
Bab 2
"Keyakinan Masa Yang Terhubung"
...----------------...
"Hai" sapanya lembut
"(Aku hanya membalas senyum kearahnya)"
"Bagaimana kabarmu?" tanyanya pelan
"Aku baik" jawabku singkat
"Syukurlah, Aku senang mendengarnya" jawabnya dengan kesungguhan
"(Aku hanya mengangguk)"
"Kabarku juga baik" ucapnya menjelaskan
"Aku sengaja memberi tahu kabarku, meski kamu tidak bertanya kembali, aku hanya ingin mendamaikan cemasmu yang kau tutup rapat." jelasnya lagi di ikuti tawa lirih
"(Aku tersenyum kecil)"
"Siapa dari kita yang sebenarnya mengunjungi?" tanyanya polos padaku
"(Aku hanya menatapnya lama, tak ada jawaban apa pun.")
"Lupakan, aku senang mengetahui kamu di hadapanku." ujarnya cepat menepis tanyanya
"Bisakah kita makan sesuatu?" tanyaku singkat
"Tentu, kamu bisa pilih menu sesuka hati" Ujarnya sembari menyodorkan daftar menu
"Aku mau makan, apa yang kamu pesan" jawabku singkat saat ia mencoba menyodorkan daftar menu
"Kamu selalu suka, apa yang ku suka" ledeknya receh
"(Aku hanya tersenyum kecil)"
"Bagaimana jika singkong goreng dan kopi?" tawarnya mencari persetujuan
"(Aku hanya mengangguk kecil tanda setuju)"
Mataku memperhatikan matanya yang masih sama dengan 1.460 hari silam, wajahnya seakan tak ada kerut yang singgah. Ia tetap terlihat tampan, tetap dengan dawai yang lama tidak ku dapati.
Ia banyak bicara saat di hadapanku, ia menceritakan banyak hal yang menyenangkan, ia bercerita bagaimana ia menjadi seseorang yang amat beruntung dalam segala hal. Hanya saja dalam beberapa waktu hidupnya seakan terasa terjeda berjalan, ia mengatakan mengetahui sebabnya, hanya saja, ia tak kuasa melakukan apa pun, dan yang ia lakukan hanyalah membuat gaduh malam untuk membuat jalan agar membawanya di jeda waktu itu lagi untuk memperbaiki sebelum pagi kembali datang.
Cara bicaranya masih sama, teduh dan membuat candu pendengaranku. Aku terus melihatnya berusaha tak melewatkan sedikitpun yang ada. Ia terus berbicara dan membuatku tertawa yang sedari tadi hanya datar-datar saja.
"Aku senang" ujarku padanya sembari menatapnya di tengah cerita yang ia buat
"(Ia menatapku lekat dan membuat senyuman termanis yang sempat ku lupa)"
"Apa kamu bahagia?" tanyaku mulai ingin mengetahui banyak hal darinya
"Tidak" jawabnya tersenyum
"Mengapa?" sahutku cepat
"Sebab, Aku tak memiliki alasan apa pun untuk bisa kembali menemuimu pada awalnya" jelasnya dengan nada sedikit parau
"Artinya, Aku yang mengunjungimu kali ini." jelasku singkat padanya mencoba mengusir sedihnya
"Apa kau sudah bisa bahagia, setelah mendengar ini?" tanyaku tak sabaran
"Iya" ucapnya cepat
__ADS_1
Aku sedang bertanya pada diriku sendiri tentang bagaimana aku bisa sampai di tempat ini dan duduk di hadapannya.
Mungkinkah ini jalan yang malam buat sebab kegaduhan yang terus ia lakukan untuk bisa kembali menemuiku? atau sebab lainnya? jiwaku merasakan senang, hanya saja hatiku seperti terdiam mengamati.
Tiba tiba aku terisak luar biasa di hadapannya, membuatnya berpindah duduk di sebelahku untuk menenangkan. Ia tak bertanya apa pun, ia hanya menemaniku duduk dan sesekali memanggil namaku lembut, hingga aku bisa kembali pada radar seharusnya. Aku menatap matanya dalam, mencoba memakan singkong goreng yang sudah tersaji, dan meminum kopi yang terasa masih panas. Rasanya sama seperti awal aku mencobanya, tidak berubah. sama seperti awal pertama kali aku duduk satu meja makan dengannya.
"Rasanya enak" ujarku padanya
"(Ia hanya mengangguk kecil dan menemaniku memakannya)"
"Sekarang hari apa?" tanyaku penasaran
"Hari sabtu" jawabnya cepat
Hatiku sedikit gemetar mendengar jawabannya, dengan terus tersenyum ke arahnya dan terus memandanginya seksama. Ia terus tersenyum lantas menangkap tatapanku lekat lekat.
"Apa kamu akan memberi tahu ku sekarang tanggal berapa?" tanyaku lirih padanya
"Tidak, jika kamu tak meminta" jawabnya cepat
"Sekarang tanggal berapa?" timpalku cepat
"Apa kali ini kamu sungguh bertanya?" tanyanya balik meyakinkan
"Iya" jawabku singkat
"27" ucapnya lamban
"(Tangisku tiba tiba meledak tak karuan)"
"(Tiba tiba tangannya sigap merengkuhku dalam dekapannya)"
"Seharusnya kamu tak menjawabnya" ujarku penuh penyesalan
"(Ia tak meresponse apa pun, hanya memelukku lebih erat)"
Mataku melihat sekeliling, ku dapati jam dinding yang tak berdetak sama sekali, dan jam tanganku yang menunjukan angka sama. Orang orang yang singgah pun masih tetap sama, pemilik caffe yang tak menua dan pelayan yang masih sama. menyadari ini aku terus terisak tangis dalam dekapannya.
"(Aku tak meresponse dan tetap menangis dalam rengkuhannya)"
"Aku Rindu" ujarku padanya secara sepontan
"Begitu juga denganku" jawabnya lembut
"Ternyata waktu tidak membawa kita pada kehidupan nyata" gerutuku kesal menyadari waktu yang tak berjalan
"Bukan, hanya saja kisah kita belum sampai" jawabnya cepat menenangkan
"Mengapa harus aku yang kembali di tempat ini dengan waktu yang sama?" protesku padanya
"Aku juga kembali" timpalnya cepat
"Bukan kamu sendirian" jelasnya lagi
Ia melepaskan dekapannya, mataku yang sembab melihatnya lekat, matanya tak kalah sendu menunjukkan sedih, hanya saja ia tetap beruasaha menenangkan badaiku yang berkecamuk.
"Berapa lama lagi ini akan berlangsung?" tanyaku padanya
"Sebentar lagi" ujarnya
"Bisakah ini terus berlangsung?" tanyaku memohon seakan ada yang bisa di rubah
"(Ia hanya menggeleng pelan)"
"Nay?" panggilnya lirih
"Iya" jawabku singkat
__ADS_1
"Kali ini aku sudah mempunyai alasan untuk bisa menemuimu" jawabnya penuh gembira
"Apa?" jawabku cepat
"Aku akan menemuimu segera untuk bertanya kabar, tidakkah ini cukup untuk meluruhkan rindumu?" tanyanya penuh harap
"(Aku hanya mengangguk kecil)"
"Kamu tau Nay?" tanyanya datar
"Bagaimana?" jawabku datar
"Jangan bersedih sebab hal yang tak seberapa, contohnya rindu ini yang tak selegit rasa yang kamu mau. Dan Pengetahuanmu tentang waktu pun kurasa cukup untuk jadi alasan bahwa ia berjalan ke depan bukan ke arah belakang" jelasnya serius
"Kita bagi kadar batin kita, jika masa ini belum berakhir tentu akan terhubung di masa depan" jelasnya menatapku dalam
"(Aku hanya melihat matanya dan meneteskan air mata)"
Mendengar itu batinku luluh.
Lantas perlahan Aku dan dia kembali di waktu yang berjalan, aku melambai padanya, tersenyum ke arahnya agar ia mengetahui betapa aku senang bertemu dengannya.
Meski hanya pada malam, yang bisa menyajikan bunga tidur mengunjunginya.
Tapi aku bisa melihatnya lagi untuk beberapa lama tak pernah lagi melihatnya meski lewat malam yang di nanti.
Yang kadang akan jumpa, kadang juga tidak.
Oleh : Arum Nuray
...----------------...
"Rum kamu menangis?" tanya Mayang sigap
"Aku sedang menulis Yang" jawabku singkat
"Aku terbawa suasana ceritanya" Jelasku cepat
"Apa ini tidak masalah menulis sampai mempengarruhi mood?" Tanya mayang khawatir
"Tidak, ini duniaku Yang" jawabku penuh yakin
"(Mayang memelukku erat)"
"Kamu jadi menginapkan?" tanyaku memastikan
"(Mayang hanya mengangguk)"
Sebentar lagi jam dinding akan menuju tepat pukul 9 malam. Aku bergegas menutup buku dan bersiap siap istirahat. Malam ini Mayang menginap di rumahku, Kamarku seakan jadi ramai sebab celotehmya yang tak berhenti menjelang tidur. Untung saja esok adalah hari libur, jadi tak ada yang perlu di khawatirkan.
Aku senang Mayang berada di sini, rasanya ada pendongeng ulung yang enak jadi penghantar tidur, aku terus mendengar ceritanya yang sedang memikirkan kaka kelas kami dulu. Tapi lebih tepatnya sekarang ia bukanlah kaka kelas.
Sebab 1 tahun yang lalu ia sudah lulus. Lebih tepatnya ia adalah mantan kaka kelas kami.
Namanya Trio, Laki laki yang di sukai Mayang, dan sebab olehnya Mayang kerap merasa serba salah tingkah tak karuan.
Rasa yang di tahan, perasaan yang tak sempat di utarakan, mungkin ini efeknya, pada hari yang tak menentu saat kembali mengingat orang yang sama.
Rasanya tak bisa di deskripsikan.
Aku mulai mengantuk sembari terus mendegar Mayang bercerita, dan mengucek mata terus.
"Yang, yuk tidur." Ucapku mengantuk berat
"Sudah mau tidur ya Rum?" Rengeknya terdengar jelas
"(Aku mulai terlelap, mulai meresponse Mayang samar-samar)"
__ADS_1
"(Mayang menguncang guncang bahuku pelan, sembari terus merengek kecil)"
"(Aku benar benar terlelap)"