Runaway

Runaway
Chapter 13 - Kegundahan dan pengendalian diri


__ADS_3

Chapter 13


Kegundahan dan pengendalian diri


Ruanindya berbaring terlentang di atas dipan kayu di dalam pondok kecil milik Ling Hua. Matanya menatap lurus pada atap pondok dan terlihat seolah sedang menerawang.


Perlahan tangannya terangkat lalu menyentuh bibirnya sendiri, di sana masih terasa pagutan lembut dan hangat bibir tebal Gantara.


Kejadian di dalam gua beberapa waktu lalu saat mereka saling bepagutan dan ******* bibir satu sama lain dengan penuh gairah kembali terbayang di mata Ruanindya, seperti sebuah kilasan kejadian yang nyata sedang terjadi di depan matanya. Dan itu semua menjadikan wajah sampai ke telinganya memerah bak kepiting rebus.


Ruanindya menutup wajah dengan kedua telapak tangannya dan memekik tertahan, tidak ingin membuat Gantara yang berada di luar pondok mendengarnya. Namun kaki gadis berparas ayu itu tanpa sadar malah menghentak-hentak pada dipan kayu tempatnya berbaring hingga menimbulkan suara 'duk duk duk' yang berisik.


Dengan wajah yang masih merah merona, paras ayu itu kini cemberut. Ruanindya juga mengingat dengan jelas ketika ciuman mereka terlepas, Gantara langsung beranjak turun dari atas lempengan batu besar, lalu tanpa berkata apapun lagi mengajak Ruanindya kembali ke pondok milik Ling Hua. Dan sekarang bahkan lelaki itu tidak mau memasuki pondok kecil ini bersamanya dan hanya berdiam diri di luar. Jujur Ruanindya merasa kecewa. Ia mengira akan ada hal romantis yang akan terjadi di antara dirinya dan Gantara setelah ciuman pertama mereka. Ciuman pertama dalam hidupnya.


Sedangkan Gantara yang berada di luar pondok, ia hanya diam sambil memberi makan Beliung dan membelai wajah kuda jantan itu. Bukannya Gantara tidak mendengar suara 'duk duk duk' yang ditimbulkan oleh Ruanindya. Hanya saja Gantara merasa bunyi berisik itu bukan berasal dari sesuatu yang berbahaya, jadi ia tidak segera memeriksa ke dalam pondok dan hanya membiarkannya saja.


Untuk pertama kalinya Gantara merasa seperti orang bodoh yang tidak tahu akan melakukan apa. Hanya melamun dan kadang-kadang berbicara dengan kuda miliknya, "Beliung, aku sudah membuat kesalahan... Aku menciumnya," ucap sang panglima seperti sebuah pengakuan dosa.


Debaran jantung Gantara memang sudah mulai tenang, namun belum sepenuhnya normal. Pendekar tampan itu terus mengatur nafasnya untuk mencoba mengendalikan detak jantungnya sendiri.


Pikiran Gantara saat ini terasa kacau, bahkan saat memimpin perang besar pikirannya tidak pernah sekacau ini.


Tidak sedikit wanita cantik dan molek yang mencoba mendekati Gantara karena ingin menjadi pendampingnya. Baik itu dari kalangan putri para pejabat Kertalodra, atau pun para pendekar wanita. Meski pun begitu Gantara tidak pernah merasa tertarik apalagi sampai jatuh hati pada para wanita yang mendekatinya.


Gantara berpikir, dalam hidupnya mungkin ia tidak akan pernah merasakan apa yang di namakan jatuh cinta.


Setiap pulang dari medan perang, sering kali ia melihat adegan dimana prajurit-prajuritnya disambut dengan bahagia oleh kekasih atau istri mereka, tetapi tidak pernah sekalipun Gantara merasa iri.


Dalam masa istirahat setelah pulang dari medan perang, sang panglima memang kadang-kadang merasa kesepian. Namun hanya dengan beberapa kegiatan seperti memoles Pancasona, mengurusi Beliung, melihat para prajurit yang sedang berlatih, atau pergi berburu kedalam hutan saja sudah cukup untuk mengusir rasa kesepian yang Gantara rasakan. Jadi tidak pernah terpikir olehnya tentang hal semacam jatuh cinta atau keinginan untuk mencari pendamping hidup.


Namum malam ini entah kenapa untuk pertama kalinya dalam hidup, perubahan besar terjadi pada hatinya yang semula tenang bagai air tanpa gelombang, kini perasaan menggebu itu seperti air bah yang besar. Hatinya seolah tergerak. Ia merasakan ketertarikan yang kuat pada Ruanindya. Gantara bahkan merasa ia telah jatuh hati pada sosok ayu sang putri raja, hingga mencapai titik dimana Gantara ingin menjadikan Ruanindya sebagai miliknya juga pendamping hidupnya. Hal baru yang pendekar itu rasakan kamarin bahkan hingga membuatnya sampai lepas kendali dan mencium bibir semerah mawar milik Ruanindya.


Gantara mengusap wajahnya yang terlihat kacau.


Dihari pertama meditasi ia sudah lancang mencium bibir sang putri. Masih tersisa sembilan hari lagi yang pasti akan terasa berat. Gantara menghela nafas dalam.


Malam sudah semakin dingin dan hampir dini hari. Di dalam pondok kecil sudah lama tenang dan Gantara tidak berniat masuk ke dalam sana.

__ADS_1


Gantara dengan tanpa suara melompat ke atas atap pondok kecil itu dan berbaring di atas sana, lalu memejamkan mata mencoba untuk tidur barang sejenak untuk meredakan kegelisahannya.


Keesokan paginya ketika Ruanindya bangun, ia melihat sekeliling baik di dalam maupun di luar pondok, namun ia tidak dapat menemukan keberadaan Gantara. Begitu Rasti mengantarkan makanan untuk Ruanindya, ia bertanya tentang keberadaan Gantara pada gadis manis bertubuh mungil itu.


"Oh, Tuan Gantara menemani tabib Ling Hua mencari tanaman herbal kedalam hutan," ucap Rasti akan jawaban dari pertanyaan Ruanindya.


Ruanindya termangu. Untuk pertama kalinya Gantara melepaskan pengawasan terhadap dirinya sejak mereka dalam pelarian.


'Apa ia tidak mau melihatku?'


Setelah Ruanindya selesai makan, Rasti datang kembali membawakan air hangat dan sebuah lap untuk Ruanindya membersihkan diri. Gadis manis itu lalu membereskan dan membawa kembali layah[1] bekas makan Ruanindya yang telah kosong.


Karena merasa sendirian, Ruanindya dengan tenang melepas seluruh pakaian yang ia kenakan kemudian mengelap tubuhnya dengan kain basah yang hangat.


Disisi lain Gantara yang merasa khawatir meninggalkan Ruanindya sendirian akhirnya berpamitan pada Ling Hua untuk kembali lebih dulu.


Dengan tergesa Gantara kembali ke pondok kecil tempat tinggal sementaranya dengan Ruanindya. Sesampainya di sana ia segera membuka pintu pondok kecil itu untuk memeriksa keadaan sang putri, dan pemandangan di dalam sana membuat Gantara kaku dan menghentikan gerakannya seketika. Sang panglima melihat rambut hitam panjang Ruanindya tergerai mengalir di punggung hingga pinggang rampingnya, serta bahu sempit putih dan mulus sang putri yang terbuka begitu mempesona.


Sedangkan Ruanindya yang baru saja selesai melilitkan kain panjang untuk membebat dadanya juga melonjak kaget dengan suara pintu pondok yang tiba-tiba terbuka. Ia bertindak ceroboh karena benar-benar lupa menurunkan palang untuk mengunci pintunya. Begitu ia dengan cepat menoleh ke arah pintu, ia bisa melihat Gantara berdiri diam di ambang pintu.


Ruanindya melupakan kondisinya yang belum mengenakan baju. Tubuh bagian atasnya hanya ditutupi oleh kain yang membebat bagian dadanya hingga menjadi rata, jadi bahu kecilnya yang indah dan perut rampingnya terpampang begitu saja tanpa penghalang. Gadis ayu itu tersenyum senang melihat kedatangan Gantara dan bertanya dengan riang, "Kau sudah pulang?"


Sekali lagi pikirannya menjadi kacau. Seandainya Ruanindya bukan seorang putri raja yang keselamatannya menjadi tanggung jawabnya, tentu hal itu tidak akan menjadi rumit dan akan terasa lebih mudah untuk Gantara.


Seharian ini Ruanindya merasa kalau Gantara menghindarinya. Pendekar tampan itu memang tetap masih berada di sekitarnya dan dalam jangkauan pandangannya, tetapi Gantara hanya diam dan tidak berbicara apa pun. Pendekar tampan itu terlihat sibuk dengan kegiatannya sendiri, memberi makan beliung lalu memandikan kuda jantan itu, membantu memotong kayu bakar, memperbaiki atap rumah Ling Hua, membantu Rasti menggiling ramuan, dan beberapa kegiatan kecil lainnya.


Ketika malam tiba, seperti malam sebelumnya setelah makan malam dan meminum ramuan, Ruanindya dan Gantara pergi ke gua di belakang air terjun untuk bermeditasi dan melakukan penyaluran tenaga dalam. Namun kali ini Ling Hua tidak lagi mengantar keduanya karena Gantara telah mengingat jalan menuju gua yang ada di balik air terjun yang menjadi tujuannya dan Ruanindya.


Setelah keduanya memasuki gua, mereka segera duduk bersila sambil berhadapan. Kedua telapak tangan mereka saling terhubung dan memejamkan mata untuk berkosentrasi dalam meditasi dan penyaluran tenaga dalam.


Sesuai yang disarankan Ling Hua. Apabila tidak terjadi efek apa pun pada tubuh Ruanindya pada meditasi malam pertama, maka besar tenaga dalam yang dialirkan dimalam kedua pada tubuh Ruanindya akan lebih baik jika ditingkatkan lagi intensitasnya dan begitu seterusnya, ditingkatkan secara bertahap hingga malam kesepuluh.


Setelah satu jam berlalu dan meditasi selesai dilakukan. Gantara hendak bergegas bangun, namun Ruanindya memegang pergelangan tangannya, "Kenapa kau menghindariku?"


"Aku tidak menghindarimu."


"Kau jelas-jelas menghindariku."

__ADS_1


"Sudah kubilang, aku tidak--"


"Berhenti mengelak!!!" Ruanindya berteriak dengan nyaring. Suaranya menggema di seisi gua, "Aku tidak sebodoh itu untuk tidak menyadarinya! Kau menghindariku. Kenapa? Apa aku berbuat kesalahan?" untuk kali ini Ruanindya menatap langsung ke dalam mata elang Gantara yang biasanya membuat dirinya bergetar dan tak berani menatap mata tajam sang panglima.


Gantara menghela nafas dan kembali duduk bersila di hadapan Ruanindya, membalas tatapan mata jernih sang putri, "Justru aku yang merasa bersalah," akunya.


Ruanindya belum melepaskan genggaman tangannya pada pergelangan tangan Gantara, seolah takut kalau pendekar tampan itu akan pergi dan menghidar lagi darinya, "Kenapa?"


"Karena kemarin aku menciummu. Aku menginginkanmu... Itu salah. Seharusnya aku sebagai panglima menghormatimu sebagai seorang putri raja. Sudah kewajibanku untuk melindungimu, namun aku malah melakukan perbuatan tercela. Aku sudah lancang."


Ruanindya tertegun mendengar kata-kata Gantara, bahkan sampai membuatnya menahan nafas untuk sejenak. Ruanindya mengulurkan tangan putihnya kearah wajah Gantara lalu menyentuh dan membelai pipi sang pendekar dengan telapak tangannya yang halus dan lembut, seraya tersenyum Ruanindya berkata, "Yang terjadi kemarin malam bukan sepenuhnya kesalahanmu. Aku juga menciummu. Aku juga menginginkanmu..."


Ruanindya sangat tahu bahwa Gantara adalah seorang lelaki sekaligus pendekar yang perkasa dan keberaniannya tidak perlu dipertanyakan lagi. Namun ia juga  adalah panglima besar yang patuh dan memegang teguh akan titah Raja, yang menjunjung tinggi tugas dan kewajiban di atas kepentingannya sendiri. Jadi Ruanindya tahu bahkan ketika pendekar tampan di hadapannya begitu menginginkan dirinya, ia akan tetap mengalah pada tugas dan kewajibannya. Hasilnya seperti yang terjadi hari ini, Gantara menjaga diri dari keinginannya sendiri dan berusaha menghindari Ruanindya, walaupun tetap mengawasi keselamatan sang putri.


Perlahan Ruanindya mendekat kearah Gantara dan ia berlutut di hadapan sang panglima. Tangannya masih tetap berada di pipi Gantara.


Ruanindya menunduk menatap wajah tampan dan tegas Gantara. Sang putri kembali tersenyum dan berkata dengan lembut, "Di sini hanya ada kita berdua. Tidak ada junjunganmu Ayahanda Raja, tidak ada musuh-musuhmu, dan tidak ada pemburu yang ingin membunuhku. Hanya ada kau dan aku. Hanya ada seorang lelaki dan seorang gadis yang saling menginginkan, jadi jangan menahan dirimu lagi..."


Ketika Gantara mulai membuka mulutnya hendak mengatakan sesuatu, Ruanindya sangat tahu bahwa itu akan berisi kalimat bantahan akan apa yang baru saja ia katakan. Ruanindya tidak ingin mendengar itu, jadi ia langsung membungkam bibir Gantara dengan sebuah ciuman. Tindakan spontan dan sangat berani yang bisa ia lakukan dengan mengenyampingkan ego dan martabatnya sebagai seorang wanita dan seorang putri raja. Ia tidak dapat menahan perasaannya lebih lama lagi untuk lelaki di hadapannya.


Ruanindya masih menunduk dan Gantara tetap mendongakan kepalanya. Masih saling berciuman dengan dalam dan menuntut. Tak ada yang mau mengalah, walaupun Gantara sering kali mendominasi.


Gantara merasa sudah tidak bisa mundur lagi.


Jika ini dosa, maka biarlah ia membuat dosa ini dan menanggungnya.


Jika ini melanggar perintah, biarlah kali ini ia melalaikannya.


Jika ini melenceng dari kewajibannya, anggap saja kali ini ia lebih mementingkan haknya.


Dalam hidupnya Gantara tidak pernah menginginkan orang lain, apalagi dalam tingkatan sangat banyak dan menggebu seperti saat ini. Seperti yang ia rasakan pada gadis di hadapannya yang kini tengah berciuman dengannya. Ciuman yang sangat dalam sarat akan perasaan cinta dan gairah.


Ketika ciuman panas Gantara dan Ruanindya berakhir, terjuntai benang-benang saliva yang indah terhubung dari bibir bengkak keduanya yang menjadi pembuktian betapa dalam ciuman mereka.


Bahu sempit milik Ruanindya naik turun dengan cepat ketika pemiliknya menarik nafas untuk mengisi paru-parunya yang terasa sesak.


Sepasang mata yang sempat mengawasi adegan ciuman itu diam-diam kini berbalik dan pergi.

__ADS_1


[1. Layah adalah sejenis piring yang terbuat dari tanah liat.]


Bersambung...


__ADS_2