
Rasanya hari semakin bisu, dan saat malam tiba, terasa malam jadi lebih pekat, atau ini hanya terjadi di dalam pikiranku saja? Aku lekas menggantinya dengan bayangan indah mengenai inginku di masa mendatang, menjadi seseorang yang menyenangkan, menjadi bahagia sebab segala impian yang tertulis telah terwujud. Aku terlalu fokus pada luka yang membuat segala bayangan menyenangkan itu perlahan dapat menghilang, membuat diri terpuruk dan tidak bisa berbuat apa pun. Menjadi lemah dari waktu ke waktu.
Sudah cukup menjadi tak berdaya beberapa saat, merasa kehilangan dan di tinggalkan. Nyatanya semua tetap bisa baik-baik saja asal diri bisa merespons dengan bijak.
Luka hanya perlu di tata rapih pada tempatnya, lantas mencoba tegar menerima yang terjadi, memikirkan celah positif agar tidak ada alasan untuk bisa merasa tersakiti oleh apa pun. Bukan kah hal ini jauh dapat membantuku untuk hidup lebih baik kedepannya?
Meski kini batin dan pikiranku mulai berdialog bijak, Hatiku masih sedikit enggan memberi kelegaan secara leluasa untuk lapang menerima takdir yang Tuhan beri.
Tertatih-tatih menangis lesu untuk mengkonfirmasi yang sudah terjadi.
__ADS_1
"Aghhhhhhhhhhhhhhhhhh" Jeritku geram membisu pada batin, menggigit bibir, berusaha merantai teriakan suara pilu agar tak terdengar, sembari menepuk bahu dengan keras, mencoba meredam menenangkan jiwa sendiri.
Tanganku mencoba mencari tenang dengan memeluk guling dengan keadaan masih duduk bersimpuh di atas kasur, menenggelamkan kepala ke bawah layaknya orang sujud, mencoba mengalirkan pikiran segar untuk mengisi ruang rumpang penuh penat di dalam sana. Mencoba mengusir sesak secara paksa dan mengisinya dengan keyakinan dan harapan baik seharusnya.
Ini adalah masa pemulihan ku yang tidak biasa, tepat hari ketiga Ayah tak pulang dan aku hanya menjalani hari ala kadarnya. Setelah hari minggu kala itu, gaun basah dan hati yang tersiram kalut, Aku hanya keluar rumah untuk tetap bersekolah dan pulang secepatnya, bahkan tidak ingin bicara pada siapa pun. Membuat duniaku menjadi lebih sunyi dan terasa lebih sepi. Meneguk es kopi, makan dengan menu yang sama dan kembali diam sembari melamun, tiba-tiba menangis, berubah menjadi geram seketika, berhenti sejenak tertidur sebab kantuk lantas bangun dan mulai teringat pilu, lantas kembali menangis. Rutinitas hari yang seakan di paksa luka menjadi lemah raga juga pikiran.
Aku berusaha pulih perlahan.
Aku bergegas berdiri dari tempat tidur dan duduk di meja belajar, meneguk es kopi lantas menulis kalimat pendek "ARUM NURAY PASTI BISA" dengan penuh keyakinan luar biasa, dan tetesan air mata penuh haru, berusaha melepas penat dan menerima penuh lapang.
__ADS_1
Tersenyum menyapa jiwa di dalam, berterimakasih pada diri sendiri sebab tidak menyerah dan merubah diri menjadi orang lain. Aku hanya perlu lebih santai dan bijak menyikapi beberapa hal, meski tentu di awal selalu tidak mudah, namun bukan berarti tidak bisa.
Waktu menunjukan pukul 4 sore dan aku masih menggunakan seragam sekolah, Lantas aku bergegas menggantinya dan turun ke bawah untuk membuat telur ceplok mata sapi dengan sedikit taburan garam, menjadikannya lauk dengan kecap manis yang sedap, di tambah nasi yang masih panas. Aku memakannya penuh lahap kali ini, mengisi perut yang cepat menjadi lapar sebab tangisanku yang tak karuan di beberapa hari lalu. Sembari mengganti es kopi dengan seduhan air dingin saja, sebab sepertinya sudah terlalu banyak aku meminum kopi. Hatiku kain membaik, pikiranku kian lebih terang, lantas semua sistem yang terluka, seakan mengalami perbaikan secara berkala. Tiba-tiba perasaan senang ku membuat rasa ingin bermain sendiri, aku menyebutnya permainan "tengji" yaitu 5 buah batu kecil yang ukurannya hampir sama, dan melemparkannya ke atas mengambil batu yang lain sampai pada permainan terakhir mengambil nilai berapa batu yang berhasil di tangkap tangan. Permainan sederhana yang dulu sering ku mainkan dengan ibu kala senggang sembari bercengkrama banyak hal. Aku jadi tersenyum sendiri mengingatnya, membuat angin surgawi mulai kembali melintas membuat lega perasaan.
Waktu berjalan cepat, kini kantukku terasa datang lebih awal, membuatku bergegas untuk pergi tidur. Akhir hari yang menyenangkan meski harus bergulat dengan banyak rasa yang berkecamuk layaknya badai.
Dan pada akhirnya mampu melunak, lantas kembali menjadi Arum Nuray yang penuh percaya diri, melatih hati dan cara pikir yang lebih bijak untuk menempatkan emosi seharusnya. Kadang tak mengapa, menjadi tidak baik-baik saja, namun perlu cepat di perbaiki dan di cari celahnya. kembali bangkit, kembali normal, dan kembali pada tujuan awal. Tak mengapa meski harus tertatih, dan terasa sakit sebab di paksakan, namun hasilnya luar biasa menakjubkan di kemudian hari, meski hal ini masih berbentuk keyakinan, harapan juga doa.
Terimakasih diriku, Terimakasih Tuhan, Aku telah menerima. Dan kini, menuju dewasa tak lagi jadi serumit hari lalu, Aku tak sabar hari itu tiba, hari dimana aku mampu berkomunikasi dengan ibu, membayangkan hari penuh kebaikan selepas ini. Menjadi wanita dewasa yang bisa mengendalikan diri dengan bijak. Menjadi anak kebanggan ibu, melihat ibu tersenyum sebab diriku.
__ADS_1
Hari itu adalah hari yang sangat indah, hari yang ku impikan dan berharap lekas terjadi. Malam mulai larut membidik pukul 11, dan Aku juga mulai terlelap namun masih terus berbicara dalam hati sampai memasuki ranah mimpi. Seakan berlarian ke sana kemari, menyapa banyak orang, terlihat ceria dan kembali ke rumah menemui ibu, memeluknya senang, mengganggu ibu yang sedang memasak, bermanja memeluknya dari belakang sembari berkata, "I Love You" lantas berkali kali menciumi pipinya, Naik ke atas kamar mengganti seragam sekolah, dan meminta untuk di suapi ketika makan, menonton TV bersama, lantas tidur di samping ibu untuk mengganti waktu yang terbuang hari lalu, meminta usapan lembut dari tangannya yang selalu ku rindukan pada kepalaku, sembari mendengarkan cerita tentangku dulu saat di lahir kan, kehangatan ibu yang hampir ku lupa dan waktu di mana kami berdua bisa saling pandang dan tertawa bersama. Bayangan harapan indah kehidupan yang ingin ku lalui muncul. Berkamuflase di titik kantukku yang amat berat sebelum benar-benar terlelap pulas jatuh pada dunia mimpi di Kerajaan malam.
Sangat indah, selamat malam.