Runaway

Runaway
Chapter 17 - Penglihatan


__ADS_3

Chapter 17


Penglihatan


Novel ini adalah fiksi.


Peristiwa, tokoh, karakter, tempat dan lokasi yang digambarkan dalam novel ini hanyalah fiksi semata.


Adanya kemiripan dengan peristiwa, tokoh, karakter, tempat dan lokasi yang ada di dunia nyata hanyalah kebetulan semata.


"Rua, tetap di sisiku!" ucap Gantara dengan tegas, lalu menyembunyikan Ruanindya di belakang tubuh tegapnya.


Setelahnya sepuluh pendekar yang terlihat tangguh mengepung Gantara dan Ruanindya.


Ruanindya ketakutan. Para pendekar yang menyerangnya kali ini memang tidak sebanyak para bandit yang berjumlah dua puluh orang, namun mereka tidak terlihat lemah seperti para bandit itu. Jumlahnya lebih banyak dari pendekar-pendekar yang menyergap mereka di sungai dan terlihat lebih lihai dalam silat.


Gantara cukup kewalahan karena sepuluh pendekar itu menyerangnya bersamaan tanpa henti, di samping itu ia juga harus tetap menjaga keselamatan Ruanindya.


Dengan tipu daya salah seorang pendekar yang menggunakan asap beracun, mau tidak mau menyebabkan Ruanindya terpisah dari Gantara untuk menghindari terkena asap beracun. Kesempatan itu digunakan salah satu pendekar yang telihat tidak waras (gila) dan jelas-jelas mengabaikan perintah Patih Gandatala untuk tidak membunuh Ruanindya dengan menusuk lurus ke arah sang putri, namun sebelum pedang itu mencapai Ruanindya, seseorang berdiri di hadapan Ruanindya dan mendorongnya menjauh menyebabkan perut orang itu yang justru tertusuk pedang tajam musuh tanpa ampun.


Mata Ruanindya terbelalak lebar menatap gadis bertubuh mungil yang mengorbankan hidupnya demi menyelamatkan dirinya. Menjadikan tubuhnya sendiri sebagai tameng hidup.


Sebilah pedang tajam menembus punggung hingga perutnya dan mengalirkan darah merah segar sepanjang mata pedang hingga menetes ke tanah.


Dengan tidak berperasaan si pendekar gila mencabut pedangnya sambil meludah, "Cih! Cecunguk kecil penganggu!"


Seorang pendekar lain yang melihat perbuatan teman satu kelompoknya itu segera berujar dengan marah, "Dasar gila! Sudah kubilang kan Patih Gandatala menginginkan putri hidup-hidup!"


"Rasti!!!" Ruanindya menjerit histeris. Ia memeluk tubuh Rasti yang ambruk ke tanah. Nafas gadis itu tersengal-sengal, sedetik kemudian ia memuntahkan seteguk darah. Ruanindya dengan wajah pucat pasi menggenggam tangan dingin Rasti, "Rasti, tetap bersamaku! Tetap buka matamu! Tetap bernafas!"


Dengan darah yang terus mengalir dari lubang di perut dan juga mulutnya, dengan susah payah Rasti berkata dengan lirih, "Ma-afkan a-ku no-na Rua."


"Tidak! Tidak! Jangan bicara macam-macam! Tetap bersamaku!" Ruanindya dengan tangannya yang putih dan gemetar menutup lubang di perut Rasti agar darah gadis mungil itu berhenti mengalir, namun hasilnya nihil, darah tetap merembes keluar tanpa henti dan membuat tangan putihnya yang telihat sangat kontras dengan warna merah darah kini juga ikut menjadi merah karena diselimuti cairan berbau anyir yang berasal dari lubang di perut Rasti. Ketika nafas gadis mungil di pangkuannya telah terhenti, untuk sesaat tubuh Ruanindya kaku sebelum akhirnya ia memeluk tubuh tanpa nyawa itu dengan erat sambil menjerit histeris dan menangis dengan pilu penuh rasa bersalah dan kehilangan, "Rastiiiiiii!!!"


Gantara membuka matanya dengan cepat. Ia langsung bisa melihat Ruanindya yang masih memejamkan matanya, telapak tangan mereka masih terhubung dalam meditasi dan penyaluran tenaga dalam di malam kedepalan. Tubuhnya dipenuhi peluh lebih banyak dari malam-malam sebelumnya.


Tapi...apa yang ia lihat tadi dalam meditasi?


Hanya mimpi belaka?

__ADS_1


Atau kah sebuah penglihatan?


Ramalan masa depan yang akan terjadi?


Gantara menghentikan aliran tenaga dalamnya dan menurunkan tangannya.


Ruanindya yang menyadari meditasi telah selesai segera membuka matanya dan mendapati wajah bingung Gantara, ia tidak bisa untuk tidak bertanya penyebabnya, "Ada apa?"


Gantara menggeleng ragu, "Tidak apa-apa. Ayo kita kembali."


Ruanindya mengerutkan keningnya, namun tidak bertanya apa-apa lagi dan mengikuti Gantara keluar dari gua.


Begitu mereka keluar dari gua, Ruanindya merengek sambil mengguncang-guncangkan lengan Gantara, "Kakiku kesemutan. Gendong aku."


Gantara yang sudah biasa menghadapi sikap manja sang putri tanpa berkata apa pun lantas berjongkok. Ruanindya bersorak senang dan langsung melompat ke punggung Gantara.


Gantara kembali ke pondok kecil dengan menggendong Ruanindya di punggungnya. Di sepanjang perjalanan putri manja itu terus mengoceh tentang segala hal tepat di samping telinga Gantara sampai-sampai membuat pendekar tampan itu merasa tuli sesaat.


Sesampainya di depan pondok kecil, Gantara tertegun sampai-sampai ia menghentikan langkahnya. Sang panglima bisa melihat Ling Hua yang duduk dan mengawasi Rasti yang sedang memanggang kambing guling.


Punggung Gantara terasa ringan karena Ruanindya melompat turun dari punggungnya, berlari kecil ke arah Ling Hua dan berbicara dengan tabib hebat itu dengan wajah berbinar.


Kejadian ini...


Terjadi persis seperti apa yang ia lihat dalam meditasinya.


Jadi...ia telah mendapat penglihatan. Tanpa sadar menyaksikan ramalan masa depannya sendiri. Begitu akhirnya kesimpulan Gantara.


"Ah, itu aku mendapatkan hadiah dari salah satu pendukuk desa karena berhasil menyembuhkan anaknya. Aku tidak bisa mengurus kambing jadi lebih baik aku menjadikannya kambing guling dan mengadakan makan-makan untuk kita."


Gantara duduk di samping Ruanindya begitu Ling Hua menyelesaikan kata-katanya. Setelahnya seperti apa yang ia saksikan dalam penglihatannya, Rasti selesai memanggang kambing guling dan meletakan hidangan itu di tengah-tengah mereka dan duduk di sampingnya.


Seperti pernah mengalami kejadian itu secara nyata lalu memutar kembali waktu dan dengan pasti tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, Gantara tidak menggantikan Rasti untuk mengiris daging kambingnya seperti dalam penglihatannya, kemudian hanya melihat kearah Ling Hua dan tepat setelahnya Ling Hua menjentikan jarinya lalu berkata, "Daging tidak lengkap tanpa arak. Aku mempunyai arak yang aku buat sendiri, kalian harus mencicipinya," setelah menunjuk Gantara dan Ruanindya, Ling Hua mengalihkan pandangannya pada Rasti, "Tolong ambilkan arak di kendi besar yang aku simpan di gudang ramuan."


"Tidak!" Gantara berkata dengan tegas membuat ketiga orang di sekitarnya terkesiap kaget.


"Kenapa?" Ruanindya yang baru saja akan bersorak gembira akhirnya urung, lalu bertanya dengan nada kecewa.


"Setelah makan, kita harus segera pergi dari sini malam ini juga," menurut Gantara ini keputusan yang terbaik, jika ia diberi penglihatan seperti itu mungkin itu artinya ia diberi kesempatan merubah nasibnya dimasa depan dan menghindari kesalahan. Ia tidak ingin mengambil resiko untuk mabuk, diberi afrodisiak dan bercinta dengan orang lain selain Ruanindya. Ia juga tidak ingin hidup Rasti yang bercita-cita menjadi tabib harus berakhir di pedang para pendekar yang memburu dirinya dan Ruanindya. Terlebih yang paling tidak ingin ia saksikan adalah Ruanindya yang berteriak histeris dan menangis pilu lalu merasa bersalah seumur hidupnya karena kematian Rasti.

__ADS_1


Gantara tidak ingin melihat Rua-nya hancur dan bersedih. Kebahagiaan dan keselamatan sang putri lebih dari apa pun dalam hidupnya.


"Kenapa begitu terburu-buru? Meditasi masih harus dilakukan dua hari lagi. Tinggal lah sampai prosesnya selesai, baru setelah itu kalian boleh pergi," Ling Hua menatap Gantara, meminta penjelasan akan sikapnya. Begitu pula Ruanindya dan Rasti yang memang sama penasarannya.


Mendapat tatapan dari tiga orang di hadapannya, Gantara menghela nafas, "Untuk masalah meditasi, aku dan Rua bisa meneruskannya di tempat lain. Kita harus segera pergi karena ada sekelompok orang yang mengejarku dan Rua. Kami tidak bisa tinggal dalam satu tempat terlalu lama dan sepertinya mereka sudah mulai mengetahui keberadaan kami di sini, jadi aku dan Rua harus segera pergi dari sini malam ini juga. Demi keselamatan kami sendiri dan kalian berdua (Ling Hua dan Rasti)," Gantara tidak memberitahu Ling Hua dan Rasti tentang detail siapa dirinya dan Ruanindya serta siapa yang mengejar mereka dan apa sebabnya. Dengan ketidaktahuan Ling Hua dan Rasti, itu akan membuat mereka tetap aman.


Gantara juga menyarankan Ling Hua dan Rasti untuk tidak berada di rumah saat siang nanti.


Akhirnya malam itu mereka tidak minum arak buatan Ling Hua. Setelah selesai makan daging kambing guling, Gantara dan Ruanindya bersiap-siap untuk pergi.


Ling Hua menyerahkan ramuan dalam bambu (tempat menyimpan air) untuk Ruanindya minum dalam dua hari yang tersisa dari rangkaian meditasi dan penyaluran tenaga dalam demi proses penyembuhannya.


Gantara mengucapkan terima kasih pada Ling Hua, kemudian tabib itu memeluk Gantara dan Ruanindya bergantian sambil menepuk-nepuk punggung keduanya, matanya berkaca-kaca dan hatinya terasa berat seolah akan melepas dua adik kandungnya untuk pergi.


Gantara lalu berpaling melihat Rasti yang hanya diam menunduk. Pendekar tampan itu menepuk kepala Rasti dengan lembut hingga membuat gadis mungil itu menatapnya, Gantara tersenyum, "Jangan sia-siakan hidupmu. Belajar lah dengan rajin dan jadi lah tabib yang hebat," mendengar nasihat dari pendekar tampan yang ia cintai memberi murid Ling Hua itu semangat. Rasti membalas senyum Gantara lalu mengangguk dengan mantap.


Setelah acara berpamitan yang cukup menguras emosi, akhirnya Gantara dan Ruanindya meninggalkan pondok kecil yang telah beberapa hari menjadi tempat tinggal mereka juga dua orang yang sudah seperti saudara mereka sendiri.


Dalam gelapnya malam, Beliung berpacu dengan cepat meninggalkan desa dan menerobos hutan, semakin jauh dari rumah Ling Hua.


Memperdengarkan derap langkah kakinya yang mantap dan kuat seperti genderang perang, meninggalkan kepulan debu jauh di belakangnya.


Gantara menghirup aroma lembut dan sejuk yang menenangkan dari tubuh Ruanindya, dengan suaranya yang dalam ia memanggil nama Sang putri tepat di samping telinganya, "Rua..."


"Hmm?" telinga Ruanindya memerah, mendengar suara Gantara yang berat dan sedekat itu jantungnya berdetak cepat seolah sedang berlomba dengan kecepatan derap langkah Beliung.


"Jangan meminta atau memaksaku untuk minum arak."


Ruanindya mengerutkan keningnya tidak mengerti dengan maksud kata-kata Gantara, "Apa maksudmu? Kenapa?"


"Karena aku harus melindungimu."


Mendengar ucapan Gantara, wajah putih Ruanindya merona merah dan melupakan rasa bingungnya akan kata-kata sang panglima. Ia mengutuk dirinya sendiri, kenapa bisa berada di samping Panglima kaku ini membuat ia  jadi sering tersipu malu.


Mengulurkan tangan putihnya yang ramping, Ruanindya memegang tangan Gantara yang tengah memegang tali kekang Beliung lalu memberikan remasan lembut, "Aku percaya padamu."


Sang putri dan panglimanya kembali melanjutkan perjalanan panjang yang melelahkan dan tanpa tujuan. Tetapi selama keduanya tetap bersama, Gantara dan Ruanindya merasa perjalanan ini akan terasa lebih mudah.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2