
Chapter 29
Antasena dan Rasti
Seperti hari-hari biasanya, Rasti mencari Antasena untuk memberinya obat.
Sebenarnya gadis manis itu sedikit kesal dan tidak suka dengan sikap Antasena. Ketika murid lain akan menemui Ling Hua dan dirinya untuk mengambil obat, namun hanya Antasena sendiri yang tidak mau mengambil obat dan malah menginginkan obat itu diantar padanya.
Nyai Sokawati yang mengetahui hal itu meminta maaf atas sikap murid nomor satunya, dan memohon agar Ling Hua dan Rasti mau memaklumi. Sikap Antasena itu didasari oleh dirinya yang seorang tuan muda anak tunggal seorang tumenggung yang selalu dimanjakan dan mendapatkan apa pun yang ia inginkan. Selain itu, seluruh murid-murid padepokan yang memperlakukannya secara istimewa karena Antasena tidak hanya mempunyai kedudukan dan sosoknya yang rupawan, namun ia juga punya kemampuan dan bisa membuktikan diri dengan kecerdasan dan kekuatannya sehingga menjadi murid nomor satu di padepokan. Mengetahui itu semua, Ling Hua membujuk Rasti agar mau mengantarkan obat untuk Antasena. Ling Hua bilang pada gadis manis itu bahwa harus ada pihak yang mengalah, dan sudah tugas mereka --Ling Hua dan Rasti-- saat ini untuk membuat semua penghuni padepokan Nyai Sokawati sembuh dan sehat kembali. Akhirnya mau tidak mau Rasti menerima tugas untuk mengantarkan obat jatah Antasena setiap harinya sekalipun enggan.
Biasanya saat matahari mulai tergelincir ke barat Antasena pasti sedang berlatih. Dan di sinilah Rasti sekarang, mengedarkan pandangannya di area berlatih untuk mencari sosok pendekar yang membuatnya kesal. Namun setelah ia mengedarkan pandangan ke setiap sudut lapangan luas itu, Rasti tidak bisa menemukan Antasena di mana pun.
Rasti merengut kesal. Tugasnya untuk mengantarkan obat Antasena setiap hari sudah ia anggap hal yang merepotkan, ditambah sekarang ia harus mencari-cari keberadaan murid nomor satu Nyai Sokawati itu, benar-benar terasa menyia-nyiakan waktunya.
Rasti memang asisten Ling Hua, namun ia juga merangkap sebagai muridnya. Jadi selain membantu Ling Hua untuk membuat ramuan-ramuan herbal untuk mengobati seluruh penghuni padepokan, ia juga masih harus belajar tentang ilmu pengobatan pada Ling Hua dan harus mengingat semua yang diajarkan Ling Hua padanya dengan baik agar ia bisa menjadi tabib sehebat gurunya. Intinya ia sangatlah sibuk dan tingkah Antasena membuatnya lebih sibuk lagi.
Rasti menghentikan seorang murid padepokan yang kebetulan berjalan melewatinya lalu menanyakan tentang keberadaan Antasena. Murid itu bilang bahwa Antasena hari ini tidak pergi berlatih dan hanya beristirahat di kamarnya karena merasa tidak enak badan. Setelah mendapatkan informasi yang ia inginkan, Rasti mengucapkan terima kasih pada murid itu dan setelahnya segera pergi menuju kamar Antasena.
Rasti dengan malas mengetuk daun pintu yang ada di hadapannya, namun setelah ia menunggu beberapa saat tidak kunjung ada jawaban dari penghuni kamar. Sekali lagi Rasti mencoba mengetuk pintu kamar Antasena, tetapi kali ini dengan ketukan yang lebih keras.
"Siapa?" terdengar suara Antasena dari dalam kamar.
"Rasti."
"Masuk."
Mendengar suara Antasena membuat Rasti mencebikan bibirnya kesal. Entah kenapa dirinya merasa seolah menjadi seorang pelayan yang sedang diperintah oleh majikannya. Antasena memang ketua dari murid-murid padepokan, tapi bukan berarti pendekar itu bisa memerintah dirinya sesuka hati, terlebih ia bukanlah murid dari padepokan Nyai Sokawati. Dalam hidup Rasti, selain orang tuanya, ada tiga orang pengecualian yang akan Rasti turuti perintahnya dengan senang hati dan tulus yaitu Ling Hua, Gantara, dan Ruanindya.
Rasti membuka pintu yang ada di hadapannya dan masuk ke dalam kamar Antasena dengan langkah enggan. Gadis manis itu mendapati Sang Pendekar tengah berbaring di atas ranjangnya, "Aku dengar kakang sedang tidak enak badan hingga tidak berlatih hari ini?" tanya Rasti hanya untuk berbasa-basi, "Oh iya, ini obatmu."
Antasena menunjuk sebuah meja yang ada di dalam kamarnya, "Obatnya taruh saja di atas meja. Aku hanya sedang malas berlatih dan merasa sedikit pusing, mungkin juga demam."
"Demam? Apa tubuhmu panas?" Rasti menaruh obat yang ia bawa di atas meja, sesuai keinginan --perintah-- Antasena. Sudah menjadi nalurinya sebagai seorang calon tabib untuk menanyakan keadaan pasien.
__ADS_1
"Kemarilah dan periksa. Apakah tubuhku panas atau tidak."
Rasti membalikan tubuhnya dan menatap Antasena, "Apa kakang tidak bisa merasakan suhu tubuhmu sendiri?"
Antasena membalas tatapan Rasti kemudian berdecih, "Kau kan calon tabib, apakah hanya untuk memeriksa suhu tubuh pasien saja kau tidak bisa?"
Rasti memutar bola matanya dengan malas. Pendekar di hadapannya ini benar-benar menjengkelkan.
'Bagaimana Antasena bisa menjadi ketua dari murid-murid padepokan? Bagaimana Antasena sangat didambakan para murid wanita dan dijadikan panutan oleh para murid laki-laki? Apa bagusnya Antasena selain wajah tampannya? Tunggu! Tampan? Pikiran konyol macam apa itu? Tidak! Ia sama sekali tidak tampan!' Rasti menggelengkan kepalanya berusaha mengenyahkan pikirannya yang menurutnya keliru.
Antasena yang melihat tingkah aneh gadis manis itu hanya bisa mengerutkan keningnya, "Mau memeriksaku atau tidak?" tanya Antasena dengan nada tidak sabar.
Rasti menghela nafas, mencoba untuk bersabar menghadapi lelaki di hadapannya, "Iya. Iya. Baiklah. Aku akan memeriksamu," gadis manis itu duduk di sisi ranjang lalu tangannya terulur untuk memegang kening Antasena demi memeriksa suhu tubuhnya.
Antasena memandangi wajah manis dan lugu gadis di hadapannya, entah keinginan darimana ia menarik tubuh Rasti hingga menindihnya lalu berguling memutar sampai mereka bertukar posisi. Antasena menindih tubuh ramping dan mungil Rasti di bawah kungkungan tubuhnya. Tanpa berkata apa pun ia mencium bibir tipis gadis manis itu.
Kejadian itu berlangsung begitu cepat. Rasti belum sadar sepenuhnya dengan apa yang terjadi ketika sepasang tangan kokoh meraih tengkuk dan pinggang ramping gadis manis itu. Ketika awalnya ia yang tengah duduk lalu tubuhnya ditarik hingga pandangannya berputar dan kini ia sudah terbaring di atas ranjang, berada di bawah tubuh seseorang yang menindihnya, rambut panjang yang semula digelung di atas kepala kini tergerai menyebar di atas bantal. Kesadaran Rasti seolah disedot paksa, matanya membulat lebar begitu merasakan sebuah ciuman pada bibirnya.
"Kau bilang kalau aku harus menyerah dan tidak boleh mengganggu hubungan Putri Ruanindya dan Panglima Gantara, jadi kau harus bertanggung jawab," Antasena menatap Rasti dengan tatapan yang sulit diartikan. Wajah mereka begitu dekat hingga hembusan hangat nafas Antasena menerpa wajah Rasti, begitu juga sebaliknya.
"Apa maksudmu?! Kau menginginkanku menjadi pelampiasanmu? Tidak sudi!" Rasti berteriak marah. Ia memang masih awam dalam hal yang berurusan dengan cinta, namun ia juga tidak bodoh.
Antasena mengangguk, "Kau juga boleh menganggapku sebagai pelampiasan. Jadi ini sama-sama menguntungkan," Antasena menimpali kemarahan Rasti dengan acuh tak acuh.
"Tidak! Lepaskan aku!" Rasti terus memberontak dan melawan sekuat tenaga, memukulkan kepalan kecil tangannya pada punggung Antasena, kakinya juga terus berusaha menendang orang yang kini tengah menindihnya.
Pukulan-pukulan Rasti memang tidak membuatnya sakit, namun itu cukup mengganggu, "Kenapa kau begitu keras kepala?" ujar Antasena sebelum kembali mencium bibir Rasti.
Hal itu praktis membuat Rasti semakin marah. Gadis manis itu memberanikan diri untuk membuka mulutnya lalu menggigit bibir Antasena kuat-kuat hingga bibir lelaki itu berdarah. Karena rasa marah yang memuncak dan merasa tidak berdaya seolah membuat dadanya terasa sangat sesak hingga air mata Rasti keluar tanpa diminta. Ia sebenarnya tidak ingin menangis, namun entah kenapa suara isakan lolos begitu saja dari bibirnya, "********!" umpat Rasti dengan suara bergetar. Matanya yang merah dan masih meneteskan buliran-buliran airmata menatap marah pada lelaki di atasnya dengan sengit. Rasti benar-benar merasa dilecehkan.
Antasena meringis merasakan sengatan pada bibirnya yang robek. Ia menyeka darah di bibirnya lalu membalas tatapan Rasti. Untuk sejenak pendekar berpenampilan elegan itu hanya terdiam. Di wajah tampannya sama sekali tidak ditemukan guratan kemarahan akan umpatan Rasti untuknya, "Kau menyuruhku untuk melupakan Putri Ruanindya, jadi kau juga harus melupakan Panglima Gantara. Tapi sepertinya kau belum bisa melupakannya. Benar kan?" Antasena bertanya dengan suara yang lembut, namun dalam.
Rasti hanya terdiam, tidak berkata apa pun lalu melirik ke arah lain menghindari tatapan Antasena.
__ADS_1
Antasena terkekeh dengan dingin, "Bukankah berbicara lebih mudah daripada melakukannya? Kau saja yang memberiku nasihat belum bisa melupakan rasa cintamu pada Panglima Gantara. Kau membual dengan kata-katamu sendiri."
Rasti kembali menatap Antasena langsung ke dalam matanya, "Aku sedang berusaha!" jeritnya marah, "setidaknya aku tidak akan pernah mengganggu hubungan mereka!"
"Itu juga yang sedang coba aku lakukan. Jadi aku butuh bantuanmu dan kau juga sepertinya membutuhkan bantuanku."
"Bantuan apa?! Menjadi pelampiasan?! Memuaskan fantasimu akan Putri Ruanindya dan menganggapku sebagai dirinya?!" tanya Rasti sarkastik.
Antasena tertegun dengan kata-kata Rasti. Ia menyadari apa yang dirinya lakukan pada Rasti sangatlah salah, apalagi kalau hanya untuk menjadikan gadis baik dan lugu itu sebagai pelampiasan, pasti akan sangat melukainya. Melihat Rasti menangis saja entah kenapa sudah membuat Antasena merasakan sakit di hatinya, yang ia sendiri tak mengerti kenapa. Seketika itu ia memutuskan untuk mengubah niatnya sendiri.
Tetapi... sejak kapan ia mulai peduli dengan perasaan orang lain?
Antasena tersenyum lalu membelai pipi Rasti yang memerah karena amarah, "Rasti... aku tidak akan menganggapmu sebagai Putri Ruanindya. Bagaimana bisa aku melupakannya kalau aku menganggapmu sebagai Putri Ruanindya? Lagi pula kau terlalu bagus dan berharga kalau hanya sekedar dijadikan pelampiasan atau pengganti untuk membayangkan orang lain."
Mendengarkan perkataan Antasena dan mendapatkan perlakuan lembut dari pendekar tampan itu membuat Rasti tanpa sadar telah tersipu malu.
Tersipu malu?
Rasti tertohok. Gadis manis itu merasa kalau dirinya pasti sudah jadi gila. Baru saja ia merasa sangat marah dan sekarang ia malah tersipu malu? Tersipu malu karena lelaki yang berbuat kurang ajar dengan mencium bibirnya seenaknya?
"Dengar. Pada awalnya kau boleh menyebut hubungan ini pelampiasan atau apa pun itu, karena pada faktanya kita sama. Kita tidak bisa mendapatkan orang yang membuat kita jatuh hati. Jadi... ayo mencoba untuk saling menyukai kemudian saling jatuh hati. Kau mau?" Antasena berkata dengan lembut sambil menatap Rasti dengan dalam.
Rasti membalas tatapan Antasena. Rasti sangat bingung karena tiba-tiba diajak masuk pada sebuah hubungan romantis terlebih oleh Antasena, lelaki yang tidak pernah ia duga-duga sebelumnya. Kemudian entah kenapa dia malah berkeinginan menganggukan kepalanya sebagai jawaban, dan Rasti melakukannya.
Mendapatkan jawaban yang ia inginkan membuat Antasena tersenyum.
Antasena memandangi wajah lugu Rasti yang kini tengah duduk di sampingnya. Ia merasa gadis manis itu sangat menakjubkan karena mampu menjungkir balikan perasaannya begitu cepat. Sepertinya perasaan baru yang menggelitik dan bergelora telah tumbuh di hatinya.
Yang tidak Rasti ketahui, kalau saja apa yang telah terjadi antara dirinya dan Antasena diketahui murid-murid padepokan yang lain, maka akan banyak mata yang akan memandangnya penuh rasa cemburu, iri bahkan mungkin dengki. Disaat yang lain mengejar Antasena dengan susah payah tetapi tidak membuahkan hasil sedikit pun, gadis desa yang sederhana itu telah mendapatkan orang yang paling diinginkan di padepokan tanpa usaha apa pun.
Bukankah kadang cinta memang penuh misteri dan tidak bisa diduga-duga akan datang menghampiri hati milik siapa.
Bersambung...
__ADS_1