
Hari terus berjalan, dan beberapa kebiasaan pun ikut berubah. 2 minggu terakhir ini, aku menerima hasil belanjaan Ayah yang di antar abang ojek pangkalan.
"Mbak Arum, Ada titipkan dari Ayah" Ujar Bang Ojan saat mengantarkan bahan untuk mengisi kulkas
"(Aku hanya membalasnya dengan tersenyum manis tanpa suara, dan menundukkan kepala tanda terimakasih)"
*** Aku menghela nafas berat ***
Sepertinya benar, hari tidak pernah memberi penawaran, apakah menginginkan kisah A atau B?.
Ia hanya datang dan terus datang, memberi kisah sesuai ingin takdir. Lantas aku, berusaha untuk membuatnya tunduk padaku, yang nyatanya masih sangat amatir.
Aku tak ingin lagi di buat kalut, cukup menjadi gila tak mendasar di hari-hari lalu, seberapa aku kuat berteriak pun, waktu tetap tuli dan bisu, Ia hanya bisa melihat yang ku lakukan, tidak akan mengerti sedikitpun kesakitan yang ada.
Hari ini, tepat di hari ke 30.
Aku tinggal sendiri di rumah.
Dan Ayah, benar-benar menetap di sana, lantas hanya memberiku kabar lewat ponsel. Untuk uang, Ayah hanya mentransfernya ke rekening ku.
Ku pikir jaraknya dekat, jadi Aku merasa di jauhi, lebih jauh dari kemarin. Namun siapakah Aku?
Aku hanya seorang anak yang tetap harus menjadi manis dan mengagumkan di depan banyak orang.
Bukan mengeluh tentang mengapa Aku belum di kunjungi. Pada dasarnya semua ini bukan lah milik.
Aku hanya perlu belajar mengolah rasa, menjadi sekedarnya saja. Atau sebenarnya, hatiku ku lah yang sedang membeku?.
Beku, sebab ini adalah pertahanan Alami saat aku mulai merasa sakit lebih dalam.Sungguh, Aku hanya ingin menjadi normal dalam segala hal, dari nafas yang ku hirup dan suasana aman di dalam diri, atau lebih tepatnya rumah yang bisa memberi rasa nyaman.
Beberapa hari ini, rasanya Aku mulai berfikir logis.
Meski kenyataanya aku tumbuh tanpa sapaan ibu di tiap bangun tidur, tanpa hangatnya ucapan teduh Ayah,
yang pada kenyataannya, kami tinggal seatap rumah, sebelum Ia, memutuskan menikah lagi.
***Aku tersenyum hangat pada diriku sendiri***
Setidaknya Aku menyadari, bahwa Tuhan tidak pernah pergi atau lelah menghadapi kalut ku yang bar-bar.
Meski menjadi dinamis saat ini bukanlah hal mudah, namun aku senang, mampu berproses sampai di kesadaran hari ini.
Hari seakan berlari mengikuti lomba parade dengan masa lalu, ia memenangkan dan tetap masa kini lah tuannya, Semua terasa sangat cepat.
Hingga tak sadar, bahwa 365 hari seakan hanya terjadi beberapa jam, dan terkikis dengan cepat, hanya menghitung hari tentang hari praktek kejuruan dan Ujian Akhir Sekolah yang akan segera tiba.
Sepertinya kini, aku akan benar-benar menjadi dewasa yang di buru-buru oleh waktu. Jika saja ada negosiasi meja bundar yang di buat, aku ingin naik banding untuk memperlambat semua yang ada, mengatakan bahwa aku masih ingin di waktu ini, dan tidak cepat beranjak dari apa yang ada. Aku hanya belum siap secara keseluruhan.
Selama 3 hari, untuk kami anak kelas 12 di liburkan.
Dan Aku, akan pergi makan bersama Afit di hari pertama libur, Aku mengenakan pakaian panjang dan rok yang serasi, melabuhkan hijab yang panjang menutup dada.
Aku memakai pakaian warna putih di padu dengan hijab warna coklat matang.
Aku tersenyum malu sendiri di depan cermin.
Sebab tak biasanya, aku mengenakan apa yang hari ini ku pakai. Namun, mataku melihat pemandangan sejuk di cermin sana. Terlihat lebih sejuk.
Aku bertemu dengannya di jalan sabahat dekat rumah, arah jalan ke sekolahan dengan Afit, setelah bertemu dengannya, lantas kami naik metromini bersama.
Afit kali ini terlihat sangat rapih, mempesona. Aku tersenyum sendiri di dalam batin, rasanya aku jadi bahagia sendiri.
Afit tersenyum ke arahku lama, aku bisa melihatnya dari ujung mata ekor kananku, Aku duduk di dekat jendela dan ia di sebelahku.
"Untung saja tidak terlalu ramai ya" Ujar ku memecah keheningan.
"Kamu terlihat lebih anggun Rum" Pujinya tanpa menghiraukan obrolan ku di awal
*** Hening, hatiku berdetak lebih cepat ***
"Iya kah?" Tanyaku pelan padanya seakan tak yakin
"Sungguh, cantik" Jawabnya penuh kharisma
***Tiba-tiba Hatiku terasa berbunga-bunga***
Suara bising jalanan seakan berubah jadi alunan musik yang senada dengan hati, dan yang ada, hanyalah aku yang amat senang mendengar pujiannya.
Seketika mimik wajahku memerah, memandang arah keluar dengan senyuman lepas, menyadari bahwa dia sedang duduk di sebelahku saat ini. Aku Jadi sedikit salah tingkah di buatnya. Betapa ini membuatku kikuk dan kaku, juga canggung memulai obrolan.
"Fit" Panggilku pelan
"Eemm" Ia menoleh ke arahku, dekat dengan wajahku
*** Deg-deg bunyi hatiku bergetar lebih hebat ***
"Memang, saat aku tidak memakai hijab, tidak cantik kah?" Tanyaku mencari jawab
__ADS_1
"Cantik, namun ini berlipat lipat cantiknya" Ucapnya dengan senyuman yang membentuk kawah lesung pipi, manisnya luar biasa.
"(Aku tersenyum manis ke arahnya dan mengangguk tanda mengerti)"
Perjalanan terus berlangsung sekitar 30 menit, lantas angin sepoi-sepoi mengikuti kami berdua, membuat hawa sejuk terus terasa, sama seperti hati ku yang sedang bermekaran mendadak.
"Sebentar lagi kita turun" Jelas Afit sembari beranjak berdiri dari duduknya.
Aku mengikutinya dari arah belakang, melihat punggungnya yang kokoh, seakan ia akan terus kuat menjaga, pikiranku menghalu jauh mengiyakan imagi, bahwa seolah-olah aku akan mendapatkan penjagaan yang luar biasa darinya. Berkhayal menjadi seorang putri yang terus bahagia, batinku tertawa geli menertawai pikiranku yang menghayal bebas. Hahaha
Setelah kami menyebrang jalan.
Tepat Aku jalan di sampingnya, teduh penuh rindang, terasa waktu berjalan jadi lamban. Yang terlihat di mataku adalah kamuflase istana disney yang menakjubkan, membayangkan bahwa ia akan segera mengajakku makan dan berbicara keseriusan.
Karpet merah seakan sudah berada di sana lama, kami melewatinya dengan penjagaan yang penuh aman juga santun, menundukkan kepala membukakan pintu.
Selepas di dalam...
Aku menunggunya untuk mempersilahkan duduk dengan manis. Aku masih berdiri di samping kursi, melihatnya yang sudah duduk lebih dulu, berharap Ia lupa dan bangun mempersilahkan ku duduk. Aku tetap menatapnya dan berpikir Ia akan segera melakukannya.
"Rum duduklah, kenapa masih berdiri?" Tanyanya yang seketika itu juga merubuhkan dunia imaginasi di pikiranku.
Mataku menyapu seluruh sudut bangunan Cafe, bahwa ini bukanlah istana megah yang tadi mataku lihat.
Di luar kaca cafe ternyata tak ada karpet merah, pengawal yang ku maksud ternyata adalah seorang satpam yang tadi membukakan pintu. Batinku tertawa ngakak menertawai dawai indah dari pikiranku yang terlihat berlebih. Lantas Aku tersenyum kecil menyadari bahwa ini adalah khayal pikiran.
Aku tersenyum kikuk ke arah Afit tanpa jawaban.
Dan Ia, juga balik melempar senyum penuh tanya.
Aku berusaha menepis senyumnya yang setelah ini.
Ku tebak ia akan melontarkan banyak pertanyaan.
"Aku hanya senang melihatmu lama sembari berdiri" Jelas ku sebelum Ia mengetahui peng-haluan ku yang tak mulus berjalan.
"(Senyumnya mengembang sempurna layaknya adonan roti yang membahagiakan)"
"Aku hanya bercanda" Ucapku melanjutkan, setelah Ia terlihat senang
"(Aku tertawa renyah, melihat ekspresi wajahnya yang berubah konstan)"
Kami saling pandang, dan meledek.
"Ku pikir, aku ini tidak jelek" Jelas Afit tiba-tiba
"Iya kah?" Tanyanya balik penuh bahagia
"Iya, Jika cantik sebutan untukku" Jawabku sembari menahan tawa di dasar perut
Aku terkekeh-kekeh melihatnya menjadi begitu santai dalam obrolan ini, sebab ini terjadi sangat kontras, berbeda jauh ketika kami sedang di sekolah dengan sikapnya yang lebih dingin.
Nyatanya Ia mempunyai sisi hangat lebih sempurna, jauh dari yang ku bayangkan. Ia juga ikut tersenyum lantas tertawa kecil dengan mempertahankan sikap dinginnya yang berkharisma. Lantas kami, saling membuang muka melihat ke arah lain dengan senyum kecil yang di simpan.
"Fit, bagaimana nanti jika kita sudah lulus ya? " Tanyaku
"Apa yang bagaimana?" Timpalnya cepat
"Em....tidak jadi" Jawabku singkat
"Makanan kita lama ya, memang kamu pesan apa?" Tanyaku lanjut penasaran
"Sesuatu yang sederhana" Jawabnya manis
"Bahkan minumannya pun belum ada" Gerutu ku pelan ke arahnya
"Sabar sedikit ya Rum" Jawabnya dengan wajah yang lucu
"(Aku tertawa kencang kala itu juga)"
Semua mata jadi tertuju padaku, sebab suara tawa yang lama dan terkekeh-kekeh. Entahlah bahagia sekali rasanya.
🍜 Makanan juga minuman tiba bersamaan 🍹.
"Singkong goreng?" Tanyaku lebih meyakinkan
"(Ia mengangguk pelan tanpa ragu)"
"Ini hari apa?" Tanyaku
"Sabtu" Jawabnya
Deg....
Dengar jawabnya, pikiranku berlarian mengulas balik pada cerita yang selama ini ku tulis. Alurnya seakan sama. Sebuah kebetulan yang membuatku terpana untuk menyadari bahwa ini adalah hal nyata, bukan tulisan dalam buku yang alurnya terjadi di pikiranku.
Kami hanya terus berbincang, dan menikmati hidangan untuk di habiskan. Singkong goreng yang lembut dan es kopi cappuccino yang ku suka. Afit hanya meminum air putih, sedang aku dobel. Air mineral pun juga ikut di pesan.
__ADS_1
Usai berbincang banyak hal, kami putuskan untuk keluar cafe dan menyusuri jalan dengan kaki mengirama.
Lantas duduk di bangku tepian jalan.
"Hmm, Aku masih lapar" Ujar ku padanya
"Aku bawa nasi goreng" Jawabnya cepat
"Serius?" Tanyaku tak yakin
" Aku tahu kamu masih lapar, jadi sengaja dari rumah, aku siapkan bekal". Jelasnya beruntun
"Manisnya kamu Fit" Ucapku spontan sembari mengambil kotak nasi darinya
"Aku manis?" Tanyanya kaget dengan menepuk dadanya pelan menoleh ke arahku dekat
"Sikap Afit manis" Jelas ku melanjutkan penuh senyum meledek tiada henti
"(Ia menghela nafas sedikit panjang)"
Suasana jalanan tak begitu ramai, matahari tak begitu terik, yang terdengar adalah suara sendok beradu dengan mulut dan kunyahan makanan yang menakjubkan enak di dalam mulutku. Dan gesekan sepatu yang berjalan hanya melintas sesekali.
"Aku makan bagain kiri, kamu makan bagian kanannya" Jelas ku pada Afit sembari menyodorkan nasi gorengnya
"Makanlah, Aku juga mengerti kamu lapar" Kataku menjelaskan padanya lembut
"Kita memang harus berhemat sebisa mungkin Fit" Ujar ku memujinya yang telah membawaku bertemu di luar sekolah hari ini.
Aku berusaha memberitahunya bahwa Aku tidak kecewa sebab suguhan sederhana di Cafe. Dan makan di tepian jalan. Bahwa ini hal yang tepat di lakukan, di usia kita yang belum memiliki banyak uang dan tabungan.
Aku lihat dia tersenyum sangat senang, setelah aku memberitahu apa yang ada dalam benakku.
Lantas aku melihat ke depan, terlihat jalanan yang lenggang dan mungkin sedikit berdebu.
"Aku seperti menjadi manusia normal pada umumnya Fit" Ucapku secara spontan dan terus tersenyum ke arah jalanan yang lenggang.
"(Afit hanya tersenyum ke arahku, seperti mengerti apa yang ku maksud)"
"Sepertinya aku memang hanya butuh tenang, atau di buat tenang oleh sesuatu hal Fit" Jelas ku sembari menoleh ke arahnya yang masih mengunyah makanan dengan nikmat
"(Ia hanya mengangguk, dan tersenyum dengan mulut penuh makanan)"
"(Aku melihatnya senang)"
Suasana seakan pindah di kebahagian surgawi yang amat menyenangkan tanpa ada batas. Lantas aku hanya ingin menikmatinya tanpa ragu atau tanya sedikitpun.
"Terimakasih Tuhan" Gumam ku sembari tersenyum
di sudut bibir.
Semua menjadi menakjubkan, dunia normal yang orang-orang sebut nyatanya memang sangat menyenangkan.
Kami memutuskan untuk pulang, dan Afit berbaik hati untuk mengantarku sampai depan rumah.
"Arum" Panggil Afit, saat kami sudah mengakhiri obrolan dan aku akan melangkah masuk rumah.
"Iya" Jawabku cepat
"(Ia memberikan sesuatu berbentuk kotak sedang)"
"Untukku?" Tanyaku haru
"(Aku membukanya dan isinya adalah sebuah jam tangan)"
Aku melihat bola matanya yang tanpa cela, hidungku memerah menahan rintik yang mulai haru, juga bibir yang tak henti tersenyum sedari tadi aku mulai bersamanya.
"Terimakasih" Ucapku pelan
"(Ia mengangguk santun juga teduh)"
"Aku tahu, bahwa setiap hari kamu mengenakan jam tangan yang sudah mati" Ucapnya menjelaskan
"Aku ingin memberikan ini, dan kamu bisa menyimpan jam tangan lama dengan aman" Jelasnya berkelanjutan, lengkap dengan senyumnya yang berlesung manis
"(Aku mengangguk ke arahnya, tanpa mencoba memberitahu apa pun)"
Sungguh Aku senang. :)
Kami saling melambai tangan, mataku memastikan ia berjalan dengan aman, selepas ia tak lagi terlihat dari pandanganku, ku putuskan segera memasuki rumah dan berjalan menuju kamar dengan cepat, memeluk guling bantal secara bergantian, juga melihat-lihat terus jam tangan yang terpakai di pergelangan tangan kiri ku. Sungguh aku merasa begitu bahagia.
Aku tertawa senang bersama jiwaku yang kerap murung, bersuara bahagia di dalam kamar sembari mengingat wajahnya yang begitu teduh.
Ku rasa, dengan porsi yang di beri adalah cukup, semua bisa menjadi baik, seperti memberi waktu bicara, waktu aman yang tidak meragukan dan ucapan yg teduh tanpa ranjau.
Mereka sering sebut ini dengan cinta.
Dan darinya semua memang terlihat jauh lebih memiliki makna dan warna yang jelas. Tidak buram dan terasa menyenangkan. Aku menyebutnya ini hadiah pertama untuk jiwa yang merasa tempo hari di pasung, dari waktu yang sedari hari lalu kerap ku maki. Aku sungguh senang sebab mengetahui, bahwa takdir, mengerti maksud tersembunyi batinku yang tidak ku ungkapkan sama sekali.
__ADS_1
Sungguh Aku bahagia :)