Ruang Rumpang

Ruang Rumpang
Patah Hati yang tak berarti


__ADS_3

Tepat pukul 6 pagi, Aku sudah selesai mandi dan mematikan pendingin ruangan lantas membuka jendela agar angin yang sejuk memenuhi ruangan, Aku tersenyum kecil melihat wajah mereka yang tertidur pulas, Ku putuskan untuk mengambil Hp dan memotret wajah mereka satu per satu, hanya untuk membuat kenangan di memori waktu saja, sepertinya lucu. Betapa beruntungnya aku memiliki mereka, Aku sengaja tak membangunkan mereka, agar mereka bangun dengan sendirinya, ku putuskan untuk kebawah menyiapkan sarapan. Kali ini aku hanya memasak nasi, menggoreng tempe mendoan dan membuat tahu goreng di campur dengan sambal, kebanyakan orang menyebutnya di sambal balado. Namun kataku berbeda. Lantas merebus sayuran pakcoy untuk jadi lalapan.


Tepat pukul 7 pagi semuanya sudah terhidang, Ku coba untuk ke atas dan semuanya dalam posisi baru bangun sembari tersenyum ke arahku.


"Ayo ke bawah, sarapan" Ujar ku


"Tapi cuci muka dan sikat gigi dulu ya" Lanjut ku


"(Mereka hanya mengangguk)"


Aku kembali menuruni anak tangga dan menyalakan TV, namun tiba-tiba Nunu ke bawah langsung duduk dan memelukku.


"Masing ingin tidur Rum" Ujarnya dengan mata berat


"Cuci muka, sikat gigi Nu, baru sarapan". Gerutuku padanya


" (Ia menggelengkan kepala)"


" Mau tidur di sini saja, nanti kalau sudah waktunya makan bangunkan ya Rum" Jawab Nunu dengan meletakan kepalanya di pangkuan ku


"(Aku hanya menggeleng geleng geli kepadanya dengan senyum yang tak karuan)"


10 menit berlalu dan semua sudah siap untuk sarapan.


"Baaaaaaaa" Kaget Sabil pada Nunu yang sedang tidur


"Bangun Bu, bersih-bersih dahulu baiknya" Ujar Wintari dengan gaya bicara ibu-ibu


"(Kami hanya tertawa kecil)"

__ADS_1


"Kasihan kaget Nunu" celetuk Mayang sembari mengacak acak rambutnya jahil


"Sama Saja Mayang juga" Gerutu Nunu lembut


Nunu hampir tak pernah bisa marah, meski bagaimana pun keadaannya, mungkin ini bagian serunya, asal tidak berlebihan saja. Kami semua tertawa dan Mayang menggandeng Nunu berjalan menuju meja makan.


Kami sudah duduk berlima sekarang, dengan makanan yang siap di santap. Beberapa saat kami saling pandang memperhatikan Nunu yang masih setengah mengantuk.


Lalu kami mengambil nasi lengkap dengan lauknya di piring masing-masing. Dan yups dengan telatennya Mayang mengambilkan Nasi dan kawan-kawannya untuk Nunu, dengan aroma nasi yang masih mengepul, Nunu terlihat mulai tergoda untuk lebih membuka mata, memandangi yang ada di depannya dan menatap mata kami semua dengan senyum nyengir. kami membalasnya penuh kasih, dan mengatakan bersamaan "Cuci tangan terlebih dahulu Nunu" Ucap kami hampir serentak.


Ia hanya mengangguk dan tersenyum beranjak tuk mencuci tangan. Sesampainya semua sudah siap untuk makan, Ucapan itu terdengar lagi.


"Terimakasih hidangannya Arum" suara mereka serentak hampir bersamaan


"Iya, Ayo makan yang kenyang" Jawabku penuh bahagia


Pagi yang indah seakan waktu sedang berpindah ke dimensi lain, yang isinya hanya tawa. Tapi kenyataanya adalah aku tetap di tempat yang sama, bedanya orang-orang penuh canda ini datang untuk jadi pelengkap. Makan sembari mengobrol sesekali, saling jahil kaki di bawah meja makan, saling senggol dan cubit.


Entah akan langsung menikah, berkerja, kuliah, atau bahkan kuliah sembari berkerja, bisa jadi juga iseng-iseng mencoba bisnis. Mewujudkan cita yang tidak sedikit, dan alur waktu yang masing-masing dari kami belum pernah tahu. Namun betapa kami terus bercerita menjadi sosok yang pemberani dan menyatakan akan berhasil di depan sana. Ah rasanya membuat diri tak mungkin tumbang dan berhenti, jika lelah pun bisa istirahat sejenak, esok bisa lanjut lagi dengan memperbaiki niat, ingat bahwa cita perlu di wujudkan tidak hanya di impikan. Ini akan sangat mahal sebab di tempuh dengan waktu uang dan banyak proses.


Kami terus berbincang merancang masa depan masing-masing, sembari menceritakannya untuk saling di dengar satu sama lain di meja makan.


Banyak kata dorongan yang terdengar, mendukung satu sama lain dan harus terus berproses untuk mewujudkannya. Kami saling menguatkan dan memberi ruang jika suatu hari nanti salah satu dari kita mulai sibuk, cari celah hari untuk tetap bisa bertemu. saling berbincang, ingat bahwa kita saling memiliki. kita bisa luangkan beberapa jam jika memang sangat padat. Kami terus berbincang kemungkinan-kemungkinan yang nanti akan terjadi lantas mewanti wanti di hari ini.


Kami saling tersenyum dan terus menikmati makanan sampai semua hidangan benar-benar habis sebab sembari diskusi hebat untuk hari esok yang jauh.


menjadi meja rapat yang perlu di ingat di kemudian hari.


Tentu ini akan menjadi hal yang menyenangkan untuk di ingat. Betapa beruntungnya aku memiliki mereka, rasa pertemanan ini tak di landasi materi, namun saling merasa cocok dan ingin ada satu sama lain. Meski sedikit ada kurang itu pasti ada, tidak ada hal yang sempurna di dunia ini. Lantas kami tertawa secara bersamaan dan saling berkata "Sudah sukses, jangan saling melupakan" Ujar kami masing-masing saling mengingatkan.

__ADS_1


Makan Usai, Wintari dan sabil yang kali ini membereskan semuanya setelah makan, mereka berdua terdengar berisik seperti ibu-ibu rumpi yang ketika bercerita di bagian paling penting suara makin pelan dan tiba-tiba tertawa terbahak bahak. Aku , Mayang, Nunu hanya menoleh kebelakang heran. sembari menggelengkan kepala.


"Cuci piring yang bersih, jangan rumpi" Celetuk Nunu


"Jangan keras-keras ketawanya, suara TV nya kalah Win, bil" celetuk Mayang setengah meledek


"(Terdengar suara sorakan dari belakang)"


"(Lalu Wintari dan sabil lanjut tertawa lagi)"


Kami yang di depan TV tidak habis pikir, apa yang di bahas sampai segeli itu, sampai pada akhirnya Mayang menaikan volume TV, hahahah Aku yang memperhatikan tingkah mereka sembari senyum-senyum geli. Betapa serunya jika seandainya aku memiliki 5 saudara dengan umur sepantaran, setiap hari mungkin akan ramai dengan ributnya, juga keseruannya. Aku membayangkan hal ramai dan indah, tidak ada sunyi. semua sudut rumah terisi tawa, sepertinya akan terlihat indah. Penuh Bahagia, tidak ada waktu untuk sempat merasa sendirian, dan tidak memiliki siapa pun. Ahh ingin rasanya aku merasakannya. Namun sekarang pun sudah, meski nyatanya mereka sahabatku, bukan saudara kandungku yang bisa menetap di rumah ini terus-terusan. Nanti mereka akan pulang di rumah mereka masing-masing. Dan Rumah ini akan kembali sepi. Membayangkan ini batinku sedikit sedih. Rasanya akan aneh peralihan Rumah yang ramai dengan tiba-tiba menjadi hening seketika saat mereka harus pulang.


Bisakah kali ini waktu melambat? Aku memaksa, Aku ingin tawa dan hangat ini lebih lama. Aku senang berada di dalamnya, memiliki teman bicara di sepanjang waktu membuka mata dan menutup mata. Ini sangat menyenangkan, ia mampu mengusir penat ku yang tak karuan. Aku seperti menjadi manusia normal pada umumnya.


Kami menonton TV bersama, Wintari dan sabil juga ikut gabung saat sudah selesai. kami terus bercanda sembari saling mengambil foto dengan kamera hp ku, kami mulai mengabadikan kebersamaan kami. saat usai memotret kami melihat hasil jepretan yang luar biasa lucu, mereka kezal sebab mengetahui aku memotret di momen yang mereka tidak tahu, waktu mereka tertidur, merekam saat mereka bangun tidur, Diam-diam merekam Nunu di sela-sela kantuknya yang berat tadi pagi, memotret semua yang bisa ku abadikan. Mereka terus kezal namun juga tertawa dan saling meledek satu sama lain. mereka menggelitiki ku tak ada ampun, Aku tertawa tak henti-hentinya, tawaku meledak luar biasa, entah kapan terakhir kali aku merasa sangat bahagia sebelum ini. Namun ini rasanya amat membuat bahagia.


"Sudah cukup" Ucapku memohon


"Dasar Arum" Gerutu mereka


Kami tertawa bersama, Lalu mulai menonton TV dengan serius dan sadar atau tidak mereka semua belum ada yang mandi, hahahah semua sahabatku memang luar biasa. Ini adalah hari libur yang menyenangkan, Lantas sore nanti mereka harus pulang ke rumah masing-masing, sebab senin mulai masuk sekolah dan yang paling tepat adalah mereka memiliki kehidupan sendiri di tengah keluarganya yang hangat. Hhhhh Aku akan kembali sendiri di rumah. Aku akan benar-benar akan mengingat momen ini dan merindukannya nanti saat mereka baru saja pulang.


Namun aku benar-benar sangat bahagia.


Terimakasih Tuhan untuk rasa yang kau beri.


Aku amat senang juga bahagia. Sungguh Aku bahagia.


Patah hatiku kemarin, terasa tak berarti, hilang begitu saja. Yang ada adalah Aku yang merasa bahagia.

__ADS_1


Sungguh Aku benar-benar bahagia.


__ADS_2