
Chapter 34
Bunuh mereka
"Jadi apa yang harus kita lakukan Gusti Prabu? Apa kita harus melakukan serangan?" Samudra meminta kejelasan tugasnya pada Patih Gandatala.
"Tidak. Jangan lakukan penyerangan apa pun. Cukup awasi mereka dari jauh," Patih Gandatala tersenyum arogan. Ia merasa percaya diri dengan kekuatannya, apalagi jumlah pasukan yang dibawa Ruanindya dan Gantara hanya berjumlah seribu orang sedangkan dirinya punya jumlah pasuka lima kali lipatnya. Maka dari itu, Patih Gandatala tentu saja meremehkan pasukan Ruanindya dan merasa akan mendapatkan kemenangan dengan mudah. Patih Gandatala menganggap pasukan Ruanindya yang berjumlah seribu orang itu tidak lebih hanya iring-iringan pengantar pengantin --Ruanindya-- untuk dirinya persunting.
"Hamba laksanakan titah gusti prabu."
***
Lima hari perjalanan berhasil ditempuh, sudah mencapai setengah jalan menuju istana Kertalodra. Perjalanan dilalui tanpa hambatan berarti, Gantara merasa lega, namun juga curiga.
Dengan tertangkapnya dua penyusup dalam pasukannya, Gantara sudah menduga bahwa pasti Patih Gandatala sudah mengetahui adanya pasukan yang ia bawa untuk menyerbunya. Tetapi anehnya sejauh ini tidak ada satu serangan pun yang datang menghadang pasukannya.
Gantara adalah Panglima perang yang sudah sangat berpengalaman menghadapi berbagai musuh, tentu ia juga sudah terbiasa menciptakan dan menggunakan berbagai strategi yang berbeda-beda untuk menghadapi musuh yang berbeda-beda pula. Maka dari itu, Gantara mencoba menganalisis apa yang tengah terjadi.
Melihat dari watak Patih Gandatala, Gantara mengambil kesimpulan bahwa Patih Gandatala memang mengetahui pasukan yang ia bawa dan tentunya pasti sudah tahu benar apa tujuan dari pasukan Gantara dan Ruanindya, dan alasan Patih pemberontak itu tidak melakukan serangan pastilah karena Patih Gandatala meremehkan jumlah dan kekuatan pasukan yang Gantara bawa. Kalau dugaannya benar, Gantara merasa lega karena perjalanan mereka akan lebih aman dan cepat, namun Sang Panglima juga tahu pasti bahwa Patih Gandatala tidak akan sesantai itu dan hanya diam menunggu pasukan Gantara dan Ruanindya menyerang. Patih Gandatala pasti sudah menyiapkan kekuatan besar untuk 'menyambut' mereka, itulah sebabnya Sang Patih memiliki kepercayaan diri yang tinggi.
Ya. Analisis Gantara memang benar adanya.
Gantara menatap wajah ayu Ruanindya dari jendela kereta kuda yang Sang Putri tumpangi. Pendekar yang terkena gigitan ular berbisa sudah sembuh total berkat obat dan perawatan yang diberikan oleh Ling Hua dan Rasti. Oleh karena itu, Ruanindya kembali harus menaiki kereta kuda sekalipun awalnya ia menolak dan ingin tetap berkuda dengan Gantara.
Ruanindya sedang berbincang dengan Ling Hua dan Rasti, merasa diperhatikan gadis berparas ayu itu segera melihat keluar jendela kereta kuda dan mendapati Gantara tengah menatapnya.
Wajah Ruanindya memerah lalu bertanya pada Gantara tanpa suara, "Ada apa?"
Gantara membaca gerakan bibir Ruanindya, Sang Panglima menggelengkan kepalanya sembari tersenyum.
Ah... disaat tidak nyaman dan melelahkan seperti saat ini, melihat senyuman di wajah tampan kekasihnya membuat Ruanindya melupakan semua keadaan buruk dan membuat hatinya menghangat. Memang benar, cinta memberinya kekuatan. Ruanindya membalas senyuman Gantara dengan senyuman termanis yang ia miliki.
Semenjak Gantara mengetahui Patih Gandatala menginginkan Ruanindya, memang itu membuatnya sangat marah, namun dibalik itu semua ada sedikit rasa lega karena ia tahu bahwa Patih Gandatala tidak berniat membunuh Ruanindya, dan tentu saja itu berlaku untuk orang-orang yang Patih pemberontak itu kirim.
Namun Ruanindya pernah bilang padanya, daripada ia jatuh ke tangan Patih Gandatala dan disentuh olehnya, Ruanindya lebih memilih mati.
__ADS_1
Gantara menghela nafas dalam. Ia sendiri tidak ingin hal itu terjadi, membayangkannya saja sudah membuat emosinya memuncak sampai ke ubun-ubun.
Antasena berkuda mendekati Gantara, pendekar yang berpenampilan elegan itu mencondongkan tubuhnya ke arah Gantara lalu keduanya terlihat berbisik-bisik.
Rasti yang melihat itu menjadi penasaran. Ia memang merasa kesal pada Antasena, namun entah kenapa tanpa ia sadari matanya selalu mencari keberadaan Antasena di sekitarnya. Rasti melongokan kepalanya ke jendela kereta kuda dengan penasaran, "Apa yang mereka bicarakan?" gumamnya.
Ruanindya yang mendengar gumaman Rasti serta perhatian gadis mungil itu yang tertuju pada luar jendela membuatnya ikut penasaran dan melongok keluar jendela sembari bertanya, "Ada apa?"
"Itu..." Rasti menunjuk ke arah di mana Gantara dan Antasena berada dengan posisi yang masih sama, "Apa yang kira-kira tengah mereka bicarakan? Kenapa harus berbisik-bisik seperti itu?"
Ruanindya mengerutkan kening melihat Gantara dan Antasena yang tengah berbisik-bisik. Rasa penasaran Rasti benar-benar telah menular padanya, "Entahlah... aku juga penasaran," Ruanindya mencatat dalam otaknya dengan jelas bahwa nanti ia harus menanyakan hal ini pada Gantara atau ia akan terus merasa penasaran.
Antasena mendekat pada Gantara lalu berbisik, ia takut kalau masih ada penyusup diantara pasukan mereka, "Panglima."
Karena Antasena berbicara denga cara berbisik jadi Gantara memutuskan untuk berbicara dengan cara yang sama, "Ada apa? Kau menemukan sesuatu?"
Sebelum kembali berbisik, Antasena mengitarkan pandangan ke sekeliling untuk melihat keadaan kalau-kalau ada orang yang mencurigakan yang tengah mengawasi mereka, "Iya. Kami melihat ada beberapa orang yang mengawasi rombongan kita dari jauh, namun mereka tidak melakukan apa pun."
Gantara mengangguk mengerti, "Itu pasti orang-orang Patih Gandatala," Semenjak ditangkapnya dua penyusup diantara pasukannya, Gantara memerintahan Antasena untuk mengirim beberapa orang kepercayaannya menjauh dari rombongan dan mengamati secara diam-diam apakah ada orang yang mengikuti rombongan mereka. Strategi ini seperti kulit bawang yang berlapis-lapis dan saling tumpuk. Dengan rombongan sebagai intinya, dengan cara menempatkan orang-orangnya sejauh mungkin maka ia akan bisa melihat orang-orang yang datang mendekati rombongan. Setelah terdiam cukup lama, akhirnya Gantara mengambil keputusan, "Bunuh mereka," dalam perang ia sudah biasa bersikap dingin dan tanpa berbelas kasihan, yang terpenting adalah kelancaran perjalanan dan keselamatan semua orang dalam rombongan.
Antasena mengangguk sebelum kemudian pergi kembali menjauh dari Gantara menuju bagian ekor dari rombongan mereka untuk kemudian melaksanakan perintah Sang Panglima. Antasena tidak bertanya apa pun lagi karena ia sendiri sangat setuju dengan keputusan yang Gantara ambil.
Antasena membawa sembilan pendekar bersamanya. Jumlah sepuluh orang termasuk dirinya di dalamnya sudah cukup untuk menyergap dan membunuh lima orang antek Patih Gandatala yang tengah mengawasi mereka. Katakanlah itu curang karena jumlah mereka dan lawan yang tidak imbang, namun Antasena sudah tidak perduli. Bukankah apa yang dilakukan para pemberontak itu pada kerajaan Kertalodra sudah lebih buruk dan lebih curang?
Melihat sepuluh kuda berlari cepat kearah mereka, membuat lima pendekar antek Patih Gandatala siaga dan waspada, bersiap untuk bertarung.
"Sepertinya mereka sudah mengetahui keberadaan kita," ucap salah satu diantara mereka.
"Bagaimana mereka bisa tahu keberadaan kita?"
"Yah... mau bagaimana pun caranya mereka mengetahui, yang pasti kita sudah ketahuan."
Kelima pendekar itu mencabut pedang milik masing-masing dari sarungnya dan bersiap menyambut musuh yang datang mendekat.
Antasena dan kesembilan rekannya terus memacu kudanya ke arah lima antek Patih Gandatala. Begitu sampai di hadapan kelima pendekar itu, Antasena menatap mereka dengan sebuah senyuman sinis menghiasi wajah tampannya, "Aku tidak menyangka kalian akan tetep di sini dan bukannya melarikan diri. Kalian cukup memiliki nyali."
__ADS_1
"Kami sudah ketahuan. Tidak ada gunanya kami melarikan diri, bukan? Lebih baik kami menyambut kedatangan kalian," salah satu pendekar antek Patih Gandatala mengacungkan pedangnya ke arah Antasena. Pertanda sebuah tantangan.
Antasena terkekeh dingin. Anak buahnya saja sudah searogan ini, sudah bisa ditebak betapa akan sangat arogannya Sang Patih pemberontak, "Aku ladeni keinginanmu kisanak."
Antasena melompat dari atas kudanya sembari mencabut pedang miliknya lalu langsung melesat ke arah musuhnya dan melancarkan serangan yang kuat.
Trang!
Bunyi memekakan telinga dari kedua pedang yang beradu terdengar.
Pendekar antek Patih Gandatala berhasil menahan gempuran kuat pedang Antasena. Pedang yang ia gunakan sampai terasa bergetar kuat ketika serangan itu sampai padanya. Ia segera tahu bahwa pendekar yang dihadapinya (Antasena) bukanlah pendekar sembarangan yang berilmu rendah.
"Kau boleh juga," ucap Antasena dengan santai. Setelahnya pendekar nomor satu di padepokan Nyai Sokawati itu menggesekan pedangnya meluncur ke arah tangan musuhnya yang memegang pedang.
Pendekar antek Patih Gandatala meningkatkan kewaspadaannya. Begitu melihat pedang Antasena meluncur ke arah tangannya, ia segera memutar pedangnya untuk mengecoh arah gerakan pedang Antasena dan bermaksud untuk melempar pedang Antasena lepas dari tangan pemiliknya. Namun apa yang telah ia rencanakan meleset, bukan hanya pedang itu tetap dalam genggaman kuat Antasena, entah bagaimana secepat kilat pedang itu berhasil melukai perutnya, "Ukh!" pendekar antek Patih Gandatala itu melompat mundur menjauhi Antasena lalu memegangi perutnya yang tersayat dan kini mengucurkan darah segar.
"Kau bisa memilih untuk menyerah dan terus bisa hidup sebagai tawanan kami, atau kau bisa memilih mati di sini," Antasena menatap tajam musuh yang sudah terluka di hadapannya, "mana yang akan kau pilih?"
"Cih!" pendekar antek Patih Gandatala itu meludahkan darah dari mulutnya, "daripada harus menjadi tawanan kalian atau mati di tanganmu, lebih baik aku yang akan membunuhmu!"
"Silakan saja kalau kau mampu," Antasena berujar dengan tenang. Antasena memang tidak menganggap pendekar di hadapannya sebagai lawan yang berat, namun ia juga tidak meremehkan lawannya. Bukan kah dalam sebuah pertarungan seorang pendekar lebih baik tetap tenang, berpikir dengan kepala dingin agar bisa membaca gerakan lawan dan memikirkan tindakan apa yang akan diambil selanjutnya.
"Sialan!" pendekar antek Patih Gandatala itu terprovokasi dengan perkataan Antasena, emosinya tersulut. Beradu mental dengan pendekar yang angkuh, pintar dan licik seperti Antasena tentu saja akan menjadi lawan yang berat. Pendekar antek Patih Gandatala itu mengabaikan luka di perutnya lalu melesat kembali menyerang Antasena.
Dentingan-dentingan pedang yang saling beradu kembali terdengar. Pertarungan semakin sengit, bukan hanya Antasena dan lawannya, tetapi semua pendekar yang ada di sana.
Keributan yang diciptakan oleh pertarungan itu akhirnya berhenti ketika semua antek Patih Gandatala terbunuh, namun sangat disayangkan bukan hanya nyawa musuh yang melayang, satu diantara pendekar yang Antasena bawa telah terbunuh.
Setelah menatap mayat rekannya dengan duka, Antasena menatap kedelapan rekannya yang tersisa satu persatu, "Kalian baik-baik saja?"
Kedelapan pendekar itu mengangguk, "Kami baik-baik saja, tidak ada luka serius," ucap salah satunya menjelaskan.
"Syukurlah," ekspresi Antasena terlihat kembali tenang sambil memasukan kembali pedang miliknya ke dalam sarungnya, "Periksa mayat mereka dan daerah sekitar sini. Siapa tahu kita bisa menemukan sesuatu," perintahnya.
"Baik!" kedelapan pendekar itu mengangguk mengerti dan mulai melakukan apa yang diperintahkan Antasena.
__ADS_1
Setelah beberapa lama menunggu, seorang rekan Antasena berseru, "Wakil ketua, aku menemukan sesuatu!"
Mohon dukungannya dengan cara memberiak vote untuk author. Terima kasih.