
Suara hujan yang sangat di rindu, pelepas duka.
Suara bising di luar menjadi candu jalanan, membuat kota metropolitan terlihat jelas modern. sedang di dalamnya masih ada banyak yang kuno.
Kuno dalam pikiran yang bersihkukuh berharap hujan datang. Hingga seharian bisa hujan, namun tak menimbulkan banjir. Omong kosong yang kerap terjadi dan jadi bahan obrolan kuno tak ada habisnya.
Mega mega di langit berdesakan membuat barisan memasuki malam, lantas berusaha
bersaing indah dengan pelangi pelepas hujan.
Beruntung saja malam tak ikut serta dalam kompetisi ini, karena pasti persaingan akan semakin ketat.
Tapi satu hal yang pasti, awan mendung tak pernah benar-benar pergi kecuali mentari memintanya.
Sayangnya itu adalah keadaan langit beberapa hari lalu, dan kini langit siang hari terasa begitu terik dan memekik tenggorokan, mengundang tangan untuk membawakan segelas air dingin untuk di teguk. Dan kurasa tubuhku lebih mendukung untuk merebah dengan mata terpejam.
Lantas bunyi angin buatan dari robot canggih abad 20 an, yang masih banyak di minati terdengar amat serak, dengan rasa sepoi angin yang bersemilir berlalu lalang dengan udara. Iya, untuk ku ini cukup, kipas angin kecil yang berderik sembari mengeluarkan angin, pelepas peluh di dahi.
Rasanya amat tak biasa, sebab mentari yang terlalu bersemangat mengeluarkan energinya,
tapi tetap saja ini perlu di apresiasi.
Sebab aku juga tidak yakin saat hujan turun, dia akan mendapatkan sanjungan.
“Iya kan?” banyak hati yang mengeluh lantas menggerutu.
“Rum, esnya ini”
“Rum, keburu mencair nanti beli lagi, tidak ada uangnya, sudah tahu uang habis.”
( jelas seseorang di ikuti tawa anak anak yang lain)
Aku membuka mata lantas terdengar suara tawa teriakan juga tangis anak anak di luar,
di tambah suara knalpot rusak dari motor yang tak mau kalah saing unjuk gigi memanaskan siang yang terik.
Hal yang aku tidak suka dan ini benar benar menjadi rutinitas saat aku harus singgah di rumah Mayang.
Aku Keluar dari kamar dan memandang 8 pasang mata yang menatapku sembari mengerutkan dahi, sembari menyodorkan es coffe dalam plastik di penuhi eksotis godaan es batu yang nampak menetes segar dari plastik putih, aku menelan ludah lantas meringis tersenyum pada mereka, dan mengambil es yang berhasil menggoda mood ku untuk menikmatinya.
“Kita beli dua, satu es cofee, satu es teh.” Ujar nunu sembari sibuk mondar
mandir di belakang punggungku.
“besok besok space ruangan ini perlu di lebarkan deh.” Ujar ku dengan nada mendongeng sembari menyedot es coffe.
“Huuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu.???!!!
( Suara Sorakan lantas terdengar )”
“Tunggu lebaran semut ya” salah satu mereka menimpali dan kembali tertawa renyah
“(Aku hanya tertawa sembari menikmati tiap dingin coffe warung khas anak sekolah)”
“ Tehnya mana yang?” ujarku menanyakan sembari melihatkan bungkus es coffe ku yang sudah habis
“Yang , sayang?” jawab mayang meledek
“Mayang lah, cie yang flasback kaka kelas di panggil yang, padahal namanya kan memang Mayang ledekku dengan tawa yang meledak ledak
*** Tawa pecah ***
“Rum, janganlah terlalu vulgar, karna itu memang benar” Ucap wintari dengan tawa lebih heboh
“Iya kan nu?” tanya wintari mencari sekongkolan
“(Suara tawa pun kembali pecah, meledak seakan bersaing dengan panasnya siang hari)”
Aku perhatikan wajah mereka satu demi satu, eksotis , manis dan tak pandang bulu, setidaknya mereka adalah alasan seorang ”Arum Nuray” tetap ingin berjalan menuju sekolah.
Betapa aku merasa tidak beruntung jika mereka tidak ada. Meski di sela tawa banyak juga kekesalan yang di buat, bertengkar dan akhirnya kembali berpelukan penuh sayang. Aku meneguk teh dengan lambat dengan tatapan mata yang seakan merekam momen ini setiap kali kami bisa berkumpul dengan uang yang masih tersisa dari saku untuk di belikan air atau makanan pelengkap ghibah.
Ya, meski sebenarnya tidak boleh, tapi ini rutinitas yang akan terjadi saat yang berkumpul lebih dari satu orang.
Banyak yang berandai dan berharap hari hari lekas berlalu, menganggap bahwa hari hari yang akan datang tidak akan seberat yang di lalui saat ini.
Meski kenyatannya dari kita hanyalah menebak nebak, sebab bisa saja yang akan datang lebih berat.
Tapi yang pasti, setidaknya kemampuan dari masing masing kita juga bertambah.
Mataku berkaca kaca secara mendadak, sembari terus menyedot es teh yang airnya sudah ku teguk habis, hingga mengeluarkan
bunyi gesekan dengan es batu yang belum mencair. "srookkkk srokkk"
“Rum, berisik” protes nunu sembari mencolek bahuku
“Biar saja” ujarku datar
“Kamu kenapa Rum? Matanya menggenang? Ada masalah?” timpal mayang cepat
“ Iya ada apa?” sahut wintari jaringan 4g
“Rum, are you okey?” ujar sabil cepat sembari menepuk bahuku kencang
Melihat ekspresi dan perkataan mereka, malah makin membuatku semakin jadi,terbawa perasaan dan akhirnya meneteskan air mata secara deras. Aku menggelengkan kepala, lalu merengkuh mereka dengan dua tangan yang hampir tak sampai mencakup semua.
“Terimakasih banyak.” Ujarku mengharu biru
“( Mereka tertawa tebahak bahak)”
“Bukan Arum Nuray namanya kalau jelas orangnya” Ujar nunu sembari memeluk dan
merengkuh kepalaku sedikit kasar
“Tapi, kita tetap sayang, meski kau tak jelas Nuray” Ujar mayang penuh konyol
“Iya, bayangkan apa Rum, sampai ekspresi sedihnya keluar begitu, bahkan bisa ada air matanya? btw tolong bagi resepnya, besok ada praktek pentas drama, dan kalian juga tahu semuanya, Aku mana bisa memasang muka sedih?” ujar Sabil sembari curhat dengan ending meringis
“Teman sedih malah bagi resep?” gerutu Wintari
“( Kami kembali tertawa)”
Sereceh dan sehangat itu saat kami berlima duduk dalam satu tempat .
Hawa panas yang berdesakan masuk semakin mulai menepi , lantas mempersilahkan angin berdawai memberi sepoi sepoi pada rumah mayang yang sepetak.
Waktu terus berjalan dan satu dari kami menikmatinya dengan menunggu hape yang di chas, tiduran, menyalin catatan pelajaran, dan bahkan ada yang berjaga di luar untuk memberhentikan tukang bakso keliling langganan kami saat berkumpul.
Lantas aku sendiri sibuk dengan rancangan masa depan yang ku tulis di kertas buku.
Rutinitas yang terus berulang , terjadi dan menjadi kebiasaan menyenangkan, pengganti luka pada waktu tertentu di sekolah. Mengisi dan mengantarkan siang
pada senja dengan sangat sopan lantas santun, membuat tiap kata menyakitkan
__ADS_1
menjadi apik dan berdasi.
*** Panggilan kencang juga mesra pada mamang bakso terdengar****
“Bang, Bang, Bakso Bang” Teriak Wintari terdengar dari depan
“Pelan pelan Win, ada bayi di tetangga sebelah.” Jelas Mayang kesal
“Abangnya tak mau berhenti, padahal kita suka beli.” Jelas Wintari cepat
“Kejar Abangnya Win, pasti suara kamu kalah sama knalpot motor abang-abang sebelah.” Pinta nunu
”Antar lah, masa sendiri?” Tukas Wintari
“Ya sudah , ayoo.” Jawab Sabil sembari jalan menuju Wintari
Sesaat setelah Wintari dan sabil mengejar pemadam keroncongan perut, satu dari kami mulai mengomentari satu dari yang lain.
“Mau beli bakso saja, harus banyak drama ya?” tanyaku sembari tertawa
“ Hahaha iya, setiap hari kan memang begitu” Ujar nunu
“Sama seperti kamu Rum, Seperti tadi drama bombay” cetus mayang melawak
“Enak saja, Aku tidak drama.” Jawabku mengelak sembari memasang wajah konyol
“Huhu” timpal mayang dan nunu bersamaan
“(Aku hanya tertawa)”
Beberapa saat kemudian...
“Bakso habis guys, kita kali ini hanya dapat tahunya.” Jelas Sabil sedikit kesal
“Wah Arum yang senang ini.” Ledek nunu
“Wah, Iya ini kesukaan Arum.” Timpal mayang
Aku yang mendengar percakapan mereka lantas terus senyum senyum sendiri dan
membalasnya dengan tawa yang begitu heboh.
“Tahu juga enak.” Ujar ku bersemangat
“Iya , tapi tanpa bulat-bulat bakso serasa kurang lengkap” jawab mereka serentak
“(Aku hanya nyengir dan mengerutkan dahi)”
“Bersyukur” Ujar mereka lagi secara bersamaan sembari menghela nafas
“Nah, bagus.” Ujar ku cepat tak kalah sumringah.
“Mari makan” (Ucap kami serempak)
Suasana makan adalah suasana paling meningkatkan mood dan mendekatkan hati, satu dari kita terus melahap tanpa canggung, meski di sela selanya kerap terjadi kejahilan yang menimbulkan kekesalan salah satu dari kami. Tapi percayalah, itu tidak menyurutkan rasa enak dan rasa ingin menikmati makanan bersama sama.
Kami terus melahap sampai habis.
“Bagaimana rasanya?” tanyaku
“Macam biasa.” Jawab nunu
“Enak dan enak sekali” ucap kami bersamaan sembari tawa saling pandang
sangat manis dan legit di sanubari.
Betapa baiknya Tuhan padaku, menghadirkan
mereka hingga aku merasa baik-baik saja tanpa ingin menangis sendu, yang ada hanyalah tawa surgawi yang berdiri di tanah tak begitu subur , meski begitu , aku
tetap hidup dan mampu berjalan untuk melewati gerbang pagi.
*** Makan-makan sudah usai ***
seperti biasa jatah mencuci piring di gilir dan kebetulan ini giliran tuan rumah dan nunu, aku dan yang lain berbaring leha-leha sembari membayangkan hari nanti seperti apa?. Hingga muncul banyak tanya dan cita-cita yang ingin di wujudkan di masa nanti.
“Coba tebak, siapa dari kita yang akan menikah dulu?” Ujar Wintari memulai peng-haluan
*** Kami tertawa konyol seketika ***
________________________________
*Hening
*Diam sesaat
* Saling pandang dengan senyum penuh menebak
“Pasti yang tanya sendiri.” Ujarku cepat sembari meliriknya
“Iya, pasti wintari dulu.” Jawab sabil mengiyakan
“setelah itu Mayang.” Kataku menebak nebak
“hahaha” tawa Nunu dari belakang terdengar
“Setelah itu Sabil" Ucapku menerka lagi sembari meliriknya
“Aamiin kan saja.” Jawab Sabil bahagia penuh tawa
“setelah sabil, Nunu.” Ujar ku dengan tawa sembari menghampirinya yang menunggu amayang mencuci piring
“setelah itu “Arum Nuray” ujar ku berlenggok penuh percaya diri
“JOMBLO memang paling akhir, kita sudah tahu.” Jawab mereka kompak penuh ledekan
“(Mereka tertawa renyah)”
“(Aku cukup nyengir)”
Lontaran penuh konyol memang kerap terlantun.
Satu dari kami seakan menjadi spesialis masa depan. Menerka-nerka hari esok yang belum di tahu sama sekali.
Aku hanya tersenyum bahagia saat bersama mereka, seakan rasa berat di punggung memohon permisi sejenak untuk tidak mengganggu bahagiaku. Hari ini menyenangkan dengan segala celoteh yang ada.
Aku melihat wajah mereka merasa puas dengan rasa damai yang Tuhan beri. Tawa yang sedari tadi hadir, dan ya, waktunya untuk tidur pulas setelah beberapa jam tertawa makan dan lain halnya, rutinitas yang tak tertinggal saat kami bersama.
Rumah sepetak yang jadi lebar saat kami yang menempatinya. Nunu, sabil, Wintari, sudah tidur pulas dengan arah yang tak karuan, tinggal aku dan Mayang yang masih fokus pada masing masing kesibukan.
“Tak rehat Rum?” tanyanya sembari terus melihat hape
“Sebentar lagi.” Jawabku cepat
__ADS_1
“Mayang istirahat saja dulu.” Kataku menyarankan
“Belum bisa, mau jemput mama Rum.” Jawabnya sembari memakai jaket
“Oh di depan?” tanyaku
“Iya, di tempat biasa.” Jawabnya cepat
“Aku ikut.” Pintaku tanpa meminta persetujuan
“(Mayang mengacungkan jempolnya)”
“(Aku di bonceng mayang)”
“Coba nilai seberapa lihai, seorang mayang mengendarai motor Rum?” tanyanya sembari tertawa
“Cukup oke.” Jawabku singkat
“Sudah latihan seminggu ini Rum ,tak sia sia ya.” Celotehnya penuh tawa
“Iya, asal tak rem mendadak lagi seperti kemarin kemarin.” Protes ku cepat
“(Kami tertawa)”
“Tapi, karena Arum ikut, nanti yang bawa motor pulang Arum ya, kita ceng-three” jelas mayang cepat
“Siap, sampai rumah paling Rp. 10.000.” jawabku meledek
“Yeeee, motor siapa, siapa juga yang bayar.” Gerutu mayang
“(Aku hanya tertawa lepas)”
Sesaat sampai tempat biasa.
Kami berdua menunggu, dan beberapa menit kemudian mama Mayang terlihat berjalan menghampiri kami berdua. Dari kejauhan terlihat bibirnya yang tersenyum manis dan melambaikan tangan, sontak kami berdua juga membalasnya, terlihat tangan kanannya membawa tentengan plastik yang tidak kami tahu isinya, setibanya sampai kami berdua menyalami mama.
“Ini jemputnya berdua duaan?” tanya mama sembari memperhatikanku
“Arum yang minta mamanya Mayang.” Jawabku sembari nyengir
“Bisa bawanya?” Tanya mama Mayang lembut
“Bisa, sudah biasa ceng-three.” Jawabku sembari memutar motor
“Tenang ma, Arum jago, kalau jatuh kita semprot saja.” Jawab mayang sembari tertawa
“Apa itu Ceng-three?.” Tanya mama bingung
“satu motor bertiga ma, three kan tiga.” Jelasku
“Tapi harusnya ceng-two RUM, bonceng 2 kan.? Celetuk mayang
“(aku tertawa keras)”
“Entah, orang orang sebutnya seperti itu” jawabku penuh tawa sembari menyiapkan motor siap pulang.
“Semuanya pada main ke rumah?” Tanya mama Mayang sebelum naik
“Iya” jawab kami berdua
“Ini naiknya bagaimana?.” Tanya mama mayang sembari nyengir
“Mayang , naik dulu.” Ujar ku tenang
“setelah itu mama?” Tanya mama Mayang
“(Aku hanya mengacungkan jempol)
“Wah, tidak muat ini.” Jawab mama Mayang sembari tertawa
“Arum sudah duduk paling ujung ini ma.” Jawabku cepat
“Oke, di muat muatkan.” Jawab mama sembari tertawa
“Sudah tahu mama kecil, Arum masih saja minta ikut.” Ledek mayang
“Wah, parah Ma, coret dari KK ini bagusnya.” Timpal ku dengan tawa yang renyah.
“(Kami bertiga tertawa)”
*** Perjalanan di mulai ***
Perjalanan menuju rumah mayang butuh sekitar 15-20 menit. Sepanjang perjalanan mama mayang mendominasi menceritakan masa
mudanya dulu, bercerita tentang bagaimana body bagusnya dan banyak halnya, dan
entah mengapa ini membuatku menjadi rindu seketika, rindu pada suara yang renyahnya lama tidak ku dengar.
Seketika ingatanku di bawa kabur untuk mengingat
sedikit yang terlewat dan aku tersenyum tipis di sudut bibir. Perjalanan yang hangat dan konyol, aku terkekeh kekeh mendengarnya, syukurlah masih mampu
mengendalikan keadaan motor untuk tetap stabil
Sesampainya di rumah, pemandangan yang tak lagi asing, mereka tertidur pulas
dengan berbagai posisi. Iya, mereka terlihat tertidur dengan sangat nyaman.
Waktu menunjuk pukul 3 sore lebih 15 menit,
Suara adzan terdengar dan satu per satu dari kami yang tertidur pun mulai terbangun untuk sholat ashar, kecuali Wintari.
Jam terus berputar dan satu persatu dari kami mulai pulang, Nunu yang di jemput Ayahnya, Sabil yang pulang jalan kaki bersamaku, dan di pertengahan jalan kami berpisah karena arah jalan berbeda, rumah Sabil jauh lebih dekat dari Mayang.
Berjalan bersama angin lepas dan decak kaki yang terbiasa menyusuri jalanan jauh, rasanya ini menyenangkan, ku pandang langit terlihat mendung, sepertinya ia tak kuasa lagi menahan deras hujan nantinya, hingga ku putuskan untuk lebih cepat untuk sampai rumah dan seketika di depan pintu, rindunya langit benar-benar turun, akhirnya hujan, seketika aku tertawa dan memasuki pintu rumah.
"Amat romantis" Gumamku
Rumah hening, dan aku memutuskan untuk
langsung menaiki tangga menuju kamar.
Lantas langsung merebahkan tubuh dan melihat langit-langit atap yang masih sama, ku sapu dinding dan ku dapati jam menunjuk pukul 5 sore lebih 30 menit, rasanya kantuk mulai menyergap ku dan memaksaku
untuk tertidur, hanya saja aku menahannya.
Ku ambil buku novel yang kemarin
sempat ku beli, kucoba membacanya.
Seperti biasa sebelum di baca aku akan memberikannya tulisan. Tanggal pada kertas lembar depan buku berserta harga beli lengkap dengan tanda tangan. Aku tersenyum setelah menulisnya. Sesak ku menipis, bahagiaku kian menebal terasa manis lebih legit.
Mereka adalah candu yang membuatku jauh lebih baik.
__ADS_1
Sungguh Aku mensyukurinya.