Ruang Rumpang

Ruang Rumpang
Seakan Lama


__ADS_3

"Ini untukku?" tanyaku dengan mata berbinar


"Iya" jawabnya lembut sembari mendekapku hangat.


"Terimakasih" jawabku penuh isak tangis


"Ibu tak akan lupa" jelasnya damai


Beku ku seakan mencair, aliran darah penuh kehidupan seakan mengalir deras.


"Arum rindu" jujurku pada ibu


"Begitu juga ibu, sangat rindu" jawabnya cepat


"Ini hadiah terbaik" ujarku senang


"Syukurlah" timpal ibu cepat


"Bisakah ibu tinggal lebih lama kali ini?" pintaku merajuk


"Tentu saja, sebab ini hari spesialmu" jawab ibu


"(Aku memeluknya erat)"


"Selamat ulang tahun Arum Nuray" bisik ibu pada telingaku


"Arum senang mendengarnya bu, Arum senang hadiah jaket rajutnya" jawabku penuh bahagia dengan tangis memecah.


Hari rasanya amat damai, sejuk dan menggairahkan, melihat pasang mata yang lama tak di lihat, aku terus menggenggam tangannya dan menciumnya sesekali.


"Bisakah kita jalan sampai malam?" tanyaku memanja


"Tentu saja" jawab ibu cepat sembari mengajakku berlarian


"Arum semakain cantik" puji ibu lembut


"(Aku tertawa terpingkal pingkal)"


"Sangat cantik" puji ibu sekali lagi


"Sebab, ibu adalah ibu Arum" jawabku pendek


"Cantik" ucap ibu sekali lagi sembari menyentuh dadaku, dan merengkuhku pelan.


"Maksud ibu hati?" tanyaku melepas rengkuhannya


"(Ibu mengangguk pelan)"


"Kamu tumbuh dengan sangat baik" jelas ibu damai


"Seperti yang ibu harap" jawabku teduh


Waktu seakan menepi melibas asa yang biasa hadir di tengah kisah, lantas rasa rindu berbaris membelakangiku seakan rapi jadi indah. semua terlihat sangat baik dan tertata penuh damai. Rasanya persis yang ku pinta, hangat yang tak akan jadi beku. Betapa aku terus mendengar ibu bercerita memberi tahu betapa beruntungnya ia hari itu saat mengetahui kelahiranku.


Senyumannya sehangat sulam rajut yang di jahit pelan, seakan aku di buat menjadi seorang putri paling beruntung, tidakkah ini sangat menyenangkan? seakan hari esok akan terus datang dengan hal baik tanpa seram yang terfikirkan. Dunia seketika aman dan mempesona. batinku jadi teduh, tak lagi risau pada hal yang belum datang.


Awan mulai bergerak di giring angin dengan pelan menuju singgasana malam. Aku melihatnya damai dengan menggenggam tangan ibu dan bermanja di pundaknya yang hangat. Kami duduk berdua di tepi taman yang rindang, teduh di penuhi burung merpati yang datang dan pergi.


Aku merebah pada pahanya dan menatap senyumnya dari arah bawah.


saljuku seperti menguap jadi pelangi di mata ibu yang teduh, berkali kali aku melihatnya sejuk, seakan surgawi adalah saat berada di dekatnya.


"Sebentar lagi malam" rengekku pelan


"Tak apa" ucap ibu lembut sembari mengusap rambutku yang terurai


"Apa Arum terlihat cantik bu?" tanyaku sembari tertawa


"Kenapa tidak?" jawab ibu cepat

__ADS_1


"(Aku melempar senyum ke arah ibu)"


"Bahkan jauh lebih anggun dengan jilbab" lanjut ibu sembari mengecup keningku


"Banyak yang bilang memang bu" timpalku cepat


"Pakai terus, akan jauh lebih cantik" puji ibu sembari membangunkanku dari merebah di pahanya


"(Aku mengangguk haru)"


"Apa ibu terus bahagia setiap hari?" tanyaku random


"Iya, kamu pun harus seperti itu" jawab ibu teduh


"Meskipun mereka tidak mengingat hari ulang tahun Arum?" tanyaku sedikit kesal


"Iya" Jawab ibu tanpa ragu sembari mengecup keningku


"Kemari, peluk ibu" pinta ibu memanja


"(Aku tertawa sembari lari di rengkuhan ibu)"


Sore mulai lantang menyatakan mega orennya, angin dingin mulai kembali tak beraturan mengibaskan rambutku yang terurai. Aku dan Ibu menyusuri jalan menuju pulang, seperti banyak hal yang kami bicarakan yang entah larinya kemana, tapi membekas mengundang candu tawa yang tak biasa, Aku terus menggandeng tangan ibu dan memakai jaket rajut hadiah darinya, "Sangat hangat, terimakasih" bicaraku pada batin sembari terus melihat matanya yang teduh.


"Bu,Apa Arum akan baik baik saja usai lulus?" tanyaku sembari menyusuri jalan


"Tentu, jangan khawatir." jawab ibu damai


"Apa keinginan Arum masih sama?" tanya ibu seketika berhenti berjalan dan menatapku dalam


"Arum tidak pernah yakin bu" jawabku merunduk


"Lihat ibu" pinta ibu cepat


"Rasanya sangat tidak mungkin seorang Arum bisa, rasanya waktu enggan mengantar untuk bisa membuat Arum terus berjalan, rasanya waktu tidak sebaik apa yang Arum terus yakini" jelasku panjang dengan fikiran yang tiba tiba tak sinkron


"(Ibu mendekapku)"


"Apa ibu percaya bahwa Arum mampu?" tanyaku nanar penuh sesak


"Apa ibu percaya bahwa Arum mampu menyelesaikan yang sudah di mulai?" tanyaku beruntun dengan fikiran penuh bimbang.


"Iya" jawab ibu tegas sembari mendekap erat.


Raguku sekan sedikit terkikis sebab rengkuhan dan jawabnya yang meneduhkan.


Fikirku mulai tertata rapi, yakinku mulai duduk dengan lapang di batin yang gersang.


"Inginku tidak berubah bu" Jawabku tegas pada ibu sembari memeluknya


"(Ibu hanya mengusap rambutku pelan)"


"Arum sayang ibu" ujarku bahagia


"Ibu lebih sayang, maka jadilah tangguh" jawab ibu penuh yakin sembari menggandengku kembali menapaki jalan.


"Arum akan membuat kisah yang luar biasa" ujarku mengutarakan isi hati


"(Ibu hanya mengangguk teduh)"


"Ibu akan lihat banyak buku dimana mana dengan nama Arum" celotehku melepas


"Ibu akan lihat banyak buku yang akan jadi flm layar lebar" celotehku makin riang


"Mereka akan mengenal Arum Nuray sebagai teman dalam kata, dan ketidak yakinnya mereka pada hal apa pun" jelasku sedikit bergemetar menatap ibu yang terus memperhatikanku


"Bukankah itu yang ibu harapkan?" tanyaku penuh yakin


"Iya" jawab ibu dengan matanya yang menyipit sebab senyum amat sumringah

__ADS_1


Senja yang menyenangkan.


Menghantarkan banyak harap yang penuh keyakinan luar biasa, harap harap yang patah seakan kembali tumbuh amat cepat, lantas kata sia-sia dengan sangat sopan mengundurkan diri tanpa paksaan. Warna baru mendekap kata menyerah jadi tak kenal lelah, nyatanya hari selalu punya kejutan yang tidak terfikirkan.


"Apakah ini hanya mimpi?" tanyaku spontan sembari menggengam tangan ibu yang tetap hangat


"(Ibu hanya tersenyum sendu)"


"Arum tidak merasa kecewa" timpalku cepat


"Hanya saja, ibu harus datang sungguh-sungguh saat Arum sudah berhasil menyelesaikan tulisan pertama" celotehku cepat


"Bisakah?" tanyaku memohon


"(Ibu mengangguk dan mendekapku)"


"Tetaplah jadi putri ibu dan ayah yang manis" bisik ibu pada telingaku


"(Aku hanya meneteskan air mata)"


"(Ibu menepuk nepuk bahuku pelan)"


"Arum harus pulang" ujarku pada ibu


"(Ibu melepas dekapannya dan melambai padaku)"


"(Aku tersenyum teduh sembari membawa harap yang utuh)"


Mataku terbuka dengan keadaan seidikit basah, serta hati penuh lapang membawa angin surgawi. meski menyadari bahwa perjalanan panjang barusan adalah sebuah mimpi. suara pintu kamar terketuk pelan, terdengar suara ayah dari sana.


"Arum, teman-temanmu datang" jelas Ayah


Aku mendengarnya bahagia.


Hatiku seakan menyambut kabar baik penuh suka cita, bibirku mengembang, menarik senyum simpul yang amat rapi.


"Aku tahu, kalian tak akan lupa" celotehku sembari menuruni anak tangga dengan nada penuh tawa


"(Mereka hanya tertawa)


Sembari menghampiriku dengan lingkaran bulat kueh kecil yang terpasang lilin angka 17, mataku berkaca kaca penuh haru dan amat bahagia, sederhana dan menakjubkan, Ayah pun ikut memberi bingkisan kado dan kecupan manis yang sempat ku lupa, hatiku bergetar untuk sesaat dan kembali tertawa.


"Terimamasih ayah" jelasku singkat penuh senyum


"(Ayah hanya mengangguk dan mempersilahkanku dengan teman temanku)"


Banyak makanan yang terhidang, nyatanya Ayah dan mereka yang ku sebut lebih dari teman telah merencanakan kejutan kecil yang hangat untuk di rasakan.


Betapa bahagianya aku, mengingat betapa hari ini sangat menakjubkan, dari mimpi yang hebat seakan lama bersama ibu, nyatanya aku hanya tertidur 30 menit selepas pulang sekolah selepas rasa kesal setelah hari lalu menunggu mereka yang seakan akan menghilang tanpa alasan, serta Ayah yang seakan terlihat lupa, namun ini adalah bagian skenarionya.


"Betapa beruntungnya seorang Arum Nuray" ujarku pada diri sendiri


Mereka memelukku hangat, membawakan bingkisan yang amat berharga, betapa bersalahnya aku sebab sempat merasa kesal dan menggerutu dalam batin.


"Aku minta maaf sebab mengira kalian semua lupa" ujarku sendu


"Tidaklah Rum" jawab mereka hampir bersamaan, lantas sembari memberi pelukan.


Betapa tidak, Tuhan amat baik?


Meski hatiku lebih dulu meracau kesal tak karuan, namun hadiah terbaik ini tetap di berikan padaku utuh lengkap dengan tawa.


Hanya perlu meyakini bahwa mereka sebenarnya tidak akan lupa, dan Ayah yang menjadi manis seketika saat hari lahirku tiba.


Terimakasih, semua. Ini sangat menyenangkan.


"Terimakasih juga bu" bisiku pada batin.


"30 menit yang lalu seakan jadi sangat lama menuju senja pada mimpi yang tak di rencanakan sebab aku terlelap pada dekapan kesal."

__ADS_1


Lantas sebab pengertian yang sederhana, semua jadi baik, dapat menyejukkan hati yang tak karuan gersang.


__ADS_2