
Aku sudah belajar untuk bisa menerima lantas mencoba bijak pada takdir yang diri ini jalani. Namun memang menerima tidak semudah kata. Banyak yang harus ku dengar, depresi akut dalam diri juga kadang ingin meneriaki diri sendiri mengapa begitu lemah juga payah pada waktu yang tidak memiliki perasaan.
Andai takdir dan waktu dapat ku tulis sendiri.
Ah andai saja, Sayangnya Tuhan tidak membocorkan skenario akhirnya, hingga aku merasa lelah tak menginginkan lanjut dari episode penuh makian ini.
Waktu berjalan dan aku tetap berusaha mahir mengambil alih semua rasa. Bahwa semua adalah hal penting.
Tidakkah seseorang bisa paham akan luka yang tidak pernah tertutup di sanubari dan menganga lebar pada pikiranku? Mendarah daging pada sukma ku yang membuat jiwaku penuh pesakitan.
Waktu sudah merenggut ibu yang seharusnya saat ini menjadi penguat ku kala lemah, dan sekali lagi, waktu membawa Ayahku pergi dari jangkauan mataku pada keluarga barunya. Tidakkah ini terlihat sangat menyakitkan atau Aku yang telah menyakiti diriku sendiri? Namun untuk apa? hariku penuh air mata.
Hari cepat berlalu dan aku memaksakan diri untuk lekas sembuh, lekas menerima peran takdir secara menyeluruh. Aku melahap habis rasa sesak ku sendirian.
Ia hanya akan terus membuatku tak bebas bernafas.
Mari kita bertarung sampai tidak ada lagi tangis yang menyedihkan.
Mengapa seakan rasa ini hanya ku sewa?
ia tidak pernah menetap , atau setidaknya tinggal lama?
Ujian kejuruan ku telah usai.
Berlalu begitu saja, lantas dengan mudah aku bisa melewatinya.
Aku telah lama berfikir, dan Ku putuskan untuk menemui Ayah di rumah barunya. Aku ingin berperan menjadi putri ibu yang manis tanpa cela. Andai hari ini ibu mengetahui, tentu ibu akan senang. Aku mencoba berdamai pada apa yang sebenarnya tidak pernah aku inginkan. Ini tidak akan sulit. Aku bisa melakukannya. Meski mulai dari sana juga jiwaku sedang menggila.
Hari sudah sore, Aku telah sampai ke rumah Ayah yang sekarang menjadi tempatnya pulang dan tidur dengan nyaman, kali ini aku di antar Afit dengan sepedanya yang sederhana. Afit menunggu di kaur gerbang, dan aku berjalan menuju rumah baru Ayah tanpa seorang aku.
" Hai Tan?" Sapa ku dengan senyuman
" Hai sayang" sapa istri baru Ayah lembut
" Ayah sudah pulang kerja?" Tanyaku sembari meletakkan buah Apel di kantong plastik
" Belum, kamu nanti tidur di sini saja Rum" Jelas Istri Ayah manis
" (Aku hanya menggeleng pelan penuh senyum)"
" Titip buah tuk Ayah ya Tan" ujar ku menjelaskan maksud kedatanganku
"(Istri Ayah hanya mengangguk manis)"
" Arum pulang ya Tan, salam tuk Ayah" utaraku mengakhiri percakapan.
"(Istri Ayah mengecup keningku pelan)"
"Hati-hati di jalan" Ujar istri Ayah semanis kembang gula
"( Aku hanya membalasnya dengan senyuman dan melambai sembari keluar gerbang)
Langkah kaki ku seakan sedikit terangkat lebih ringan, tapi jiwaku terasa robek lebih parah, biar lah, jiwaku semakin menggila,dan ragaku berusaha menahan laju terjalnya untuk diam di dalam ruangan. Ku putuskan untuk berbicara secara baik pada jiwa, sampai pada akhirnya ia membuatku menangis sesenggukan di samping Afit di tepian bangku jalan, tempat kami menepi dan melihat mentari tenggelam sore ini.
Afit hanya diam dan menggeser posisi duduknya lebih dekat jaraknya denganku, berusaha menyenderkan kepalaku di pundaknya, dan ya benar sekali, ia mengelus kepalaku lembut. Tanpa bicara apa pun, Ia hanya menemaniku melihat matahari yang mulai tenggelam dan menemaniku dalam isak tangis yang luar biasa.
Kali ini diam menjadi penenang paling baik, mata melihat sang surya mulai merebah pada pundak malam, semua begitu lelah, hingga ia pergi pada malam untuk terlelap. dan kembali memanas di antar oleh pagi hari buta ke siangnya yang terik.
Hari memang tidak memiliki masa depan
Tapi aku bisa menciptakannya lebih baik. Aku terasa kesepian dan penuh berantakan. Kecemburuanku pada cerita hidup orang lain menambah kegilaan pada jiwaku yang terpaksa ku pasung, agar ia sedikit mematuhiku untuk tetap manis dan berlaga sempurna di depan banyak orang. Menampilkan kesempurnaan di semua pasang mata yang ingin melihatnya.
"ARGHHHH LELAH" Jeritku dalam batin.
Di temani pundak Afit yang terasa aman, dan aku yang masih terus menangis tidak membiarkanku merasa lega.
Mataku melihat mega senja di langit begitu indah, dari jiwaku yang terkoyak , dan tercabik cabik. Nafas terasa tak beraturan seperti tercekik lama namun tak kunjung mati.
Angin kian kencang saat memasuki malam.
Aku mulai tak bisa melihat warna merah saga di langit senja, ia pudar dan akan hilang sebentar lagi, lantas akan kembali di keesokan harinya. Dan aku belum juga ingin tersenyum. Aku masih belum juga ingin berbicara apa pun pada Afit yang sedari tadi mungkin menunggu ku untuk berbicara sesuatu.
Aku harap detik waktu melambat.
Meski aku tahu waktu tidak memiliki perasaan, lantas bagaimana caranya bisa memahami batin dan inginku yang sederhana? Bodohnya aku menginginkan hal ini dapat terjadi layaknya di negri dongeng.
__ADS_1
Sang Upik Abu yang menderita dan menjadi bahagia karena pangeran yang menjemputnya.
lantas siapa yang akan membawaku pergi dari sini?
Senja sebentar lagi akan benar-benar menghilang.
Namun air mataku tidak lekas mengering.
Luka terbuka lebar di ingatanku dan terasa sangat menyakiti, hingga mataku terus mengeluarkan tangis tanpa henti. Bisakah ini berhenti? Ingatanku seakan sangat kuat dan Aku mencoba tidak ingat saat ia memberi ingatan tak baik padaku. Namun, sialnya aku telah mengingatnya. Memori yang terus membuatku lemah, membiarkan semua harapan juga impian pergi lenyap di telan waktu tanpa usaha.
Kini benar-benar menjadi gelap.
Segelap pikiranku saat ini.Hatiku sedih sebab menyadari semua yang ku ingin tidak bisa ku lakukan saat ini.
Menyadari bahwa kenyataanya Aku hanya berusaha terus bahagia. Meski belum sepenuhnya secara menyeluruh bersama jiwa yang terus ku paksa menurut pada yang seharusnya di lakukan.
"Fit, Aku ingin pulang" Ucapku padanya setelah sekian lama hanya diam dan menangis di pundaknya.
"Sebentar lagi ya, Aku masih ingin di sini" Ujar Afit pelan sembari menatapku penuh senyum.
"Oke" Jawabku singkat dengan tetesan air mata
"Hei Rum, ada apa? Aku tidak tahu segalanya, bisa kamu cerita sedikit saja?" Ujar Afit yang akhirnya bertanya
"Tidak ada" Jawabku singkat penuh sendu
"Aku mau pulang sekarang" jelas ku lagi
"(Afit hanya mengangguk penuh senyuman)"
Aku berusaha mengusap laju air mata dan Nafas yang mulai ku atur perlahan. Melatih senyuman yang biasa ku gunakan tersenyum di depan banyak orang.
*Sesampainya di rumah*
"(Aku turun dari sepeda Afit)"
"Terimakasih ya" Ujarku penuh senyuman yang manis
"Kamu sangat manis, jika tersenyum Rum" Puji Afit memandangku penuh tanya tanpa mencari hal yang tidak ku ceritakan.
"Aku pulang ya" Jelas Afit padaku
"(Aku hanya mengangguk)"
"(Kami saling melambai"
Tepat setelah punggung Afit tak lagi dapat ku lihat mata, Aku membuka pintu gerbang dan memasuki rumah lantas menuju kamar untuk langsung merebah.
Sudah pukul 7 malam ternyata, lama sekali aku diam dan terus menangis di samping Afit. Lantas aku sedikit tersenyum sebab menyadari pilu ku di temani seseorang untuk pertama kalinya. meski aku tidak membagi cerita apa pun padanya.
*Suara Handphone berbunyi*
Terlihat dari layar Hp Pesan masuk dari Ayah.
Mataku membaca kalimatnya yang singkat dan masih manis.
"Terimakasih Apelnya sayang" Isi pesan Ayah
"(Dadaku sesak)"
Ayah tidak mengerti maksud isyarat ku, bahwa aku menginginkan ia pulang sendirian dan menetap sebentar, mencoba berbicara sesuatu padaku, menjelaskan sesuatu padaku.Namun? memang maksud isyarat tak pernah bisa terbaca secara tepat tanpa di utarakan.
Ini salahku sebab tak mencoba berbicara lebih terus terang. Menunggu sesuatu kepada sesuatu yang tidak akan pernah menjadi peka.
Aku menghela Nafas panjang, menarik lemah ku perlahan. Membuat diriku lebih bertenaga dan berbicara pada Ayah.
Ku putuskan untuk menelfon Ayah. Menunggu Suara di sebrang sana dapat membalas sapaanku.
dan ya, Ayah mengangkatnya.
"Halo Ayah" Sapaku dengan suara parau
"Iya sayang" Jawab Ayah dengan nada lembut biasanya.
"Apa Ayah bahagia?" Tanyaku
__ADS_1
"Maksudnya?" Tanya Ayah bingung
"Maksud Arum, apa buah apelnya enak?" jelasku
"Ini Ayah sedang memakannya, tentu enak, putri Ayah jago pilih buah" Jawab Ayah senang
"Syukurlah" Jawabku cepat.
* Hening sesaat*
"Ayah, Apa Arum boleh cerita sesuatu?" tanyaku datar
"Tentu sayang" Jawab Ayah gembira
"Teman Arum yang sudah menikah, hari ini ia sedang ada masalah." Utaraku pada Ayah mulai bercerita
"Iya, masalah bagaimana?" Tanya Ayah antusias
"Teman Arum mengetahui kalau suaminya tidak lagi bisa memenuhi tugas sebenarnya menjadi seorang suami, yang katanya harus setia, bertanggung jawab memberi nafkah lahir batin, dan membahagiakan dengan tulus" Ujar ku pada Ayah
"Suaminya tidak bersyukur memiliki istri seperti teman Arum Ayah, ia mencari sesuatu yang lebih di diri wanita lain" lanjut ku bercerita
" Lantas , teman Arum memutuskan berhenti memiliki hubungan dengan suaminya, mereka akhirnya bercerai, dan ini adalah hari perceraian mereka." utaraku terus bercerita
"Yang Arum tanyakan, Apakah Jalan yang teman Arum lakukan sudah sesuai Ayah?" Tanyaku pada Ayah
"Itu sudah tepat" Jawab Ayah seakan mantab menjawab
*Hening sesaat*
"Ayah, jika teman Arum dapat memutuskan kesedihannya dengan memutuskan bercerai, lalu mengganti suaminya dengan orang baru yang lebih segalanya, bagaimana cara Arum mengganti posisi *Ayah yang tidak bisa di putuskan* seperti layaknya hubungan teman Arum?" Tanyaku dalam dengan suara berat
"Bagaimana caranya Arum mendapatkan yang Arum inginkan, sedangkan hubungan Ayah dan anak tidak bisa di gugat di pengadilan?" Tanyaku berkelanjutan
"Sebab, Arum tidak merasa di penuhi haknya sebagai seorang putri tunggal Ayah, lantas bagaimana caranya Arum mendapatkan Ayah pengganti? Mendapatkan Ayah baru di luaran sana?" Tanyaku beruntun dengan sedikit emosi
"Arum, kamu ini berfikir macam apa?" Jawab Ayah ikut emosi juga di sebrang sana.
"Apa Ayah bisa menjawab pertanyaan putri Ayah ini?" Tanyaku sekali lagi pada Ayah
*Hening*
*Tidak ada jawaban apa pun dari sebrang sana*
"Baiklah, Arum akan berbaik hati membantu Ayah menjawab pertanyaan sulit ini" Jelas ku yang akhirnya angkat bicara
"Cara satu satunya adalah dengan memperbaiki ikatan, jadi Arum tidak perlu mencari Ayah baru di luaran sana, Sebab seribu orang pun yang menawarkan diri menjadi Ayah baru untuk Arum, Ayah sesungguhnya Arum tetaplah Ayah yang Arum cintai" Jelasku pelan penuh hati-hati
"Ayah minta maaf sayang" Jawab Ayah dengan isak tangis di sebrang sana, seakan paham luka apa yang terus ku simpan
"Tunggu Ayah pulang, Ayah ke sana" Jelas Ayah seketika
"Ayah sayang Arum, jangan matikan telfonnya ya sayang" Pinta Ayah dengan isak tangisnya yang dapat ku dengar.
20 menit berlalu , dan aku hanya menjadi diriku yang berusaha kuat, diam dengan pesawat telephon masih terus terhubung tanpa sapaan lagi, kecuali suara Ayah yang terus mengucapkan maaf berkali kali.
Aku mendengar pintu rumah mulai di buka, langkah kaki dari bilik pintu kamar suara langkah kaki mulai mendekat lantas membuka pintu kamarku perlahan, Aku mendapati mata Ayah di sana, lantas Ayah berlari ke arahku dan memelukku erat.
"Apa Arum sedang mimpi Ayah?" Tanyaku di pelukannya
"Tidak sayang" Jawab Ayah sembari mengelus kepalaku di dalam rengkuhannya yang hampir ku lupa.
"Terimakasih Ayah" Jawabku pada Ayah dengan tangis yang pecah.
Badai petir di pikiranku seakan menyingkir, luka ku seakan menyembuhkan diri dan menyisakan ingatan indah kami berdua di hari lalu.
"Apa Ayah akan menginap?" Tanyaku pelan yang masih di pelukannya
"Iya" Jawab Ayah teduh
Kini Malam ku seakan bermekaran, mendadak dunia menjadi temaram. Lantas aku tertidur pulas dengan Ayah yang menjaga ku sampai terlelap.
Akhirnya menuai harap yang di mau, dengan sedikit lebih berani mengutarakan maksud hati.
Aku tertidur.
__ADS_1