
Pada bagian hari yang retaknya tidak bisa di hindari, juga sama halnya kepada siapa, kita bisa menjadi sakit hati.
Bahkan ku bilang ini luka pikiran, sebab ingatan yang tidak kunjung pergi, memutarkan banyak ingatan lama.
Yang tidak pernah menyenangkan.
Ku telan getir ini bulat bulat, tidak memberinya kesempatan bernegosiasi pada hidupku hari ini. Rasa yang seharusnya di tiriskan dari cemas dan takut berlebih.
Bangkit dari kelumpuhan memang lah sulit, hal yang tidak mudah. Terasa tidak bisa berjalan karena dunia terasa sangat sempit, atau bahkan seperti tidak tersedia tempat untuk seorang aku. Andai seseorang yang tangguh ada di sebelahku, mungkin ruangan ini akan jauh lebih ada warna. meski bukan seluruhnya berwarna.
Ku gantung semua impianku pada paku yang menancap di dinding kamar. Berjejer random memenuhi dinding. berjejeran dengan coretan makian yang ku susun rapih, untuk memaki diriku yang bodoh dan lemah kala itu.
Tidak seharusnya aku memaki diri sendiri.
Aku tersenyum menyadari perpaduan hasrat ingin naik terbang tinggi dan hujan serapah kala aku merasa hilang arah.Ruangan ini, kamar yang selalu ingin singgahi kala usai berpergian jauh. Ingin cepat kembali pada ruangan ini untuk meluapkan apa yang menjadi beban.
Ku sebut ini Ruang Rumpang.
Ruangan yang belum sempurna. Banyak harapan dan cita yang ku susun dari sini, meja belajar coklat, kursi tua yang menopang badan, mempersilahkan ku duduk menulis semua ingin, juga cita di kemudian hari, bahkan tempat aku mengharap semua doa terkabul sebelum terlelap dan bangun di pagi harinya sebagai pemeran yang ulung lagi mahir.
Betapa aku sudah tumbuh.
Bersamaan dengan banyak luka yang mengakar semakin kuat lagi jelas.Lantas aku yang berdiri lebih kokoh, sebab akar yang lainnya, untuk cita juga cinta yang buram hari ini. Aku menyebutnya Rumpang, hal yang belum terpenuhi secara menyeluruh, hal yang belum sempurna sama sekali. Membuat aku menjadi terbiasa juga memliki pikiran lebih sensitif pada segala sesuatu.
atau mereka sebut aku terlalu terbawa perasaan.
__ADS_1
Aku seperti sedang duduk di ruang kosong
di mana melintas semua hal yang sudah berlalu, bahkan yang sempat ku lupa, berlarian tertawa, aku yang kecil suka bersepeda dan kerap menangis sebab pernah jatuh darinya. Ada Ibu dan Ayah yang sigap kala itu,
Aku tersenyum dari sini melihatnya.
Mereka berlarian bergantian, tawa bahagia, sampai pada duka dan membuat semua warna menjadi abu-abu.
Aku melihat kamuflase diriku yang lalu di sana. Penuh amarah dan tangis tanpa henti. Kami bertengkar hebat
"PRAKKKK!!!" Bunyi pecahan piring hari lalu, terdengar jelas saat ini di telingaku. Aku melihat diriku yang ketakutan dan berteriak kala itu.
"CUKUP BERHENTI" Teriakku sembari memegangi pisau, lantas jalan memundurkan diri, meninggalkan ruangan dan berlari keluar rumah. Aku mengikuti diriku yang berlari. Aku menemuinya penuh kalut di tepi jalan sepi di bawah lampu tiang yang redup. Betapa aku hancur saat itu. Memikirkan hal terburuk untuk bisa lari dari cerita yang tidak ingin ku jalani.
Sekarang, Aku melihat diriku hari ini, betapa aku sudah melakukan banyak hal agar bangkit dari lumpuh yang memikat erat. Betapa tidak mudah berjalan sampai detik ini. Dengan semua warna yang bisa terkumpul untuk cita yang masih berbentuk harapan dan do'a.
Mencoba menata ingatan yang sakit pada tempatnya. yaitu untuk di maafkan secara berkala. Sebab yang terpenting adalah bagaimana hari ini, bisa berlangsung menuju seterusnya. Aku menghela nafas panjang dan membuka mata. Menyadari Ini duniaku, hal yang nyata dan masih berlanjut, bukan diam dan terjebak pada rasa sakit hari lalu.
Ku sebut ini Ruang Rumpang.
Dimana Segala asa bisa menjadi mungkin, di dalam ruang yang belum sempurna dan saling menyapa bergantian. Membentuk ingatan baru setiap harinya dari ruang yang tadinya tidak terisi, mengisinya dengan harap dan doa, dimana yang di inginkan adalah Tuhan mendengarnya. Bercerita tentang betapa baiknya Tuhan padaku, padamu, pada kita. Sebab ku rasa, masalah adalah kebaikan yang belum pernah di ketahui pastinya. Bukankah Tuhan maha segalanya? Meski begitu, pada kenyataannya, aku masih menjadi penakut sampai detik ini.
***Aku menghela nafas panjang ***
*** Sekali lagi menarik nafas panjang ***
__ADS_1
*** Lantas aku tersenyum perlahan ***
Tidak ada sakit yang begitu berarti, bahkan sepertinya aku sudah terbiasa olehnya, harusnya aku menjadi mahir sebabnya.
Ini adalah hari libur yang selalu di nanti, merebah pada kasur bisa sesuka hati, sembari menikmati udara pagi yang berembun.Membuka jendela dan melihat terang perlahan semakin naik membawa basahnya embun menguap.
Aku masih sedikit mengantuk, dan mencoba menyeduh teh hangat di gelas putih bergambar kaktus kecil, mungil dan lucu. Aroma teh serbuk yang selalu khas, membuat segala gaduh permisi menjadi hening yang damai.
Aku menikmati tiap tegukkannya yang seakan mendekap hangat. Pikiran kalut dan takut sedikit terangkat bersamaan dengan tegukan teh tanpa gula.
Aku kembali menghampiri kasur dan selimut yang sedari tadi memanggilku untuk merebah lagi, aku tersenyum dan menghampirinya bahagia, merebah dan memporak porandakan kasur mendekap guling, memakai selimut untuk mengusir hawa dingin pagi yang menyusup masuk dari jendela. Membuat kantuk seakan semakin berat.
Dan membuatku paham, bahwa seperti inilah nyatanya sebuah hidup, pikiran yang lebih sering tidak tenang, juga waktu yang tiba-tiba membuat dewasa secara paksa.
Aku tersenyum lebar ke langit-langit kamar penuh gantungan bintang kecil dari sedotan, indah, menjadi pengingat bahwa terbang menghampiri keindahan bintang jauh lebih memukau di banding merebah tak melakukan apa pun. maksudku menuju cita yang masih semu lebih baik, dari pada tidak melakukan apa pun.
Ah iyaa benar, tentang cita.
Aku yang lahir dari ingatan penuh pesakitan.
Memiliki banyak ingin dan harap yang ingin di raih, meski aku sering merasa mustahil jika yang di bahas adalah cinta, sebab hangatnya pun aku lupa. Tentang senyuman manis dan dekapan pagi dari seorang Ayah, atau kecupan manis bangun tidur dari ibu yang sangat di rindu datangnya.
Atau menyadari, bahwa aku yang penuh kesepian sebab memilih tak memiliki banyak teman? , entahlah namun bagiku seperti ini cukup menyenangkan, mempercayai 4 teman dari sekian banyak teman yang bisa ku temui di sekolah, yang bisa saja mereka adalah pembohong ulung. Ya benar, mereka yang mencintaiku tanpa syarat. Nunu, Sabil, Wintari, dan Mayang. Ah iya mereka selalu hadir di duniaku yang buram. Memberi tawa pada ruang yang belum sempurna. menjadi pelengkap ruang yang rumpang. Namun kadang aku juga lupa akan hal ini, hingga sering, waktu menyudutkan ku, seakan aku hanya sendirian.
Lantas aku mulai terbawa suasana angin yang dingin, ingin kembali tertidur menikmati hari libur yang sudah di nanti-nanti. Merebah pada hari yang terasa lelah, lantas bertekad menjadi lebih baik setiap harinya.
__ADS_1
Ini menyenangkan.