Runaway

Runaway
Chapter 36 - Perang


__ADS_3

Chapter 36


Perang


"Kau juga, lebih baik besok tidak usah ikut ke medan perang."


"Apa?!"


"Apa perlu aku ulangi perkataanku lagi?" Antasena menatap Rasti dengan lekat. Ia tahu bahwa gadis itu pasti sudah mendengar perkataannya.


"Apa kau bodoh? Aku seorang calon tabib. Aku ingin menolong orang-orang yang terluka. Kalau aku tidak ikut ke dalam medan perang, bagaimana aku bisa mengobati mereka? Sudah jelas aku harus ikut!"


Antasena menghela nafas. Sepertinya ia mendapat masalah yang sama dengan Gantara, "Kalau kau terluka atau bahkan sampai mati di medan perang, kau sama sekali tidak akan bisa menolong orang lain."


Rasti terdiam sesaat, gadis manis itu memikirkan perkataan Antasena. Ia sempat merasa perkataan Antasena ada benarnya. Akan tetapi, kalau dirinya tidak ikut ke dalam medan perang, tentunya ia tidak akan bisa menolong satu orang pun yang terluka di sana. Berbeda kalau dirinya ikut, ia akan bisa menolong orang-orang yang terluka dan ilmu pengobatan yang sudah ia pelajari selama ini tidak akan sia-sia sekalipun mungkin dirinya akan terluka atau bahkan mati di medan perang seperti yang Antasena katakan, "Keputusanku sudah bulat. Aku akan tetap ikut!" Rasti segera meninggalkan Antasena, ia tidak ingin berdebat lagi.


"Keras kepala," gumam Antasena sambil menatap Rasti yang semakin berjalan menjauh darinya.


***


Gantara duduk dengan gagahnya di atas Beliung. Pancasona tersampir di punggung lebar dan tegapnya. Tidak terlihat keragu-raguan maupun rasa gentar sedikit pun dalam sosok Sang Panglima.


Aura Sang Panglima besar Kertalodra menguar memberi keberanian pada pasukan yang berdiri di belakangnya. Orang-orang yang siap berjuang dan bertempur bersamanya untuk merebut kembali kerajaan Kertalodra dari tangan para pemberontak yang melakukan kudeta.


Sedangkan Ruanindya, Rasti dan Ling Hua mereka akhirnya tetap ikut ke dalam medan perang setelah menjalani perdebatan yang panjang dan akhirnya diambil sebuah keputusan yang berat. Ruanindya, Rasti dan Ling Hua tetap boleh ikut ke dalam medan perang, namun mereka ditempatkan di barisan paling belakang dengan penjagaan yang cukup ketat dan kuat. Alasan Antasena tidak terlihat di samping Gantara pada barisan depan adalah karena ia mendapat tugas untuk memimpin satu kelompok pasukan kecil untuk melindungi Ruanindya, Rasti, dan Ling Hua.


Gantara menatap lurus langsung pada patih Gandatala di sisi seberangnya.


Patih Gandatala memimpin langsung pasukannya. Sang patih pemberontak juga terlihat sudah siap berperang di atas kudanya.


Gantara mencabut Pancasona dari sarungnya lalu mengangkatnya lurus ke atas seperti menantang cakrawala. Mata pedang sakti itu berkilauan saat sinar matahari menerpanya seolah pedang itu haus akan darah musuh-musuhnya.


"SAUDARAKU, AYO KITA REBUT KEMBALI TANAH KERTALODRA DARI PARA PEMBERONTAK!" seru Gantara dengan lantang yang langsung mendapat jawaban teriakan-teriakan penuh semangat dari pasukannya, jelas itu menandakan bahwa orang-orang di belakangnya sudah sangat siap untuk berperang. Gantara mengayunkan pedangnya ke arah depan, tepat menunjuk ke arah di mana patih Gandatala dan pasukannya berada, "SERAAAANG!!!" raung Gantara dengan tenaga dalamnya yang mengalir melalui suaranya, membuat keberanian para prajuritnya berkobar dan bertambah berkali-kali lipat, namun sebaliknya akan membuat musuh-musuhnya gemetar ketakutan.


Kedua pasukan, baik pasukan Gantara maupun pasukan Patih Gandatala bergerak maju secara bersamaan diiringi dengan teriakan-teriakan pembangkit semangat dan emosi hingga akhirnya dua lawan itu bertemu di titik tengah.


Suara-suara mengerikan dan memekakan telinga terdengar saling bersahutan. Suara tusukan tombak, sabetan pedang atau denting pedang yang saling beradu, anak panah yang melesat dan suara erangan kesakitan mereka yang terluka tidak bisa terelakan dan membahana memenuhi langit Kertalodra.


Ruanindya menatap nanar pemandangan mengerikan di hadapannya. Untuk pertama kalinya Sang Putri menyaksikan peperangan secara langsung dengan mata kepalanya sendiri. Peperangan sangat amat mengerikan, orang-orang saling membunuh tanpa ampun dan merahnya darah tumpah disetiap jengkal tanah. Pantas saja Gantara melarangnya ikut ke dalam medan perang. Meskipun begitu, Ruanindya sama sekali tidak merasa menyesal sedikit pun karena telah memutuskan untuk ikut berperang. Ini adalah perangnya, perang memperebutkan takhta Kertalodra miliknya dan demi mengakhiri kekuasaan patih pemberontak yang zalim.


Beliung berlari tanpa takut. Kuda gagah itu terus memacu langkahnya mendekati kuda yang patih Gandatala tunggangi.

__ADS_1


Patih Gandatala menatap bengis pada Gantara yang semakin mendekat. Patih pemberontak itu sudah siap menyambut Gantara dengan pedang di tangannya. Ia sudah sangat bernafsu untuk merobek dada Gantara dan mencabut jantungnya kemudian memenggal kepala sang panglima untuk dipajang dan dipertontonkan di depan istana Kertalodra.


Trang!


Pancasona dan pedang patih Gandatala saling beradu dengan kuat hingga menimbulkan suara denting yang memekakan telinga.


Keduanya masing-masing menekan pedang yang dipegangnya dengan kuat ke arah lawan di hadapannya, tidak ada yang berniat mengalah satu sama lain.


"Kau akan mati di tanganku!" desis patih Gandatala dengan congkak.


"Silakan saja kalau kau bisa," balas Gantara tidak kehilangan ketenangannya.


Gantara dan Patih Gandatala melompat dari atas kudanya masing-masing. Menggunakan ilmu meringankan tubuh, keduanya melompat sangat tinggi sambil beradu pedang mencoba mengalahkan satu sama lain.


Gantara dan Patih Gandatala meluncur turun dengan cepat dan mendarat dengan kuda-kuda yang sama kuat.


"Hiaa!" Gantara melompat ke arah patih Gandatala dengan sabetan pedangnya yang kuat.


Patih Gandatala melintangkan pedangnya untuk menahan Pancasona. Pedang Sang Patih hampir patah. Patih pemberontak itu menggertakan giginya dengan marah. Dengan cepat Patih Gandatala mencabut belati dan mengayunkannya ke arah Gantara. Mata belati yang dipegangnya itu berwarna hitam karena bilah belati sudah ia lumuri dengan racun yang mematikan.


Meskipun gerakan Patih Gandatala cepat, namun Gantara masih sempat melihatnya dan dengan cekatan menghindari sabetan belati beracun lawannya. Gantara mengalirkan tenaga dalam dengan pekat ke tangannya lalu memukul pergelangan tangan patih Gandatala yang memegang belati beracun hingga tulang disekitar pergelangan tangannya remuk.


"Akgh!" patih Gandatala mengerang kesakitan dan belati beracun yang ia pegang terjatuh ke tanah begitu saja karena tangan kiri Sang Patih sudah tidak sanggup menggenggam lagi.


Ruanindya menarik nafas dalam sebelum kemudian pedangnya menari menyayat setiap musuh yang mendekat tanpa ampun.


Tidak banyak luka yang ditimbulkan Ruanindya pada tubuh lawannya, namun semua lawannya tumbang dengan cepat. Itu semua karena ilmu silat dan ilmu kanuragan yang ia dapat dari Gantara dikombinasikan dengan ilmu tabib yang ia pelajari saat ia sedang bersama Rasti dan Ling Hua yaitu pengetahuan tentang titik-titik vital mana saja yang terletak pada tubuh manusia. Semua yang Ruanindya terapkan terbukti sangat efektif untuk mengalahkan musuh-musuhnya.


Ruanindya berusaha tetap fokus dalam bertarung, sekalipun ia tetap terpikirkan akan Gantara dan mengkhawatirkan kekasihnya yang berada di garis depan.


Sekalipun Antasena sangat menyukai Rasti, namun mau tak mau tugas utamanya adalah melindungi Ruanindya baru lah setelah itu Rasti dan Ling Hua. Akan tetapi ketika Antasena melihat betapa lihainya Ruanindya mengalahkan musuh-musuhnya membuat Antasena takjub hingga kekhawatirannya akan keselamatan Sang Putri sedikit berkurang. Dirinya dan pasukan kecil yang ia pimpin harus bisa melindungi keselamatan Ruanindya, maupun Rasti dan Ling Hua bagaimanapun caranya.


Ling Hua dan Rasti mulai bergerak mengobati anggota pasukan mereka yang terluka di bawah pengawasan dan perlindungan Antasena dan pasukan kecil yang pendekar itu pimpin. Tabib hebat asal negeri tirai bambu itu beserta muridnya dengan cekatan dan sigap memberikan pertolongan.


Ketika patih Gandatala lengah untuk sesaat karena rasa sakit di pergelangan tangannya, Gantara mengayunkan Pancasona dan memberikan sayatan yang dalam di kaki kanan Sang Patih, selain itu ia juga melancarkan pukulan telapak naga (mengalirkan tenaga dalam yang pekat pada telapak tangan untuk membuat luka dalam di tubuh musuh. Jurus yang pernah Ruanindya gunakan untuk memukul Antasena.) pada dada Patih Gandatala dengan kuat.


Sang Patih pemberontak itu terpelating ke belakang sambil memuntahkan darah dari mulutnya, "Ohok!" patih Gandatala memegangi dadanya yang berdenyut sangat sakit seolah paru-parunya telah remuk. Ia rasa beberapa tulang rusuknya telah patah.


Samudra melihat bahwa junjungannya telah dihajar habis-habisan oleh Gantara. Ia sebenarnya ingin menolong Patih Gandatala untuk menghadapi Gantara, namun Adiyaksa dan Layung Sari tidak membiarkannya berpaling barang sedikit pun.


Ketika Patih Gandatala berusaha berdiri dan meraih pedangnya, sebilah pedang sudah berada di depan lehernya, "Menyerahlah."

__ADS_1


Patih Gandatala mendongak dan menatap Gantara dengan berang, "Bocah sialan!"


"Lihat ke sekelilingmu. Pasukanmu sudah kalah."


Patih Gandatala tidak mempercayai ucapan Gantara. Pasukannya berisi pendekar-pendekar hebat yang berhasil ia bayar, terlebih lagi jumlah pasukannya lebih banyak dari jumlah pasukan yang Gantara miliki. Jadi mana mungkin pasukannya kalah?


Patih Gandatala melihat ke sekelilingnya seperti yang Gantara katakan padanya. Mata Patih Gandatala melebar dengan nanar. Apa yang dikatakan Gantara adalah benar.


Banyak pasukannya yang telah mati dan mereka yang masih hidup sebagian besar sudah menyerah di bawah tangan musuh, hanya beberapa yang masih bertarung.


Patih Gandatala terdiam tidak percaya. Bagaimana bisa pasukannya kalah? itu benar-benar tidak mungkin.


"Kau terlalu percaya diri dan sombong dengan kekuatanmu sendiri hingga menyepelekan musuhmu," ucap Gantara seolah bisa membaca isi pikiran patih Gandatala.


Patih Gandatala tertegun. Iya, memang benar dirinya telah menyepelekan musuh karena berpikir kekuatan yang ia miliki lebih besar. Sang Patih pemberontak tidak bisa menerima kekalahannya. Dari pada dirinya menanggung malu karena kekalahannya, lebih baik ia mati di medan perang.


Patih Gandatala memegang Pancasona yang ada di depan lehernya, berniat menggorok lehernya sendiri dengan pedang sakti milik Gantara itu.


Gantara yang membaca niat patih Gandatala dengan gerakan sangat cepat segera menotok Sang Patih pemberontak hingga tidak bisa menggerakan tubuhnya sebelum Sang Patih sempat menggorok lehernya sendiri.


Semua tawanan telah diikat kemudian dikumpulkan dan yang terluka sudah hampir semuanya diobati. Pasukan yang Gantara pimpin telah meraih kemenangan mutlak pada perang ini.


Ruanindya berlari dengan cepat kemudian menghambur ke pelukan Gantara, memeluk Gantara dengan sangat erat, "Syukurlah kau selamat," suara Ruanindya terdengar bergetar karena saat ini Sang Putri tengah menangis. Tangisan rasa lega dan bahagia.


Gantara tersenyum dan memeluk tubuh ramping kekasihnya. Bukan hanya Ruanindya yang merasa lega dan bahagia, Gantara pun merasakan hal yang sama. Sang Panglima sangat lega dan bahagia melihat bahwa Ruanindya baik-baik saja. Sepanjang ia bertarung dengan Patih Gandatala, ia terus memikirkan keadaan Ruanindya. Beruntung dirinya tidak kehilangan fokus yang bisa berakibat dikalahkan oleh musuh, "Aku juga lega kau baik-baik saja," sambil membelai punggung Ruanindya, Gantara berkata, "ayo kita selesaikan tahap terakhir perang ini."


Ruanindya menatap Gantara penasaran. Ia pikir perang telah berakhir, "Tahap terahir? Apa itu?"


"Menduduki kembali istana kertalodra dan membebaskan para tawanan."


Gantara, Ruanindya dan pasukannya segera melanjutkan langkahnya memasuki istana Kertalodra.


Mereka dengan mudah menyapu bersih antek-antek Patih Gandatala yang berada di dalam istana Kertalodra, setelahnya mereka segera membebaskan para tawanan.


"Ibunda!" Ruanindya segera menghambur memeluk Dewi Ayu Galuh Ningtyas. Seketika tangis kedua anak dan ibu yang baru bertemu kembali itu pecah, "aku merindukan ibunda dan ayahanda," ucap Ruanindya dengan suara parau di sela isak tangisnya.


Dewi Ayu Galuh Ningtyas membelai rambut Ruanindya dan mencium kedua pipi putri semata wayangnya yang sangat ia sayangi melebihi dirinya sendiri, "Ibunda juga merindukanmu dan kakanda prabu."


"Dimana ayahanda?" Ruanindya baru sadar bahwa Raja Arya Tirta Kusuma Winarang tidak datang bersama ibunya saat dibebaskan dari ruang tahanan.


"Kami tidak ditawan di penjara yang sama sayang, jadi ibunda juga sudah lama tidak bertemu dengan ayahandamu," tersirat kesedihan dan kekhawatiran yang sangat dalam pada suara Dewi Ayu Galuh Ningtyas.

__ADS_1


"Ja-jadi di mana ayahan--" perkataan Ruanindya seketika terhenti begitu melihat beberapa pendekar membopong seseorang. Sosok mengenaskan itu Ruanindya kenali, "A-ayah... ayahanda raja!" raungnya pilu.


__ADS_2