Ruang Rumpang

Ruang Rumpang
Menulis "Pelancong Tawa"


__ADS_3

Pelancong Tawa.


Mungkin saja musik akan terdengar amat berdawai indah dari gitar rusak yang berhasil di perbaiki, hanya saja ia tak pernah memainkannya, cukup merawat gitarnya yang berkarat tanpa mau belajar bagaimana memainkannya untuk menghasilkan suara temaram. Ia adalah "Nay" yang ku jadikan tokoh utama pada cerbungku yang sederhana. Bahkan Aku tidak tahu mengapa aku memberinya judul "Pelancong Tawa". Kata itu terlintas di sela gaduhku pada malam yang tak pernah bisa tidur pulas kala itu. Aku menulisnya bagai seseorang yang amat mahir dan merencanakan apa pun kisahnya lantas endingnya yang ingin ku buat luar biasa.


Aku berikan nama ia "Nay" nama yang singkat. Dengan kisah yang masih terus aku fikiran dalam otak. Aku bingung harus menulis kisahnya menjadi akhir yang membahagiakan atau malang? Namun ia adalah seorang pelancong tawa dalam dekap malam, sepi senyap namun jiwanya tidak termakan asa sama sekali. Aku jadi sangat bahagia saat menulisnya dengan karakter yang hidup penuh kegigihan.


Hanya saja untuk beberapa saat, ia seperti menjadi orang lain, tidak mengenali tawa dan berhenti menjadi seorang pelancong tawa.


Pada beberapa waktu, ia berhenti cukup lama untuk menjadi ramah dan perduli, ia menjadi bahan pembicaraan yang tak biasa lantas sangat kontras dari kebiasaan sebelumnya. Dan untuk menyadarkan dirinya, ia kembali membuka kotak kecil dan menangis sejadi jadinya. Setelah itu, ia pergi tidur, lantas terbangun menjadi Nay seorang pelancong tawa, seperti tak ada yang terjadi apa pun.


Aku membuat Karakternya cukup rumit namun berkharisma riang. Ia adalah kekasih masa lalunya yang sengaja ia lewati sebab hal yang membingungkan. lantas pada beberpa waktu yang sudah lewat. Tiba-tiba ia ingin mengunjungi masa yang dulu ia tidak inginkan. Yang terlewat jauh.


Ia adalah gadis hebat penuh keyakinan di atas rata-rata, dengan kebiasaan merawat gitar penuh karat tak bersenar. Betapa aku menjadi bergairah saat membuat perjalanan kisahnya pada cerita yang harus terus ku tulis setiap minggunya untuk mengisi majalah laman cerbung.


"Nyatanya aku tak begitu amatir" gumamku pada hening malam.


Jam dinding menunjuk pukul 10 malam.


Tanda waktu akan semakin larut, dan kantuk terus menyolekku pelan, ia tak berani menyuruhku paksa karena mengetahui tanganku yang tengah asyik menulis cerita setelah sekian lama berhenti pada kata.

__ADS_1


Aku terus menulisnya tanpa merasa kesulitan, seakan menemui duniaku yang sebenarnya, dunia yang ku tutup rapat bertahun tahun. Aku cukup senang menyadari ini, lantas berusaha menjaga mood dengan radar yang normal.


Ku buka jendela kamar sedikit, sengaja mempersilahkan angin malam bertamu untuk menjadi pembaca tulisanku yang sudah rapih. Aku berusaha menggenggamnya dan tersenyum, lantas aku tak mendapati apa pun kecuali tanganku sendiri.


Aku tertawa geli dan geleng geleng meledek diri sendiri, sebenarnya Aku tahu bahwa ia tak akan bisa di genggam, hanya saja aku ingin mencobanya. Dan kembali menutup jendela untuk lekas tertidur.


Rasanya setelah pesakitan yang tak karuan kemarin, kini aku jadi amat bersemangat untuk lekas tidur dan melihat pagi lagi setiap harinya.


mendatangi pagi dan tertidur saat malam tiba. Aku bisa sedikit menebak betapa sebagian hariku akan tersita untuk menjadi penulis mingguan yang karyanya harus di setor setiap hari senin dengan minimal 5k kata. lantas aku sangat menikmati hal ini.


Tenggorokanku terasa kering, dan persediaan air di kamar habis. Ku putuskan untuk menyusuri tangga dan mengisi botol.


"Susah tidur?" tanya Ayah mengagetkan


"Berusahalah, tidur tepat waktu" ucap ayah singkat sembari berjalan ke kamarnya.


"Tv tolong matikan ya Rum" pinta Ayah pelan.


Aku tak menjawab apa pun, hanya melakukan yang Ayah mau dan segera kembali ke kamar.

__ADS_1


Lampu di ruang tengah tetap menyala seperti biasa, dan tv yang sudah ku matikan.


Aku duduk sebentar di depan tv dengan memejamkan mata, berusaha mengatur rasa yang seakan ingin kembali merenggut keyakinanku. Aku menghela nafas panjang dan tersenyum santai, melupakan rasa yang barusan terjadi nyata.


Aku merahasiakan kesibukan kecilku pada Ayah, rasanya ini tak begitu penting untuk jadi bahan pendengarannya. Aku hanya menghela nafas dan kembali ke kamar.


Memandangi foto ibu yang tak menua dan Rinduku yang tak pernah mengizinkanku beristirahat penuh lapang yang tersampaikan padanya Andai aku bisa berbicara saat ini padanya, Akan ku beritahu hal ini, meski pencapaian yang tak seberapa, hanya saja ini adalah awal kecil yang baik.


Aku tersenyum memandangi foto ibu


sembari mengusap usap kacanya yang tak berdebu dan kembali meletakannya.


Aku melihat buku "hujan" ku.


menyadari bahwa sudah satu minggu lebih hujan tak berkunjung,


Aku rindu aroma khasnya dan rintik kecilnya yang damai, untuk kembali bertemu bumi dan mengiringi tidurku saat mulai kantuk.


Aku mengantuk.

__ADS_1


Kali ini terasa amat berat.


lantas jiwaku ikut merebah mengikuti raga yang berbaring siap beristirahat, dan esok, aku akan menemui pagi tanpa sesak sedikitpun.


__ADS_2