Ruang Rumpang

Ruang Rumpang
Menjadi Diam


__ADS_3

kata kata tidak lagi populer di ucapkan di dalam rumah berukuran sedang, tidak lagi menjadi hal yang hangat untuk bisa di sanjung-sanjung sebab keajaibannya. Aku merasa tidak di miliki oleh seorang pun, aku hanya bisa menyadari kaktus yg ku coret-coret dalam dinding kamar, terlihat jelas dapat ku lihat, rasanya malam menjadi sangat panjang dan aku enggan berdamai dengan pagi, rasanya menjadi hidup bukan lagi yang ku mau, entah siapa aku? siapa mereka?


rasanya aku tidak menemukan kebaikan dalam hatiku dengan kondisi kalut tak bersahabat.


Bisakah seseorang hadir?


Membuatku terus hidup dan melakukan banyak hal. Aku mulai menyalahkan diriku sendiri, aku mulai enggan berbicara pada siapa pun, ketakutan itu datang lebih hebat dari biasanya.


Fikiranku beraduk menjadi kalut penuh gersang.


Kering kerontang, tersayat, penuh sesak.


Aku hanya bisa berteriak dalam bantal kuat-kuat, menenggelamkan suaranya ke dasar kasur untuk di bungkam tangan sendiri. Air mataku tidak berhenti berjalan. Pikiranku berkelana terseok seok lupa jalan kembali pada biasanya.


Aku hanya mendengar isak tangis ku sendiri, yang ku usahakan terus di bungkam dalam bantal dan dinding-dinding tembok.


Aku kehilangan diriku sendiri.


Aku melihat wajahku penuh mata sembab, keyakinan ku seakan sembunyi di palung paling dalam. Aku tak kuasa mengambilnya untuk saat ini, lantas membiarkan ia tetap di sana sendirian.


Ku harap langit kali ini tepat memeluk.


Ku harap malam ini turun hujan, untuk mendinginkan badanku yang mulai terasa panas.


Aku tak ingin jatuh sakit, karena ini akan menambah getir kenyataan yang ada.


Tak ada seorang pun di sampingku. Aku tak ingin kesadaran ini membuatku makin tak ingin hidup.

__ADS_1


jam dinding menunjuk pukul 8 malam, Aku mulai lelah dengan terus berpindah pindah dalam sisi kamar, kadang aku merebah di lantai, di kursi, dan sekedar menikam kepala dengan bantal di atas kasur. aku kesal pada diriku sendiri, aku kesal dengan semua persetujuan waktu yang mungkin dulu pernah di beri tahu Tuhan.


Aku terus meracau menyalahkan dan merasa terus bersalah. Aku tidak butuh maaf, aku menginginkan peluk kali ini. hatiku kacau, keyakinanku pudar, aku di tikam sepi sendirian.


Semua berjalan layaknya kaca yang tak bisa menjadi cermin seutuhnya, aku menjadi sangat muak, perselisihan, sandiwara tawa, semua yang waktu tunjukan dan terlihat apik namun ngilu di rasa. Aku marah pada diriku sendiri yang belum juga jadi pandai sebagai pemeran, aku kerap di hempas waktu dan kehilangan diri. Semua terasa tidak memiliki hati, begitu juga diriku.


Bisakah seseorang datang?


Bisakah seseorang kemari mendekap ku?


Bisakah seseorang datang hanya untuk membuatku tetap hidup dan merasa bahagia?


Bisakah seseorang tinggal di sini, memberi dan menunjukan banyak hal?


Bisakah seseorang datang?


Semua terasa kalut, hidungku terpenuhi ingus tangis,


mataku sembab memerah, hatiku ngilu sakit, hingga terus membuatku sesenggukan tak karuan.


Aku tak menginginkan hal demikian terjadi, aku menepi dari kisaran waktu yang terus berputar, aku tertinggal sendirian, mereka tak membawaku, atau aku yang enggan membersamai mereka?


Aku menunggu hujan datang, aku ingin pergi tidur dengan suaranya dan memperbaiki pagi yang nanti akan datang, aku akan coba menemui pagi dan memperbaiki bagian yang rusak. Aku akan coba untuk sesuatu hal yang belum aku tahu keberhasilannya, aku menginginkan beberapa hal untuk terus di lakukan hingga nanti, Sampai aku bosan dan menemui Tuhan.


Aku hanya ingin bertahan di sisa waktu yang sangat sebentar, aku hanya ingin bertahan untuk pergi ke tempat lain dalan waktu lama.


Aku hanya butuh bertahan, dan memperbaiki yang ada, berhenti menikam diri sendiri secara berulang ulang dan mulai berjalan lagi.

__ADS_1


Hari esok pasti tak akan sama lagi.


Aku akan bersama beku lagi dan menjalani hari, menumbuhkan keyakinan dan terus mengoreksi diri.


Hidup pada jalur sendiri dan menjadi tangguh.


Tidak perlu berharap seseorang akan datang dengan sukarela, setidaknya Tuhan sudah lebih dulu menyerahkan segalanya dan aku masih terus meminta lebih, kali ini aku hanya cukup mensyukurinya dan pergi memperbaiki semua penuh lapang.


Aku hanya ingin menjadi tenang, dan tak banyak sesenggukan lagi di sela-sela malam yang hening, lekas pergi tidur, menikmati sajian mimpi dan berjalan di pagi hari, menyelesaikan banyak hal di hari-hari dan kembali pada malam untuk tertidur dan menikmati mimpi. Harusnya ini cukup mudah untuk bisa di lakukan, tanpa harus berdarah dan merasa terbunuh oleh siapa pun.


Aku hanya ingin menemui pagi yang di ciptakan indah, jalan penuh riang dan berhasil menebar banyak kebaikan, menjadi penghangat bagi jiwa yang kehilangan banyak keyakinan. Aku ingin buang kalut ini, dan menjadi pribadi yang lebih terkontrol meski pada prosesnya aku masih harus menangis dan sesenggukan berlebih. hanya saja ini perlu untuk di lakukan, hanya saja ini hal yang perlu di coba. hal yang tak patut menjadi berhenti sebab sepele waktu yang di rasa pahit dan menusuk.


Bagian-bagian waktu selalu menggali keajaiban,


dan kini bagaian ku belum terlihat jelas bagaimana jalan keajaibannya bisa di nikmati dan menjadi hakiki.


Ya, kurasa aku hanya perlu lebih santai lagi, lebih pelan untuk memetik harap dan berjalan perlahan di atas jurang penuh tanya.


Malam makin habis, kini mulai mengikis pagi dan aku masih saja meracau pada diri sendiri kelelahan berfikir, dan hujan yang belum juga kunjung datang, sampai kantuk membawaku paksa untuk meninggalkan kefanaan dan pergi terlelap, aku tersenyum di jemputnya, dan menikmatinya penuh lapang, aku tertidur pulas. Aku menemui duniaku yang lain, dunia mimpi yang berbeda jauh dari nyata yang ada, di sana aku penuh berani dan tegas pada sikap, aku mulai menjalani peranku di sana, dan hampir tak ada yang gagal, aku senang menyadari ini.


Aku berusaha menghadirkan ibu dalam mimpiku, untuk bisa mendapatkan dekapannya, dan iya aku melihat ibu seketika, aku bisa mengatur semua dan siapa yang ku izinkan hadir dalam mimpi, aku amat senang menemui ibu dan bercerita banyak hal, duniaku jadi penuh surgawi dalam mimpi, kegersangan batinku layaknya jadi mengelupas lepas, aku tertawa bersama ibu dan mendapatkan peluknya penuh hangat, ini sangat menghiburku yang kacau, mendamaikan sukma ku yang meronta kesakitan, dan melepas rinduku yang di pasung kenyataan.


Aku tidak ingin banyak bicara lagi, aku hanya ingin tertidur di pangkuannya, dengan tangannya yang lembut membelai rambut panjang ku, dan tangan ibu yang satu ku genggam nyaman sembari menghadirkan sejuk angin yang teduh, lantas daun hijau yang jatuh perlahan pelan menerpa kulit.


Aku jadi damai seketika.


Meski setelah ini aku menjadi banyak diam.

__ADS_1


__ADS_2