Ruang Rumpang

Ruang Rumpang
Menjadi Sembuh


__ADS_3

Hari yang teduh dan penuh rindang oleh pohon di sisi jalan, kaki ku memacu pelan berlarian di peranakan pagi tanpa asap kalut tak bersulut.


Aku terus berlari dan menyadari bunyi detak jantung yang berirama, peluh yang menetes, radar hatiku di batas normal, semua terasa biasa saja, hanya saja ada yang sedang ku tuju, hal yang ingin ku hampiri namun aku sendiri merasa lupa tentang perihal tersebut, aku tak ingat meski hanya sepintas.


Jam tangan warna coklatku menunjuk pukul 6.20 pagi, Aku meninggalkan Mayang yang masih pulas tertidur sebab cerita semalam, berlarian sendiri di jejak bumi yang masih berembun amatlah lapang untuk di hirup dalam dalam. terasa ringan dan riang. Matahari tak ku dapati muncul pagi ini, sepertinya ia begadang semalaman di belahan bumi lain, dan meminta izin untuk datang terlambat.


Sedikit kabut dapat ku lihat sepintas, dan embun yang tak menguap memberi basah rerumput untuk terlihat lebih segar.


Aku duduk di sisi jalan yang penuh pepohonan rindang, sembari meneguk air putih yang ku bawa dari rumah, menikmati pagi dengan jiwa yang lapang, hanya saja fikiranku terus berlarian dari tadi, mencari sesuatu yang ku lupa.


Lantas aku menatap langit tanpa silau sidikitpun, ku temui awan mendung seakan membalas tatapan ku, aku tersenyum lebar ke arahnya dan melambai sembari mengucap "Selamat pagi".


dan hembus angin tiba tiba menyolek rambut, seakan isyarat awan tuk menyapa balik, Aku berdendang bergumam lirih menikmati dunia pagi yang ku buat. Mataku terpejam membayangkan seseorang yang jauh terlintas dan samar, namun bibirku mengembang hebat menarik senyum dalam dalam.


"Bagaimana kabarnya?" tanyaku lirih


Angin mengudara keatas terasa beku, kilatan kecil berhasil melintas di peranakan pagi, sepertinya matahari benar benar kantuk, hingga harus bernegosiasi dengan hujan sepagi ini.


Ku pacu kakiku lebih cepat, berusaha tiba di rumah sebelum datang hujan yang lebih dari rintik,


tetesan hujan kecil jatuh di atas kepalaku dengan amat pelan, halus ringan seperti butiran butiran kecil yang tak akan membuat basah baju, hanya saja angin memperingati tuk lebih cepat memacu kaki, issyarat angin terasa begitu dingin dan menggigil,


Ku dapati Ayah di depan gerbang,


5-10 langkah cepat, aku akan sampai.


Ayah memandangiku berbinar, seperti menemukan sesuatu yang sedari tadi ia cari, Ayah melambai padaku sembari mensiul siulkan mulutnya gaya anak muda pinggir jalan, sembari mengeprok ngeprok tangan mirip memanggil tukang ojek pangkalan.


Aku meresponsenya dengan tawa nyengir seketika.


Padahal ia sedang memanggil putrinya batinku sewot.


Tepat dua langkah akan sampai rumah.


Hujan Turun, dan Ayah mengulurkan tangannya untuk menarikku ke dalam, Pas seperti adegan adegan flm india yang di iringi musik.


Aku menyambut tangan Ayah tanpa harus kena basah air hujan.


"Ayah jago ternyata" Puji Ayah sendiri sembari tertawa


"Hanya kebetulan." Ledekku lirih dengan tawa kecil sembari membuka pintu rumah

__ADS_1


Aku meninggalkan Ayah dengan senyum sumringahnya, jawaban yang baik, seperti ada sesuatu yang sedang waktu jahit, ada yang sedang di perbaiki dan membuatku senang.


Hati tak sedatar biasanya, lantas aku langsung keatas menuju kamar.


"Dari mana Rum?" tanya Mayang sembari memakan nasi goreng


"Cie sudah bangun, siapa yang buat?" tanyaku tak meresponse tanyanya


"Ayahmu yang buat Rum" jawab Mayang cepat


"(Aku hanya manggut manggut tanda mengerti)"


"Tanyaku belum di jawab loh Rum???" ujar Mayang dengan mulut penuh kunyahan makanan.


"Kencan" jawabku cengengesan sembari memakan jatah nasi goreng buatan Ayah


"Masa?" Tanya Mayang tak percaya


"Iya dengan kaka kelas" Ledekku penuh tawa


"(Mayang memasang muka kesal)"


"Kebiasaan" tukas Mayang cepat


"Apa?" jawabku cepat


"Terus menyindir nyindir dan makan kuning telur teman" celetuk mayang gemas sembari mengacak ngacak rambutku


"(Kami tertawa bersamaan)"


Waktu seakan berjalan sangat lamban,


Sampai sekarang Jam menunjuk pukul 7 pagi dan menitnya berjalan amat pelan. Aku melihat luar penuh hujan dan tetesannya yang mengenai kaca jendela, Mayang terus saja bercerita banyak hal dengan terus melahap sarapannya, lantas aku memperhatikannya dan hujan.


"Rum?" Panggil Mayang


"Hemm" Jawabku sembari menatapnya


"Ayahmu baik, kamu tidak mau mencoba juga jadi lebih baik Rum?" Tanya Mayang serius


"(Aku hanya meresponsenya diam)"

__ADS_1


"Maksudnya, jika di lihat dari kaca mataku, Ayahmu berhak punya kesempatan lebih" jelas Mayang


"(Aku hanya diam dan menghela nafas panjang)"


"Memang baik" jawabku cepat dengan senyum di sudut bibir


Mayang kembali bercerita tentang banyak hal, jauh dari topik yang tiba tiba ia bahas barusan, Aku hanya terus mendengarkan dan memberi response menyenangkan.


Aku tak ingin berdebat tentang hal yang belum tentu orang lain akan pahami, yang mereka lihat benar, tentu akan jadi terlihat salah jika aku mencoba memberi pemahaman yang tidak pernah dia lihat, Sukmaku tiba tiba tak bertenaga untuk bisa menjadi jiwa penuh toleran.


Batinku memilih diam dan mencoba berdialog dengan hujan dalam batin


"Rum, terimakasih untuk kamarnya yang nyaman ya." jelas Mayang senang sembari memelukku


"Sama-sama" jawabku dengan senyum merekah


"Minggu depan aku menginap lagi ya, itu pun kalau kamu mengizinkan" jelas mayang sembari memsukan barang barangnya ke dalam tas.


"Iya tentu saja" jawabku cepat


"(Mayang mengampiriku dan memberi pelukan hangat)".


"(Aku meresponsenya senang)"


Rasaku yang sedikit terkoyak seperti menipis sebab pelukan Mayang barusan, ia terasa tulus, hanya menginginkan yang terbaik untukku, tak ada salahnya, hanya saja banyak yang tidak dapat di perjelas.


Aku mengantarnya sampai depan gerbang.


Hujan tinggal rintiknya saja, Ia sengaja pulang tak menunggu hujan benar benar reda. sepertinya ada perlu jika ku dengar obrolannya dari hape tadi,


hanya saja aku tak menanyainya lebih lanjut.


Mayang di jemput oleh ibunya dengan motor, Aku menyalami ibunya dan melambai melihat ia pulang.


Mayang sudah pulang, dan aku kembali ke kamar, Ku buka jendela yang sedari tadi ku tutup sebab hujan deras. Meski sekarang tinggallah rintiknya yang terus turun. Aku hanya berbaring dan memegangi guling, berkali kali aku menghela nafas untuk meredam badai yang ku tahan dalam dalam.


Air mataku mengalir deras, tak ada yang ingin ku coba katakan, atau mencoba menjelaskan kepada siapa pun. Ini benar benar membuatku dalam radar tak normal, lantas aku berusaha untuk tetap tenang. Hanya saja, tetap saja tangisku pecah tak karuan, pundakku terguncang hebat pada hal yang ku pendam diam dalam dalam.


Aku tak lagi menahannya untuk keluar, ku biarkan tangisku meluap apa adanya, batinku terasa perih, seperti luka yang terkena air sabun saat mencuci pakaian. Aku meringis ngilu dan mencoba mengusir luka, meneriakinya bahwa aku ingin sembuh.


Benar-benar ingin sembuh.

__ADS_1


__ADS_2