
Chapter 18
Patih Gandatala
Novel ini adalah fiksi.
Peristiwa, tokoh, karakter, tempat dan lokasi yang digambarkan dalam novel ini hanyalah fiksi semata.
Adanya kemiripan dengan peristiwa, tokoh, karakter, tempat dan lokasi yang ada di dunia nyata hanyalah kebetulan semata.
Tangan besar Patih Gandatala dengan cepat mencomot ayam bakar yang tersaji di hadapannya lalu memakannya dengan rakus. Ia melahap semua makanan yang dihidangkan di atas meja makan kerajaan hingga ludes tanpa sisa.
Patih pemberontak itu kemudian meneguk dan menikmati tuak[1] kualitas terbaik milik kerajaan Kertalodra, "Ini lumayan hahaha..." ucapnya sambil menepuk-nepuk perut berlemaknya yang kian membuncit.
Setelah menyelesaikan acara makan siangnya, Patih Gandatala segera kembali duduk di atas singasana Raja, di kepalanya juga bertengger mahkota Raja yang terlihat megah. Tentu saja singasana dan mahkota itu sejatinya hak milik Raja Arya Tirta Kusuma Winarang yang berhasil Patih Gandatala rebut dari pemberontakan yang ia lakukan beberapa waktu lalu.
Namun kemenangan yang dirasakan Patih Gandatala menurutnya tidak lah sempurna, karena sesuatu yang sangat ia inginkan lolos dari genggaman tangannya, Putri Ruanindya Galuh Winarang.
Seharusnya gadis ayu itu menjadi hadiah terindah untuknya ketika ia naik takhta menjadi Raja Kertalodra.
Seorang prajurit datang berlutut di hadapan Patih Gandatala lalu menghaturkan sembah, "Lapor Paduka Prabu. Kita baru saja menggantung beberapa orang yang menentang kekuasaan Paduka Prabu Gandatala di depan istana agar semua rakyat Kertalodra bisa menyaksikannya. Seperti yang Paduka Prabu inginkan."
Patih Gandatala bertepuk tangan sambil menyeringai dengan bengis, "Hahaha...kerja yang bagus! Jangan segan-segan membunuh semua yang menentangku, lalu gantung mayat mereka di depan istana supaya mereka takut untuk menentangku dan tahu siapa penguasa Kertalodra saat ini," patih pemberontak itu menepuk dada gempalnya dengan bangga.
"Hamba laksanakan Paduka Prabu!" Setelah kembali menghaturkan sembah, prajurit itu segera pergi meninggalkan aula kerajaan untuk kembali menjalankan tugasnya.
Setelah pemberontakan yang dilakukan Patih Gandatala dan akhirnya ia berkuasa, memang tidak semua rakyat diam dan takut, ada sebagian mereka yang berani menyuarakan dengan keras penolakan atas kekuasaan Patih Gandatala yang sekarang menduduki posisi Raja Kertalodra dengan cara yang tidak benar. Bagaimanapun mereka tidak ingin dipimpin oleh seorang pemberontak, bukan raja yang sesungguhnya.
Maka dari itu untuk menguatkan kekuasaannya, tanpa pandang bulu dan berbelas kasihan, Patih Gandatala memerintahkan prajuritnya untuk membunuh siapa pun yang berani menentang kekuasaannya lalu mempertontonkan mayatnya untuk membuat orang-orang takut dan tidak ada lagi yang berani menentangnya.
Disamping itu, Patih Gandatala menaikan pajak yang semakin memberatkan kehidupan rakyat Kertalodra.
Tidak semua pendekar-pendekar yang berada di sekitar wilayah istana Kertalodra menjadi pendekar yang mau dibayar untuk menjadi antek-antek pemberontak Patih Gandatala, diantaranya ada yang tetap netral tidak ingin ikut campur dengan masalah yang terjadi di dalam kerajaan, dan ada pula yang masih mendukung Raja Arya Tirta Kusuma Winarang.
__ADS_1
Mereka --para pendekar yang mendukung Raja Arya Tirta Kusuma Winarang-- bukannya tidak ingin menggulingkan para pemberontak, mereka terlihat seolah tetap berdiam diri dengan apa yang terjadi, akan tetapi sebenarnya mereka tengah mengamati keadaan dan menghimpun kekuatan sambil terus mencari titik kekuatan terpenting mereka yaitu putri Ruanindya Galuh Winarang dan Panglima besar Gantara Wisesa yang mereka ketahui tengah dalam pelarian dari kejaran para pemberontak. Mereka harus menemukan Ruanindya dan Gantara sebelum para pemberontak antek-antek Patih Gandatala menemukan keduanya terlebih dulu.
Karena rasa bosan yang tiba-tiba melanda, Patih bertubuh tinggi besar dan tambun itu turun dari singasana raja sambil mengelus-elus kumisnya yang tebal. Ia berjalan santai menyusuri lorong istana lalu masuk ke sebuah ruangan yang besar dan indah, ruangan itu adalah kamar sang putri raja Ruanindya Galuh Winarang.
Mata Patih Gandatala melihat ke sekeliling kamar lalu berhenti pada lukisan seorang gadis ayu yang tak lain dan tak bukan adalah lukisan Ruanindya yang tengah tersenyum. Sang Patih melangkahkan kakinya mendekati lukisan yang tergantung di dinding kamar, tangannya besarnya terulur dan membelai lukisan di hadapannya, "Kenapa kau terus lari dariku sayang?" gigi Patih Gandatala bergemeletuk, setelahnya kembali bicara pada lukisan seolah itu adalah Ruanindya yang sesungguhnya, "Tak tahukah kau bahwa aku begitu menginginkanmu?"
Patih Gandatala membalikan tubuhnya, dengan cepat berjalan kearah ranjang kayu besar yang mewah milik Ruanindya. Patih pemberontak itu berbaring di atas ranjang itu kemudian ia menarik nafas dalam-dalam untuk menghirup aroma tubuh Ruanindya yang tertinggal di sana, "Ahh..." Patih Gandatala mendesah dengan suara bergetar karena nafsu, "Kau milikku Ruanindya!"
Sebelum tubuh dan pikirannya semakin kacau, Patih Gandatala segera melompat turun dari ranjang kayu besar milik Ruanindya dan bergegas keluar dari peraduan sang putri raja. Ia tidak boleh kacau untuk saat ini, masih banyak yang harus dilakukan dan salah satunya adalah termasuk mengunjungi tahanan utamanya, Raja Arya Tirta Kusuma Winarang.
Dalam perjalanan menuju penjara bawah tanah, Patih Gandatala berdecak kesal memikirkan dirinya yang belum mendapat kabar lagi dari orang-orangnya yang ia sebar untuk mencari Ruanindya. Orang-orang suruhannya bukan lah orang-orang biasa, mereka termasuk pendekar-pendekar berilmu tinggi, namun sepertinya Panglima Gantara Wisesa adalah orang yang tangguh, kuat, dan licin (tidak mudah ditangkap), tidak bisa dianggap sepele.
Memikirkan hal itu lebih lanjut, Patih Gandatala berniat menambah jumlah orang untuk mencari Ruanindya dan membunuh Gantara.
Patih Gandatala melangkah memasuki sebuah penjara bawah tanah Kerajaan Kertalodra yang gelap, lembap dan kotor. Di dalam sana terlihat seseorang yang tangan dan kakinya dirantai pada tembok kokoh penjara.
"Arya Tirta Kusuma Winarang, bagaimana kabarmu di tempat tinggal barumu? Kau menyukainya? Hahaha..." sebuah pertanyaan yang sejatinya adalah sebuah cemoohan terlontar dari mulut patih Gandatala. Sebenarnya tanpa bertanya pun ia bisa dengan jelas bisa melihat keadaan Raja Arya Tirta Kusuma Winarang.
Keadaan Raja Arya Tirta Kusuma Winarang bisa dikatakan sangat mengenaskan. Tubuhnya kotor dan mulai kurus, ia hanya diberi makan satu kali dalam sehari itu juga dengan makanan yang tidak layak konsumsi. Luka dalam akibat pukulan Patih Gandatala semakin parah menggerogoti tubuhnya dari dalam, beberapa luka cambuk juga terlihat tertoreh di kulitnya bahkan sampai mengoyak beberapa bagian pakaian yang dikenakan Raja Arya Tirta Kusuma Winarang.
"Cih!" Patih Gandatala meludah kearah Raja yang telah ia rebut takhtanya dan kini menjadi tawanannya, "Sudah mau mati saja kau masih sombong! Tunggu sampai aku menangkap Ruanindya dan menyetubuhinya di hadapanmu! Kau pasti tidak akan bisa mengoceh lagi hahaha..." Patih Gandatala menjilat bibirnya sendiri, yang akan membuat siapa pun yang melihatnya merasa jijik.
Mata Raja Arya Tirta Kusuma Winarang terbelalak dan menjadi merah mendengar perkataan tak senonoh Patih Gandatala tentang putri kesayangannya. Kemarahan Sang Raja tersulut dan meledak sejadi-jadinya, "Biadab!!!" tangan dan kaki Raja Arya Tirta Kusuma Winarang yang dirantai bergerak dengan liar berusaha melepaskan belenggu rantai untuk menyerang orang yang berdiri di hadapannya, hingga pergelangan tangan dan kaki Sang Raja berdarah, namun usahanya tidak membuahkan hasil. Tubuhnya terlalu lemah, "Jangan berani-beraninya kau menyentuh putriku dengan tangan kotormu itu!!!"
Melihat Raja Arya Tirta Kusuma Winarang menjadi marah, namun tak berdaya untuk berbuat apa pun membuat Patih Gandatala senang. Ia berjalan keluar meninggalkan penjara bawah tanah dengan tawa congkaknya yang memuakan.
Patih Gandatala kembali kedalam istana Kertalodra dengan suasana hati yang lebih baik, kemudian Sang Patih merangkul dua dayang yang cukup cantik dan membawa mereka berdua masuk kedalam kamarnya.
Dewi Sekar Arum, istri dari Patih Gandatala hanya bisa menghela nafas melihat tingkah laku suaminya.
Melihat ibundanya yang bersedih karena tingkah polah Ayahandanya, Gayatri hanya bisa memeluknya, "Ibunda, lebih baik kita berjalan-jalan ke taman," gadis ayu itu berucap dengan suaranya yang lembut lalu membawa ibundanya ke taman kerajaan Kertalodra yang indah.
Beruntung gadis itu baik penampilan maupun watak sepenuhnya diwariskan dari ibundanya.
__ADS_1
Sebenarnya istri dan anak Patih Gandatala menentang keinginan Sang Patih untuk memberontak dan naik takhta menjadi Raja Kertalodra. Apalagi Gayatri (anak Patih Gandatala) adalah teman sepermainan Sang putri raja sejak mereka masih kecil, hatinya digelayuti rasa sedih membayangkannya kehidupan buruk dan tidak layak yang akan dijalani Ruanindya di luar istana karena perbuatan Ayahandanya.
******
Gantara dan Ruanindya tengah beristirahat, duduk di bawah sebuah pohon rindang di dalam hutan. Semilir angin yang berhembus membuat udara di sekitar sana terasa semakin sejuk.
Suara desiran daun yang saling bergesekan karena tertiup angin dan kicauan burung yang saling bersahut-sahutan dengan merdunya menambah suasana nyaman untuk siapa pun yang mendengarkannya.
Gantara terlihat duduk bersandar pada pohon di belakangnya sedangkan Ruanindya duduk di sampingnya tertidur bersandar pada bahu kekar sang panglima.
Gantara memandangi wajah tidur Ruanindya. Sepertinya sang putri raja tidak bisa tidur dengan nyenyak terlihat dari mimik wajahnya, kadang-kadang ia akan mengerutkan keningnya hingga alisnya terajut, dan kadang-kadang bibir tipis sewarna bunga mawar miliknya akan bergetar.
Gantara mengulurkan tangannya untuk membelai pipi halus Ruanindya dengan lembut. Sedetik kemudian tiba-tiba air mata meluncur dari mata Ruanindya yang masih tertutup dan membasahi pipinya hingga mengenai jemari Gantara, setelahnya terdengar isakan lirih dari Sang putri.
Pendekar tampan itu kaget mendapati Ruanindya menangis. Ia mengamati Ruanindya dan memastikan bahwa gadis ayu itu masih dalam keadaan tidur.
"Mimpi apa yang bisa membuatmu menangis dalam tidur?" Gantara dengan perlahan menyeka air mata di pipi Ruanindya.
Bukannya berhenti, air mata Ruanindya malah semakin berderai dan membuat Gantara khawatir. Ketika Gantara kembali ingin menyeka air mata Sang putri, Ruanindya merintih, tubuhnya bergerak gelisah dalam tidur, "Ayahanda... Ayahanda..."
Gantara akhirnya mengguncang tubuh Ruanindya demi membangunkan sang putri yang sepertinya tengah mendapat mimpi buruk, "Rua, bangun! Rua!"
Mata Ruanindya seketika terbelalak. Untuk sesaat mata itu terlihat gamang dan kosong, kemudian ia perlahan menoleh menatap Gantara di sampingnya setelah itu Ruanindya memeluk Gantara dengan erat setelahnya sang putri terisak.
"Kau kenapa?" Gantara membalas pelukan Ruanindya dan mengusap-usap punggung gadis berparas ayu itu untuk menenangkannya.
Untuk beberapa saat Ruanindya hanya menangis dalam pelukan Gantara dan belum menjawab pertanyaan pendekar tampan itu. Gantara sendiri dengan sabar menunggu Ruanindya kembali tenang.
Saat merasa Ruanindya sudah lebih tenang, Gantara kembali mengulangi pertanyaannya, "Kau kenapa? Mimpi buruk?"
Ruanindya mengangguk, dan menjawab dengan sisa-sisa isakannya, "Aku... bermimpi... Ayahanda Raja disiksa..." air mata Sang putri kembali meleleh, matanya yang sembab terlihat sangat sedih, tidak ada binar keceriaan seperti biasanya.
Gantara menatap Ruanindya dengan cemas, ia mendekap Ruanindya di dadanya dan membelai rambut halus Sang putri dengan lembut, "Itu hanya mimpi. Semuanya akan baik-baik saja Rua. Aku berjanji."
__ADS_1
[1. Tuak adalah sejenis minuman beralkohol Nusantara yang merupakan hasil fermentasi dari nira, beras, atau bahan minuman/buah yang mengandung gula. Tuak adalah produk minuman yang mengandung alkohol.]
Bersambung...