
Hari lalu membuatku menjadi konstan dalam berirama dengan waktu yang tidak stabil. Melihat kenyataan bahwa semua ini bukan hal biasa.
Meski sebenarnya aku tetap kesepian,sungguh kosong.
Aku tidak menampik, bahwa kenyataanya ada teman bicara jauh lebih baik.
Semua terasa jauh lebih cepat dan terasa sedikit sedih dan sedikit menyenangkan. Ini adalah hari terakhir libur sekolah dari sejak satu hari pertama ku lewati bersama Afit. Hari ini hujan, dan aku menuliskan tanggalnya pada buku Hujan. Mataku melihat ke arah keluar yang tanpa bising. Menanyai diriku sendiri tentang banyak hal.
Alasan terbesar mengapa seorang Arum harus menjadi penulis, bukan hanya membawa khayalan pada dunia imagi. Tapi tangan berusaha untuk menjadikannya nyata sesuai porsi takdir yang sudah di rundingkan.
Entah berapa penting porsi sebuah kata nantinya, tapi sepertinya aku tetap terus ingin menulis dengan sungguh. Jika pun tak ada yang membacanya, kurasa aku akan pergi dari dunia ini dengan rasa tetap senang, karena bisa melakukan hal yang ku inginkan.
Ah kurasa terlalu jauh, nyatanya Cerbung ku mampu lolos pada majalah sekolah, mereka membacanya dan aku masih hidup. Ada hal yang sangat ingin ku lakukan, tapi melakukan apa, bahkan belum terpikirkan.
Untuk siapa pada akhirnya tulisan banyak yang akan ku buat nanti? Kenyataannya ini adalah rasa ketakutan ku yang di pindah alihkan pada ribuan kalimat.
Yang kadang, ku buat hangat hanya untuk mendamaikan pikiranku yang kacau dan terasa sangat pelik.
Apakah aku sedang menipu diriku?
Atau berusaha memberi tahu bahwa hal baik sebenarnya ada, hanya saja waktunya belum tepat, seperti kehangatan yang selalu ingin ku tulis di tiap bait kata.
Aku terus mengisi halaman kosong pada tiap hujan turun di Buku hujan yang selalu menjadi teman. Sebuah ingin hati yang terbalut rapih di dalamnya. Impian sederhana yang seperti sulit di buat menjadi ada. karena ini bukan tentang aku saja, namun orang lain juga ada di dalamnya.
Sebetulnya aku sedang menunggu.
Aku hanya berbohong pada pikiranku bahwa aku tidak perduli kapan Ayah akan kembali pulang, meski kami tidak banyak bicara. Namun mengetahui kenyataan bahwa Ia di dalam rumah jauh lebih menenangkan.
Meski terkadang aku juga menjadi sangat emosian.
Namun sepertinya sepi dan tanda tanya penuh kekosongan ini jauh lebih menyiksa.
Terlihatnya kini aku benar sendirian.
__ADS_1
Menyadari bahwa ini bukan sebuah mimpi.Tapi hal yang nyata. Aku hanya tersenyum kecil menertawai diriku yang terlihat amat tegas namun kenyataanya sangat rapuh.
Meski memang menjadi manusia tidak harus sempurna.
Tapi benar rasanya ini luar biasa pelik.
Bedanya, kini aku bisa mengontrol jauh lebih baik.
aku tidak perlu membekuk diriku sendiri karena ingin menghancurkan barang apa pun yang ada, karena kenyataanya aku akan membuat repot diri sendiri dengan harus membersihkan kekacauan setelahnya. Namun ruang kosong ini semakin dalam rumpangnya.
Yang membuatku terpejam lama dan mengguncang bahu menangis mengadu pada alam yang bisu, yang ku tahu mereka tidak akan bisa memelukku.
Seberapa penting kata ini bisa di tulis rapih?
untuk siapa kalimat ini pada akhirnya di buat?
Atau hanya sebagai obat rindu pada sesuatu yang tidak akan pernah sampai? penyambung suara pada hal yang tidak mungkin akan di dengar? atau hanya sebuah tempat mengutarakan banyak hal tanpa harus di mengerti siapa pun?
Kini, aku tidak bisa paham mengapa kata hanya terbaca dan hilang dengan cepat. Aku menulisnya dengan banyak ingatan dan rasa yang sebenarnya. Tapi bagian waktu selalu menjadi penghapus agar banyak orang melupakan, melupakan inginku yang sederhana yang pernah ku utarakan sekali sejauh ini.
Tidak ada jawaban yang telingaku bisa dengar.
Hanya tatapan nanar yang bisa ku tangkap pada mata Ayah yang tidak bisa menjelaskan apa pun tanya yang bisa saja ku lontarkan malam itu.
Aku mengingat dengan jelas, langkah kakiku yang berat, menaiki tangga dan mengunci kamar. Menangis di atas kasur sampai terlelap. Ingatan itu membuat sesak dada.
Dan kini aku tersenyum tipis di sudut bibir. Mengetahui kini Ayah pun tidak pulang. Lantas aku merengek pada takdir agar membawanya kembali ke sini.
Tumbuh dengan ingatan yang tidak seharusnya, pada hal yang harusnya tidak di lihat, atau pada sesuatu yang seharusnya tidak terjadi. Namun, semua ini selalu terasa menyejukkan ketika Tuhan mengatakan, aku akan mengganti semuanya jauh lebih baik.
menerima dan memaafkan memang jauh lebih baik.
Olahraga rasa yang selalu ku coba perbaiki tiap saat.
__ADS_1
Karena sesungguhnya. aku belum pernah benar-benar merasa lupa atau menerima sepenuhnya.
Bayangan itu kerap hadir saat aku mulai mengantuk.
Padahal inginku adalah terlelap dengan penuh bahagia yang hakiki.Meski sekali lagi, ini adalah hal konyol, kenyataanya semua sudah terjadi dan lewat, dan cerita hari lalu tetap akan menjadi bagian di kehidupan ku hari ini. Mungkin saja yang berubah adalah bagaimana nanti aku bisa menerima dan membuat hal yang jauh lebih menyenangkan. Tumbuh dengan rasa sakit dan menjadi bunga yang unik saat nanti bisa mekar.
Semua yang di tulis dan rencanakan bisa saja gagal.
tapi dengan tidak berhenti mencoba lagi adalah bagian paling baik berbicara dengan kegagalan itu sendiri.
Hingga pada cerita akhir, Aku bisa menjadi apa yang ku tulis dalam takdir yang ku buat.
Matahari mulai turun menuruni wilayah mega senja.
dan Hujan mulai memelankan rintiknya.
Bau khas tanah tercium menyegarkan.
Udara dingin yang pas dengan suasana ini memohon izin memasuki kamarku yang hening. Terasa begitu sejuk.
Mampu menyapa sedihku dengan baik.
Hingga aku bisa kembali berfikir, bukan soal siapa yang suatu hari akan terus membaca tulisanku, namun bisa melakukan hal yang seharusnya tidak lah perlu berfikir pelik pada hari mendatang. Bukankah hal yang di buat dengan tulus selalu memiliki hal yang lebih?
Seharusnya aku tidak perlu khawatir dengan ini.
Seharusnya aku percaya pada apa yang sudah di usahakan dengan baik. Bahkan Ada Tuhan yang akan selalu memberi yang di pinta. Seharusnya aku tak merasa kekurangan apa pun. Termasuk sepi yang terlalu mendalam. Serta khawatir yang berlebih pada hari esok.
Dan kini, aku tetap merindukan apa yang saat ini ingin ku jalani, Berharap rasa dan kata menjadi jauh lebih baik.
Meski kenyataanya hari ini, Aku menumpahkannya pada buku hujan. Ikut terbawa ingatan yang menyerap di dasar tanah, dan membuatku terus menulis banyak kata.
Meski terus ada tanya, tentang untuk siapa aku melakukan ini.Lantas sampai kapan aku mampu menyelaraskan diri pada waktu yang kerap tidak stabil.
__ADS_1
Entahlah, namun aku tahu tujuanku.
Meski kini terasa tersendat, dan sepi terasa sedang ingin merebut tahta keseimbangan jiwaku yang ranum.