
Pagi kerap datang dengan surya nya yang amat menarik dan banyak di rindu penduduk bumi. Aku melangkahkan kaki untuk menyusuri jalan yang sama. Tak sengaja aku berpapasan dengan Afit dan untuk pertama kalinya aku pergi sekolah dengannya. Ia membawa sepeda seperti biasa hanya saja ia menuntunnya dan tidak memberi tawaran tuk memberi tumpangan.
"(Ia tersenyum ke arahku)"
"(Aku mengabaikannya, Pura-pura tidak tahu)"
"Arum terlihat cantik" ujar Afit saat sudah di sampingku
"Akan jauh lebih cantik, jika Afit memberi tumpangan" jawabku meledek ke arahnya
"(Ia tertawa sumringah)"
"(Aku memandangnya keheranan)"
"Bosan naik sepeda terus, maka dari itu jalan." Jelas Afit sembari terus jalan di sampingku
"Bisa saja" Jawabku singkat dengan nada mengejek
Langkah kami terus melaju beriringan, angin menerbangkan pilu membawa angin damai, tepat di sisi Afit hatiku lebih teduh. Bibirku tersenyum kecil lantas mensyukuri rasa yang kali ini hadir. Betapa sangat sederhana dan manis, energi tambahan untuk terus bangkit dari keterpurukan.
Badanku sedikit terasa tak enak, sedikit hangat dan sakit pada tenggorokan, Afit terus berbicara sepanjang jalan, dan aku hanya melemparnya senyum dan diam.
Rasanya di tenggorokan seperti radang, lantas angin terasa menerpa tak biasa membawa hawa mual. Dan aku masih berjalan di samping Afit. Tidak seperti biasanya badanku seperti ini. Aku tak banyak bicara padanya dan sesampainya di kelas, aku sangat lega sebab bisa duduk dengan aman. Afit memandangku lekat-lekat lama, lantas aku tak begitu menghiraukan, suhu badanku kian meningkat, kepala mulai pusing hingga aku memutuskan merebahkan kepala pada meja.
"Ayo kita pulang" Jelas Afit tiba-tiba
"(Aku hanya memberi isyarat gelengan kepala dan kembali merebah pada meja)"
"Ayo kita ke UKS setelah itu pulang. " Pinta Afit sekali lagi
"(Aku hanya diam)"
"(Aku membenarkan duduk ku dan melihat Afit sembari tersenyum)"
__ADS_1
"Kamu bawa bekal nasi goreng?" tanyaku sepontan
"(Afit mengangguk)"
"Ayo ke UKS bawa juga makanannya" jawabku pelan
"(Afit tersenyum)"
"Jangan menitah jalanku ya, aku bisa jalan sendiri" Jelas ku padanya
"(Afit mengerti dan hanya mengangguk lantas berjalan di belakangku)"
Aku telah sampai di ruang UKS dan melihat Afit kembali pergi untuk lapor ke guru piket bahwa aku sedang tak enak badan. Afit kembali masuk dan meletakan sekotak nasi goreng. Aku tersenyum melihatnya, rasanya sangat damai sampai pada relung batin.
"Afit bisa pergi tuk mengikuti pelajaran" Jelas ku padanya
"(Afit hanya mengangguk dan mengambilkan kotak obat di lemari) "
"(Aku tersenyum dan mengucapkan terimakasih padanya)"
Setelah kepergiannya, Aku berbaring pada kasur yang di sediakan dan memejamkan mata, suhu di badanku kian meningkat dan aku cukup tenang mengetahui ini.
Guru piket kali ini adalah Bu Alea, ia terlihat teduh dan santun. ia tersenyum tenang sembari menghampiriku perlahan.
"Hai Rum? " Sapa Bu Alea sembari duduk tepat di samping ranjang
"Maaf ya bu" Jawabku pelan
"Maaf untuk apa? " Timpalnya cepat
"Sebab Arum perlu merebah sebentar, sedang Bu Alea duduk di samping, rasanya jadi sedikit canggung dan khawatir tidak sopan" Jawabku pelan sembari memandang matanya
"Tidak apa Rum, sudah seharusnya seperti itu" Jelas Bu Alea lembut
__ADS_1
"(Aku membalasnya dengan senyuman yang tak kalah manis) "
Setelah diam beberapa saat, terasa badanku jauh lebih membaik, ku putuskan untuk duduk dan memakan nasi goreng buatan Afit, enak sekali, setiap suapannya membawaku ke masa yang sangat di rindu, aroma khas, nasi goreng tanpa kecap, bau rempah-rempah pilihan, telur ceplok mata sapi, rasanya seperti buatan tangan ibu, mungkin ini sebabnya aku terus menginginkan nasi goreng yang Afit buat. Dan ku lihat Bu Alea sedang mengontrol semua kelas memastikan semua dalam keadaan baik-baik saja, setelah kembali ke UKS aku mencoba menawarkan nasi goreng buatan Afit tuk Bu Alea makan.
"Untuk Bu Alea, Arum sudah pisahkan setengah. " Tawar ku sembari menjelaskan dengan singkat
"(Bu Alea tersenyum anggun dan duduk di depanku memakan nasi gorengnya)"
"Hmmm sangat enak." Jelas Bu Alea padat
"Afit yang memasaknya Bu" Jawabku bangga
"Wahh... suatu hari bisa di jadikan bisnis ini ya?" komen Bu Alea sepontan
"Arum Rasa juga seperti itu" Timpalku cepat
"Arum sudah membaik? tanya Bu Alea
" Sudah, nanti setelah jam istirahat bisa kembali ke kelas Bu." Jawabku dengan riang
"Syukurlah" Jawab Bu Alea lembut
"(Aku hanya mengangguk dan merekam adegan senyuman terakhir Bu Alea)
Ini seperti senyuman yang setiap kali Ibu berikan padaku, sangat persis, dengan rasa syukur bangga dan senyuman yang teduh, Ahhh aku harap ini hanya sebuah halusinasi yang tidak seharusnya ku lihat dan mengingatkan ku pada beberapa hal yang sebelum ini pun aku tidak mengingatnya. Hal yang kembali terulang pada cerminan orang lain. Tapi aku pun tidak menampiknya sama sekali bahwa sebetulnya aku merindukan momen bersama Ibu dengan segala ingatan yang terpotong potong. Kesal ku rasanya kalah dengan rasa inginku pada rindu yang sebenarnya jauh lebih besar. Meski hal demikian hanya terlintas pada diri orang lain, namun ini jauh lebih cukup untuk meredam kesal yang kadang ingin menjadi paling utama dalam setiap rasa. Aku menyadari ini dan mensyukurinya.
Semua yang Tuhan beri adalah tepat bahkan selalu lebih manis, Aku senang menyadari bahwa masakan Afit mampu membawa perasaanku jauh lebih baik tiap kali memakannya, dan melihat jawaban singkat Bu Alea dengan senyuman teduhnya membuatku merasa beberapa saat Ibu ada di depanku untuk mengatakan secara langsung. Semua indah, tidak ada yang bisa di tampik dengan sangkalan apa pun, meski terkadang emosi tak terduga kerap datang dan membuat tatanan rasa dalam hati naik turun tidak terkendali.
waktu istirahat telah usai,
Aku kembali ke kelas dengan rona wajah yang jauh lebih ceria, aku duduk di sebelah Afit sembari merapihkan rambut yang panjang.Dari ekor mata, aku bisa melihat bahwa Afit tersenyum ke arahku penuh lega, matanya seperti telah mendapati apa yang hilang. Ia menyarankan agar aku memakai jaketnya, dan sepanjang pelajaran di mulai semuanya normal dan sangat manis, Aku mendapati bahwa matanya sebentar sebentar mengecek keadaanku dan kembali fokus ke depan tanpa tanya, semua membuatku merasa seperti di perdulikan, ini membuatku tidak lagi sendirian untuk beberapa saat setelah sekian lama aku merasa benar-benar sendiri. Jam terlihat sangat cepat melaju hingga mengantarkan kami pada jam pulang kembali ke rumah dan saat perjalanan pulang, Afit turun lebih cepat menyiapkan sepeda di depan gerbang menungguku, sungguh ini membuatku sangat terharu, Aku naik di belakang tepat di boncengnya menyamping, tidak ada obrolan yang berarti di jalan, hanya saja rasanya hati damai ceria yang tak bisa di ungkapkan. Ia menurunkan ku dengan lembut dan melambai pulang dengan senyuman teduh, aku pun membalasnya dengan terimakasih dan tersenyum ke arahnya.
Tepat pukul 2 siang, rumah masih sangat sepi dan aku sedikit menghela nafas berat lantas lanjut pergi ke kamar untuk merebah dan menyeduh es kopi setelahnya.
__ADS_1
Pikirku "semua akan baik baik saja" asal aku sebagai pemeran tidak berhenti dalam segala hal.