Ruang Rumpang

Ruang Rumpang
Arum Nuray


__ADS_3

Hari lalu yang menyenangkan.


Sedikit basah lantas banyak tawa yang di buat seksama. Entah bagaimana jadinya jika mereka tidak ikut andil dalam ceritaku yang penuh labil soal rasa.


Banyak hari terlewat dan beberapa hal begitu mudah terlupakan. Sebentar lagi hari itu tiba, hari dari


masing- masing kita sibuk dengan mimpi dan cita. Kelulusan tidaklah lama lagi, 365 hari lagi ia akan dengan sigap menggandeng tangan kita masing masing.


Coba bayangkan betapa bahagia dan harunya kita nanti?


Aku sudah cukup membayangkannya. Betapa kita amat menantikan hari itu dan menjadi sesuatu setelahnya.


Kamar yang biasa saja, terlihat sederhana namun juga pemulih sakit ku yang tak biasa. Aku memandangi


langit- langit kamar yang di hiasi bintang dari sedotan.


Setiap memandangnya mengingatkanku pada waktu pertama kali aku mampu membuatnya. Atau lebih tepatnya tentang orang yang mengajariku sampai bisa. Aku tersenyum sendu mengingatnya. Lantas aku berjalan ke bawah menyusuri tangga, mengambil mangkuk dan es buah yang beberapa hari sudah terlanjur beku di dalam freezer.


Aku meletakkannya di mangkuk dan memberinya sedikit air.Membiarkannya sedikit mencair. Ku bawa ia ke kamar, tepat ku letakkan di atas meja, dan menunggunya untuk tidak lagi begitu beku. Aku mengetuk-ngetuk mangkuk yang terisi air dan bekuan es buah, mencoba memecah hening yang merayap. Ku coba pastikan tugas sekolah semua sudah terselesaikan dan malam ini benar benar sedang bergelut hening dan senyap.


Anak-anak kecil yang biasanya berlarian di bawah tak kunjung ku dengar suaranya, mungkin sebab bumi basah setelah hujan. Namun aroma bau tanah tercium sangat mempesona, bau khas pesona langit ketika menurunkan rintiknya.


*** Hening ***


Mendatangkan Pertanyaan yang ku sembunyikan di palung batin, untuk mulai berdialog tentanh tanya yang kerap ku tutup rapat rapat.


"Mungkinkah esok akan jadi lebih mudah?"


Batinku bergetar, seakan takut bahwa esok tidaklah semudah apa yang di mau.


Menjadi dewasa dan tumbuh semakin menua.


Rasanya ini menjadi rumit seakan mimpi buruk yang mengganggu keyakinan tak seberapa.


Apa lebih baiknya cerita ini sampai sini saja?.


Apa baiknya ini berhenti disini saja?.


Sebab esok tidak pernah tahu bagaimana hari akan berjalan, entah semakin mudah atau jadi sangat rumit dan membuatku ketakutan setiap mengingat dan menjalani.


Rasanya aku ingin punya mesin penghangat, entah itu berbentuk selimut yang lembut atau seseorang yang cerdas menangkap apa yang jadi ketakutan ku.


Bahkan, Aku bertanya tentang pemberian namaku sendiri.


Apakah jika nama ini tidak terpikirkan?.


Tidak pernah di berikan padaku?.


Apakah cerita ini akan tetap ada?

__ADS_1


Apa aku akan tetap terlahir?


*** Sesak mulai memasuki paling hati ***


Batinku serasa ngilu.


Sungguh ini ngilu yang teramat getir.


Seperti ada bagian dari waktu yang di direnggut paksa oleh takdir yang tak biasa.


Dimana aku tidak memiliki hak memilih.


Aku ingin hal ini dapat kembali, hatiku terasa sangat rumpang, mataku kerap basah pada hal yang aku sendiri tidak dapat pahami. Aku merasa sangat lelah berada di posisi ini, memiliki peran yang seperti ini?.


Tidak bisakah di tukar dengan hal yang ku inginkan saat ini? Aku ingin hangat yang tak bisa beku.


Rasanya begitu dingin dan untuk beberapa waktu sangat menyiksa. Lantas pada baris waktu harus tetap menjadi baik-baik saja. Ini sangat membosankan dan membuat jenuh yang tak biasa.


Aku menyadari betapa hari esok akan datang dengan nama-nama harinya seperti biasa, tapi bisakah untuk kali ini aku tidak merasakan asma sesak sebab waktu yang tidak memihak pada takdir yang saat ini sedang ku pijak?


AAARGHHHH..... teriakku memekik dalam sunyi


***Batinku kesal***


Rasanya aku menginginkan protes luar biasa, namun aku pun menyadari bahwa Tuhan tidak pernah pergi.


"Arum Nuray"


Perempuan dengan ceria yang di setting, Dan akan menjadi depresi pada waktu sendirinya.


Betapa sedihnya aku menyadari hal tersebut.


Kalut yang tak dapat di libas oleh tidur semalaman.


Rasaku terasa direnggut takdir.


Aku merasa ini tak biasa.


Hangat yang ku mau, namun seperti tak akan jadi sampai. Bisakah ini terus berlanjut dan menjadi hangat bahagia luar biasa?


Inginku sederhana, tapi pada kenyataanya perlu banyak hal yang di rombak tak hanya pada diriku, tapi juga pada kisah orang lain.


Apa ini terlihat bodoh?.


Apa Aku terlihat konyol?


Sebab Aku sedang menginginkan hal baik terjadi pada hidupku?. Aku tak pernah merasa jadi beruntung jika kalut ini memaksa masuk pada batin dan sedih yang menjadi-jadi.


Aku ingin memulai tidur dengan baik.

__ADS_1


Rasa hangat dan bangun dengan mata penuh harap. Bukan sembab yang sudah jadi langganan.


Tidur dengan rasa aman, mengetahui bahwa besok akan tetap baik baik saja. Aku sangat menginginkan ini terjadi meski seperti tak akan terjadi, atau terlihat mustahil pada waktu ini.


"Tapi aku ingin,sangat ingin." racau ku di tengah kantuk.


*** Aku kembali menangis sesenggukan ***


Andai waktu dapat di bentuk dan di putar, aku akan menentukan siapa saja yang harus ku temui dan saat ini harus bersamaku, aku tidak akan membiarkan yang mencintaiku pergi jauh dari pandangan mata.


Aku terus bertanya, betapa waktu tidak pernah memberi penawaran secara suka rela padaku tentang menjadi bahagia atau jauh lebih bahagia lagi.


Bukan menjadi sendu kalut dan semua terasa sangat pelik. Hingga semua terasa hampa, kosong dan aku merasa sendirian di dalam pikiranku sendiri.


Seakan aku adalah tawanan diriku sendiri, yang terrantai ketakutan dan tak bisa berjalan sebab terlalu lama terpasung.


Bisakah seseorang hadir?.


Menarik sesak ku dengan lembut, mendekap ku hangat, membuatku tenang dan mengantarkan ku tidur dengan aman? Aku menginginkan hal kecil ini. Sungguh aku ingin, berharap sebelum terlelap aku bisa berbagi ketakutan batinku, dan mengusir takut dengan tawa bersama.


Esok akan datang, dan aku akan berjalan kembali di sana. Hanya saja ada yg berlubang dan keropos di sini, seakan aku tak menginginkan lagi mimpi-mimpi yang ku buat, aku tidak lagi tertarik menjadi periang dan menjadi hebat, sungguh ini sangat melelahkan.


Kekonyolan ku mulai merasuk.


Kegilaan yang tanpa dasar, bahwa nyatanya memang aku mulai menggila seiring waktu yang terlihat tidak pernah memihak padaku.


Aku ingin protes tentang apa yang selama ini ku jalani, hal yang tidak pernah menjadi keinginanku.


Dan aku berusaha tampil baik tiap harinya.


Namun ini adalah puncaknya, sungguh aku letih.


"TUHAN AKU LELAH!!!! " Teriakku pada batin


*** Tangis ku terus menjadi, dan suara isak tangis yang mulai terdengar kencang, lantas ku tenggelamkan pada bantal dan ku tikam keras ke dasar kasur.


Aku hanya ingin mengungkapkan letih.


Aku hanya ingin memberitahu bahwa pikiranku kacau.


Aku kerap menjadi takut tak beralasan.


Hanya itu.


Sungguh Aku letih, amat letih.


Pelik terasa merenggut ceritaku yang tadi penuh senyuman.


*** Aku lelah ***

__ADS_1


__ADS_2