Ruang Rumpang

Ruang Rumpang
Menuju Dewasa Yang Rumit


__ADS_3

Sepekan telah berlalu dari hari dimana terakhir aku terlihat lebih baik usai tak enak badan hari itu.


Lantas tumbuh Keyakinan yang tipis namun mengakar mencari kekuatan lebih agar tak mudah tumbang.


Tepat pukul 10 malam waktu istirahat kabar yang ku terka-terka lebih dari 3 tahun silam kini menjadi ajang pertunjukan. Aku tak menginginkannya, namun ini terjadi.


Nafasku menjadi lebih berat sekarang, dada menjadi penuh sesak yang mengundang isak tangis.


Aku hanya seorang gadis berumur 17 tahun yang sebentar lagi menuju lebih dewasa di awal bulan Mei. sebentar lagi, dan berita-berita baik yang ku inginkan tak seluruhnya berdatangan, ini membuatku sedikit kecewa.


Malam ini adalah akhir April, dan esok awal bulan Mei tiba, bersamaan dengan hal yang tidak aku inginkan.


Ayah memutuskan menikahinya, seorang perempuan lebih tua 3 tahun darinya, dengan 1 anak laki-laki umur 8 tahun. Ini terlalu terburu-buru untukku, bahkan tidak santun sama sekali, tak ada pertanyaan tentang apakah aku menyetujui keputusan ini atau tidak? Rasanya aku cemburu, bahwa Ayah memutuskan mencintai perempuan lain selain ibu. ini sakit sekali, mengetahui hal mengapa akhirnya dulu ibu memutuskan pergi. Dan akhirnya Ayah kembali menggandengnya, yang katanya adalah cintanya yang terdalam. Ingatan ini membuatku merasa tidak ingin menjadi putrinya. Namun kini marahku bisu, jauh di palung hati dan amat sakit. Aku hanya menunggu waktu yang dulu di buat oleh Ayah dan ibu, tepat umurku 17 tahun, akan ada akses komunikasi antara ibu dan aku. Mungkin ini sebentar lagi, entah akhir tahun atau bisa saja Mei ini, rasanya tak akan lama, yang mampu meredam kesal dan gelisah tak karuan.


Aku hanya berbaring menatap langit-langit kamar, pikiranku pergi menjauh dari raga yang rasanya kehilangan nyawa, pergi pada masa kecil yang indah dalam beberapa dekade, dan harus berlari cepat terburu-buru menjadi dewasa. Rasanya semakin hari kian rumit dengan beberapa hal yang bahkan tidak ingin di jalani. Aku berusaha memiliki hati yang lembut, namun pada kenyataan seperti ini waktu membuatku memiliki hati yang penuh dengan kesepian dan rasa tak perduli lebih. Siap tidak siap waktu membuat kesepakatan sendiri dengan takdir tanpa aku tahu. Ini adalah kenyataan dewasa yang tidak hanya rumit namun juga pahit di rasa.


Kepalaku menjadi sakit, tangisku mulai mengeras yang ku tenggelamkan di bahu guling yg ku peluk erat.

__ADS_1


Cerita yang ada di anganku kini lenyap. Berharap takdir memihak cerita buatanku agar ibu kembali dan tinggal seperti semula. Nyatanya Tuhan tidak sedang menulis hal sama denganku, ini terasa sangat ngilu sakitnya.


Bisakah dalam satu malam ini keadaan berubah?


Ingin rasanya kabar ini salah ku dengar, meski aku mengetahui ini nyata sebab berulang kali aku menampar wajah berulang kali dan terasa sakit.


Waktu sedang memaksaku menyetujui apa yang ada,


tidak memberiku kesempatan memilih bagian mana yang tidak ingin aku lewati, dan Aku sedang melatih hati juga pikiran bahwa Tuhan menyiapkan kejutan lain yang membuat sakit ini hilang di kemudian hari. Ini bukanlah akhir, meski terlihat rusak parah namun masih bisa di perbaiki di waktu berikutnya.


Aku hanya perlu menerima dan melewatinya dengan baik. Bukankah setelah ini aku akan mendengar suara ibu lagi? Tentu ini akan menyenangkan, menjadi penyejuk di ranah gersangku yang lama tandus. Menjadi acuan bagaimana seorang Arum Nuray harus terus tumbuh dan berkembang, menjadi impian di mata sendiri dan di hati ibu. Ku rasa ini cukup untuk menasehati pikiran dan hatiku yang kacau dan mulai mendendam.


Kembali menjadi gadis berbakti dan mengerti banyak hal, menerima segala yang terjadi dan tidak menutut banyak hal pada siapa pun.


Malam kian Larut, kini menjadi pukul 12 malam.


Aku berdiri di depan cermin dengan mata penuh sembab, Aku memandang diriku di sana sembari menyentuh hatiku dalam, berusaha menenangkan dan tersenyum untuk menumbuhkan hal lebih baik di kemudian hari, bahwa segala hari adalah awal yang baik menuju hari berikutnya. Mataku membayangkan bahwa hari kelulusan nanti aku akan foto bersama ibu, bercengkrama lama, memamerkan kebanyak orang bahwa aku memiliki ibu yang sangat mencintaiku dan Ayah yang biasa-biasa saja. Betapa jadi sempurnanya hari itu, hal yang tidak pernah terfikir kan akan Tuhan beri segera.

__ADS_1


Entah berapa hari lagi perlu menunggu, dan Aku akan mendengar suara Ibu.


tentu ini hadiah paling mewah di umurku yang ke 17 tahun. Tidak seharusnya aku menjadi begitu marah pada waktu. Bahwa sebenarnya aku juga menyadari semua selalu terjadi sesuai ritmenya, ada beberapa yang di suka dan tidak, namun hasil akhirnya tetap terbaik sebab Tuhan yang memilihkan. Harusnya aku tidak perlu cemas akan hal apa pun. Aku hanya perlu terus belajar menata pikiran dan hati lebih baik lagi. Meski kenyatannya menuju dewasa memang tidak mudah dan rumit.


Terimakasih sudah menjadi seorang Ayah, meski tidak sempurna, Aku akan menjadi putri yang baik esok hari, aku akan hadir di pernikahan Ayah. Bukankah berperan menjadi baik tidak buruk? Aku hanya berusaha meski tidak sepenuhnya. Namun ini membuat waktu yang rusak sedikit terasa di perbaiki. Malam tak selamanya mendekap penuh sedih, kadang ia mendekap penuh keyakinan baru setelah isak tangis yang dalam, mengantarkan pada esok hari dengan susah payah untuk merajut hari dan beristirahat kembali di pelukannya dengan nyaman. Dan Aku belajar menyadari ini, menjadi gadis tidak egois. Menjadi anak ibu yang manis juga santun dalam segala hal.


Ia mulai pergi meninggalkan dadaku yang mulai menerima, sesak itu sedikit terangkat dan


mengantarkan ku kembali berbaring di tempat tidur untuk mempersiapkan pagi dengan sangat baik tanpa cela.


menjadi gadis yang tidak mudah di rusak suasana hatinya, kembali bermimpi dan tidak mudah berhenti.


Tentu hari-hari dengan rasa aman dan nyaman seperti ini akan sangat teduh dan menyenangkan, meski kenyataanya aku masih suka kalut dan tiba-tiba menjadi sepi dalam beberapa waktu lantas kembali berlari pada keyakinan yang terus mengakar lebih kuat tiap harinya, mencoba memberi tahu pada diri sendiri bahwa semua ini belum berakhir, semua ini akan jadi hal yang di ceritakan penuh syukur di kemudian hari tuk pelajaran diri, belajar dari hari lalu yang amat tak tertata hingga kian hari makin tertata.


Kantuk datang dengan lembut.


Memberi isyarat agar raga beristirahat, pergi ke dunia mimpi yang di inginkan, bertemu dengan siapa saja dan menjadi sesuatu di dalamnya, lantas pergi dengan berani ke esok hari untuk bangun dan menjadi pemenang yang ulung. Selamat istirahat.

__ADS_1


__ADS_2