Ruang Rumpang

Ruang Rumpang
Bab 13


__ADS_3

Dengan suasana kelas yang tenang.


Suara Khasnya terdengar kencang juga terburu buru ingin menyampaikan sesuatu. Kakinya terdengar dari jarak 2 tangga dari bawah.


Rum, kata anak-anak kamu satu minggu tidak update cerbung?" Tanya Mayang berlarian menuju tempat dudukku


"(Aku hanya nyengir)"


"Ayo Lanjut" Katanya spontan menyemangati


"Iya, sudah dapat surat cinta juga dari bagian majalah" Jawabku sembari senyum kikuk


"SP1 Rum, jangan telat setor lagi" Jawabnya menggerutu "Hanya seminggu" Bela ku dengan tawa merasa tak bersalah


"Kamu, kenapa tahunya dari anak-anak? belum baca episode terakhir ya?" Tanyaku dengan mata membidik


"( Ia tersenyum kuda) "


"Hmm ya?" ulang ku


"Belum sempat baca Rum, beli majalah sudah" Jelas Mayang meyakinkan


"(Aku tertawa padanya, mengatakan bahwa sebenarnya tak mengapa, aku hanya ingin menggodanya)"


"Memang sudah sampai mana Rum?" Tanya Mayang


"Pergulatan hati Nay, Bertemu secara real dengan kekasihnya namun malah banyak masalah yang muncul, Jadi, Bab 12 adalah tulisan terakhir yang di setor "Jelas ku sedikit runtun


"Terakhir Aku baca Bab 10, yang Nay dan kekasihnya saling mencari, artinya 2 Bab belum Rum" Ujarnya sembari tertawa ngakak


"(Aku hanya melihatnya dengan senyuman yang membatin dan tawa kecil di akhir senyuman)


Hari terus berjalan penuh arti, semua di selaraskan dengan takdir tanpa harus memaki diri. Pagi ini aku mendapati surat cinta dari bagian majalah sekolah, bahwa dalam kurun waktu 1 minggu belum ada penyetoran tulisan.


Aku tersenyum senang sebab aku benar-benar lupa dan di ingatkan dengan kalimat yang memukau.


***


Hai Arum Nuray


Betapa kami rindu tulisanmu yang bersahaja


Membawa kami dalam dunia baru saat membacanya


Bisakah kamu terus menulis?


Mengirimkan ceritamu yang hebat pada kami?


Kami rindu. Bahkan pembacamu tidak kalah hebat menunggu juga rindu untuk terus bisa membaca


Kami tunggu penyetoran selanjutnya di hari Jumat paling telat, jika kamu terlalu sibuk, kamu bisa mengirimnya lewat email.


ini alamat emailnya : majalahbersahaja@gmail.com


Kami menanti.


Jangan buat kami menunggu lebih lama ya.


Sungguh kami rindu.


Salam hangat.


***


Wajahku terus berseri usai membaca isinya.

__ADS_1


Tak sabar untuk lekas pulang dan kembali meneruskan.


Bel tanda masuk jam pelajaran pertama sudah di bunyikan, membuat kami jauh lebih tertib untuk duduk dan berharap lekas istirahat juga pulang.


Ritme hari yang sangat monoton.


Pelajaran di hari rabu yang menyenangkan, kembali bertemu dengan Bu Alea yang riang dan bersemangat, pelajaran kewarganegaraan jadi lebih hidup sejak Bu guru cantik ini yang membawakan. Lama-lama Bu Alea jadi di gandrungi anak-anak sebab hampir tidak pernah memberikan PR, hahahaha hadiah terbaik untuk bisa tidur lebih cepat. Terasa menyenangkan dan harapan lekas pulang terus menggebu. Sampai pada akhirnya jam waktu istirahat berbunyi, waktu berlarian cepat mengejar jam selanjutnya hingga pada momen yang di tunggu semua orang tiba. Bel pulang berbunyi layaknya alarm kartun Spongebob yang menyuruh lekas pulang hahahaha, bahagiaku tiada henti.


Hari ini tidak ada les tambahan atau semacamnya jadi pulang lebih awal, rabu pulang siang, jika kamis dan jumat selalu pulang sore sebab ada tambahan jam les dan keputrian di sekolah, acara khusus anak perempuan untuk saling sharing dan membahas banyak hal bersama dari mulai hadist dan masih banyak lagi.


Akhirnya merebah, sembari teringat cerita Nay dan kekasih masa lalunya yang sudah ku tulis, Aku tersenyum kecil lalu ingin melanjutkan cerita "Pelancong Tawa"


***


Bab 13


"Samar"


Apa harimu menyenangkan? Tanyaku sepontan


"(Ia hanya diam dan terus menatap ke arahku) "


"Hariku juga menyenangkan" Jelasku selanjutnya


"Maaf jika mataku terlihat sembab" ujarku sembari tersenyum dingin ke arahnya


"Nay, Aku tidak bisa jelaskan banyak hal, namun takdir memang sedang membuat kisah" Jawabnya Parau


"Waktu memang tak pernah memberi penawaran apa lagi berkompromi, seutuhnya ia adalah milik takdir"


Jawabku menyetujui ucapannya


"Aku minta maaf Nay" Ujarnya lembut


"(Aku hanya tersenyum)"


"(Mataku menatapnya nanar)"


"Kamu terlihat sangat rapih hari ini, tampan dengan cincin yang melingkar di sana, Apa rumor itu benar?"


Tanyaku berat


"(Ia hanya mengangguk sembari menatapku dalam)"


"Artinya waktu membawaku padamu adalah untuk pertunjukan patah hati, namun aku tak ingin marah" Jawabku sembari tertawa kecil


"Nay, Aku tidak kuasa atas takdir" Jelasnya dalam


"Namun kita bisa memilih takdir mana yang ingin kita pilih untuk bisa di jalani bukan?" Tanyaku cepat


"Tidak bisa untuk kali ini" Jawabnya datar


*** Kembali senyap, semakin berat ***


"Aku senang, melihatmu bahagia" Ujarku padanya memecah hening


"Apa kamu tidak bahagia Nay?" Tanyanya cepat


"Tentu bahagia" Jawabku sembari menatapnya dalam


-Aku menatap matanya penuh yakin-


"Kamu adalah milik takdirmu, aku adalah milik takdirku, Tuhanku amat baik, tentu ini takdir yang luar biasa membahagiakan, setelah ini tentu aku cepat pulih" Jelasku lagi padanya dengan penuh senyum


Ia diam sesaat...

__ADS_1


"Kamu benar Nay, senang mendengar jawabmu yang tanpa keropos" Ujarnya berat dan pelan


"Artinya masa kita tidak lagi terhubung ke depan, kamu adalah milik diamu saat ini" Jelasku padanya dengan terus tersenyum


"Aku berfikir bisa hidup denganmu Nay, tepat seperti yang ku ingin, namun ingin itu kalah dengan takdir" Jawabnya mencoba meyakinkan bahwa ini bukan maunya


"Atur saja bagaimana baiknya, Semoga harimu selalu menyenangkan" Jawabku dengan rasa yang mulai pergi


"Salam untuk wanitamu ya" Lanjutku padanya sembari berdiri


"Aku mau pulang" Jelasku singkat mengakhiri obrolan


"(Ia hanya diam, menunduk)"


"(Aku mulai dingin dan acuh)"


"Aku pergi" Ujarku sembari jalan berbalik arah memunggunginya


Aku berjalan sangat pelan, mendengar isak tangisnya yang tersedu sedu, seakan mengguncang dua bahunya yang kekar, Mataku sedikit berlinang namun hatiku terasa mati sebab terlalu sakit. Aku terus berjalan tanpa menengoknya kembali atau duduk kembali menenangkannya.


"Kenapa Diaku tidak melepaskan ku saja?, kenapa tidak kamu dan aku saja yang membuat kisah, kita sama-sama suka dunia seni, kita memiliki cara pandang dan cita yang sama, aku senang mengetahui bahwa akhirnya kamu jatuh hati padaku, tapi sepertinya ini telat NAY, kamu juga bersalah dalam kisah ini, kamu harus tahu itu!" Teriaknya parau dan kencang juga menggebu gebu


*** Hening ***


aku terdiam gemetar lantas seakan badai menerpaku dahsyat, aku menjadi pilu seketika dan menangis di sana. Aku mendengar langkah kakinya menghampiriku yang diam mematung dengan guncangan bahu tak karuan.


" Tapi, Aku juga bersalah sebab tidak menjelaskan apa pun padamu, Maafkan aku Nay" ucapnya lembut di sampingku


"(Aku hanya mencoba menghapus air mata yang jatuh, tanpa mencoba menoleh ke arahnya)"


"Katamu kita ini milik takdir, jadi tidak ada masalah dan kesalahan sedikit pun" Jawabku mencoba lebih lantang"


Lantas kembali berjalan kecil mencoba meninggalkannya di sana


Langkah kakinya seakan mengikuti, dan tiba-tiba terhenti.


"Duniaku buram Nay, sebab kamu tinggal di hati, dan saat ini kamu pergi!!!!" Teriaknya keras seakan mencoba menghalangiku untuk terus berjalan


"Pikir dengan logika Dimas Arundaya, Kamu di miliki wanitamu, dan kamu meminta aku menetap?" Teriaku berbalik arah padanya


"KAMU GILA ARUN" Teriakku sembari berlari tak menghiraukannya lagi


Hujan seakan turun sangat deras dan membuatku begitu dingin, namun saat ku lihat langit, langit tak menurunkan sedikitpun airnya, sepertinya hanya pikiranku yang sedang basah kuyup, kembali ke rumah dan merebah.


Aku belum mengetahui apakah waktu benar memberi yang terbaik, atau hanya menawarkan kisah dan seluruhnya tetaplah takdir yang memilih.


Betapa hariku tidak lagi menjadi warna polos, sebab waktu menghantarkan ku padanya. Namun ya sudahlah, bukankah aku tadi mengatakan akan cepat pulih, jadi ini bukan sesuatu yang berat.


Hari akan berlalu dengan cepat, dan seseorang akan hadir dengan segala karisma yang di bawa, mencoba berbicara dan menilai apakah cocok untuk menjadi teman segala badai juga riang yang waktu beri, rinduku mungkin akan terkikis dari detik ini. dan Aku akan lekas pulih.


Menyambut diri yang baru setelah istirahat malam ini.


Night.


***


Aku tersenyum usai menulis, membuat kisah yang mengingatkanku pada teman kecilku yang juga jauh,


Namun bedanya tidak ada kisah seperti di atas yang ku tulis, hahaha.


Aku hanya tiba-tiba teringat. entah bagaimana kabarnya, ia pindah tempat tinggal saat kami kelas 3 SD, Rumahnya yang di sini, saat ini kosong.


Hhh, lega rasanya, setidaknya ada bahan menyetor keterlambatan, haru rasanya saat membaca ulang "Pelancong Tawa" usai menulis, entah waktu akan memberi kesempatan atau benar-benar tidak sama sekali pada mereka yang tadinya sangat yakin.


Waktunya memperhatikan anak-anak di bawah main,

__ADS_1


dari jendela kamar sembari menikmati kopi dingin yang ku buat. Tertawa sendiri, seakan tawa mereka mengundang secara suka rela.


Sungguh ini amat menyenangkan.


__ADS_2