Runaway

Runaway
Chapter 25 - Penyerbuan part 1


__ADS_3

Chapter 25


Penyerbuan part 1


Hari ini Gantara bersama Ruanindya pergi berjalan-jalan untuk menikmati waktu berdua dan melepas rasa bosan harus terus berdiam diri di dalam padepokan, juga demi melupakan masalah yang Antasena buat.


Tempat pertama yang mereka kunjungi adalah hutan, mereka kembali pergi ke pohon mangga besar yang ada di tengah hutan yang dulu pernah Layung Sari dan Antasena tunjukan. Gantara mengajarkan Ruanindya cara meringankan tubuh untuk melompat dari satu dahan ke dahan yang lain dan menjaga keseimbangan dengan benar agar tidak mudah terjatuh.


Setelah mereka sampai di dahan teratas dari pohon, mereka duduk berdampingan di sebuah dahan yang cukup besar sambil menikmati mangga matang yang sudah mereka petik. Ruanindya awalnya merasa sangat takut dengan ketinggian dahan di mana sekarang mereka berpijak, namun lama kelamaan sang putri mulai terbiasa dan bisa menikmati pemandangan hutan yang indah dari atas pohon.


Setelah keduanya puas menikmati buah mangga dan pemandangan hutan, Gantara dan Ruanindya keluar dari hutan membawa beberapa buah mangga menuju desa Ranggawulung, sebuah desa yang terletak tidak jauh dari pedepokan Nyai Sokawati.


Gantara dan Ruanindya memasuki pasar desa itu karena Ruanindya bilang ia ingin membeli dan mencicipi beberapa jajanan pasar.


Setelah mengelilingi seluruh sudut pasar, Ruanindya menepuk perutnya yang terasa sangat kenyang dengan puas. Gadis ayu itu hampir membeli semua jenis jajanan pasar yang ia temui, tapi Ruanindya bilang ia paling menyukai klepon[1]. Dan sekarang Gantara hanya tersenyum melihat Ruanindya yang sedang membagi-bagikan buah mangga yang mereka petik dan bawa dari hutan pada beberapa anak-anak desa yang mereka temui di sekitar pasar dengan senyuman terkembang di wajah ayunya yang kadang diselingi tawa renyah sang putri yang terbaur dengan tawa bahagia anak-anak yang mendapat buah mangga yang matang dan besar.


Gadis yang sangat ia cintai dan saat ini tengah ia tatap, Ruanindya Galuh Winarang adalah orang yang sangat luar biasa. Seorang putri raja, anak tunggal dari penguasa Kertalodra yang manja dan hidup sangat nyaman di istana, bisa berhati besar menerima keadaanya yang sulit dalam pelarian, penuh bahaya, serba kekurangan dan melelahkan, namun perlahan ia menjadi lebih kuat dan mandiri. Sang putri semakin menjadi sosok yang mengagumkan dan mempesona di mata Gantara.


"Kenapa kau menatapku seperti itu?" Setelah selesai membagikan mangga dan sedikit bercengkrama dengan anak-anak desa, akhirnya Ruanindya menyadari tatapan Gantara padanya.


"Kau mengagumkan," puji Gantara dengan senyuman hangat mengembang di wajah tampannya.


Blush!


Mendengar pujian dari lelaki yang dicintainya disertai sebuah senyuman hangat di wajah sang panglima, yang membuat seorang Gantara Wisesa terlihat bekali-kali lipat semakin tampan di mata Ruanindya. Sang putri merasa wajahnya terbakar dan seolah darah berkumpul di sana hingga paras ayu yang putih itu kini memerah semerah kepiting rebus. Ruanindya menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya, lalu berkata dengan tersipu malu, "Apa yang kau katakan? Dasar penggombal!" kata-kata sang putri seperti sebuah protesan, namun di dalam hatinya ia merasa sangat senang seolah ada taman bunga yang sedang bermekaran di sana.


"Aku tidak sedang menggombal, kau benar-benar mengagumkan. Kau yang rakus bisa dengan rela membagi-bagikan mangga yang enak pada anak-anak. Aku kira kau akan memakan semuanya sendiri," goda Gantara, senyum hangatnya seketika berubah menjadi sebuah senyuman jahil yang menjengkelkan.


"Apa?" Ruanindya membuka tangkupan kedua telapak tangan pada wajahnya lalu menatap Gantara, "Ka-Kau menjengkelkan!" tunjuk Ruanindya tepat di depan wajah Gantara lalu setelahnya ia membalikan tubuhnya dan pergi meninggalkan Gantara dengan langkah terhentak kesal.

__ADS_1


Melihat reaksi Ruanindya yang menurutnya menggemaskan membuat Gantara terkekeh. Sambil memegang tali kekang Beliung dan menuntun kuda jantan itu, Gantara mengejar langkah Ruanindya hingga berjalan sejajar dan berdampingan dengan sang putri. Ia bisa melihat wajah ayu kekasihnya tengah tertekuk kesal. Selama ini, ia sadar selalu menjadi orang yang kaku dan serius jadi wajar saja kalau Ruanindya langsung percaya dengan kata-kata gurauan yang baru saja ia ucapkan, "Aku hanya bergurau. Saat ini di mataku, kau benar-benar mengagumkan Ruanindya Galuh Winarang... kekasihku."


Gantara menghentikan langkahnya lalu menatap Ruanindya. Ruanindya pun sama, menghentikan langkah kakinya kemudian membalas tatapan Gantara dan mencoba mencari kebohongan di dalam mata setajam mata elang itu, namun yang ia temukan hanya kebenaran dan ketulusan.


Ruanindya tersenyum, pipi putihnya kembali bersemu merah. Ingin rasanya saat ini ia memeluk kekasihnya dengan erat untuk mengungkapkan rasa cinta yang kini tengah menggebu bagaikan ribuan kupu-kupu berterbangan menggelitik perutnya, namun ia sadar bahwa saat ini dirinya dan Gantara masih ada di depan umum, "Kau benar-benar menjengkelkan," ucapnya malu-malu sambil meninju lengan Gantara dengan pelan.


Setelah kembali ke padepokan Nyai Sokawati dan sampai pada kamar Ruanindya, gadis berparas ayu itu segera memeluk Gantara dengan erat seperti yang sedari tadi ia inginkan.


Dirinya memang lah seorang putri raja, tetapi tak selamanya seorang putri harus jatuh cinta pada seorang pangeran kan?


Ia memang seorang anak raja, namun ia juga tetap lah manusia biasa yang tak kuasa menolak cinta yang datang menghampiri hatinya bahkan disaat-saat tersulit dalam hidupnya, justru cintanya itu lah yang melindungi dan membimbingnya untuk menjadi orang yang kuat. Jadi bagaimana bisa ia menolak dan melepaskan cinta yang sehebat ini?


Gantara Wisesa, aku mencintaimu dengan sepenuh hatiku. Bukan sebagai putri raja, hanya sebagai Ruanindya Galuh Winarang. Seorang manusia biasa yang merasakan hatinya menghangat karena cintamu.


Setitik air mata jatuh dari mata jernih Ruanindya pada pipi putihnya. Air mata haru dan bahagia karena akhirnya menemukan orang yang benar-benar ia cintai dan benar-benar mencintainya, sekalipun orang itu tidak memiliki kedudukan yang sama dengannya dan bukan seorang pangeran, namun itu bukan masalah lagi baginya.


Merasakan Ruanindya menitikan air mata, Gantara merenggangkan pelukan meraka lalu menangkup pipi gadis ayu itu dan membelainya dengan lembut untuk menyeka air mata yang membasahi pipi putih sang putri, "Kenapa kau menangis?"


"Kenapa?"


"Karena mencintaimu dan dicintai olehmu," Ruanindya berbicara terus terang tentang alasan kenapa sampai ia menitikan air mata dan apa yang ia rasakan sambil menatap ke dalam manik mata hitam kelam segelap malam milik Gantara yang selalu bisa membuatnya terhanyut dan menenggelamkannya.


Mendengarkan perkataan Ruanindya membuat hati Gantara menghangat. Gantara mendekatkan wajahnya pada wajah Ruanindya hingga kini keduanya bisa merasakan hembusan hangat nafas menerpa wajah masing-masing, jarak diantara bibir keduanya semakin menipis dan akhirnya terkikis, hingga kedua bibir itu bertemu dalam satu titik kemudian saling ******* dengan lembut dan penuh perasaan.


Namun ditengah-tengah ciuman mereka, Gantara melepas tautan bibir keduanya dengan tiba-tiba dan langsung membekap mulut Ruanindya dengan telapak tangan kanannya.


Gantara menempelkan telunjuk tangan kirinya di atas bibirnya sendiri untuk memberikan isyarat agar Ruanindya tidak berbicara dan tidak mengeluarkan suara, setelahnya telunjuk kiri Gantara menunjuk kearah atas, lebih tepatnya ke arah atap kamar sang putri.


Gantara menggerakan bibirnya tanpa bersuara, namun Ruanindya bisa membaca gerakan bibir sang panglima dan seketika matanya terbelalak ketika menyadari Gantara mengucapkan, "Ada penyusup."

__ADS_1


Ruanindya mengangguk mengerti lalu menurunkan tangan Gantara yang membekap mulutnya dan tidak mengeluarkan suara sedikit pun.


Ruanindya merasa takut dan cemas karena akhirnya antek-antek Patih Gandatala berhasil menemukan keberadaannya dan Gantara. Apakah itu artinya padepokan Nyai Sokawati sudah tidak aman?


Dengan perlahan Gantara mendorong tubuh Ruanindya hingga menempel pada dinding kamar lalu mengisyaratkan pada sang putri untuk tetap diam di sana.


Gantara kembali ke tengah kamar, mencabut Pancasona dari sarungnya lalu dengan cepat melompat tinggi dan menghunuskan pedangnya menusuk atap hingga terdengar jerit kesakitan seseorang dari atas atap.


Pedang Gantara dengan telak telah menusuk mata seorang penyusup yang hendak mengintip keadaan di dalam kamar tersebut. Satu penyusup mati seketika.


"Rua, tangkap!" Gantara melemparkan Pancasona pada Ruanindya dan sang putri dengan sigap menangkap gagang pedang sakti itu. Ruanindya tercengang dengan reflek tubuhnya sendiri yang kini telah jauh meningkat.


Setelahnya beberapa orang penyusup turun ke dalam kamar dengan cara menerobos atap, terhitung enam orang yang kini mengepung Gantara dan pertarungan pun tak dapat terelakan. Keputusan Gantara untuk meminjamkan Pancasona pada Ruanindya adalah keputusan yang tepat, sang putri sudah cukup mampu menggunakan pedang sakti itu untuk melawan penyusup yang menyerangnya.


Lima orang penyusup terus-menerus menyerang Gantara dan membuatnya sibuk. Pendekar-pendekar itu bukan lah pendekar dengan ilmu silat dan ilmu kanuragan yang rendah, ilmu mereka lumayan tinggi hingga cukup untuk membuat Gantara sibuk, sementara satu orang penyusup dengan gencar menyerang Ruanindya.


Ruanindya dengan lihai bisa menghindar atau menangkis semua serangan lawannya, namun belum berani menyerangnya dan melukai orang lain. Ketika tadi pagi ia bisa menyerang Antasena sampai lelaki itu terluka, Ruanindya melakukannya tanpa sengaja dan gerakannya reflek begitu saja, namun kali ini berbeda karena ia benar-benar dalam pertarungan dan dalam keadaan seratus persen sadar.


Si penyusup mencoba menotok Ruanindya, namun sang putri selalu berhasil menghindar. Jadi tanpa diketahui oleh Ruanindya akhirnya lawan melepaskan serangan rahasianya, serangan gas beracun, namun kali ini bukan yang benar-benar beracun untuk membunuh lawan tetapi hanya semacam gas untuk membius lawan agar musuhnya tak sadarkan diri. Tanpa Ruanindya sadari ia telah menghirup gas itu hingga membuatnya perlahan kehilangan tenaga dan lemas, pandangan matanya perlahan mengabur lalu Pancasona jatuh begitu saja dari genggaman tangannya yang sudah tidak bertenaga. Detik berikutnya tubuh Ruanindya limbung dan kehilangan kesadaran. Penyusup itu dengan sigap menangkap tubuh sang putri sebelum tubuh ramping itu menghantam lantai kayu kamar.


Gantara berhasil mengalahkan dua penyusup di dalam kamar ketika melihat penyusup yang bertarung dengan Ruanindya berhasil membius gadis ayu itu dan menggedongnya dengan mudah di atas bahunya lalu melompat keluar kamar melalui lubang di atap kamar, dengan sigap Gantara menghindari serangan tiga penyusup yang tersisa dan berusaha mengejar penyusup yang membawa kabur Ruanindya setelah mengambil Pancasona yang tergeletak di lantai.


Baik para penyusup maupun Gantara, dengan ringan berlari di atas atap dan melompat dari atap bangunan satu ke bangunan yang lainnya dengan mudah seolah tidak memiliki bobot tubuh dan seperti tidak terpengaruh akan gravitasi bumi.


Gantara menghindari sabetan pedang salah satu penyusup yang mengarah pada lehernya, Pancasona menangkis pedang lawan lalu memutarnya hingga pedang itu terlepas dan terlempar jauh dari tangan pemiliknya. Ayunan Pancasona berikutnya sudah menggorok leher sang penyusup dengan telak hingga darah segar menyembur dengan deras dari luka yang menganga di leher si penyusup yang malang dengan sangat mengerikan, setelahnya penyusup itu terjatuh dari atas atap lalu menghantam tanah dengan tubuh tanpa nyawa.


Dua penyusup tersisa yang menghambat Gantara untuk segera mengejar penyusup yang menculik Ruanindya mulai membuat sang panglima merasa kesal. Pendekar tampan itu sempat ingin menerbangkan Pancasona untuk melukai atau bahkan membunuh penyusup yang menculik Ruanindya, namun kalau ia melakukan itu sekarang Ruanindya akan terluka karena terjatuh kalau sampai penyusup itu terbunuh ketika masih membawa Ruanindya di bahunya sambil berlari dan melompat di atas atap padepokan.


Ia tidak boleh kehilangan Ruanindya!

__ADS_1


[1. Klepon atau kelepon adalah sejenis makanan tradisional atau kue tradisional Indonesia yang termasuk ke dalam kelompok jajanan pasar. Makanan ini terbuat dari tepung beras ketan yang dibentuk seperti bola-bola kecil dan diisi dengan gula merah lalu direbus dalam air mendidih. Klepon yang sudah masak lalu digelindingkan di atas parutan kelapa agar melekat, sehingga klepon nampak berbalur parutan kelapa. Biasanya klepon diletakkan di dalam wadah yang terbuat dari daun pisang.]


Bersambung...


__ADS_2