
Chapter 31
Awal perjalanan
"Hmph!" Rasti terus berusaha meronta dan membuat suara sekeras mungkin agar seseorang bisa mendengarnya dan kemudian menolongnya, namun sepertinya usaha yang ia lakukan semuanya sia-sia.
Karena sedikit kesulitan membawa gadis manis bertubuh mungil yang terus memberontak, akhirnya orang yang membekap Rasti menotok calon tabib itu hingga tubuhnya menjadi kaku bahkan mulutnya juga terkena efek totokan itu hingga sama sekali tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun.
Setelah akhirnya Rasti diam karena totokannya, orang itu kemudian memanggul tubuh mungil gadis itu di atas bahunya seperti memanggul sekarung beras.
'Siapa yang membawaku? Apakah ia penyusup? Antek-antek Patih Gandatala?' Rasti tidak bisa menolehkan kepalanya jadi ia tidak dapat melihat wajah orang yang telah melakukan ini kepadanya, dan sekarang ia hanya bisa menatap tanah tanpa daya. Namun Rasti mengenali jalan ini, jalan setapak menuju pohon besar di samping area kamar para murid padepokan. Tempat itu terhalang semak belukar dan sepi apalagi saat semua murid sedang berlatih. Bagaimana mungkin ada orang yang akan menolongnya? 'tamatlah riwayatku.'
Orang itu menurunkan Rasti dari atas bahunya lalu menyandarkan tubuh kaku gadis manis itu pada pohon besar dalam posisi berdiri.
Mata Rasti membulat lebar menatap wajah tampan, namun angkuh di hadapannya. Senyuman miring yang menjengkelkan tercetak jelas di wajah sang pelaku.
"Kau gila!!!" umpat Rasti begitu Antasena melepaskan totokannya, "kau ingin membuatku mati ketakutan?!"
Antasena meletakan tanganya di sisi kiri dan kanan tubuh Rasti, mengungkung gadis manis itu di antara pohon dan tubuh tingginya lalu menatap ke dalam manik cokelat madu milik sang calon tabib, "Seperti langit malam tanpa rembulan, sekali pun bertabur bintang. Seperti itulah aku dalam keramaian, namun tetap merasa sepi tanpa kehadiranmu."
Rasti tertegun sejenak mendengar kata-kata Antasena, namun kemudian ia mengerutkan keningnya hingga kedua alisnya bertaut, "Kau demam?" Rasti mengulurkan tangannya lalu memegang kening Antasena.
Antasena meraih tangan Rasti yang ada di keningnya, menurunkan tangan ramping itu lalu menggenggamnya, "Aku tidak demam."
"Kepalamu terbentur sesuatu?"
"Tidak juga."
Rasti menarik tangannya yang di genggam oleh Antasena hingga terlepas lalu mendorong dada pendekar berpenampilan elegan itu dengan keras, "Lalu kenapa kau melakukan ini?! Kau pikir aku seorang gadis yang bisa kau rayu dengan mudah?! Dasar bodoh!" Rasti melangkah cepat meninggalkan Antasena. Entah kenapa ia yang biasa sopan dan tenang tidak bisa sesopan dan setenang biasanya kalau berhadapan dengan Antasena.
Antasena adalah seorang pendekar, tentu saja reflek tubuhnya sangatlah cepat. Pendekar nomor satu di padepokan itu segera menarik pergelangan tangan Rasti dan memeluk pinggang ramping sang calon tabib kemudian menatap wajah manis gadis itu, "Kau pikir bisa pergi semudah itu dariku?"
Rasti membalas tatapan Antasena dengan jengkel, "Apa yang kau inginkan?" sejujurnya Rasti masih kesal dengan apa yang telah Antasena lakukan padanya.
Antasena membelai pipi gadis manis di hadapannya. Entah kenapa setelah ciuman mereka tempo hari, Antasena tidak bisa berhenti memikirkan Rasti. Semakin ia berusaha justru semakin timbul rasa rindu. Setiap saat ia ingin memeluk Rasti dan menempatkan gadis bertubuh mungil itu di sisinya, "Yang aku inginkan menemui kekasihku. Lalu... penyerbuan ke istana Kertalodra sebaiknya kau tidak perlu ikut."
Wajah Rasti tanpa sadar memerah karena mendengar kata 'kekasih' yang Antasena ucapkan, setelahnya gadis manis itu merengut tidak suka akan larangan Antasena, "Kenapa aku tidak boleh ikut? Karena aku bukan seorang pendekar jadi kau beranggapan kalau aku akan membebani kalian begitu? Aku punya caraku sendiri untuk membantu. Aku dan tabib Ling Hua bisa mengobati para pendekar yang terluka."
Antasena menghela nafas, ia baru tahu kalau di balik sifat lugunya, Rasti bisa manjadi gadis yang keras kepala, "Bukan seperti itu."
"Lalu apa?" Rasti kembali meronta berusaha melepaskan pelukan Antasena.
"Karena aku mengkhawatirkan keselamatanmu."
__ADS_1
Mendengar perkataan Antasena, Rasti berhenti meronta lalu menatap kedalam mata pendekar angkuh itu. Calon tabib itu mencoba mencari gurat gurauan di sorot matanya, namun yang ia temukan hanya kesungguhan, "Aku... aku akan baik-baik saja," tatapan Rasti sedikit melunak.
Apa Antasena sedang mengkhawatirkannya? Bagaimana bisa? Apa kemarin pendekar itu benar-benar serius? Apa mereka sekarang benar-benar sepasang kekasih? Pertanyaan itu yang kini terus berputar dibenak Rasti.
Antasena mendengus kesal, "Kau benar-benar keras kepala. Untuk apa kau segigih ini membahayakan nyawa? Untuk membuktikan cintamu pada Panglima Gantara?"
Rasti kembali merengut dan menatap Antasena dengan kesal. Pendekar angkuh di hadapannya ini bisa membuatnya merasakan air dan api disaat bersamaan. Beberapa saat lalu bisa membuatnya tenang kemudian setelahnya kembali membuatnya kesal, "Bukan urusanmu!"
"Kau bicara omong kosong padaku? Menyuruhku melupakan Tuan Putri, dan kau sendiri tidak ingin melupakan Panglima Gantara," Antasena mencengkram dagu Rasti yang berusaha menghindari tatapannya.
"Apa kau mengangapku sedangkal itu? Sekalipun aku bukan pendekar yang memiliki ilmu silat dan ilmu kanuragan yang tinggi, sekalipun aku hanya gadis desa yang lemah, aku tetaplah rakyat Kertalodra. Aku juga ingin berjuang, ingin mempunyai andil dalam membebaskan Kertalodra dari para pemberontak. Tidak kah kau mengerti itu?"
Antasena menghela nafas lalu mendekap Rasti di dadanya. Gadis mungil dalam pelukannya benar-benar lugu. Rasti bahkan tidak mengerti kalau Antasena tengah cemburu, "Dengar. Aku tidak pernah main-main dengan kata-kataku. Aku akan menuruti kata-katamu untuk melupakan Tuan Putri, dan menjadikanmu milikku."
Rasti terdiam. Ia merasa terjebak oleh kata-katanya sendiri.
***
Ruanindya membuka matanya setelah tidur cukup lama. Matanya terlihat sembab dan bengkak karena menangis cukup lama sebelum akhirnya jatuh tertidur.
Untuk saat ini ia tidak ingin membahas keadaan kedua orang tuanya, atau ia akan merasa benar-benar menjadi gila.
Sang Putri mengitarkan pandangannya ke sekeliling kamar lalu mendapati punggung Gantara yang tidak tertutup pakaian.
"Akhirnya kau bangun," Gantara membelai lengan Ruanindya yang melingkari perutnya dengan lembut.
"Hmm..." Ruanindya bergumam dan mengangguk. Gadis berparas ayu itu kemudian mengendurkan pelukannya dan menatap tanda hitam berbentuk matahari di bahu kanan bagian belakang Gantara, "sebenarnya aku ingin menanyakannya sejak lama," Ruanindya menyentuh tanda hitam berbentuk matahari itu, "apa ini?"
"Itu tanda lahir."
"Sangat indah..."
"Kau menyukainya?"
"Iya."
"Aku tidak."
"Kenapa?"
"Hanya... tidak suka."
***
__ADS_1
Satu bulan telah berlalu sejak Adiyaksa dan lima pendekar perwakilan dari perkumpulan pendekar penentang kekuasaan patih Gandatala datang ke padepokan sebagai kekuatan tambahan yang lumayan besar untuk Ruanindya. Dua diantara mereka telah kembali terlebih dahulu untuk mengabari rekan-rekan pendekar yang menunggu di tempat persembunyian sekaligus markas besar mereka. Tempat mereka itulah yang nantinya akan dijadikan markas utama ketika rombongan putri Ruanindya sampai di ibukota.
Kuda-kuda sejak jauh hari sudah dirawat dan dipersiapkan dengan baik untuk menempuh perjalanan jauh, makanan-makanan yang tidak mudah busuk juga telah dipersiapkan untuk bekal perjalanan, dan obat-obatan yang Ling Hua dan Rasti buat juga telah siap sepenuhnya.
Ilmu silat dan ilmu kanuragan Ruanindya juga jauh berkembang pesat. Sang Putri bukanlah seorang gadis yang lemah lagi, ia kini telah menjadi pendekar yang kuat.
Ruanindya tengah mengamati sebuah kereta kuda yang terlihat kokoh dengan dua kuda jantan yang kuat sudah terhubung pada kereta kuda tersebut dan siap untuk menariknya, "Tidak bisa kah aku naik kuda saja? Aku tidak selemah dulu."
"Memang. Tapi akan lebih aman kalau kau naik kereta kuda ini," Gantara memeriksa keamanan dan kekuatan roda kereta kuda yang akan menjadi kendaraan Ruanindya selama perjalanan.
"Bagaimana kalau berkuda bersamamu?"
Gantara menghentikan kegiatannya lalu menatap Ruanindya, "Tetap tidak bisa. Lagipula kau akan ditemani oleh tabib Ling Hua dan Rasti di dalam kereta, jadi kau tidak akan bosan," Gantara tersenyum demi membujuk Sang Putri.
Ruanindya menghela nafas. Jika ini keputusan Sang Panglima demi keselamatannya, ia tidak bisa terus menentang, "Baiklah."
"Lagipula aku akan berkuda di sekitar kereta kuda yang kau naiki untuk menjagamu," Gantara mengulurkan tangan untuk membantu Ruanindya menaiki kereta kuda.
Ruanindya mencebikan bibirnya dan dengan enggan menaiki kereta kuda, setelahnya Sang Putri dikagetkan dengan Gantara yang ikut naik ke atas kereta kuda, mengecup bibirnya sekilas dan kemudian kembali turun dengan cepat sebelum Ruanindya sempat mengatakan apa pun.
Wajah Ruanindya merah padam karena kecupan dari kekasihnya. Sang Putri hendak memanggil Gantara, namun urung begitu melihat Ling Hua dan Rasti datang lalu menaiki kereta kuda yang sama dengannya.
Gantara segera menaiki Beliung dan mendekat pada kereta kuda dimana Ruanindya berada, setelahnya Antasena juga datang dengan menaiki kudanya dan meminta izin pada Gantara untuk ikut berkuda di sekitar kereta kuda Sang Putri.
Jikalau kalian bertanya kenapa Gantara mengizinkan Antasena dekat dengan kereta kuda yang dinaiki Ruanindya, jawabannya adalah karena Antasena sudah berbicara dengan Gantara dan Ruanindya. Antasena kembali meminta maaf dan pengampunan perihal ia yang telah lancang mencium Ruanindya, dan yang lebih mengejutkan adalah pengakuan Antasena yang mengatakan bahwa dirinya tengah mengejar Rasti. Antasena memang orang yang licik dan angkuh, namun ia bukanlah orang yang jahat. Itulah sebabnya kini Gantara dan Ruanindya mendukung Antasena untuk mendapatkan hati Rasti. Keduanya --Gantara dan Ruanindya-- yakin bahwa Antasena adalah orang yang tepat untuk menjaga Rasti.
Sedangkan untuk Layung Sari, gadis cantik itu kini tengah menghindari Gantara setelah Antasena memberitahukan padanya bagaimana hubungan Gantara dan Ruanindya, lalu meminta adik seperguruannya itu untuk menyerah. Ketika Layung Sari mengadu pada ibunya, Nyai Sokawati membenarkan dan setuju dengan kata-kata Antasena. Jadi wajar saja kalau gadis cantik itu akan muram sepanjang perjalanan.
"KITA BERANGKAT!" teriak Gantara dengan lantang begitu melihat seluruh orang dalam rombongan telah siap untuk melakukan perjalanan.
Setelahnya terdengar deru berpuluh langkah kaki kuda memulai perjalanan meninggalkan padepokan Nyai Sokawati menuju ibukota Kertalodra. Diantara rombongan terdapat dua kereta kuda, satu yang dinaiki oleh Ruanindya, Ling Hua dan Rasti, sedangkan satu kereta kuda lainnya adalah kereta kuda yang membawa perbekalan.
Jika perjalanan yang dilakukan tanpa hambatan, rombongan putri Ruanindya diperkirakan akan mencapai ibukota Kertalodra dalam waktu tujuh hari perjalanan.
Perjalanan di hari pertama matahari bersinar sangat terik. Orang-orang dalam rombongan sibuk menyeka peluh yang bercucuran di tubuh mereka.
Ketika rombongan memasuki hutan, Gantara memutuskan menghentikan perjalanan dan beristirahat untuk mengisi perut dan mendinginkan tubuh.
Setelah mengikat tali kekang Beliung pada sebatang pohon, Gantara segera menuju kereta kuda dimana Ruanindya berada, membukakan pintu kereta kuda dan membantu Ruanindya turun.
Melihat Gantara dan Ruanindya, Antasena pun tidak mau kalah dan berniat membantu Rasti turun dari kereta kuda, namun gadis manis itu menolak.
"Pendekar... pendekar Antasena, lebih baik kau membantu orang tua ini turun," Ling Hua memanggil Antasena yang tengah menatapi Rasti untuk membantunya turun. Selain tabib itu memang benar-benar butuh bantuan, ia juga berniat menggoda Antasena karena ia tahu bahwa Antasena jatuh hati pada Rasti. Bagi Ling Hua, Rasti bukan hanya sekedar murid, tetapi sudah ia anggap seperti anaknya sendiri. Jadi menggoda calon menantunya adalah hiburan tersendiri bagi tabib hebat yang ternyata memiliki sifat jahil itu.
__ADS_1
"Akkh!" tiba-tiba sebuah teriakan mengagetkan semua orang yang tengah beristirahat.