
Chapter 24
Cemburu
Antasena memegangi dadanya yang terasa sesak. Andai saja tadi dirinya tidak begitu terlena dengan bibir Ruanindya sehingga ia dalam keadaan yang tanpa pertahanan, andai ia dalam keadaan lebih siaga, luka yang akan ditimbulkan oleh pukulan Ruanindya tidak akan sesakit ini, "Putri, aku..." ucap pendekar itu dengan suara serak dan mulut penuh darah, ia benar-benar bingung harus bicara apa pada Ruanindya.
"Kau lancang! Berani-beraninya kau mencium bibirku saat aku tidur!" Ruanindya tetap bersikap waspada dan mengacungkan Pancasona ke arah Antasena. Ruanindya tahu ia yang seorang pemula dalam dunia persilatan bukan tandingan Antasena yang notabene adalah murid terhebat Nyai Sokawati, namun rasa marah mengalahkan logika Ruanindya saat ini dan memberikannya keberanian untuk melawan Antasena.
Antasena mendekat maju satu langkah dan begitu pula Ruanindya yang mundur satu langkah untuk menjaga jarak dengannya, "Putri, tenang lah. Dengarkan penjelasanku terlebih dulu," tangan kiri Antasena tetep memegangi dadanya sedangkan tangan kanannya terangkat membuat gestur untuk menenangkan Ruanindya dan agar sang putri menurunkan pedang yang ia pegang.
"Jangan mendekat!" bentak Ruanindya, "Apa lagi yang ingin kau jelaskan? Semua sudah jelas bagiku! Kau melakukan tindakan pelecehan terhadapku, seorang putri raja Kertalodra!" Ruanindya menatap marah pada Antasena. Sekalipun kini ia jauh dari istana dan tanpa mahkota, itu tidak merubah kenyataan bahwa ia tetep lah seorang putri raja Kertalodra, mempunyai martabat yang tinggi dan sangat tidak pantas diperlakukan kurang ajar oleh orang lain. Ruanindya sebenarnya mulai ingin diperlakukan seperti orang biasa, seperti seorang teman. Ia tidak ingin membahas tahta dan asal-usul lagi, namun perbuatan Antasena membuat sisi angkuhnya sebagai seorang putri kembali tanpa ia sadari.
Antasena tertegun, ia seolah ditampar keras untuk kembali sadar. Gadis ayu yang menarik hatinya, yang baru saja ia cium dan sekarang tengah berdiri di hadapannya dengan penuh amarah dan menghunuskan pedang ke arahnya adalah seorang tuan putri anak dari junjungannya Raja Arya Tirta Kusuma Winarang penguasa Kertalodra, sedangkan ia tidak lebih hanya seorang anak tumenggung[1]. Dengan menekan semua egonya, Antasena berlutut kemudian menangkupkan kedua tangannya di depan dada dengan kepala tertunduk, "Ampuni hamba tuan putri."
Ruanindya mengatur nafasnya mencoba meredakan amarahnya, "Pergilah! Untuk saat ini aku tidak ingin melihatmu."
"Tuan putri... hamba melakukan ini karena hamba jatuh hati pada putri," ia sudah sampai pada keadaan seperti ini jadi Antasena merasa setidaknya ia harus mengungkapkan perasaannya pada Ruanindya walaupun mungkin saatnya tidak tepat.
Ruanindya sempat tertegun mendengar perkataan Antasena. Ia tidak bisa mencela rasa suka Antasena padanya dan menjadikan itu sebagai alasan agar Antasena menjauh darinya. Seandainya ia mengucapkan "Berani-beraninya kau yang bukan seorang raja atau bahkan pangeran mencintaiku yang seorang putri raja," pada Antasena, maka perkataannya akan menjadi bumerang untuk dirinya sendiri, karena Ruanindya sendiri telah jatuh hati pada seorang lelaki yang bukan seorang raja mau pun pangeran, pada Gantara Wisesa, "Pergi!" perintahnya dengan dingin.
Antasena menghela nafas. Ia tahu kalau dirinya melakukan kesalahan yang cukup besar. Andai saja Ruanindya bukan seorang putri, ia bisa memaksa dan membuat gadis ayu itu menuruti kehendak hatinya dan menjadikan Ruanindya miliknya, "Hamba undur pamit putri. Semoga tuan putri sudi memaafkan hamba," dengan berat hari Antasena meninggalkan kamar Ruanindya, namun ia sama sekali belum menyerah.
Sepeninggalan Antasena, Ruanindya jatuh terduduk di atas ranjang, meletakkan Pancasona di sampingnya lalu kembali menyeka bibirnya berulang kali hingga bibir merah itu nampak lebih merah dan membengkak. Bibirnya membengkak karena ciuman Antasena dan gosokannya sendiri yang terus menerus. Ruanindya merasa mual karena jijik. Ia memang menyukai sebuah ciuman, akan tetapi ciuman yang ia sukai itu hanya berasal dari satu lelaki di dunia ini, dan itu hanya Gantara Wisesa.
"Jadi apa kita bisa mengawinkan kuda milik kita kakang?" Layung Sari bertanya dengan suaranya yang menggoda dan tetap bergelayut manja pada lengan kekar Gantara.
"Itu semua tergantung pada kedua kuda itu, apa mereka saling tertarik atau tidak," Gantara mengelus wajah Beliung dan kuda jantan itu meringkik senang.
"Kudaku pasti tertarik dengan kudamu. Ia kuda jantan yang sangat gagah."
"Itu mungkin saja. Kita lihat bagaimana nanti," Gantara memegang tangan Layung Sari lalu melapas gamitan tangan gadis cantik itu pada lengannya, "Dinda Layung, aku pamit. Aku harus segera kembali ke kamar, sudah terlalu lama aku meninggalkan putri," Gantara segera melangkah pergi setelah berpamitan, tidak memberikan kesempatan pada Layung Sari untuk mencegahnya. Pendekar tampan itu berjalan kembali ke kamar dengan langkah besar dan cepat, entah kenapa perasaannya sangat tidak enak, ia takut terjadi apa-apa dengan Ruanindya. Sedangkan Layung Sari yang ditingglkan Gantara di kandang kuda hanya bisa menghentakan kakinya dengan kesal.
Ketika Gantara masuk ke dalam kamar, Ruanindya berlari menghambur memeluknya, "Kau kemana saja?"
"Eh?" Gantara sedikit kaget dengan reaksi Ruanindya yang tiba-tiba memeluknya. Pendekar tampan itu segera melingkarkan lengannya dan memeluk tubuh ramping kekasihnya, "Layung Sari memintaku mengantarnya melihat Beliung di kandang kuda."
Rasa marah Ruanindya yang sempat mereda karena kedatangan Gantara kini justru kembali meletup mendengar sang Panglima mengungkapkan alasannya meninggalkannya sendirian di kamar sehingga Antasena sampai berani menciumnya, sedangkan kekasihnya malah bersenang-senang dengan seorang gadis cantik. Ruanindya melepas pelukannya lalu mendorong Gantara hingga pelukan pendekar tampan itu padanya juga terlepas, kemudian ia menendang kaki Gantara dengan kesal, "Kau menjengkelkan!"
Gantara sedikit meringis merasakan sengatan di kakinya. Kalau dulu mungkin ketika Ruanindya menendangnya, rasanya hanya akan seperti sebuah gelitikan yang membuatnya geli, namun sekarang Ruanindya juga seorang pendekar sekalipun pemula, tetapi kekuatannya istimewa. Sang putri belajar dan menyerap dengan cepat bahkan 'guru'nya adalah pendekar sehebat dan sekuat Gantara jadi tendangan gadis ayu itu terasa sedikit sakit sekarang, "Kau kenapa? Cemburu?"
"Iya! Bahkan lebih dari cemburu! Aku marah!" Ruanindya melipat kedua tangannya di depan dada, matanya memicing menatap Gantara.
Gantara mengerutkan keningnya hingga alis tebalnya terajut, ia benar-benar tidak mengerti kenapa Ruanindya bersikap seperti ini. Lalu tanpa sengaja pendekar tampan itu melihat Pancasona yang tergeletak di atas ranjang tanpa sarung pedangnya, "Apa yang terjadi?" Gantara memegang kedua bahu Ruanindya dan menatapnya khawatir.
Ruanindya membalas tatapan Gantara dengan tajam, "Antasena mencium bibirku saat aku tidur!"
__ADS_1
Mendengar apa yang dikatakan kekasihnya, mata elang Gantara melebar dan rahangnya mengeras. Ia melepaskan bahu Ruanindya yang semula ia pegang, dengan cepat mengambil pancasona yang tergeletak di atas ranjang lalu dengan cepat pula menuju pintu kamar.
Ruanindya segera memegang lengan Gantara ketika pendekar tampan itu berjalan melewatinya, "Kau akan kemana?"
"Membuat perhitungan dengan cecunguk kecil itu!" jawab Gantara dengan suara yang dalam dan nada suara yang sarat akan kemarahan, suara yang bisa membuat siapa pun merinding mendengarnya.
Ruanindya tertegun.
Apa Gantara marah?
Gantara cemburu?
Sebelumnya Ruanindya belum pernah melihat Gantara semarah ini bahkan sampai mengucapkan kata-kata kasar. Pendekar tampan itu selalu tenang bahkan saat menghadapi para pendekar antek-antek patih Gandatala.
Ruanindya dengan cepat berpikir, kalau ia membiarkan Gantara pergi dan bertarung dengan Antasena pasti akan menimbulkan keributan atau bisa saja Antasena terbunuh, itu jelas akan menimbulkan masalah dengan Nyai Sokawati dan semua murid padepokan yang mendukung Antasena. Sedangkan dirinya dan Gantara masih membutuhkan padepokan Nyai Sokawati untuk bernaung.
Ruanindya meredam amarahnya sendiri lalu mengelus lengan kekar Gantara dengan lembut, "Jangan pergi. Aku membutuhkanmu di sini."
"Aku harus membuat perhitungan dengan Antasena! Ia sudah berani berbuat kurang ajar padamu."
Ruanindya panik, bagaimanapun ia harus bisa mencegah Gantara pergi menemui Antasena atau keributan benar-benar tidak akan terhindarkan.
Gawat!
Ruanindya segera memeluk Gantara dengan erat, "Kekasihku, aku takut kalau kau tinggalkan aku sendirian lagi di sini. Saat ini aku membutuhkanmu di sisiku untuk menenangkanku," Ruanindya menatap Gantara dengan tatapan memelas.
Melihat mata jernih dan bulat Ruanindya menatapnya dengan tatapan menggemaskan ditambah panggilan "kekasih" yang ia ucapkan membuat hati Gantara menghangat dan rasa marahnya sedikit berkurang. Pendekar tampan itu menghela nafas lalu membalas pelukan Ruanindya, "Baiklah. Aku akan menemanimu di sini," Gantara mengelus punggung Ruanindya dengan lembut dengan maksud untuk menenangkan sang putri, namun yang Gantara tidak tahu adalah justru ia yang kini tengah ditenangkan oleh kekasihnya.
"Terima kasih," Ruanindya tersenyum lega mengetahui bahwa dirinya sudah berhasil mencegah Gantara pergi.
"Aku minta maaf, tidak seharusnya aku pergi meninggalkanmu sendirian dan menerima tawaran Antasena untuk menggantikanku menjagamu sementara aku mengantar Layung Sari melihat Beliung," suara Gantara kini sarat akan rasa penyesalan, tangannya dengan lembut membelai rambut hitam Ruanindya.
Mendengar perkataan Gantara hampir membuat kemarahan Ruanindya kembali meletup, namun gadis ayu itu tiba-tiba terpikirkan bahwa Layung Sari dan Antasena mungkin saja memang bekerja sama. Kalau Antasena jatuh hati padanya, kemunginan besar Layung Sari juga jatuh hati pada Gantara.
Ruanindya memutar bola matanya dengan malas.
Tanpa harus ia pikirkan pun, dari gerak-gerik yang Layung Sari tunjukan pada Gantara, sudah terlihat sangat jelas bahwa gadis itu telah jatuh hati dan menginginkan Gantara. Jadi Ruanindya berpikir sudah pasti mereka berdua --Layung Sari dan Antasena-- memang bekerja sama.
Ruanindya menepuk dada bidang Gantara dengan lembut, "Lain kali jangan seperti itu lagi."
Gantara mengangguk, "Baiklah. Aku janji."
Ruanindya mengajak Gantara untuk duduk di tepi ranjang sambil berpelukan untuk menenangkan diri. Kalau ia dan Gantara bertengkar mungkin Layung Sari dan Antasena akan senang dan semakin dekat dengan tujuan mereka.
Ruanindya menghela nafas. Ia yang seorang putri raja harus bersaing dengan seorang gadis lainnya untuk memperebutkan seorang lelaki? Tapi kalau itu untuk lelaki sehebat Gantara Wisesa, hal itu patut untuk dilakukan. Apalagi sekarang pendekar tampan itu adalah kekasihnya.
__ADS_1
"Rua, darah siapa yang ada di lantai? Apa kau terluka?" Ketika tadi ia berjalan ke ranjang, sudut mata Gantara sempat menangkap bercak darah di lantai dan ia khawatir kalau mungkin saja itu darah Ruanindya dan sang putri telah terluka.
Ruanindya menggeleng, "Itu darah Antasena."
"Darah Antasena? Bagaimana bisa?" Gantara sedikit kaget lalu menatap Ruanindya dengan penasaran. Seingatnya ketika tadi ia memasukan Pancasona ke dalam sarungnya, ia tidak melihat sedikit pun noda darah di mata pedanganya.
Ruanindya menggendikan bahunya, "Entahlah. Ketika aku sedang tidur, aku merasakan ada yang sedang mencium bibirku. Aku kira itu kau, tapi ketika aku membuka mata ternyata itu Antasena dan tanpa sadar aku mengalirkan tenaga dalam pada telapak tanganku lalu memukul dadanya hingga ia terpental dan muntah darah," Ruanindya menjelaskan seperti apa yang ia ingat.
Gantara tercengang, itu jurus tapak naga miliknya. Jurus yang terlihat sederhana, namun sebenarnya cukup bisa memberikan luka dalam yang fatal.
Gantara tersenyum sambil mengusap pipi Ruanindya, "Untuk saat ini Antasena cukup mendapatkan pelajaran, tapi ketika nanti aku bertemu dengannya, aku akan memberinya pelajaran."
"Jangan. Aku tidak mau membuat masalah dengan Nyai Sokawati. Bagaimanapun kita masih membutuhkan tempat tinggal dan tempat berlindung."
"Tenang lah, aku tidak akan sampai membunuhnya."
"Tapi tadi kau terlihat seolah ingin membunuhnya."
"Kalau tadi... memang benar aku ingin membunuhnya." Gantara mengakui dengan jujur.
Ruanindya mencebikan bibirnya lalu mendengus, "Untungnya aku bisa mencegahmu pergi, kalau tidak bisa terjadi keributan besar."
Gantara menangkup pipi Ruanindya lalu membelai bibir merah Ruanindya dengan lembut menggunakan ibu jarinya, "Antasena pantas mendapatkannya."
"Aku--"
Kruyuk...
Seketika wajah Ruanindya memerah karena perutnya mengeluarkan suara yang memalukan bahkan ia sampai lupa apa yang ingin ia katakan sebelumnya dan malah mengeluarkan kata yang perutnya rasakan sekarang, "--lapar" ucapnya dengan cicitan kecil.
Gantara terkekeh mendengar suara perut Ruanindya. Dirinya dan Ruanindya memang belum sempat makan apa pun dari pagi dan malah mendapatkan masalah yang cukup menguras emosi, "Ayo kita makan."
"Ayo! Kita mencari makanan di luar. Aku bosan terus di padepokan."
Gantara mengangguk, tentu apa pun yang Ruanindya inginkan pasti Gantara turuti.
Ya terkecuali kalau Ruanindya meminta duduk di belakangnya saat menaiki Beliung.
Layung Sari menemui ibunya dengan wajah tertekuk kesal, "Ibunda, bicara lah dengan Kakang Gantara. Aku menginginkannya untuk menjadi pendampingku."
[*1. Tumenggung adalah gelar bagi Kepala Daerah (Distrik) di Jawa dan Kalimantan. Gelar tersebut merupakan gelar yang cukup tinggi (Kepala Adat Besar), namun gelar tersebut di Kalimantan Barat hanya untuk kepala adat kampung (kepala adat kecil).]
Bersambung*...
Mohon dukungannya dengan cara like, vote & comment. Terima kasih.
__ADS_1