
Chapter 6
Masa lalu
Pagi hari setelah mereka berpamitan pada Gesang dan neneknya akhirnya mereka berdua --Gantara dan Ruanindya-- kembali melanjutkan perjalanannya.
Setelah Ruanindya merasa cukup jauh dari rumah Gesang, akhirnya ia tidak bisa tahan lagi untuk bertanya pada Gantara, "Gantara, boleh aku bertanya?"
"Tentu, apa itu?" Gantara sedikit melirik kearah wajah Ruanindya yang duduk di hadapannya. Dalam menunggang kuda, sekalipun Ruanindya terus menerus protes namun posisi mereka tidak berubah, Ruanindya tetap harus duduk di depan Gantara.
"Hmm.." Ruanindya terlihat sedikit ragu, "Itu..kenapa kau terlihat sangat sedih ketika melihat keadaan Gesang?" Ruanindya bukannya tidak sedih melihat keadaan Gesang namun kesedihan yang ia lihat di mata Gantara begitu terasa sangat dalam.
Gantara menghela nafas, ternyata pandangan dan pengamatan Ruanindya cukup tajam padahal ia bukan seorang pendekar, "Aku hanya teringat masa laluku."
"Masa lalumu?" Ruanindya tidak mengerti apa hubungannya nasib buruk Gesang dengan masa lalu Gantara karena memang Ruanindya sama sekali tidak tahu menahu tentang masa lalu sang panglima.
Gantara mengangguk, "Aku juga seorang yatim piatu, Gesang masih beruntung masih memiliki neneknya sedangkan aku tak punya siapapun, aku bahkan tidak bisa mengingat seperti apa wajah kedua orang tuaku. Dan...Aku juga pernah dipukuli di pasar hanya karena mencuri sebuah jeruk, aku terpaksa mencuri karena pada saat itu aku sangat kelaparan," setelah mengatakan itu Gantara tercengang pada dirinya sendiri, ia biasanya tidak akan mudah mengatakan masa lalunya pada siapapun namun kali ini entah kenapa ia dengan mudah mengatakan masa lalunya yang pahit pada sang Putri manja di hadapannya ini.
Ruanindya kaget mendengar apa yang dituturkan Gantara, ia mengira Gantara adalah anak dari salah satu keturunan berdarah biru[1] makanya ia bisa dengan mudah mencapai posisinya sekarang sebagai panglima tertinggi di kerajaannya dalam usia muda, "Aku turut berduka mendengarnya," ucap Ruanindya lirih.
"Tidak perlu, aku tidak apa-apa. Berkat keadaanku yang seperti itu aku bisa bertemu guruku, empu Indrayana. Ia memberiku kasih sayang layaknya orang tuaku sendiri, memberiku nama dan identitas, memberiku perlindungan, mengajariku tentang kehidupan dan semua ilmu silat[2] dan kanuragan yang ia miliki hingga bisa membuatku menjadi diriku yang sekarang."
Ruanindya mengerutkan keningnya, "Nama dan identitas?" Ia sampai menolehkan kepalanya ke belakang dan mencoba menatap wajah Gantara.
Gantara tetap memandang lurus kedepan, kearah jalan yang sedang Beliung tapaki, "Iya, pada saat empu Indrayana menemukanku, aku tidak bisa mengingat apapun bahkan namaku sendiri. Gantara Wisesa adalah nama pemberian guru, dan identitasku sebagai muridnya itu sudah cukup bagiku."
'Aku tidak tahu ternyata masa kecilmu lebih menyedihkan dari Gesang,' Ruanindya melihat ke bawah, ke arah tangan besar Gantara yang sedang memegang tali kekang, ia ingin menggenggam tangan itu untuk menyampaikan rasa simpati dan memberinya kekuatan namun akhirnya ia urungkan, "Apa kau sekarang sudah mengingat masa lalumu?"
"Belum."
"Apa kau ingin bisa mengingat masa lalumu?"
"Tidak."
"Kenapa?"
"Aku sudah puas dengan hidupku yang sekarang."
__ADS_1
"Umm..." Ruanindya mengangguk, ia berhenti bertanya, Sang Putri merasa tidak enak kalau terus menanyakan hal yang bahkan tidak ingin Gantara ingat apalagi mereka berdua belum sedekat itu.
********
"Sungai!!!" Ruanindya berteriak senang, setelah turun dari kuda ia segera berlari ke tepi sungai dan tersenyum lebar memandangi air jernih sungai itu apalagi aliran airnya tidak terlalu deras, sudah dua hari ia tidak mandi tentu saja ia merasa sangat senang melihat sungai karena artinya akhirnya ia bisa membersihkan tubuhnya.
Karena Ruanindya ketika di istana dulu mandi setiap hari, entah itu dengan air dingin yang segar atau air yang hangat yang menenangkan.
"Hati-hati," Gantara memperingatkan, bagaimanapun batu-batu di sungai bisa menjadi licin karena lumut atau bisa saja tajam.
Ruanindya mengangguk sebagai jawaban dan mulai melangkah masuk kedalam sungai dengan gembira, kakinya sudah merasakan betapa segarnya air sungai. Ruanindya dengan semangat mulai memegang pakaian atasnya dan akan membukanya ketika ia ingat sesuatu, Ruanindya menolehkan kepalanya ke belakang dan sudah seperti yang ia duga sebelumnya, Gantara masih berdiri di sana mengawasinya dengan mata elangnya, "Ehem," Ruanindya berdehem sebelum berkata, "Tidak bisakah kau pergi dulu atau memalingkan tubuhmu ke arah lain?"
Gantara menggeleng sekilas, "Tidak," tentu saja itu tidak bisa ia lakukan, Gantara merasa harus terus mengawasi Ruanindya dan memastikannya tetap aman.
Wajah Ruanindya langsung tertekuk kesal lalu ia berdecih, setelahnya ia menepuk keningnya sendiri dengan cukup keras, bisa-bisanya ia melupakan kalau dirinya adalah seorang gadis hanya karena terlalu senang menemukan sungai berair jernih hingga hampir melakukan hal bodoh yang memalukan, sekalipun sungai itu berada di tempat terpencil dan sangat sepi, sekalipun penampilannya adalah seorang lelaki karena penyamaran tapi ia tetaplah seorang gadis, ia harus menemukan tempat yang lumayan tertutup agar ia bisa mandi dengan tenang. Ruanindya memandang sekeliling sungai dan ia menemukan batu besar yang tidak jauh dari sana dan Sang Putri merasa itu tempat yang tepat, ia kembali menoleh ke arah Gantara, "Aku akan mandi di sana, di balik batu besar itu,". Ruanindya menunjuk batu besar yang ia maksud, sebelum ia melangkah ke sana ia menambahkan, "Jangan mengintip!"
Setelah Ruanindya pergi, giliran Gantara yang berdecih, "Untuk apa aku mengintip seorang Gadis kecil, tidak ada yang menarik yang bisa aku lihat, " beruntung perkataannya itu tidak di dengar Ruanindya, kalau sampai terdengar mungkin saja sang putri akan murka.
Gantara merasa ia juga harus menyegarkan tubuhnya dan mandi, jadi ia melepaskan pakaiannya, namun hanya pakaian atasnya, ia tetap mengenakan celananya, itu ia lakukan untuk berjaga-jaga kalau ada hal yang tak terduga terjadi. Setelah melepas baju yang ia kenakan Gantara kemudian mulai membasuh tubuhnya di sungai.
Sementara di balik batu besar Ruanindya sudah melepas seluruh pakaiannya dan juga topeng yang ia pakai lalu mandi dengan gembira, air sungainya benar-benar terasa segar dan itu membuatnya senang.
Gantara sudah selesai membilas tubuhnya namun Ruanindya belum kunjung keluar dari balik batu tempatnya mandi, hal itu membuat Gantara khawatir, "Rua, kau baik-baik saja?" tanyanya dengan suara keras agar Ruanindya bisa mendengarnya.
"Ya! Aku baik-baik saja," jawab Ruanindya dari balik batu dengan suara yang tak kalah keras, setelahnya Gantara bisa melihat tangan putih yang ramping mengambil pakaian yang tersampir di atas batu.
Mendapat jawaban itu membuatnya menghela nafas lega, kemudian ia memutuskan menangkap beberapa ikan untuk mereka makan. Setelah ia berhasil menangkap beberapa ikan dengan mudah, Gantara mengumpulkan kayu bakar lalu membakar ikan-ikan hasil tangkapannya.
"Woah...ikan bakar!" Ruanindya berseru senang kemudian duduk di samping Gantara, ia merasa seperti sedang bertamasya karena dulu ia sangat dilarang keras untuk keluar istana dengan alasan keselamatannya.
"Bagus kalau kau suka," Gantara memberikan satu ikan besar yang sudah matang pada Ruanindya.
Ruanindya mengangguk-anggukan kepalanya beberapa kali dengan antusias, "Aku suka," setalah menerima ikan bakar dari Gantara, Ruanindya makan dengan lahap tapi karena kurang berhati-hati membuat jari telunjuknya tidak sengaja tertusuk duri ikan ketika ia mencoba mencomot daging ikan di bagian pinggir, "Aww!" jeritnya karena kaget akibat sengatan rasa sakit di ujung jarinya.
"Kenapa?" Gantara mengangkat ikan yang sedang ia bakar lalu mengalihkan perhatiannya pada Ruanindya.
Ruanindya memperlihatkan jari telunjuknya yang mulai mengeluarkan darah, "Tertusuk duri ikan," ia meringis merasakan perih.
__ADS_1
"Tsk. Seperti anak kecil saja. Harusnya kau bisa lebih berhati-hati."
Ruanindya mendengus kesal, ia sudah cukup sakit dengan luka di jarinya malah mendapakan omelan dari pendekar tampan di hadapannya, "Iya iya baiklah tuan pendekar, lain kali aku--" perkataan kesal Ruanindya terhenti dan menggantung begitu saja saat Gantara meraih tangannya dan memasukan jari telunjuknya kedalam mulutnya. Di dalam mulut hangat Gantara, Ruanindya bisa merasakan jarinya yang luka dijilat dengan lembut.
Ruanindya membeku memandangi wajah tampan Gantara, ia tidak menyangka panglima yang seperti batu itu bisa melakukan hal yang begitu lembut, semburat merah perlahan menghiasi pipi putih Ruanindya dan entah kenapa jantungnya berdetak lebih cepat.
Ruanindya tanpa sadar memegang dada kirinya sendiri.
Setelah beberapa saat Gantara melepas jari Ruanindya dari mulutnya dan melihat bahwa darahnya sudah berhenti mengalir, untuk mencegah sang Putri manja terus merengek kesakitan padanya, Gantara segera membalut ujung jari telunjuk Ruanindya dengan kain, "Lain kali lebih berhati-hati," sekali lagi Gantara memperingati lalu melepaskan tangan Ruanindya, bergitu melihat Ruanindya yang hanya diam memegangi dadanya sambil menatapnya, membuat Gantara bertanya, "Kau kenapa lagi?"
"Apa tertusuk duri ikan bisa menyebabkan penyakit jantung?" Ruanindya bertanya dengan bodoh.
Gantara yang tidak mengerti pertanyaan aneh Ruanindya hanya mengerutkan keningnya lalu mengabaikannya. Tapi ketika mendengar beberapa langkah mendekat Gantara segera waspada dan menggenggam pedangnya kemudian berdiri dengan waspada, lalu menarik lengan Ruanindya supaya ia juga ikut berdiri kemudian Gantara berdiri dihadapan Ruanindya menyembunyikan sosok Ruanindya di belakang tubuh tingginya.
Ruanindya kaget dengan apa yang dilakukan Gantara, namun melihat tingkah Gantara yang waspada ia tahu akan terjadi sesuatu, "Ada apa?"
"Tetap berada di dekatku," perintah Gantara dengan suara yang sangat serius, setelahnya empat pendekar muncul mendekat kearah keduanya. Gantara menatap mereka dengan waspada, "Siapa kisanak sekalian?"
Salah satu pendekar tertawa sebelum menjawab dengan sengit, "Kami diutus untuk mencabut nyawamu!"
Kini Gantara mengerti, keempat pendekar ini adalah pembunuh yang diutus patih Gandatala untuk memburu Ruanindya, penyamaran sang Putri telah terbongkar oleh pendekar-pendekar tak dikenal di hadapannya, "Lebih baik kalian pergi sebelum nyawa kalian sendiri yang melayang," meski pun berbicara demikian, Gantara sudah berniat akan membunuh mereka demi tetap terjaganya penyamaran Ruanindya.
Salah satu pendekar dengan brewok menutupi wajahnya meludah dan mendecih, "Cih! Kau tidak akan bisa bicara omong kosong lagi setelah kepalamu terpisah dari tubuhmu!"
Setelahnya keempat pendekar itu mengeluarkan senjata mereka masing-masih, tiga pendekar menggunakan pedang dan satu pendekar menggunakan kapak besar.
"Hiaaa!" keempat pendekar itu menyerang Gantara bersamaan, Gantara segera melepas pedang miliknya dari sarungnya dan menahan sabetan pedang-pedang lawannya, tidak hanya itu ia juga menangkis sebuah pukulan yang diarahkan pada Ruanindya.
Ruanindya panik dan sangat ketakutan, ia akan menjerit ketika ada mata pedang atau pukulan mengarah padanya, sungguh sebenarnya ia tidak ingin mengganggu konsentrasi Gantara dalam bertarung namun jeritannya reflek keluar begitu saja ketika ada hal mengancam seperti mata pedang dan pukulan yang terarah padanya.
Salah seorang pendekar melompat lalu melayangkan tendangannya kearah kiri tubuh Gantara dan hanya dengan satu tangan kirinya Gantara dengan mudah menghadang tendangan itu lalu mematahkan kakinya, memanfaatkan kesempatan itu satu pendekar lainnya menyerang sisi tubuh bagian kanan Gantara dengan pedang namun Gantara berhasil membaca gerakannya, menangkis menggunakan pedangnya lalu melakukan gerakan memutar dan berhasil melepas dan melemparkan pedang lawan dari tangannya kemudian menggorok leher pendekar itu tanpa ampun.
Satu mengerang kesakitan karena kaki kanannya yang patah dan satu sudah tidak bernyawa dengan darah yang mengucur deras dari lehernya, sedangkan kedua pendekar yang tersisa semakin meningkatkan kewaspadaannya, mereka akhirnya mengakui ternyata panglima Gantara Wisesa memang sehebat dan sebesar namanya.
[1. Berdarah biru : memiliki garis keturunan bangsawan/ningrat.]
[2. Pencak silat atau silat adalah suatu seni bela diri tradisional yang berasal dari Nusantara (Indonesia).]
__ADS_1
Bersambung..
mind to follow, like, vote, tip & comment?