
Udara pagi merayap menyergap tubuh, membuatku bergegas lekas bangun dan menyalakan lampu, melihat tetesan air dari jendela kaca yang mengembun, kacanya terasa dingin dan aku tersenyum menyadari kejadian tersebut.
Aku seperti melupakan mimpi semalam dan bangun dengan rasa ingin memperbaiki rasa, tidak perduli kesetabilan ini untuk siapa, hanya saja aku perlu menjadi sembuh untuk mewujudkan segalanya. Ku lirik jam dinding memaku pada pukul 5 pagi, masih sangat pagi dan menggigil, Ku putuskan untuk mandi sepagi itu dan keluar dengan rambut penuh basah. Rasanya menyiram rambut sama halnya memberi tetesan pada kalbu.
Aku menarik nafas panjang dan meghembuskan keluar penuh tenang, tidak seharusnya aku memperdulikan segalanya, nyatanya segalamya tidak memperdulikanku juga, aku hanya perlu fokus pada diri dan segala impiannya, aku hanya perlu memperbaiki yang rusak dan menjadi pincang.
Aku mengganti pakaian sekolah, dan menyisir rambut panjangku yang mulai mengering, rasanya aku ingin memotongnya, dengan penuh spontan ku ikat rambutku sepunggung dan memotongnya tepat di ikatan yang sudah ku tentukan, aku tersenyum lebar menyadari ini dan kembali merapihkan rambut dan memasang bando merah. Sepertinya semua sudah rapih dan waktu baru saja menunjukan pukul 6 pagi kurang, aku segera bergegas mengambil jaket warna merah yg jarang terpakai di lemari, masih sangat bagus dan cantik.
Aku tersenyum pada cermin dan mengusap pipiku di sana, lantas aku tersenyum seketika, ku putuskan pergi ke sekolah sepagi ini, menyusuri anak tangga dengan sangat pelan dan membuka pintu rumah dengan kunci cadangan, lantas kembali menguncinya kembali. Udara masih sangat segar dan rilex. terasa sungguh ingin terbang bersama burung melakukan parade di pagi hari, nyatanya itu hanyalah hayalan yang tak mungkin terjadi.
Aku melirik jam tangan, belum juga menunjukan pukul 6 pagi pas, sekitar 10 menit lagi ia akan menujunya dan membuatku terus berjalan menyusuri jalan yang tak lagi asing. Sesampainya depan gerabang, pintu sudah terbuka dan suasana masih sangat sepi, udara dingin menerpa pelan berusaha menyelinap pada jaket.
Aku terus berjalan dan menuju kelas, bertemu tukang bersih2 sekolahan yang sedang rutin mengambil sampah penuh, Aku tersenyum ke arahnya dan ia pun menimpalinya dengan senyuman tak kalah ramah.
"Sudah sarapan Rum?" tanya pak Bin
"(Aku hanya menggeleng sembari menghapirinya)"
"Mau Arum bantu?" tanyaku ramah
"Ndak Usah, biar bapak saja, sebentar lagi selesai" jelas pak Bin dengan nada jawa medoknya
"Ayo kebawah, bisa seduh kopi dan makan roti untuk sarapan" ujar pak Bin menyuruhku mengikutinya turun.
"(Aku hanya tersenyum dan mengikuti dari belakang)"
Langkah kakiku terasa nyaman dan enteng, mungkin ini sebab magic keramahan Pak Bin. Sesampai di bawah, Aku duduk di teras depan kamar Pak Bin, sudah tersedia sachetan kopi air panas dan Roti.
"Ayo Seduh minumannya, kalau mau teh nanti Pak Bin belikan dulu" ujar pak bin sembari mencari secangkir gelas
"Ndak perlu pak, Arum suka Kopi" jawabku singkat sembari menyeduhnya.
"Syukurlah" jawab pak Bin sembari ikut duduk di depanku
Pak Bin adalah tukang bersih-bersih sekolah yang usianya tidak lagi muda, sekitar 66th
Ku dengar anaknya yang seusiaku baru saja 3 minggu yang lalu meninggal, hanya saja aku tidak mendapati sedihnya merayap pada wajah, semua terlihat normal dan sangat relevan, betapa ia sangat tangguh.
di sela lamunanku yang meminum kopi dan makan roti tanpa sungkan, Pak Bin mengangetkanku dengan tanya yang tak biasa.
"Tumben Arum berangkat sepagi ini?" tanya pak Bin sembari memakan roti
"Ndak apa-apa pak" jawabku cepat
"Tapi sarapannya jangan di tinggal, agar saat pelajaran ndak ngantuk" Timpal Pak Bin cepat
"Iya pak, terimakasih ya" jawabku cepat
"Kalau belum sarapan, ke sini saja Rum, ada Roti dan Kopi tiap pagi" ujar pak Bin menawarkan
__ADS_1
"Iya" jawabku singkat
Aku senang mengetahui tawaran tersebut, menyadari bahawa aku perlu berbicara untuk bisa kembali lebih baik agar tidak terlalu pemikir pada hal hal yang tidak seharusnya.
"Apa boleh setiap pagi Arum kesini pak?" Ujarku memastikan.
"Tentu Boleh, di sini ada dua kursi, bapak hanya pakai satu." jawab pak Bin dengan nada tawa medok
"(Aku tersenyum mengetahuinya)"
Pak Bin banyak bercerita tentang masa mudanya yang tak mudah, hari dimana ia tak bisa bersekolah tapi memiliki keinginan harus tetap bisa membaca menulis dan menghitung. Betapa ia memiliki keterbatasan, hanya saja keinginanya tak mau di batasi.
Aku terharu mendengarnya, lantas sadar betapa seorang "Arum Nuray" sangat beruntung sebab bisa pergi bersekolah tiap pagi. Nada bicara Pak Bin bersahaja, suaranya terdengar teduh dan tulus.
Katanya, 1-2 bulan sekali ia pulang kampung untuk berziarah ke makam istri dan anaknya, betapa segalanya terlihat getir dan pilu.Tapi ia tak mengizinkan skenario buruk mempengaruhi suasana hatinya yang teduh.
Ia tetap Pak Bin yang terlihat tangguh ramah dan rilex, betapa hal tersebut perlu ku miliki, menjadi tangguh dan relevan.
menjadi teman bicara Pak Bin bukanlah hal buruk, sampai waktu menunjukan pukul 6 lewat 30 menit, dan tanpa sadar aku sudah habis 2 seduhkan kopi. Rasanya sangat nikmat dan berkesan kali ini, tentang "Arum Nuray" yang awalnya tak begitu tertarik menjalani hari, nyatanya jadi sangat antusias untuk dapat memperbaiki.
"Terimakasih Pak Bin" ujarku dalam hati
Banyak hal yang bisa ku pelajari dari Pak Bin.
Aku pamit ingin ke kelas pada pak Bin, ingin sekedar duduk-duduk dan membuka buku yang akan di pelajari, ini adalah hari terakhir sekolah dan besok hari libur.
Aku cukup senang mengetahui ini dan tak sabar hari libur akan menyambangiku.
Hatiku senang menyadari hujan lebat, ada sensasi alami antara aku dan hujan, hatiku kali ini lebih teduh, meski sesekali juga rancu sebabnya. Akan ada banyak yang terlambat di hari ini, tak hanya murid, namun guru juga ikut terlambat sebabnya, dinding kelas menjadi dingin meski lampu sudah di nyalakan, dan hujan semakin lebat turun.
Aku hanya melempar senyum pada arah luar di mana hujan sedang berjatuhan, lantas aku berharap hari ini berjalan dengan cepat di sekolah. Waktu menunjukan pukul 6 lewat 50 menit dan banyak dari teman-teman berdatangan, dengan payung dan jas hujannya yang basah, bahkan ada yang menjadikan tas sebagai payung. Alhasil buku mereka basah total, banyak yang tiba-tiba terjadi dan spontan, aku tertawa memandangi mereka sembari mrnggeleng kepala.
"Arum kenapa tidak basah?" Tanya Hapidi sembari merapihkan rambutnya
"(Aku hanya menggeleng tersenyum)"
"(Hapidi menghampiriku lantas menggoyang goyangkan rambutnya jahil)"
"(Aku tertawa sembari menghalangi cipratan air dari rambutnya)"
"Arum curang, pasti janjian dulu ya sama hujannya, saat sudah sampai sekolah baru boleh turun hujan, lah kita mah masih tidur Arum" celoteh Hapidi dengan nada betawinya yang muncul
"(Aku tertawa terbahak bahak)"
"Asik ya tertawanya" timpal Afit tiba-tiba datang dengan rambut sedikit lepek dan duduk di sebelahku
"Yeee.... ganggu saja ya Afit" Ujar Hapidi menggerutu pada Afit meledek
"(Aku makin tertawa)"
__ADS_1
"Rum, stop tawanya, sama Afit baru boleh" ujar Afit garing memecah tawa
"(Aku mengangkat alis aneh, lantas kembali tertawa)"
"Hmmmm... lagu lama, Arum jangan mau ya" timpal Hapidi cepat sembari meninggalkan kami berdua
Aku memandangi air tetesan rambutnya yang mendarat mulus melalui hidungnya, mengenai bibir lantas di sapu oleh tangannya.
"Kehujanan?" Tanyaku basi
"Pakai tanya" Jawab Afit kesal sembari memasang wajah lucu seperti babi
"(Aku tertawa terpingkal-pingkal tak berhenti, sampai seisi kelas memperhatikanku geli)"
"(Aku hanya tersenyum ke arah mereka dan lanjut mengobrol dengan Afit)"
Aku melihat Afit memakai jaket warna merahnya yang ia simpan di tas, dan memakainya segera. Kali ini warnanya sama dengan jaketku.
"Kenapa tidak di pakai saat hujan?" tanyaku heran
"Jangan, sayang kalau ikut basah Rum."Jawabnya polos
"(Aku hanya menganggukan kepala tanda mengerti)"
"Dua hari kemarin kamu kemana?" Tanya Afit intens
"Di rumah" Jawabku simple
"Kamu baik-baik saja kan?" Tanya Afit memastikan.
"(Aku mengangguk kecil ke arahnya)"
"(Ia tersenyum tenang)"
"Sepertinya sampai istirahat pertama kelas kita akan kosong, jadi sepertinya kita bisa banyak bicara Rum, sembari makan." ujar Afit mengeluarkan kotak makan
"Ini gelas tuk seduh kopi kesukaan kamu, ini nasi goreng tanpa kecap yang kamu mau, pedas, lengkap dengan timun dan telur ceplok dua pakai garam sedikit" Celoteh Afit menjelaskan detail sembari membukakan kotak nasi dan menyeduhkan kopi
"(Aku menatapnya lama)"
"Ayo makan Rum, Aku sengaja pakai kotak nasi tahan panas agar lebih enak kamu makan" Jelasnya sembari menyodorkan makanannya
"(Aku tak berkata apa pun, dan melahapnya penuh haru, bulir air mata mengalir sebab tersentuh)"
Aku melihat ia juga makan, penuh lahap, seakan saat ini suasana berpindah tempat menjadi piknik dadakan dengan Afit.
Betapa jiwaku jadi lebih hangat lantas merasa senang sebab merasa di perdulikan.
"Fit, terimakasih ya" Ujarku pelan
__ADS_1
"Sama-sama" Jawabnya cepat
Ia duduk tepat di sampingku, menemaniku, dan menanyaiku banyak hal. Ia terlihat amat berkarisma dan kali ini lebih sedikit banyak berbicara. Aku senang dan mensyukurinya.