
Lama aku tak menengok buku hujan, buku catatan waktu tiap kali ia datang, teman dalam sunyi senandung pilu yang aman di dekapan alam, di mana ia tak memiliki kuasa bicara. Dan Pagi telah sampai lebih cepat kali ini, membangunkan ku untuk lekas bergegas.
Ku harap hari ini hujan, agar ketakutan ku tak makin kokoh dalam dawai, sendu yang tak terlihat, marah yang di haluskan dan kata yang di bentuk santun.
Ku turunkan kaki dari kasur lantas melangkah pergi menghadap cermin, mengikat rambut lantas mengambil gunting dan memotong rambut sepundak. Kini Rambut jauh lebih pendek, semoga ini meringankan batinku yang mulai tidak berdaya. Aku tersenyum pada diriku di hadapan cermin dengan rambut baru, pergi mandi dan merias diri.
Acara akan di mulai pukul 8 pagi di rumahnya.
Aku memakai gaun warna merah muda yang di persiapkan Ayah, Aku tak banyak bicara saat Ayah memberinya, lantas kini aku memakainya dengan anggun, lengan tanggung sesiku dan panjang dress 5 jari di atas mata kaki. Rasanya aku menghias cukup cantik, memakai ikat rambut serba merah muda. Lantas Beberapa saat Aku memandangi diriku nanar , dan sebentar tersenyum, menepuk pundak sendiri pelan, untuk menguatkan diri sendiri.
Memakai balutan alas kaki yang sangat manis dan menawan, menyemprotkan parfum agar tercium harum. Kurasa ini sudah cukup, membuat diri menjadi anggun dan lebih tertata.
Aku menuruni anak tangga sembari membawa buku hujan, berharap sebentar lagi langit menjadi kawan, menitikkan air menepuk sukma ku yang berteriak bisu.
Aku hanya ingin hujan, tidak lebih. Sekarang pukul 7 kurang 20 menit dan Ayah sudah menungguku rapih dengan style jas menawan, terlihat sudah sangat siap untuk pergi. Aku tidak melihat mata Ayah sama sekali. Aku hanya tersenyum manis namun mata berpaling dari bicara. Aku dan Ayah menaiki Mobil baru yang di beli 3 hari lalu, mobil bekas yang terlihat bagus tuk acara yang sudah di rencanakan Ayah jauh-jauh hari.
Aku tersenyum tipis dan duduk di belakang, entahlah aku tak ingin duduk di sebelahnya, dan Ayah tak banyak bertanya kenapa aku tak duduk di sana.
__ADS_1
Suasana di dalam mobil sangat hening, tidak ada alunan musik, tidak juga dengan sapaan, lantas rintik hujan tiba-tiba mengalir di luar kaca mobil. Rasanya sedikit jauh lebih tenang, meski nyatanya adalah hati meranggas pilu, terisak tangis dalam diam lantas marah yang menjadi bisu dan pikiran yang tidak tertata. Perlahan meracuni diri untuk menjadi sunyi dan mendendam.
Hari yang tak pernah di inginkan, namun kali ini sedang di jalani, detik waktu terasa sangat lambat membawa sebilah pisau menyayat lukaku tanpa belas kasihan.
Suara hujan mulai terdengar lebih deras, 10 menit lagi akan sampai di tempatnya, janur kuning melengkung dan papan penunjuk jalan ke acara pernikahan sudah ku lihat di sisi jalan. Tertulis "Wisnu & Hellen" Aku membacanya sesak dalam dada, terasa tiba-tiba menjadi getir.
Sampai kini aku pun masih membisu, diam tak menyapa atau mengucapkan sesuatu, meski tekad ku adalah berusaha berperan baik untuk hari yang tak pernah terlintas di pikiran sekalipun.
Saat sampai, tepat di rumahnya, hatiku kian menjerit, tanganku bergetar kecil, mataku mulai berkaca-kaca yang ku coba kendalikan untuk tenang. Meski amarahku kini menjadi badai di balik batin yang di tikam hati tuk diam di dalam sana. Hujan semakin deras dan membuat Ayah lupa menggandengku, ia masuk lebih awal lantas membuat pertahanan ku roboh, akhirnya aku meneteskan air mata juga, sungguh tragis, ironis dan lebih dari menyebalkan untuk ku berikan senyuman dari dalam mobil. Bahkan, malah orang lain yang membukakan pintu untukku, mencoba menuntun ku untuk menuju ke dalam.
Kini peran di mulai, tangis tak boleh terlihat, wajah muram bukan di sini tempatnya. Yang di lakukan adalah hanya perlu terlihat anggun dan menawan tanpa perlu banyak bicara.
Menahan gemuruh kesal dan amarah dalam-dalam.
Hanya saja menjalani sebuah peran adalah yang seharusnya. Menjadi manis, anggun dan menawan. Meski tidak mudah juga melelahkan.
Acara berlangsung hikmat, tak ada masalah apa pun, dan hujan yang masih saja menemani. Aku duduk di kiri balkon atas lantai 1 sembari memandangi hujan dengan bebas. menulis tanggal hujan hari ini dan mendengarkan suara riuh acara dari bawah. Telinga ku mendengarnya dengan rasa lelah, berharap suara itu juga tawa untuk ku, namun nyatanya tidak demikian.
__ADS_1
Aku hanya mengambil air mineral dan meneguknya perlahan sembari mengusir rasa sakit. Tatapanku kosong ke depan, membayangkan seseorang sebagai teman bicara kecuali alam. Atau merengkuh aman untuk batin dan raga yang penuh pesakitan.
Waktu tepat membidik pukul 2 siang, ku putuskan untuk pulang lebih awal, sebab tak begitu jauh dari rumah,
Suasana masih ramai, meski tak seramai pagi tadi. Banyak senyum yang di lempar dan tegur sapa yang terdengar riang di telinga, terdengar amat manis.
Aku memilih untuk pulang ke rumah lebih dulu , dan setibanya di rumah akan memberi kabar pada Ayah agar tak khawatir melalui pesan WA. Ku putuskan tuk jalan kaki dan meninggalkan banyak tawa di sana. Pergi menyusuri jalan dengan gaun yang menawan, berdansa di bawah air hujan lantas menari dengan lembut di bawah rintiknya. Sesekali aku melihat langit sembari tersenyum dan kembali berjalan dengan air mata yang di usap lembut oleh rintiknya. Ini hanya gerimis kecil yang mencoba meggelitik berusaha membuatku tersenyum perlahan atau mungkin ia ingin aku tertawa dan menjadi ceria seperti semula. Aku terus berjalan dengan harapan segera sampai rumah, dengan segala keisengan di jalan memainkan genangan air tuk mengusir pilu. Meski tak dapat bersuara dan tak lucu. Namun ini sangat membantu.
Akhirnya sampai rumah, rambut yang menjadi lepek dan sepatu yang kemasukan air, aku tersenyum kecut menyadari keadaan diri sendiri, badan terasa dingin tertiup angin lantas aku mengembuskan nafas panjang sebelum memasuki rumah.
Sesampainya di kamar, aku hanya memasukan sepatu ke kamar mandi untuk nanti di cuci, lantas kembali ke bawah untuk mengambil es batu sebanyak mungkin.
Dan segera kembali ke atas duduk di tempat meja belajar seperti biasanya , tepat menghadap jendela, melihat rintik hujan yang lembut, sembari membuat es kopi dan meneguknya perlahan. Sesederhana itu untuk mengusir penat, meski kenyataanya tak banyak, namun ini sangat membantu batin juga pikiranku. Buku hujan ku sedikit basah, namun tak mengapa, membuat tanda basahan hujan di dalam buku hujan adalah hal menakjubkan pikirku, meletakkannya terbuka di atas meja untuk membuatnya lekas kering.
Aku belum ingin beranjak berganti baju dan lainnya, kecuali mengetik pesan pada Ayah, mengabari bahwa aku pulang lebih awal, dan meneguk es kopi yang menyejukkan. Aku hanya memandangi foto-foto hasil potretan acara tadi pagi yang Ayah kirimkan melalui pesan WA, dengan membandingkan foto kami bertiga dulu di album foto yang masih ku simpan rapih.
Terasa sangat getir, mampu mengundang air mataku berjatuhan dengan tangan gemetar.
__ADS_1
Selang 5 menit kemudian, Ayah membalas pesanku seperti ini "Iya tidak apa, pintu rumah nanti di kunci sebelum pergi tidur, sebab Ayah tidur di rumah tante Hellen". Jawaban yang entah, namun ini sangat wajar bukan? atau memang begitulah seharusnya, dan aku yang harus di paksa mengerti, tanpa harus menangis sesenggukan lagi.
Aku mengerti. :)