
Chapter 10
Tabib negeri seberang
Sebuah suara tawa renyah terdengar memecah keheningan hutan, jika saja tawa itu tidak bernada mencemooh sudah dipastikan akan sangat menyenangkan untuk didengar lebih lama.
Ruanindya memegangi perutnya yang sakit karena terlalu banyak tertawa lalu menyeka air mata di sudut mata indahnya. Dengan sisa tawanya, sang putri itu kembali mencemooh panglima tampan yang kini menjadi teman seperjalanan, "Dengan jabatanmu, kekuatanmu dan ketenaranmu terlebih diantara para wanita, ternyata kau memang benar-benar masih perjaka hahaha..."
Gantara yang sedari tadi hanya diam kini memutar bola matanya dengan malas, seharian ini sudah lebih dari sepuluh kali Ruanindya berkata perihal keperjakaannya, "Lalu bagaimana dengan seorang putri yang masih perawan? Lalu mengaku sudah pernah berciuman, siapa yang kau cium?" Gantara berucap dengan nada menyindir.
Ruanindya seketika kaku, ia melupakan hal itu, ia pernah membual pada Gantara kalau dirinya sudah pernah berciuman.
Oh sial!
Gantara yang melihat Ruanindya yang tiba-tiba terdiam hanya tersenyum samar sambil menikmati rambut panjang, hitam dan halus milik Ruanindya dengan lembut membelai wajahnya ketika hembusan angin semilir meniup rambut panjang sang putri raja.
"Itu... Aku... " Ruanindya ingin membuat pembelaan untuk dirinya sendiri, namun ia bingung harus mengatakan apa. Kalau ia mengatakan bahwa ia berbohong maka pasti Gantara akan menertawainya balik habis-habisan.
Baiklah, Ruanindya benar-benar merasakan jalan buntu dalam perdebatan ini, jadi ia berpikir lebih baik kalau dirinya mengalihkan arah pembicaraan, "Kau! Kenapa kau masih pura-pura dalam pengaruh kemat[1] Nyai Larasati dan dengan santainya masih berbaring saat wanita itu mengancam akan membunuhku dengan belatinya yang terhunus padaku? Kau sengaja? Kau ingin melihatku terluka? Atau mati?" Tuduhnya dengan kejam.
Dengan santai Gantara menjawab, "Tidak, nyatanya aku tetap menyelamatkanmu kan?" itu sebenarnya jelas bukan sebuah pertanyaan melainkan sebuah pernyataan, "Lalu kalau kau tahu keadaannya seperti itu, kenapa kau dengan berani menerobos ke dalam bahkan ketika kau tidak bisa membela dirimu sendiri? Bagaimana kalau saat itu aku benar-benar dalam pengaruh kemat Nyai Larasati? Apa yang membuatmu begitu nekat?"
Beliung berlari dengan santai melewati pohon-pohon besar yang tumbuh di hutan yang mereka masuki, kuda gagah itu hanya sesekali meringkik seolah ikut menanggapi perdebatan kedua orang yang kini menungganginya.
"Itu karena aku kesal melihat wanita itu menyentuhmu!" Ruanindya segera menutup mulutnya, perkataan itu reflek begitu saja lolos dari bibirnya.
Gantara menyembunyikan seringaiannya, "Kenapa kau kesal? Memangnya kenapa kalau wanita itu menyentuhku?" Pendekar tampan itu tidak pernah mengira bahwa menggoda Ruanindya akan sangat menyenangkan dan memberikan hiburan tersendiri untuknya.
Ruanindya cemberut, sejak kapan panglima yang menurutnya kaku dan hanya akan diam sepanjang waktu mendengarkan ocehannya kini bahkan tidak mau mengalah berdebat dengannya? Itu membuatnya kesal dan merasa kalah juga terpojok.
Dan tentang pertanyaan Gantara tadi, Ruanindya sendiri sebenarnya tidak tahu alasannya kenapa ia kesal melihat Gantara dan Nyai Larasati bersentuhan, jadi ia hanya menjawab dengan jawaban klise yang sesuai logika, "Karena aku takut kau melalaikan tugasmu untuk melindungiku."
"Tapi nyatanya tidak kan? Aku bahkan tidak tergoda oleh wanita itu," Gantara mendekatkan bibirnya pada telinga Ruanindya lalu berbisik dengan pelan, "Kau sendiri sudah memegang buktinya."
Memegang buktinya?
Seketika wajah Ruanindya memerah hingga telinga. Iya, ia dengan jelas telah memegang dada Gantara --yang saat itu bertelanjang dada-- untuk merasakan jantung sang pendekar tampan itu tidak berdebar sebagai bukti bahwa Gantara tidak tergoda. Sampai saat ini Ruanindya masih bertanya-tanya, kenapa jantung Gantara tidak berdebar sedikitpun berhadapan dengan wanita secantik dan semolek Nyai Larasati apalagi mereka berdua sempat melakukan sentuhan-sentuhan yang cukup intim.
Sang putri sangat cerewet, manja, nakal, dan melakukan apapun seenaknya, namun ia tetaplah polos, naif dan bodoh. Kalau saja orang lain yang ada di dalam posisinya maka atas kebingungan yang Ruanindya hadapi, dengan mudah bisa menyimpulkan dua kesimpulan kenapa sampai jantung Gantara tidak berdebar saat itu :
Pertama, pendekar tampan itu tidak menyukai wanita seperti Nyai Larasati.
__ADS_1
Kedua, Lelaki gagah perkasa sepertinya namun tidak berdebar saat mendapatkan jenis godaan seperti itu dari wanita cantik dan molek sudah bisa dipastikan bahwa lelaki itu tidak menyukai wanita, dengan kata lain ia menyukai sesama lelaki!
Namun setelah berpikir sangat lama dan keras akhirnya opsi kedua hinggap di otak Ruanindya dengan konyolnya, karena menurut gadis ayu itu, tidak mungkin seorang lelaki tidak menyukai wanita seperti Nyai Larasati yang cantik dan bertubuh molek, "Gantara, apa kau...menyukai sesama le--"
"Tolong..."
Ruanindya tidak dapat meneruskan kata-katanya karena tiba-tiba Gantara membekap mulutnya ketika mendengar suara permintaan tolong.
Jantungnya melonjak kaget, Ruanindya mengira bahwa Gantara membekap mulutnya karena apa yang akan ia tanyakan adalah sebuah kebenaran.
"Tolong!!! Tolong aku!!!"
Pendekar tampan itu sejenak mendengakarkan dari mana arah suara itu berasal, setelah menemukan arahnya, Gantara segera menarik tali kekang Beliung kearah kanan dan membuat kuda itu berlari kencang menuju kearah sumber suara, "Hiaaa!"
Beliung berlari ke arah sebuah jurang, ketika sampai tidak jauh dari tepian jurang Gantara segera menarik tali kekang Beliung sehingga kuda itu berhenti berlari. Kemudian sang panglima segera melompat turun dari kuda lalu berlari ke tepian jurang dan melihat ke bawah.
Seorang lelaki paruh baya dengan kekuatannya yang tersisa tengah berpegangan dengan putus asa pada sepotong akar pohon yang mencuat dari dalam tanah, jika saja pegangan tangannya terlepas sudah dipastikan lelaki paruh baya itu sudah terjatuh ke dalam jurang dan mati mengenaskan.
"Kisanak[2] bertahanlah!" Gantara berkata dengan suara agak keras supaya lelaki paruh baya itu dapat mendengarnya.
Mendengar suara itu, lelaki paruh baya itu mendongakan kepalanya, dan begitu ia melihat seseorang berada di atas jurang, harapan hidup lelaki paruh baya itu kembali, "Tuan tolong aku!"
Gantara segera mengambil tali yang selalu tergantung di pelana Beliung, lalu meleparkan tali itu kedalam jangkauan lelaki paruh baya, ia memberi instruksi dengan cepat dan jelas "Kisanak, raih dan pegang tali itu kuat-kuat, aku akan menarikmu keatas."
Merasakan tali yang ia pegang menjadi kencang dan berat, Gantara lantas bertanya, "Kau sudah memegang tali dengan erat?"
"Iya Tuan, cepat tolong keluarkan aku dari sini."
Gantara menarik Tali itu tanpa kesulitan berarti, bobot lelaki malang itu termasuk cukup ringan untuk ukuran seorang lelaki dewasa.
Lelaki itu berhasil Gantara angkat sampai ke permukaan, dan begitu ia dalam posisi aman tubuhnya langsung terbaring di tanah dengan gemetar, nafas terengah-engah, dan peluh membasahi pakaian yang dikenakannya.
Melihat kejadian menegangkan itu sudah berakhir, akhirnya Ruanindya turun dari atas kuda dan mendekati keduanya. Ia mengamati penampilan Lelaki paruh baya yang baru saja diselamatkan oleh Gantara.
Lelaki itu masih terlihat muda dari usianya, kulitnya sangat putih, matanya sipit dan gaya pakaian yang ia kenakan berbeda dari pakaian orang pribumi pada umumnya.
Ruanindya berjongkok di samping lelaki paruh baya itu, karena penampilan mencolok lelaki itu, bahkan Ruanindya lupa seharusnya ia bertanya tentang keadaan lelaki yang baru saja lolos dari maut terlebih dahulu, tetapi Ruanindya dengan tidak sopannya malah bertanya tentang identitasnya, "Kau bukan orang Nusantara kan?"
Lelaki paruh baya itu melihat kearah orang yang melontarkan pertanyaan padanya, lalu ia mendapati seorang pemuda dengan topeng putih menutupi sebagian besar wajahnya dan baru kali ini ia melihat seseorang di Nusantara yang memiliki kulit putih seperti milik bangsanya.
Lelaki paruh baya itu duduk menghadap Ruanindya lalu mengangguk, "Iya Tuan, aku berasal dari negeri seberang, China."
__ADS_1
Ruanindya sedikit kaget mendengar Lelaki asing di hadapannya bisa berbahasa pribumi walaupun sedikit terbata.
Ruanindya menjentikan jarinya, "Sudah kuduga kau bukan orang pribumi."
Lelaki paruh baya itu mengangguk kemudian mengalihkan pandangan pada Gantara, "Tuan, terima kasih telah menyelamatkan hidupku."
Gantara menggulung kembali tali yang baru saja ia gunakan untuk menyelamatkan lelaki itu, "Sudah tugas kita sebagai sesama manusia untuk saling menolong Kisanak."
Gantara dan Ruanindya semula akan melanjutkan perjalanannya, tetapi lelaki paruh baya itu memaksa keduanya untuk mampir ketempat tinggalnya untuk sekedar menjamu mereka sebagai tanda balas budi karena telah menyelamatkan hidupnya.
Dalam perjalanan menuju kediaman lelaki paruh baya itu, akhirnya Gantara dan Ruanindya mengetahui beberapa hal.
Lelaki paruh baya itu memperkenalkan dirinya dengan nama Ling Hua, ia adalah seorang tabib[3]. Setahun lalu ia datang ke Nusantara karena tertarik dengan berbagai tumbuhan obat yang tumbuh di Nusantara dan ingin meneliti semua kegunaaan tanaman-tanaman obat itu. Selain mempelajari tanaman obat, ia juga mempelajari bahasa Nusantara itu sebabnya ia bisa berbicara bahasa pribumi.
Sedangkan sebab ia sampai terperosok ke dalam jurang adalah karena ia mencoba mengambil tanaman obat di tepi jurang dan tanpa sengaja tergelincir.
Ling Hua? Gantara pernah mendengar kabar yang mengatakan bahwa ada seorang tabib dari negeri seberang bernama Ling Hua yang memiliki ilmu pengobatan yang sangat hebat, dan tanpa pernah ia duga akhirnya takdir mempertemukan mereka.
Rumah kayu Ling Hua tergolong besar dengan beberapa kamar, dan semua kamar itu penuh. Beberapa kamar diisi dengan orang-orang sakit yang ia rawat, ia tidak pernah memilih-milih pasien apakah pasien itu mampu membayarnya atau tidak yang terpenting selama orang itu sakit dan ia sanggup menangani luka atau penyakitnya maka ia akan mengobatinya, satu kamar lainnya penuh dengan tanaman-tanaman obat yang ia gunakan.
Gantara dan Ruanindya selesai menyantap makanan yang disajikan oleh Ling Hua, masakan yang sederhana namun terasa nikmat.
"Terima kasih atas makanannya Kisanak," Gantara tersenyum menunjukan rasa terima kasihnya atas makanan yang sangat layak dan nikmat yang baru saja ia santap.
"Tidak tidak, ini belum seberapa untuk membalas budi atas kebaikan kalian yang telah menyelamatkan hidupku. Tolong katakan padaku, apa ada hal lain yang bisa aku lakukan untuk membalas budi kepada kalian?"
"Kau bisa memberikanku lebih banyak makanan enak," Ruanindya berucap asal dan langsung mendapatkan tatapan tajam dari Gantara, Ruanindya yang mendapatkan tatapan seperti itu langsung menambahkan, "Aku hanya bercanda hehehe..."
"Tidak perlu Kisanak, ini sudah cukup," Gantara menolak dengan sesopan mungkin.
"Tidak, ini belum cukup sama sekali. Aku akan dihantui rasa hutang budi yang belum terbayar dengan layak pada kalian seumur hidupku," Ling Hua mendesak.
Gantara memikirkan perkataan Ling Hua, ia berpikir sebentar lalu sekilas melirik Ruanindya, "Baiklah kalau Kisanak memaksa. Sebagai balas budi yang Kisanak mau, bisakah Kisanak memeriksa kesehatan Rua," Gantara menunjuk Ruanindya yang duduk di sebelahnya, ini tentu saja kesempatan emas menemukan tabib hebat untuk memeriksa keadaan Ruanindya dan mengetahui penyebab kenapa sang putri sampai tidak bisa mempelajari ilmu beladiri dan ilmu kanuragan[4]. Penyakit seperti apa yang diderita Ruanindya? Gantara sangat penasaran.
[1. Kemat / Pelet adalah pengasihan yang konon sangat ampuh untuk membuat lawan jenis tergila-gila.]
[2. Kisanak bisa diartikan saudara laki-laki yang dihormati, panggilan hormat oleh para pendekar silat jaman dahulu kepada orang yang belum dikenal.]
[3. Tabib : orang yang pekerjaannya mengobati orang sakit secara tradisional, seperti dukun; dokter;-- Cina sinse;]
[4. Kanuragan adalah ilmu yang berfungsi untuk bela diri secara supranatural. Ilmu ini mencakup kemampuan bertahan (kebal) terhadap serangan dan kemampuan untuk menyerang dengan kekuatan yang luar biasa.]
__ADS_1
Bersambung...