Ruang Rumpang

Ruang Rumpang
Melaras Senja


__ADS_3

Entah bagaimana...


Jiwaku seperti terkoyak, seakan ada yang membajak rasaku hingga kian tak membaik. Aku terus berteriak dalam sukma, untuk dia menyerah pada kegigihan ku.


*** Sakit***


Aku terus berusaha terlihat tidak di kendalikan ego.


Hanya saja ini menyakitkan. Rasanya seperti tersayat, dan kini ngilunya bertahan beberapa menit berdurasi.


Air mataku mulai ikut menahan amarah, mengubah oasenya menjadi gurun beku yang menetes di telaga seharusnya. Ya, akhirnya aku menangis di tepian kelas kosong usai mengerjakan tugas tambahan.


Kakiku kaku, seakan tak mau berkerjasama untuk melaju waktu.


Aku mengingatnya lagi, beberapa menit saat kantuk itu datang lantas membuatku terpejam beberapa saat.


Aku memkul paha sendiri secara keras, memukul meja hingga terasa benar sakit dan menjadi memar pada tangan.


"Mengapa harus aku" Gumamku kesal sembari meremas jemari, dan terus bertanya tak karuan.


Nafasku berlarian tak mengenal arah, mataku nanar melihat masa yang tidak seharusnya kembali di lihat.


Aku ingin ini lekas berakhir.


Aku menginginkan lebih dari kurang yang tak tersampaikan dengan baik.


Aku hanya ingin benar benar normal.


Bukan hanya terlihat berusaha normal.


"Aku benci, benci" gerutu ku pada diri sendiri


*Hanya terdengar isak tangis yang pelan***


Ku tengok langit cerah, kelas sebelah terdengar bubar dan aku mengikutinya turun untuk berbaur, seseorang memanggil dan menyapa, aku hanya tersenyum ala kadarnya dan bergegas memacu kaki secepat mungkin.


Ku putuskan untuk tidak langsung pulang, Aku sengaja berdiam lama di tempat duduk pinggir jalan dekat sekolah sembari melihat orang berlalu lalang.


Aku hanya terdiam sepi dan sekan sedang melihat isi duniaku saat ini. Terlihat hampa dan dingin. Jalanan hanya begitu-begitu saja. Terkadang tawa melintas, kadang kesalahan pahaman terjadi di sana. Ahh nyatanya semua terlihat rumit, meski tidak serumit pikiranku. Klakson yang kadang di bunyikan sebab rasa tak sabar, atau kata maki-an sebab amarah memuncak.


*** 2 Jam berlalu ***


Aku mulai beranjak berdiri dan meninggalkan bangku bercat putih yang terlihat masih kokoh yang menopang tubuhku lama.

__ADS_1


Ku putuskan untuk lekas pulang


Meski hari sedikit basah dan langit yang terlihat cerah,


semua masih berjalan pada alurnya.


Meski amat kontras tentang hari yang melaju menuju sore, berusaha memecah hening di dalam ramai yang penuh klakson, dimana semua bising ini telah ikut andil membuat tawa hinggap di wajah anak kecil yang bermain di tengah jalan tanpa mengerti bahaya.


Aku melihatnya, dan tersenyum kecil.


Aku mengamatinya dalam-dalam.


Bibirku tersenyum kecil melihatnya, dan beberapa menit kemudian, aku menjadi tertawa geli melihatnya, mengingat yang berlalu, berfikir dahulu pun sepertinya aku pernah seperti mereka.


Kontras rasaku seperti sedang di permainkan hari, atau memang seperti ini bentuk rasa setiap anak remaja?


entahlah aku tak paham sebabnya.


sebentar-sebentar pilu, dan setelahnya biasa saja seakan tak terjadi apa pun yang memilukan.


Dan kadang bisa tertawa pada hal yang biasa saja untuk di komentari Atau memang hanya aku yang berbeda?


Entahlah...


Sepanjang jalan, Ku temui mereka asik menggunakan jalanan sebagai area bermain. Dan tepat sesampainya di depan rumah, aku melihat segerombolan anak yang juga bermain di tengah jalan, hanya saja jalanan ini tak sebahaya tadi. Namun tetap saja ini adalah jalanan.


Aku menghela nafas berat.


Permainan mereka sama sekali tak mengundang marah berlebih pada yang berlalu lalang, malah kerap ku dengar mereka dengan santun memberi klakson dan mengatakan hati-hati, tapi ada juga yang sedikit kesal dengan menasehati untuk tidak bermain di tengah jalan.


Namun mereka tetaplah mereka.


Anak-anak yang semua di lakukannya terlihat menyenangkan. Mereka tidak berfikir apakah ini membahayakan atau tidak? Asal ada teman bermain, menemukan tempat yang seakan cocok, di sanalah mereka membentuk surganya penuh ruang.


Semua berlalu saja dan melanjutkan permainan.


Aku melintasi anak anak itu dan melempar senyum, mereka membalasnya ramah dan menawarkan untuk ikut bermain petak gunung. Aku hanya menggeleng dengan senyuman, lantas segera membuka gerbang memasuki rumah untuk mengistirahatkan kaki yang sedari tadi menyusuri jalan. Tidak ku temui seorang pun di dalam, jadi ku putuskan menuju ke kamar untuk merebah.


Kamar yang berkali kali ku lihat setiap bangun tidur dan pulang sekolah, tidak ada yang berubah, masih sama, putih dan banyak coretan puitis lantas terkadang umpatan kecil untuk diriku sendiri.


Entahlah...


Jendela kamar ku buka.

__ADS_1


Ku persilahkan udara luar bertamu di dalam kamar, melewati tepian rambut ku yang panjang dan mata yang masih ingin memperhatikan anak-anak tadi yang asik bermain, "mereka amat senang" pikirku.


Aku menghela nafas dan melihat langit, kali ini cerah dengan senja yang memukau di langit batavia yang bisu. tepat d bawah sukma ku yang tak dinamis sama sekali.


Aku menangis bingung, mendekap dada sembari tersenyum getir. tanganku bergemetar, fikiranku terlalu bergerilya jauh.


Aku melirik keceriaan mereka dan tersenyum legit ke arahnya lantas memejamkan mata untuk menghirup udara terbaik yang senja miliki, berusaha membiarkan sesak memasuki malam dan beristirahat. Berharap sakit ku segera pulih, itu saja. Aku hanya berusaha menyelaraskan rasa tenang di dinding senja pada karsa diri yang kadang membatu, dan beku.


Tiba-tiba dari arah bawa, terdengar suara pintu yang terbuka, sepertinya itu Ayah, gumam ku dalam batin.


"Arum" Panggil seseorang dari arah bawah


"Ya" Timpal ku cepat


"Ayah belikan es buah" jawab Ayah cepat


"Tolong letakan di kulkas Yah" Pintaku singkat dengan suara parau


Aku menyusuri anak tangga dan duduk di bagian nomor tiga paling bawah. Aku melihat Ayah menghampiri dan menyodorkan es buah miliknya.


"Mau coba?" tawarnya


"(Aku hanya menggelengkan kepala)"


"Arum pulang jam berapa tadi?" tanya Ayah datar


"(tanganku mengangkat menunjukan pukul 4 sore)"


"Sudah mandi?" tanya Ayah lagi


"(Aku menggeleng kepala)" jawabku dengan kembali menaiki anak tangga


"Jangan nanti, sudah hampir jam 5" Sahut Ayah cepat


"(Aku hanya berbalik arah dan mengacungkan jempol ke arahnya)"


setelah kembali ke kamar dan menutup pintu, rasanya ada sesuatu yang tertahan, seperti ada amarah yang di dilembutkan setiap kali melihat matanya, di tambah rasaku yang sedang berkecamuk hari ini, hal tak biasa dan aku mencoba berbicara sewajarnya.


Entahlah yang jelas aku mencintainya.


Meski pada dirinya, tidak bisa ku temui beberapa hal yang ku inginkan. Hanya saja aku senang mengetahui memilikinya dan bisa melihatnya, sebab sepertinya banyak di luar sana yang tidak bisa melihatnya apa lagi mampu memilikinya. tidakkah kau sependapat denganku?


"Hai bu?" Ujar ku pada foto ibu dengan mata penuh sembab yang mulai mengering.

__ADS_1


"Aku masih jadi seorang putri yang manis" Ucapku pelan pada foto ibu di atas meja belajar.


Lantas aku tersenyum dan menyegerakan mandi.


__ADS_2