
Chapter 27
Menghimpun kekuatan
Mengabaikan rasa sakit pada dadanya, Gantara terus menjaga Ruanindya yang belum sadarkan diri. Sang Panglima selalu menggenggam tangan kekasihnya sambil menatap wajah ayu yang tak kunjung membuka mata.
"Gantara, beristirahatlah. Biar aku yang menggantikanmu menjaga tuan putri," Nyai Sokawati menepuk bahu Gantara dengan lembut. Ia menatap orang yang sudah dirinya anggap sebagai anak laki-lakinya sendiri itu dengan pandangan khawatir. Nyai Sokawati tahu dari Layung Sari bahwa kemungkinan Gantara terluka dalam.
Gantara menggeleng, "Aku tidak apa-apa Nyai," memikirkan kondisi Ruanindya dan melupakan kondisinya sendiri, Gantara lantas menatap Nyai Sokawati, "Nyai, bolehkah aku meminta bantuanmu dan merepotkanmu lagi?"
"Tentu anakku, selama hal itu bisa aku lakukan pasti akan ku bantu. Katakan, apa itu?"
Gantara teersenyum, ia merasa sangat beruntung karena Nyai Sokawati begitu baik padanya. Sang Panglima berpikir mungkin begitulah sosok seorang ibu, "Aku mengenal seorang tabib. Beliau tinggal di desa Wanayasa, dua hari perjalanan menggunakan kuda ke arah barat dari sini. Bisa kah Nyai mengutus beberapa murid padepokan untuk menjemputnya?"
Nyai Sokawati mengangguk, "Tentu saja bisa. Aku akan menitahkan muridku untuk menjemput tabib itu sekarang juga," wanita cantik itu hendak melangkah keluar kamar sebelum Gantara memanggilnya.
"Nyai..."
Nyai Sokawati menghentikan langkahnya diambang pintu lalu menoleh dan kembali mentatap Gantara, "Iya?"
"Terima kasih banyak," Gantara berucap tulus dan dengan sepenuh hati.
Nyai Sokawati mengangguk, "Tidak masalah. sudah kewajibanku," sebuah senyuman tercetak di wajah cantik sang pemimpin padepokan sebelum akhirnya menghilang di balik pintu kamar di mana Gantara dan Ruanindya berada.
Hari penuh huru-hara di padepokan Nyai Sokawati akhirnya berakhir. Penghuni padepokan sudah bisa memegang kendali dan membuat padepokan kembali aman dan tenang.
Para penyusup banyak yang terbunuh, sebagian tertangkap dan beberapa orang berhasil melarikan diri. Mereka yang tertangkap segera disekap dan diinterogasi untuk mendapatkan informasi tentang Patih Gandatala dan seberapa besar kekuatan yang ia punya.
Keesokan paginya Ruanindya belum kunjung bangun dan tersadar dari pengaruh bius yang ia hirup. Karena Gantara yang terlalu khawatir akan keadaan Ruanindya, jadi pendekar tampan itu untuk saat ini tidak ingin jauh dari Sang Putri. Atas pertimbangan itu, Nyai Sokawati memutuskan melakukan pertemuan di kediamannya.
Nyai Sokawati mengumpulkan semua ketua dari kelompok yang pernah ia bentuk, tentu saja Antasena dan Layung Sari juga turut hadir. Gantara sempat melemparkan tatapan tajam dan dingin pada Antasena, dan Antasena sendiri sudah tahu pasti apa alasan ataupun penyebab dari tatapan Sang Panglima.
Maksud Nyai Sokawati mengumpulkan murid-muridnya adalah untuk membahas penghimpunan kekuatan yang lebih besar untuk mendukung putri Ruanindya kembali merebut takhta dari Patih Gandatala. Takhta Raja Kertalodra tidak boleh terlalu lama berada di tangan orang yang tidak berhak apalagi yang zalim dan tirani seperti Sang Patih pemberontak.
__ADS_1
"Jadi aku akan mengutus beberapa kelompok dari kalian untuk mengantarkan undangan pada padepokan-padepokan saudara seperguruanku demi menghimpun kekuatan yang lebih besar. Dan sepertinya setelah keributan besar yang terjadi di padepokan kemarin, keberadaan putri Ruanindya di sini bukan lagi sebuah rahasia jadi kita perlu memperketat penjagaan sehingga tidak sampai kecolongan lagi seperti yang terjadi kemarin. Beritahukan hal ini pada murid lainnya juga," ucap Nyai Sokawati pada murid-muridnya dengan tegas.
"Baik Nyai!" jawab murid Nyai Sokawati serempak.
Wanita cantik pemimpin padepokan itu menoleh pada Gantara, "Gantara, apa kau memiliki sesuatu untuk dikatakan? Mungkin kau mempunyai saran atau pendapatmu tentang hal ini?" tanya Nyai Sokawati. Bagaimanapun Gantara adalah seorang panglima besar yang berpengalaman, sudah memenangkan banyak perang dengan kekuatan dan strateginya.
"Apa yang Nyai bicarakan tadi itu sudah sangat sempurna dan tepat untuk dilakukan saat ini. Menghimpun kekuatan dan memperkuat pertahanan serta terus menyelidiki seberapa besar kekuatan lawan. Setelah semuanya terbentuk dengan kuat dan matang barulah kita bisa menggempur para pemberontak dan kembali merebut takhta Kertalodra," ucap Gantara dengan sopan, namun juga tegas.
Para murid yang mendengar perkataan Gantara mengangguk-anggukan kepalanya setuju dengan perkataan Sang Panglima termasuk Antasena, sedangkan Layung Sari, sebuah senyuman rasa kagum mengembang lebar di wajah cantiknya.
Sebuah senyuman juga menghiasi bibir Nyai Sokawati, senyuman rasa bangga. Gantara persis seperti apa yang ia harapkan, seorang panglima besar Kertalodra dan murid dari empu Indrayana, kakak seperguruannya yang terbijak dan terkuat. Kata-kata Gantara seperti memiliki kekuatan untuk membuat orang terpengaruh dan terdorong dengan apa yang ia katakan. Tentu saja Nyai Sokawati berharap orang yang akan menjadi penerusnya untuk memimpin padepokan adalah orang sehebat dan secakap Gantara.
Setelah dibicarakan lebih lanjut akhirnya lima kelompok terbentuk untuk mengantarkan undangan pada lima padepokan yang dipimpin oleh saudara seperguruan Nyai Sokawati. Mereka segera berangkat dengan membawa perbekalan dan menunggangi kuda-kuda terbaik milik padepokan agar sampai lebih cepat.
Setelah pertemuan selesai, kediaman Nyai Sokawati kembali tenang. Gantara juga kembali masuk ke dalam kamar untuk menjaga Ruanindya yang masih belum sadarkan diri.
Layung Sari yang awalnya ingin berbincang berdua dengan Gantara akhirnya mengurungkan niatnya begitu melihat pendekar tampan itu bergegas memasuki kamar dengan wajah muram.
Dalam kamar yang tenang itu, Gantara membaringkan tubuhnya di samping Ruanindya lalu memeluk kekasihnya dengan rasa cemas yang meliputi hatinya, "Bangun Rua..." bisiknya lirih.
"Rua, kau sudah sadar?" Gantara memeluk Ruanindya dengan erat, melepaskan rasa cemasnya dan melapiaskan rasa rindunya. Dadanya yang terasa sesak akhirnya bisa menghembuskan nafas lega.
Ruanindya mengangguk. Beruntung ketika ia sadarkan diri dan membuka mata, dirinya mendapati Gantara yang tengah tertidur sambil memeluknya, kalau tidak, mungkin Ruanindya akan panik dan histeris, "Dimana ini? Apa yang terjadi?"
Gantara melonggarkan pelukannya, menatap wajah ayu Ruanindya lalu membelai pipi kekasihnya dengan lembut, "Saat ini kita berada disalah satu kamar di kediaman Nyai Sokawati karena kamar milikmu sebelumnya berantakan, dan kau sendiri sudah tidak sadarkan diri selama dua hari karena pengaruh bius yang di lakukan oleh penyusup yang kau hadapi sebelumnya."
Ruanindya mendengarkan perkataan Gantara, namun tatapan matanya masih terlihat linglung, "Aku sampai tak sadarkan diri selama dua hari?"
Gantara mengangguk untuk menjawab pertanyaan kekasihnya, "Bagaimana keadaanmu saat ini? Apa yang kau rasakan?"
"Lemas, pusing, dan... haus," Sang Putri memegang lehernya sendiri, merasakan kerongkongannya yang kering.
"Baiklah sebentar, aku ambilakan kau air," Gantara melepas pelukannya pada tubuh Ruanindya, beranjak bangun dari ranjang kayu tempatnya dan Ruanindya berbaring lalu menuju meja di mana sebuah kendi berisi air tersedia. Gantara menuangkan air dari dalam kendi pada cangkir bambu kemudian membantu Sang Putri untuk minum. Ruanindya meminum air dalam cangkir bambu hingga tandas. Setelah memberikan air pada Ruanindya dan membantunya minum, Gantara segera menyakan obor karena ia tahu kalau kekasihnya itu tidak suka berada di tempat gelap.
__ADS_1
Ruanindya menatap Gantara yang kini sudah kembali duduk di sampingnya, "Apa kau terluka?"
Gantara menggeleng, berbohong atas kondisinya sendiri. Sesungguhnya ia masih merasakan sedikit rasa sakit di dadanya, namun luka dalam yang ia derita hanya luka kecil jadi pendekar tampan itu merasa tidak perlu memberitahukan tentang kondisi yang sebenarnya pada Ruanindya yang baru saja sadarkan diri. Kondisi Ruanindya sendiri belum stabil, penting bagi Sang Putri untuk tetap tenang, "Aku tidak terluka. Aku baik-baik saja," Gantara menyeka bulir-bulir peluh yang terlihat berkilau di kening Ruanindya dengan lembut.
"Syukurlah. Aku lega mendengarnya," sebuah senyum terukir di bibir pucat Ruanindya, kemudian Sang Putri terpikirkan akan satu hal, "Kenapa si penyusup malah membiusku dan tidak langsung membunuhku?"
"Rua, lebih baik kau istirahat, jangan pikirkan hal itu dulu."
Mata Ruanindya dengan jeli bisa melihat perubahan ekspresi di wajah Gantara sekalipun hanya sedikit dan itu berhasil membuatnya merasa sangat penasaran, "Kau tahu sesuatu kan tentang hal itu? Cepat ceritakan padaku."
"Rua, lebih ba--"
"Cepat ceritakan!" desak Sang Putri.
Gantara menghela nafas. Kalau Ruanindya sudah keras kepala seperti ini, mau tidak mau ia harus menceritakan apa yang gadis ayu itu ingin ketahui saat ini juga, "Patih Gandatala menginginkanmu hidup-hidup."
"Apa?" Ruanindya mengerutkan keningnya, "Kenapa? Bukankah lebih mudah kalau ia membunuhku? Untuk apa ia ingin menangkapku hidup-hidup?" tentu saja Ruanindya tidak berharap dirinya untuk dibunuh, namun jika dipikirkan menggunakan logika, maka bukankah akan lebih mudah bagi Patih Gandatala mempertahankan takhta Raja yang sudah ia rebut kalau sang pewaris takhta yang sesungguhnya dilenyapkan? Memikirkan hal itu membuat Ruanindya semakin penasaran.
Awalnya Gantara enggan untuk melanjutkan percakapan mereka dan memberitahu Ruanindya alasan kenapa Patih Gandatala menginginkannya hidup-hidup, namun Ruanindya terus menatapnya dengan pandangan menuntut penjelasan. Akhirnya pendekar tampan itu mau tak mau kembali membuka mulut, "Patih Gandatala mengingikanmu menjadi 'tawanan kamarnya', itu yang si penyusup ucapkan."
Mata bulat Ruanindya seketika terbelalak, ia tidak cukup bodoh hanya untuk sekedar mengerti maksud dari 'tawanan kamar' yang diucapkan Gantara. Tubuhnya seketika menggigil, merinding dan perutnya terasa mual, "A-aku lebih baik mati dari pada harus tertangkap oleh patih busuk menjijikan itu!" ucap Ruanindya terbata dengan suara yang bergetar.
Melihat kondisi Ruanindya dan mendengar perkataannya membuat Gantara segera memeluk Sang Putri untuk menenangkannya, "Aku tidak akan membiarkan Patih Gandatala menangkapmu apalagi membiarkan kau sampai terbunuh. Rua, jangan ucapkan kata-kata mengerikan sepeeti itu lagi. Aku tidak sanggup kalau harus kehilanganmu."
Mengetahui kebenaran alasan kenapa Patih Gandatala mengingikannya hidup-hidup membuat Ruanindya marah sekaligus takut, namun kata-kata Gantara barusan membuatnya merasa berharga, merasa dilindungi dan dicintai, itu semua membuat emosi berkecamuk di hati Ruanindya hingga membuat gadis ayu itu terisak dalam dekapan kekasihnya. Untuk saat ini, biarkan ia menangis, setelahnya Ruanindya berjanji pada dirinya sendiri tidak akan menjadi orang yang cengeng lagi dan menjadi orang yang lebih kuat.
"Aku akan selalu ada disisimu. Semuanya akan baik-baik saja Rua..." Gantara mengelus punggung bergetar gadis ayu itu dengan lembut.
***
Pagi itu derap langkah kaki beberapa kuda memecah keheningan padepokan.
Setelah dua hari lalu, murid padepokan yang diutus untuk menjemput Ling Hua akhirnya kembali dengan perjalanan yang tidak sia-sia. Mereka berhasil membawa tabib Ling Hua dan muridnya, Rasti.
__ADS_1
Dengan tergesa, murid padepokan mengantar Ling Hua dan Rasti menuju kediaman Nyai Sokawati.
Bersambung...