
Lelap ku terasa sangat nyaman. Malam seakan jadi selimut lelah paling baik. Ku mulai ingat-ingat hal apa yang ku lihat sebelum tertidur, apakah itu hanya halusinasi atau nyata?
Kucoba raih ponselku dan ku temui histori telephone kosong. Tidak ada Chat masuk sesuai yang ku ingat sebelum tertidur. Hatiku ngilu rasanya. Sungguh ngilu , sadar bahwa apa yang ku anggap hanyalah halusinasi yang ku buat sendiri. Pikiranku mendatangkan kehangatan palsu hanya untuk membuat ku lelap dalam tidur. Dan paginya terasa sesak luar biasa.
"Hahahah" Aku tertawa ngilu dengan apa yang baru saja ku sadari. Aku pergi menuruni anak tangga dan rumah masih terisi seorang diri. Ku kira, aku cukup berani berkata yang paling dalam dari sanubari kepada Ayah kenyataanya aku masih pengecut dan memilih memendamnya dalam. Tidak ada sapaan atau apa pun yang bisa ku baca untuk menenangkan jiwa dari sisa pesan yang bisa ku baca ulang. Berharap halusinasiku adalah benar.
Aku mulai beranjak dari tangga dan duduk di shofa bawah sembari menyalakan tv, kini tepat jam 6 pagi, ku pikir tentu, akan banyak tayangan kartun yang bisa menghibur. Setidaknya aku akan tertawa setelah melihat banyak kelucuan.
Waktu terus melaju, dan aku tak terfikirkan untuk bisa berangkat pergi ke sekolah, rasanya berat, tidak ingin pergi, hanya ingin sendiri menghibur diri sampai benar-benar bisa mengendalikan perasaan berkecamuk.
Betapa aku sangat ingin marah, betapa aku ingin melakukan banyak hal bodoh, namun masih ku tahan untuk diam dengan tatapan kosong melihat Tv, sesekali tersenyum melihat hal lucu, juga air mata yang sesekali kembali.
Kini ku putuskan berjalan menuju kamar, mengunci pintunya, menutup jendela yang sudah ku buka di awal, menutup tirai, mematikan lampu, menyalakan pendingin ruangan dan merebah di bawah selimut tebal sembari memeluk guling erat. Ku berusaha meredam emosi yang sebenarnya sangat luar biasa ingin ku luapkan. Namun untuk apa? aku akan sangat mengacaukan diri sendiri. Bukannya lebih tenang, namun akan menambah kekacauan setelahnya. Aku berusaha sesekali menepuk bahuku sendiri. mencoba menjadi teduh untuk diri sendiri.
"BANGSAT!!!" Teriakku memekik di bawah bantal untuk meredam suara yang amat geram. Ingin rasanya menghancurkan apa pun yang bisa ku raih.
"Arghhhh" Teriakku di bawah bantal, Ini terasa seperti sayatan luar biasa. Amat perih juga luar biasa ngilu.
Meski Tuhan saja cukup. Tapi tetap aku menginginkan seseorang yang mampu berbicara padaku sahut menyahut saat ini. Berdiskusi tentang lara yang sudah terbentuk dari ingatan masa kelam. Tentang cara bagaimana aku bisa keluar dari semua ini sebagai pemenang, sebagai pengendali,meski sekarang masih pecundang.
Derik waktu seakan berbisa, meracuni hati dan semua pikirannku menjadi pesakitan. Yang ada hanya lara dan hati yang mulai tak melembut. Bagaimana jika akhirnya aku memilih sebagai pendendam. Bagaimana jika lama-lama aku jadi terbiasa dengan rasa sakit dan berubah menjadi manusia penuh dendam.
Sulit memaafkan dan menerima penjelasan yang sebenarya datang terlambat suatu hari nanti.
Kepalaku menjadi begitu sakit, sebab terlalu sering berbicara dengan diri sendiri. Betapa banyak hal yang harus di kendalikan agar sesuai yang di inginkan.
"Ayah?"
"Kenapa memilih peran Ayah yang tidak manis?, hingga Arum yang harus menjadi pahit di sisi ceritanya?"
Racauku pada kekesalan yang bertubi tubi datang.
__ADS_1
Suhu ruangan yang mulai dingin, membuatku nyaman di bawah selimut yang hangat. Sunyi yang melegakan jiwa perlahan merajut luka pelan. Membuatku diam tenang dan menarik nafas panjang sembari terus mengatur tenang yang sudah ada.
Kantuk mulai melambai ingin menggandengku pergi ke rumahnya yang serba seru dan asik. Aku tersenyum ke arahnya dan akan segera menghampirinya untuk bersenang senang.
"Ayo pergi" Ujarku pada kantuk yang mulai berat
Aku mulai memasuki lelap lebih dalam dan bertemu cerita baru di dunia mimpi. Bunga tidur yang datang setelah kekesalan tak bertaut. Aku senang mengetahui tempat yang cukup ramai namun juga damai di sini, meski kenyamanannya tak bisa ku bawa pergi dari sini.
Hanya bisa di nikmati saat merebah dan pergi terlelap.
Betapa Aku terkejut saat cerita dalam mimpi kali ini adalah aku di dunia nyata yang seharusnya pergi ke sekolah. Dan mimpi memperlihatkan ku cerita yang sama. Bertemu banyak orang tentu akan menyenangkan.
Sekolah masih sepi. Hanya ada pak Bin yang sudah tua renta. Aku tersenyum ke arahnya, bertemu dengannya di mimpi tak membuatnya terlihat lebih muda.
"(Pak Bin tersenyum manis ke arahku)"
" Pak Bin, punya kopi juga teh, ayo mampir" Pintanya sembari melambai tangan ke arahku
"Mau kopi atau teh?" ujarnya menawari
"Teh saja pak" jawabku cepat
Tepat di sampingku, pak Bin membuatkannya dengan lihai, aku memperhatikanya lekat-lekat. Udara di sini terasa sangat dingin, namun beruntungnya aku memakai jaket rajut merah marun dari ibu. Dinginnya udara kali ini tak begitu berpengaruh padaku.
"Ayo minum" Ujar Pak Bin
"Iya" Jawabku lembut
Sekolahan sepi dan aku duduk di depan teras tempat Pak Bin. Melihat daun jatuh berguguran di terpa angin dari sini. Rasanya sudah begitu lama duduk di samoing pak Bin sembari menikmatj teh panas, namun hangatnya tak kunjung menghilang, melihat jam di tangan sudah menunjukan pukul 10 pagi, namun Teh di tanganku masih terasa begitu hangat, tidak ada teman yang datang ke sekolah, dan matahari juga tidak kunjung keluar,
Aku dan Pak Bin tak banyak mengobrol tapi seperti sudah bercerita banyak hal. Ada sakit yang menguap perlahan sangat pelan meski tidak banyak, sadar bahwa aku sedang bermimpi, sekolahan begitu sepi tidak ada siapa pun kecuali aku dan Pak Bin. Juga daun-daun kering yang jatuh perlahan di terpa angin.
__ADS_1
"Sepi ya pak?" Tanyaku pada pak Bin
"Iya" Jawabnya cepat
"Hening" Balasku cepat
"Sebab suasana seperti ini Arum juga yang buat" Timpal Pak Bin sembari menoleh ke arahku
"Iya juga" Jawabku membenarkan sembari menghela nafas panjang
"(Tidak ada oborlan apa pun lagi)"
Rasanya aku hanya ingin diam, dengan aroma teh khas yang enak, juga daun yang berjatuhan di terpa angin, lantas udara dingin yang sejuk uuntuk di hirup. memejamkan mata lama bersandar pada punggung kursi berusaha memberi tahu diri untuk terus bergerak dan bangkit dari keterpurukan. Aku tersenyum sembari terus memejamkan mata. Menyadari di sini sangat senyap kecuali obrolan sepintasku dengan pak Bin.
Langit tiba-tiba membawa parade burung dan matahari terlihat tenggelam di senja sore. Padahal aku tak melihatnya naik ke atas. Namun sudah ingin tenggelam di pundak malam yang sebentar lagi mengambil alih langit.
"Pak Bin" Panggilku pelan
"Ya" Jawab Pak Bin cepat
"Sudah sore, sebentar lagi malam" Ujarku padanya
"Iya" Jawab Pak Bin lembut
"(Lantas aku meneguk teh yang tak pernah jadi dingin, masih hangat dan beraroma menyegarkan)"
Aku tersenyum melihat senja dengan saga merahnya yang menakjubkan di langit. Melihat senja di sekolahan yang sepi, udara yang dingin dan Pak Bin yang kini hadir di tengah mimpiku.
Hening dan tenang yang berirama. Melihat senja yang manis, lantas suasana terasa sangat damai.
"Apa Ayah pernah merasakan ini?" Tanyaku lirih sembari menikmati senja perlahan menghilang.
__ADS_1