
Chapter 14
Si pengintip
Gantara membuat api unggun di depan pondok kecil demi menghangatkan seseorang yang tengah menggigil dalam pelukannya.
Setelah Gantara dan Ruanindya keluar dari dalam gua kemudian turun ke tepian air terjun menuju jalan pulang, karena rasa bahagia di hatinya, Ruanindya menarik Gantara ke dalam kolam di bawah air terjun. Mengabaikan sunyinya hutan dimalam hari, Ruanindya tertawa lepas sambil mencipratkan air ke tubuh Gantara.
Gantara yang awalnya hanya tertegun mengagumi indahnya paras ayu Ruanindya di bawah sinar rembulan mulai membalas sang putri setelah pakaiannya sendiri sudah basah kuyup.
Mungkin untuk pendekar yang tubuhnya sudah ditempa sedemikian rupa seperti Gantara, dinginnya air dari air terjun dimalam hari bukan lah apa-apa. Namun untuk orang biasa yang tidak memiliki kekuatan apa pun seperti Ruanindya, air terjun yang dingin itu mampu membuatnya kedinginan sampai kedalam sumsum tulangnya, dan membuatnya menggigil seperti saat ini.
Disela gemeretuk giginya, dengan susah payah Ruanindya berbicara dengan suara terbata dan lirih, "Pe-luk aku le-bih erat."
Mendengar permintaan itu, Gantara segera memeluk tubuh ramping seputih kapas milik sang putri, mencoba menghantarkan panas tubuhnya pada Ruanindya yang masih menggigil.
Ruanindya menyandarkan tubuhnya pada dada bidang dan kekar milik Gantara, mencoba menyamankan posisi. Keadaannya benar-benar terasa tidak nyaman. Tubuhnya kaku dan menggigil karena kedinginan, namun hatinya justru menghangat dan ia merasa sangat bahagia dengan apa yang terjadi malam ini.
Ruanindya merasa sangat bersyukur bahwa cinta pertamanya jatuh pada orang sehebat Gantara, dan sang putri juga merasa sangat beruntung karena perasaannya pada pendekar tampan itu terbalaskan. Seperti gayung bersambut, Gantara juga telah jatuh hati padanya.
"Maafkan aku. Harusnya aku tidak membuatmu basah kuyup," ucap Gantara penuh penyesalan. Pendekar tampan itu mengambil kedua tangan Ruanindya yang terasa dingin, lalu menggosoknya dengan lembut supaya tangan sang putri menjadi lebih hangat.
Ruanindya menggelengkan kepalanya dengan lemah, "Ini kan salahku sendiri. Aku yang terlebih dulu memulai. Aku terlalu bahagia karena kau ternyata juga jatuh hati padaku."
Blush!
Wajah Ruanindya yang pucat segera di hiasi semburat merah muda di kedua pipinya. Kata-katanya sendiri membuat dirinya tersipu malu.
Gantara yang mendengar kata-kata Ruanindya lalu melihat wajah ayu itu akhirnya merona merah hanya bisa tertawa di dalam hati. Tingkah sang putri yang menurutnya manis dan menggemaskan itu membuat hatinya gatal, seolah ada ribuan semut merayapinya. Kemudian Gantara hanya bisa menahan hasratnya untuk kembali mencium Ruanindya saat itu juga.
Mengingat ciuman keduanya dengan Ruanindya di dalam gua beberapa saat lalu, Gantara mau tidak mau akhirnya juga mengingat ada seseorang yang mengintip kejadian itu diam-diam.
Gantara bukan orang yang bodoh, terlebih ia seorang pendekar yang sudah pasti memiliki indra yang sensitif. Pada saat itu ia memang mengetahui ada seseorang yang mengintip dari celah gua. Gantara tahu dari suara langkah kakinya, sekalipun orang itu berjalan dengan sangat pelan dan hati-hati. Serta aliran angin dari celah sempit itu --sebagai mulut gua-- yang berhembus masuk ke dalam gua, telah membawa aroma tubuh si pengintip. Gantara mengenal aroma tubuh si pengintip, ia jelas-jelas bukan orang yang berbahaya, jadi Gantara hanya membiarkan orang itu dan melanjutkan kegiatan --berciuman dengan Ruanindya-- yang tengah ia lakukan seolah tanpa gangguan.
Ruanindya sendiri tidak tahu menahu kalau ciumannya dengan Gantara disaksikan oleh orang ketiga.
Gantara dan Ruanindya mendongak begitu mendengar suara langkah kaki mendekat. Keduanya melihat Ling Hua berjalan kearah mereka, lalu tabib itu dengan tenang duduk di samping keduanya --yang masih dalam posisi Ruanindya dalam pelukan Gantara-- dan menyodorkan cangkir bambu berisi air yang mengepul.
"Kebetulan tadi aku melihat Tuan Rua sepertinya menggigil kedinginan. Jadi aku membawakan ramuan yang terbuat dari jahe, gula merah, serta campuran beberapa rempah yang akan menghangatkan tubuh," tanpa diminta Ling Hua menjalaskan maksud kedatangannya dan isi di dalam cangkir bambu yang ia sodorkan. Dan masalah panggilan 'tuan' yang Ling Hua gunakan untuk memanggil Ruanindya, itu adalah permintaan dari Ruanindya sendiri karena sang putri tidak mau penyamarannya terbongkar kalau Ling Hua terus memanggilnya dengan panggilan 'nona'.
Gantara tersenyum dan menerima cangkir bambu dari Ling Hua dengan senang hati, "Terima kasih tabib," ia meniup air mengepul di dalam cangkir bambu sebentar dan membantu Ruanindya meminumnya.
Ling Hua hanya diam memperhatikan interaksi kedua orang di hadapannya lalu tersenyum penuh arti, "Tuan Rua, bolehkan Saya memeriksa kondisi anda?"
Ruanindya mengangguk sebagai jawaban. Ia mengulurkan lengan ramping dan putihnya yang masih terlihat gemetar. Seperti biasa, Ling Hua segera memegang pergelangan tangan Ruanindya tepat di atas denyut nadinya dan memeriksa keadaan gadis ayu yang kini menjadi salah satu pasiennya.
Setelah cukup lama terdiam, Ling Hua kembali tersenyum, "Tubuh Tuan Rua menerima dengan baik metode meditasi dan penyaluran tenaga dalam, apalagi dengan kondisi perasaan yang baik dan bahagia lebih menyempurnakan efek dan hasilnya."
Ruanindya memandang takjub pada Ling Hua, "Wah... Kau benar-benar tabib yang hebat! Bahkan bisa mengetahui perasaan dan suasana hati seseorang hanya lewat denyut nadi."
Mendengar pujian dari Ruanindya membuat Ling Hua terkekeh sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal, "Aku tidak sehebat itu hehehe..."
__ADS_1
"Eh? Lalu?" Ruanindya memiringkan kepalanya tidak mengerti.
"Kebahagiaan tergambar jelas di wajah kalian berdua," ucap Ling Hua dengan nada menggoda sambil menahan tawanya.
"Lihat tuan putri. Kau memberikan gambaran yang baik tentang perasaanmu pada orang lain," Gantara tidak mau kalah, ia ikut menggoda Ruanindya.
"Ini karena aku tidak memakai topeng. Hei..." Ruanindya mencolek dagu Gantara, "Wajahmu juga menunjukan kebahagiaan wahai rajaku," gadis berparas ayu itu membalas godaan Gantara dengan telak.
"Aku panglima. Bukan raja," sanggah Gantara dengan tenang menanggapi godaan Ruanindya.
"Kalau kau menikahi seorang putri, tentu saja akan menjadi seorang raja," Ruanindya menepuk-nepuk dada bidang Gantara.
"Aku memang ingin menikahimu, tapi tidak ingin menjadi raja."
Paras ayu sang putri merona, namun ia juga mencebikan bibirnya kesal. Ruanindya sangat senang mendengar Gantara mengucapkan bahwa ia ingin menikahinya, tetapi pendekar tampan itu tidak mau menjadi raja? "Bagaimana bisa begitu," Ruanindya adalah anak tunggal prabu Arya Tirta Kusuma Winarang, secara otomatis orang yang akan menjadi suami Ruanindya tentunya akan menjadi raja Kertalodra.
Ling Hua tertawa terbahak-bahak. Selain karena adegan di depannya memang terlihat lucu, ia mengira kalau raja-panglima-putri yang dikatakan Gantara dan Ruanindya hanya sebuah lelucon kocak yang digunakan keduanya untuk saling menggoda satu sama lain.
Setelah berhasil meredakan tawanya, Ling Hua berdiri dan menepuk celana bagian belakangnya guna menyingkirkan tanah yang menempel, setelahnya tabib itu pamit untuk kembali ke kediamannya.
******
Pagi itu ketika Gantara keluar dari pondok kecilnya, ia sudah melihat Rasti --gadis desa yang menjadi asisten Ling Hua-- sudah berdiri di depan pondok membawa seikat besar rumput segar.
Melihat Gantara keluar dari pondok, Rasti langsung tersenyum senang, "Tuan, aku membawakan rumput untuk makanan kudamu."
Gantara berjalan mendekati Rasti dan melihat pada seikat besar rumput yang ia bawa, "Kau harusnya tidak usah repot-repot."
Gantara menatap Rasti sejenak kemudian tersenyum, "Baiklah, kau boleh memberi makan Beliung."
"Jadi nama kudamu Beliung?" Rasti bertanya dengan wajah sumringah. Gadis itu segera menyeret rumput yang ia bawa mendekat kearah Beliung dengan antusias.
Gantara mengikuti Rasti. Ia takut Beliung akan mengamuk bila didekati orang asing tanpa keberadaan dirinya, "Iya, Beliung itu namanya."
Rasti mengambil sejumput rumput di genggaman tangannya, "Apakah tidak akan apa-apa?" gadis itu terlihat ragu dan takut untuk mendekati kuda besar hitam dan gagah di hadapannya.
Gantara mengangguk, "Tidak apa-apa."
Ketika Rasti semakin mendekat pada Beliung, tiba-tiba kuda jantan itu meringkik sambil mengibaskan kepalanya yang membuat gadis itu berjengit kaget dan segera mundur ketakutan.
Gantara yang melihat itu hanya tersenyum, "Tidak apa-apa. Beliung tidak akan menggigitmu," candanya.
Rasti menoleh pada Gantara yang sedang mengawasinya di belakang, lalu tersenyum canggung dan malu-malu. Rasti mengangkat tangannya yang memegang rumput kemudian mengarahkannya pada mulut Beliung yang masih jauh dari jangkauan. Gadis itu melangkah dengan perlahan dan terlihat ketakutan.
Gantara yang merasa sedikit frustasi melihat gadis bertubuh mungil itu bergetar ketakutan, namun tetap ingin memberi makan Beliung akhirnya maju sampai pendekar tampan itu berdiri tepat di belakang Rasti. Ia memegang tangan Rasti yang menggenggam rumput, lalu mendorong tangan gadis itu maju sampai di depan mulut Beliung.
Rasti yang kaget dengan apa yang dilakukan Gantara hanya diam dengan wajah tersipu dan mengikuti gerakannya. Gadis manis itu terlihat berbinar begitu melihat Beliung memakan rumput yang ia genggam, "Dia memakannya!" pekiknya senang.
Mendengar suara yang lumayan keras di sampingnya membuat Beliung kaget dan kembali meringkik.
Ringkikan Beliung sontak membuat Rasti juga kembali terlonjak kaget dan ketakutan hingga reflek melangkah mundur sampai tubuhnya membentur pada tubuh tinggi dan tegap Gantara yang berdiri di belakanganya.
__ADS_1
Gantara memegang bahu Rasti dan menepuknya pelan untuk menenangkan gadis itu, "Tidak apa-apa. Beliung hanya merespon suaramu."
"A-ah, begitu..." Rasti menunduk, wajahnya merona merah. Di belakang tubuhnya ia bisa merasakan hembusan nafas hangat Gantara di tengkuknya, juga merasakan dada bidang dan otot perutnya yang kencang.
Gantara melepaskan tangannya yang memegang tangan Rasti. Ia mengambil rumput yang dibawa gadis manis itu lalu meletakannya di hadapan Beliung, "Dia pasti akan memakannya sendiri sampai habis," sang panglima mengelus wajah kuda jantan itu, setelahnya Beliung memang mulai memakan rumput di hadapannya dengan lahap, "Nah, kau bisa melihatnya sendiri."
Rasti terkekeh kemudian tersenyum, "Dia kuda yang pintar!" pujinya tanpa ragu.
Setelah puas melihat Beliung makan, Gantara menawarkan bantuan sebagai balas budi karena Rasti sudah mencarikan rumput untuk Beliung. Dan akhirnya gadis itu meminta bantuan Gantara untuk menangkap ikan. Jadi kini keduanya pergi menuju air terjun yang biasa digunakan Gantara dan Ruanindya bermeditasi untuk mencari ikan.
Diperjalanan menuju air terjun, Gantara memotong sebilah bambu kecil kemudian meruncingkan ujungnya untuk digunakan sebagai alat menangkap ikan. Sedangkan Rasti sendiri telah membawa sebuah alat pancing dari rumah Ling Hua.
"Tuan Gantara akan menangkap ikan menggunakan bambu itu?" Rasti menunjuk bambu runcing yang dibawa Gantara.
Gantara mengangguk, "Ini akan lebih cepat daripada menggunakan pancing."
"Wah, hebat!" Rasti menatap kagum pada Gantara. Ia sendiri merasa tidak akan pernah bisa menangkap ikan hanya dengan menggunakan sebilah bambu runcing. Ia bukan seorang pendekar, dirinya hanya ingin bisa menjadi tabib hebat seperti Ling Hua.
Begitu sampai di sungai, Gantara segera meletakan pancasona lalu melepas baju yang ia pakai sehingga memperlihatkan otot-otot pada tubuhnya yang terbentuk dengan sempurna. Otot-otot yang pas dan tidak berlebihan, namun terlihat sangat kuat.
Pendekar tampan itu langsung masuk kedalam sungai dan mulai menangkap ikan dengan mudah menggunakan bambu runcing yang ia bawa. Sebenarnya Gantara bisa saja menangkap ikan dengan tangan kosong, namun dengan bambu runcing akan jauh lebih mudah dan cepat.
Ketika Gantara sudah menangkap banyak ikan, ia mendengar langkah mendekat dan begitu mengarahkan pandangannya pada suara langkah, itu ia bisa melihat Rasti berjalan mendekat kearahnya.
Gantara hanya diam memandang Rasti yang semakin mendekat padanya. Gadis itu memang tidak memiliki kulit putih bak porselen seperti Ruanindya, namun kulitnya yang berwarna sawo matang terlihat bersih dan mulus untuk ukuran seorang gadis desa, rambut hitam kemerahan yang biasa ia gelung kini tergerai sampai ke punggung. Wajah Rasti pun memang tidak ayu, namun terlihat manis dan menggoda dengan semburat merah menghiasi kedua pipinya.
Rasti berhenti tepat di hadapan Gantara, tubuh keduanya hanya berjarak dua jengkalan tangan. Lalu tiba-tiba gadis manis itu memeluk Gantara.
"Apa yang kau lakukan?" Gantara bertanya dengan ekspresi yang tidak berubah, tetap terlihat tenang.
Rasti merebut bambu runcing yang Gantara pegang dan melemparnya ke pinggir sungai. Tanpa menjawab pertanyaan Gantara, gadis manis itu meraih lalu mengarahkan tangan kanan Gantara untuk menangkupkan telapak tangan besar itu pada pipinya sendiri.
Gantara segera menarik tangannya dari pipi Rasti, kemudian mengulangi pertanyaannya. Ekspresi wajahnya tetap sama, "Apa yang sedang kau lakukan?"
Rasti memberanikan diri untuk menatap mata elang Gantara, "Kakang..." ucapnya lirih. Tangannya terulur untuk menyentuh dan menyusap pipi Gantara dengan lembut sambil mengagumi wajah tampan dan tegas milik sang pendekar, "Sejak pertama melihatmu, Aku sudah jatuh hati padamu," ucap gadis itu dengan jujur. Wajahnya semakin memerah.
"Omong kosong macam apa ini?" Gantara menjauhkan tangan Rasti dari wajahnya dan melepaskan pelukan dari gadis manis murid Ling Hua itu.
"Kakang, aku bersungguh-sungguh dengan perasaanku padamu. Jadi bisakah aku mendapatkan kesempatan?"
Gantara menatap Rasti dalam diam, ia berpikir gadis di hadapannya ini cukup pemberani. Selain berani mengintip adegan ciumannya dengan Ruanindya pada malam itu, bahkan gadis ini berani mengungkapkan perasaan padanya secara langsung dan blak-blakan.
Melihat Gantara yang hanya diam, Rasti segera kembali memeluk Gantara. Gadis itu menempelkan tubuhnya pada Gantara dan menyandarkan kepalanya di dada bidang pendekar tampan itu, kemudian gadis itu berkata dengan lirih dan malu-malu, "Aku milikmu... Cium lah aku," Rasti sudah mengerahkan seluruh keberaniannya dan membuang harga dirinya jauh-jauh demi mendapatkan lelaki yang telah membuatnya jatuh hati.
Rasti memang jatuh hati pada Gantara sejak pertama kali ia melihatnya datang bersama Ling Hua disore itu, tetapi gadis itu hanya diam dan tidak menunjukan perasaannya karena ia takut kalau Gantara sampai tahu maka pendekar tampan itu akan marah atau menjauhinya. Namun pada malam itu ketika Rasti tanpa sengaja melihat Gantara mencium Ruanindya, hatinya terasa sangat sakit melihat lelaki yang ia cintai mencium gadis lain. Akan tetapi di luar dari rasa sakit itu, juga tercipta keberanian yang besar untuk mencoba memperjuangkan cintanya.
Pada malam itu, ketika ia sampai di rumah, Rasti tidak bisa berhenti membayangkan bahwa dirinya lah yang tengah pendekar tampan dan gagah itu peluk dan cium dengan penuh cinta.
Gantara masih terdiam dan berpikir bagaimana caranya menolak Rasti tanpa menyakiti hatinya. Meskipun ini memang bukan untuk pertama kalinya ia mendapat pernyataan cinta dari seorang wanita, tetapi biasanya ia akan sangat dengan mudah menolak mereka tanpa berpikir panjang. Namun kali ini berbeda, Rasti adalah murid dari Ling Hua yang sudah banyak menolongnya dan Ruanindya, ditambah gadis ini juga telah mengurusi keperluan dan melayani dirinya dan Ruanindya dengan baik.
Gantara adalah orang yang kaku dan tidak peka. Selama ini ia selalu acuh tak acuh pada hal-hal yang bukan menyangkut tugasnya sebagai panglima, jadi memikirkan perasaan orang lain sebanyak ini membuatnya sakit kepala.
__ADS_1
Bersambung...