Runaway

Runaway
Chapter 35 - Akhir perjalanan


__ADS_3

Chapter 35


Akhir perjalanan


"Wakil ketua, aku menemukan sesuatu!"


"Menemukan apa?"


"Ini," pendekar rekan Antasena itu berlari ke arahnya dengan membawa sebuah sangkar burung berisi seekor burung elang jantan yang gagah.


Antasena menggosok dagunya sambil mengamati burung elang dalam sangkar milik antek-antek Patih Gandatala yang baru saja mereka bunuh, "Ini pasti burung pembawa pesan."


Kedelapan pendekar rekan Antasena yang tersisa saling pandang lalu mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan oleh Antasena.


"Lalu harus kita apakan burung elang ini?" tanya pendekar yang masih memegang sangkar burung temuannya.


"Kita bawa dan perlihatkan pada Panglima Gantara," putus Antasena akhirnya. Setelah berhasil menjalankan tugas, rombongan Antasena segera kembali berkuda dan mengejar ketertinggalan mereka dari rombongan utama.


Menjelang malam, rombonan Antasena baru bisa menyusul rombongan utama yang sudah beristirahat dan mendirikan tenda.


Tidak menunda waktu, bahkan hanya untuk sekedar beristirahat dan menarik nafas, Antasena segera menamui Gantara yang sedang berjaga di depan tenda Ruanindya.


"Panglima," panggil Antasena begitu menghampiri Gantara yang terlihat sedang memeriksa keamanan sekeliling tenda Sang Putri.


Gantara menghentikan langkahnya lalu melihat ke arah sumber suara. Jelas Sang Panglima mengenali pemilik suara itu, "Kau sudah kembali Antasena? Bagaimana?"


Antasena berhenti tepat di hadapan Gantara. Ia mengangguk lalu menarik nafas sebelum mulai menjelaskan keadaan, "Kami berhasil membunuh semua antek Patih Gandatala yang berjumlah lima orang. Sayangnya kita kehilangan satu pendekar dari pihak kita."


Setelah sekian lama, akhirnya Gantara kembali merasakan duka kehilangan prajuritnya. Ia sudah sering berperang dan entah sudah berapa nyawa prajuritnya yang melayang di medan perang, namun rasa duka itu tidak akan pernah menjadi biasa bagi Gantara. Selalu terasa dalam dan menyakitkan, akan tetapi Sang Panglima tidak pernah menampakan duka pada ekspresi wajahnya sehingga sering kali ia dianggap berhati dingin.


"Hmm... begitu," Gantara langsung memfokuskan pandangannya pada sangkar burung yang Antasena bawa, "Lalu apa itu?"


"Ah... ini," Antasena mengangkat sangkar burung yang ia bawa, menampakan seekor burung elang jantan yang gagah, "ini yang kami temukan di sekitar lokasi saat kami membunuh antek-antek Patih Gandatala."


"Sepertinya itu burung pembawa pesan," Gantara langsung menyimpulkan dengan cepat. Sekalipun orang-orang lebih mengenal burung merpati sebagai pembawa pesan, namun rakyat Kertalodra lebih memilih menggunakan elang karena elang lebih unggul, secara fisik mereka lebih kuat dan terbang lebih cepat.


Antasena mengangguk, "Aku pun berpikiran begitu. Lalu apa ini berguna?"


Gantara melipat tangannya di depan dada sambil menatap elang dalam sangkar yang masih dipegang Antasena, "Tentu saja berguna."


"Untuk?" Antasena benar-benar merasa penasaran dengan apa yang akan dilakukan Sang Panglima dengan burung elang yang ia bawa.


"Tentu saja untuk mengirim 'surat cinta' kepada pemilik burung itu."


"Surat cinta?" Antasena mengerutkan keningnya dengan bingung atas maksud perkataan Gantara.


Dan kini setelah Gantara memberikannya secarik surat berukuran kecil, Antasena akhirnya mengerti maksud 'surat cinta' yang dikatakan Gantara setelah membaca surat yang dibuat Sang Panglima sebelum menggulung surat itu dan mengikatkannya di kaki burung elang.


Setelah burung elang itu dilepaskan oleh Antasena, burung elang itu segera terbang dengan cepat meninggalkan perkemahan pasukan Ruanindya menuju pemiliknya dengan membawa 'surat cinta' dari Sang Panglima besar Kertalodra.

__ADS_1


***


Samudra tengah termenung, memikirkan Gayatri yang tiba-tiba menemuinya ketika beberapa waktu lalu ia datang melapor ke istana Kertalodra.


"Jika kau memang mencintaiku, maka dengarkanlah kata-kataku. Jangan pernah kau menyakiti Putri Ruanindya sedikit pun."


Perkataan gadis cantik yang dicintainya itu masih terus terngiang dibenaknya. Patih Gandatala memang tidak menyuruhnya untuk melukai Ruanindya apalagi membunuhnya, tetapi menyerahkan Sang Putri pada Patih Gandatala sama saja menyakiti Ruanindya hingga hancur. Samudra tahu itu.


Tapi Samudra merasa ia sudah terlanjur jatuh dalam jurang dan tidak mungkin untuk kembali. Dirinya sudah memutuskan untuk menjadi antek Patih Gandatala dan membantunya memberontak untuk merebut takhta raja dari raja Arya Tirta Kusuma Winarang. Dan kini dirinya bahkan sudah diangkat menjadi seorang panglima oleh Sang Patih. Semua itu ia lakukan hanya demi Gayatri, namun nyatanya gadis cantik yang ia cintai itu malah memintanya untuk tidak menyakiti Sang Putri. Benar-benar seperti memakan buah si malakama.


Ketika Samudra masih dalam lamunannya, seekor burung elang datang membuyarkan semua lamunan dibenak pendekar itu.


Awalnya Samudra mengira ia akan mendapat informasi dari anak buahnya yang ia utus untuk mengawasi rombongan pasukan Putri Ruanindya, namun setelah membuka dan membaca surat yang dibawa burung elang itu membuat Samudra murka, "Bedebah!"


Secarik surat kecil itu berisi :


Teruslah berusaha mengirim matamu pada kami, maka kami akan mencongkelnya satu per satu.


Sekalipun isi surat menggunakan kata-kata kiasan, namun Samudra sangat mengerti maksud dari isi surat tersebut. Surat itu jelas-jelas bukan ditulis dan dikirim oleh anak buahnya.


Satu kesimpulan yang Samudra ambil, anak buahnya telah ditemukan dan kemungkinan sudah dihabisi oleh pasukan panglima Gantara.


Membawa serta surat dan burung elangnya, Samudra bergegas menaiki kudanya.


Dengan sigap kedua anak buahnya yang menemani Samudra segera mengikutinya menaiki kuda mereka masing-masing, "Ada apa panglima?"


Begitu pula dengan kedua anak buahnya, tanpa bertanya lebih lanjut mereka juga memacu kudanya mengikuti Samudra meninggalkan pondok kecil yang beberapa waktu lalu menjadi tempat pos jaga mereka.


Begitu sampai di istana Kertalodra, Samudra segera menyerahkan surat yang burung elang miliknya bawa.


Mata Patih Gandatala memerah, ia murka, "Bedebah! Ini pasti ulang Gantara!" Patih pemberontak itu melempar kendi arak yang tengah ia pegang hingga hancur berkeping-keping, "aku sudah tidak sabar untuk memenggal kepala cecunguk itu!"


***


Sepuluh hari telah dilalui rombongan pasukan yang Gantara pimpin hingga akhirnya sampai di pinggiran ibukota dimana markas para pendekar penentang patih Gandatala yang dipimpin Adiyaksa berada, dan kini telah menjadi markas utama pasukannya.


Awalnya Gantara mengira setelah ia mengirimkan 'surat cinta' itu maka patih Gandatala akan terprovokasi dan menyerang mereka saat diperjalanan, namun ternyata patih pemberontak itu lumayan hati-hati dalam bertindak.


Setelah sampai, Gantara memutuskan untuk langsung bertindak dibanding memilih untuk beristirahat. Sang panglima besar ingin mengetahui seberapa besar kekuatan yang mereka punya saat ini dengan tambahan para pendekar yang berada di tempat ini, senjata apa saja yang mereka miliki, dan berapa jumlah kuda yang mereka punya.


Setelah menghitung semuanya, total prajurit yang Gantara miliki kurang lebih sebanyak dua ribu orang dan mereka bukan prajurit biasa melainkan para pendekar yang mempunyai ilmu silat dan ilmu kanuragan yang mumpuni, walaupun diantara mereka ada rakyat biasa yang ingin ikut berperang melawan kekuasaan Patih Gandatala.


Awalnya Gantara melarang rakyat biasa ikut berperang, tapi mereka bersikeras. Disamping itu para rakyat itu juga telah mendapat pelatihan ilmu beladiri selama menunggu Gantara dan Ruanindya akhirnya bisa ditemukan.


Pada akhirnya mau tidak mau Gantara menginzinkan para rakyat biasa itu ikut berperang. Mau bagaimanapun itu pilihan mereka sendiri dan Gantara sebagai panglima sudah pernah memperingatkan mereka bahwa perang bisa saja mengambil nyawa mereka.


"Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang Panglima?" tanya Adiyaksa. Bukan hanya Antasena yang menjadi wakil dari Gantara, namun juga ketua perkumpulan pendekar penentang kekuasaan patih Gandatala itu kini juga menjabat sebagai wakil Sang Panglima.


"Lebih baik kita istirahat dulu untuk tiga hari kedepan. Semua orang pasti sangat lelah karena sudah menempuh perjalanan jauh dan untuk orang-orang yang ada di sini bisa membantu untuk memulai persiapan perang. Bagaimana menurut para tetua sekalian?" Gantara menatap pada Nyai Sokawati dan kelima saudara seperguruannya satu persatu. Bagaimanapun mereka adalah pendekar yang sudah berpengalaman dan sudah lama malang melintang di dunia persilatan, terlebih mereka juga saudara seperguruan Empu Indrayana jadi sudah tentu Gantara harus menghormati mereka selayaknya menghormati gurunya sendiri.

__ADS_1


Keenam saudara seperguruan itu saling pandang kemudian mereka mengangguk setuju, "Kami setuju dengan yang Panglima Gantara katakan. Bagaimanapun, Ananda sudah lebih berpengalaman dalam berperang dibanding kita semua. Kami percaya padamu," ucap Nyai Sokawati mewakili semua saudara seperguruannya.


"Terima kasih atas kepercayaan para guru padaku," Gantara menundukan kepalanya dengan sopan dan hormat, namun tetap penuh dengan wibawa.


***


Satu hari sebelum peperangan dimulai...


"Rua, aku ingin membicarakan suatu hal denganmu."


"Bicaralah. Hanya ada kita berdua di sini."


Justru itu, karena hanya ada mereka berdua di dalam kamar ini membuat Gantara merasa lebih berat untuk berbicara dengan Ruanindya karena pastinya perasaannya akan lebih mendominasi dibanding logikanya.


"Rua..."


"Ya?"


"Besok lebih baik kau tidak usah ikut berperang. Tunggulah di sini sampai peperangan berakhir, lalu aku akan menjemputmu," akhirnya Gantara mengatakan hal yang ingin ia katakan dan sudah ia pikirkan selama beberapa hari ini. Sang panglima memandang wajah ayu Sang Putri dengan cemas.


"Apa maksudmu?! Bukankah kita sudah sepakat untuk menghadapinya bersama?!" nada suara Ruanindya meninggi, jelas kalau gadis berparas ayu itu marah.


Gantara menghela nafas, ia sudah menduga kalau dirinya akan mendapat rekasi seperti itu dari Ruanindya, "Dengarkan aku dulu Rua..." Gantara menggenggam tangan Ruanindya, "perang ini terlalu berbahaya. Aku tidak mau sesuatu yang buruk terjadi padamu. Aku--"


"Gantara Wisesa!" Ruanindya menarik tangannya yang Gantara pegang hingga terlepas dari genggaman kekasihnya, "kau bilang aku tidak perlu takut karena kau akan melindungiku. Kau bilang aku harus percaya padamu. Apa semua itu hanya omong kosong?!" Ruanindya menatap Gantara dengan tatapan yang tajam, merasa marah dan kesal pada pendekar tampan di hadapannya saat ini.


"Bukan begitu Rua. Sekalipun Patih Gandatala tidak akan membunuhmu dan ia pasti juga melarang pasukannya untuk melukaimu, tetapi dalam medan perang mata pedang tidak memiliki arah dan haus akan darah jadi--"


"Kau menyebalkan!" Ruanindya bangkit dari duduknya lalu beranjak pergi keluar dari kamar meninggalkan Gantara dengan langkah cepat.


"Rua," Gantara yang terus mengkhawatirkan Ruanindya segera mengikuti kemana Sang Putri pergi.


Rasti yang berada disekitar kamar Ruanindya secara kebetulan melihat adegan sepasang kekasih itu, "Apa mereka bertengkar?"


"Sepertinya begitu."


"Oh, Astaga! Kau membuatku kaget!" Rasti memandang kesal pada Antasena yang kini tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya.


Mengabaikan protes Rasti dan wajah kesal gadis itu yang menurut Antasena justru membuatnya terlihat semakin manis. Antasena melanjutkan perkataannya, "Sepertinya panglima Gantara gagal membujuk tuan putri."


Rasti yang juga terpaksa harus mengabaikan rasa kesalnya pada Antasena karena rasa penasaran yang lebih mendominasi isi kepalanya saat ini, "Apa maksudmu?"


Antasena mengalihkan pandangannya dari Gantara dan Ruanindya yang semakin menjauh pada wajah gadis manis di sampingnya, "Panglima ingin membujuk tuan putri untuk tidak ikut ke medan perang besok karena Panglima Gantara menghkawatirkan keselamatan tuan putri."


Rasti mengangguk mengerti, ia sangat maklum dengan kekhawatiran Gantara pada Ruanindya.


"Kau juga, lebih baik besok tidak usah ikut ke medan perang."


"Apa?!"

__ADS_1


__ADS_2