat spontas berteriak senang bahwa sebentar lagi akan hujan, aku tertawa terpingkal pingkal dan kami para perempuan hanya tertawa ikut senang. sepatu yang tadinya terpakai manis di kaki pun segera di lepas dan siap menunggu gerimis jadi hujan yang cukup deras, meski peringatan untuk masuk ke kelas lagi sudah terdengar tetap saja tak mempan.
Guru kami hanya geleng geleng dan ku lihat kembali ke ruangan guru dengan mengambil seduhan kopi.
"Kalau waktu bapak habis, kalian harus sudah selesai ya, entah bagaimana caranya sudah bisa mengikuti pelajaran selanjutnya" Ucap pak Randy dengan kepala botaknya yang terlihat semakin licin.
"Iya pak siap, terimakasih pak" Ucap mereka senang.
__ADS_1
Sedang kami para anak perempuan kembali ke kelas dan memilih untuk duduk saling berdekatan dan berbincang bincang, mengobrol banyak hal sembari makan.
dan menyalin PR untuk pelajaran kedua.
"Terimakasih ya Rum, untuk contekkannya." Ujar mereka gembira.
Aku yang di samping mereka hanya mengangguk dan mengatakan "Iya".
Hujan di luar kelas terdengar cukup lebat, dengan sesekali gluduk dan kilat yang hampir bersamaan datang. Aku hanya berfikir apakah sahabatku akan mengingat hari ini? fikirku masih terus menebak dan asik dengan lamunanku yang seru bersama hujan.
"Jaket rajut marun yang hangat" Pikirku senang mengetahui saat ini udara tidaklahh hangat
Waktu kian habis dan keributan mulai terjadi sebab baju anak laki laki yang basah, kelas kini benar benar becek dan menimbulkan anak anak permpuan mengomel bak emak emak di rumah melihat lantai kotor dan basah. Aku hanya tertawa menyaksikan ini.
"Biasa sajalah, lihat Arum saja dari tadi senyum senyum tak marah marah seperti kalian" ujar Hapidi dengan celotehnya membela diri
"Karna hari ini bukan piketku" jelasku dengan tawa terbahak bahak
"(Semua anak laki laki pun tetawa, dan mereka yang piket sedikit menggerutu dan kesal)"
Jam terlewat begitu saja, celana basah masih di kenkan dan pentas kedinginan terjadi di kelas yang masih di selimuti hawa dingin, meski hujan sudah pergi.
Hari yang terasa beruntung sebab tak ada guru yang mengisi setelah jam olahraga usai sampai pulang sekolah. Bagaimana tak beruntung? sebab mereka tak akan kena omel dengan guru guru setelahnya.
" Kali ini mereka lolos " pikirku dalam batin dengan tawa kecil.
Hari semakin sore tapi aku tak kunjung mendapati mereka yang ku sebut sahabat, atau teman dekat.
Aku sengaja menghampiri kelasnya, tapi tak ada yg bisa kutemui seorangpun dari mereka. Bahkan aku sengaja menunggunya dekat gerbang agar bertemu, hanya saja itu sia sia juga. Aku memutuskan untuk pulang dan berdiri pada cermin lantas mengucapkan "selamat ulang tahun diriku" Ujarku sedikit miris. tadinya aku berfikir akan menghabiskan waktu dengan mereka. tapi yasudahlah, tak apa.
Aku masih menunggu, mungkin mereka sedang menyiapkan sesuatu. namun waktu kian semakin larut dan membawaku berhenti menebak nebak lantas tertidur.
Hatiku datar dan mataku mengatup sedikit nanar.
__ADS_1
"Semoga hari hari mu semakin baik Arum Nuray", ujarku pada diri sendiri sebelum terlelap.