Runaway

Runaway
Chapter 7 - Penyergapan di sungai


__ADS_3

Chapter 7


Penyergapan di sungai


Ada bias ketakutan terpancar di wajah kedua pendekar itu, namun entah keberanian dari mana mereka tetap gencar menyerang Gantara tanpa henti bahkan ketika tubuh mereka sudah penuh dengan luka sayat hasil dari sabetan pedang Gantara.


Gantara memutar tubuhnya kebelakang salah satu pendekar, dengan cepat menyayat dalam bagian belakang lipatan lutut musuhnya, hingga lawannya itu jatuh berlutut tanpa daya dan mengerang kesakitan. Setelahnya dengan lihai Gantara menghindari sabetan kapak yang tertuju pada lehernya dari pendekar terakhir yang masih berdiri, setelah kapak itu melewati lehernya dengan cepat Gantara menangkap pergelangan tangan si pendekar lalu mematahkan pergelangan tangannya hingga bunyi "kreeek" terdengar cukup keras diiringi teriakan kesakitan si pendekar, kemudian tanpa ragu Gantara menusukan pedangnya ke perut pendekar yang baru saja ia patahkan tangannya.


"Ohok!" Pendekar itu segera memuntahkan seteguk darah, ketika Gantara mencabut pedangnya darah segar segera menyembur dari lubang yang ia buat di perut lawannya, pendekar itu segera tersungkur jatuh ke tanah sambil memegangi lubang di perutnya.


Gantara memang tidak menusuk titik vital yang bisa membuat lawannya mati seketika, namun dengan luka tusuk sedalam itu sudah dipastikan luka itu akan membunuh secara perlahan karena musuh akan kehabisan darah.


"Cukup sampai di situ!"


Mendengar suara asing menginterupsinya, Gantara segera memalingkan wajahnya ke arah sumber suara dan seketika itu pula wajahnya menjadi kaku.


Di sana ia melihat seorang lelaki asing --yang Gantara bisa pastikan adalah satu komplotan dengan empat pendekar yang menyerangnya--, pendekar itu berdiri di belakang Ruanindya dengan mata pedangnya berada tepat di depan leher Sang Putri.


Ruanindya terlihat gemetar ketakutan, bibirnya yang pucat terlihat bergetar, keringat dingin mengucur deras. Ia menatap pedang di lehernya lalu beralih menatap Gantara dengan mata penuh permohonan untuk diselamatkan.


Gantara merasa ceroboh, kini ia tahu kalau sejak awal ini sudah rencana kelima pembunuh itu, empat diantara mereka menjadi umpan untuk menjauhkan Gantara dari Ruanindya dan membuat Gantara lengah, setelahnya satu rekan mereka yang bersembunyi akan dengan mudah menyergap Ruanindya yang sudah tanpa perlindungan.


"Kalau kau ingin dia selamat, cepat buang pedangmu!" Perintah si pendekar dengan tatapan mengancam, Gantara hanya diam dan mencoba membaca situasi, "Aku tidak main-main!" si pendekar menekan sedikit mata pedangnya pada kulit leher Ruanindya hingga menimbulkan sedikit luka dan kemudian darah segar mengalir di leher putih sang putri.


Ruanindya memejamkan matanya erat merasakan tajamnya pedang menggores lehernya hingga menimbulkan perih yang amat sangat.


"Baiklah," Gantara melemparkan Pancasona jauh-jauh bahkan musuhnya tidak melihat di mana pedang itu jatuh.


Melihat keadaan yang seolah berbalik, pendekar yang berlutut karena kakinya dilukai Gantara segera tertawa licik, "Kerja bagus adik seperguruan. Cepat bunuh di--" belum sempat ia menyelesaikan ucapannya, ia bisa melihat sebuah pedang dengan cepat melesat di belakang adik seperguruannya lalu pedang itu menusuk dan bersarang di punggung kiri pendekar yang sedang menyandera Ruanindya, pedang itu tepat menembus jantungnya hingga pedang yang ia pegang di leher Ruanindya jatuh setelahnya tubuhnya sendiri yang roboh ketanah tanpa nyawa.


Pedang itu diterbangkan dan ditusukan dengan akurasi yang sangat tepat, menusuk dalam jantung lawan, namun sama sekali tidak sampai menembus melukai tubuh Ruanindya, untuk sesaat Ruanindya hanya bisa tertegun kaku dengan nafas yang tertahan.

__ADS_1


Gantara segera berjalan mendekati Ruanindya dengan kekhawatiran, "Kau tak apa-apa?"


Perlahan Ruanindya menatap Gantara yang kini berdiri di hadapannya dengan mata yang bergetar, sedetik kemudian ia menghambur memeluk Gantara dengan erat sambil menangis, "Bagaimana aku bisa baik-baik saja, aku sangat ketakutan bodoh!" Ucapnya sambil sesenggukan, lalu ia menunjuk pada mayat pendekar yang menyanderanya, "Bagaimana kalau pedangmu itu juga ikut menembus jantungku? Apa kau ingin membunuhku?!" setelah mengatakan itu ia kembali membenamkan wajahnya di dada Gantara dan kembali terisak.


Gantara menghela nafas lega, Ruanindya masih mampu untuk mengatainya bodoh berarti Sang Putri masih baik-baik saja, "Pedang itu tidak akan melukaimu," dengan ragu Gantara mengangkat tangannya, untuk beberapa saat kedua tangannya hanya tergantung di udara namun melihat bahu Ruanindya yang bergetar akhirnya ia membalas pelukan sang Putri dan menepuk-nepuk punggungnya pelan untuk menenangkannya.


Melihat rekannya mati seketika, mata pendekar terakhir yang masih hidup terbelalak, "Ba-bagaimana bisa? Darimana...darimana pedang itu berasal?" tanyanya penuh ketidakpercayaan.


Gantara membimbing Ruanindya yang masih kalut untuk duduk disebuah batu di pinggir sungai, "Tunggulah di sini," setelah menepuk lembut kepala Ruanindya, ia segera menghampiri mayat pendekar yang beberapa waktu lalu menyandera Ruanindya.


Gantara menatap mayat itu dengan ekspresi yang dingin, lalu ia mencabut pedang yang menancap di punggung mayat si pendekar, jelas itu adalah Pancasona, pedang milik Gantara.


Sejak awal Gantara bisa membaca maksud lawannya yang kini sudah tak bernyawa. Ia meminta Gantara membuang pedangnya kalau ingin Ruanindya selamat tapi pada kenyataannya di dalam rencana si pendekar, setelah Gantara membuang pedangnya, si pendekar tetap akan membunuh Ruanindya setelahnya baru membunuh dirinya. Dengan menduga rencana pendekar itu Gantara berpura-pura membuang pedangnya jauh-jauh namun pada kenyataannya pedang sakti itu ia terbangkan memutar kebelakang tubuh pendekar yang sedang menyandera Ruanindya lalu menusuknya dengan tepat.


Mereka berani bermain curang di belakangnya, maka Gantara juga tidak segan membalas perbuatan curang mereka. Punggung untuk punggung.


Sambil menghunuskan pedangnya yang sudah berlumuran darah ia melangkah mendekati pendekar terakhir yang masih hidup, mata elangnya menatap dengan bengis pendekar yang kini tengah menjauhinya dengan cara menyeret tubuhnya.


"Matilah," satu kata keluar dari mulut Gantara dengan suara yang dingin dan mematikan, ia mengayunkan pedangnya dan setelahnya sebuah kepala menggelinding jatuh terpisah dari tubuh pemiliknya. Pembunuh terakhir yang diutus Patih Gandatala sudah ia habisi.


Namun Gantara tahu, mereka bukan orang-orang terakhir yang Patih Gandatala kirim, ia yakin akan ada banyak kelompok dan pendekar yang tengah memburunya tersebar mencari keberadaannya dan Ruanindya.


Gantara segera merubah ekspresi wajahnya seperti biasa lalu berbalik ke arah Ruanindya, ia bisa melihat Ruanindya yang kini tengah menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, "Semuanya akan baik-baik saja," Gantara membantu Ruanindya membersihan luka dilehernya, mengobatinya lalu membebatnya dengan kain. Setelahnya mereka berdua segera meninggalkan sisi sungai yang kini merah karena darah para pembunuh yang justru terbunuh.


******


Setelah beberapa jam berkuda akhirnya Gantara dan Ruanindya kembali memasuki sebuah desa, mengingat kondisi Ruanindya yang tidak terlalu baik kali ini Gantara sengaja mencari penginapan yang besar dan menyewa kamar yang cukup bagus untuk mereka beristirahat.


Setelah mereka menyempatkan untuk makan siang di warung yang dimiliki penginapan, keduanya segera memutuskan untuk langsung beristirahat di kamar yang mereka sewa.


Sesampainya di kamar Ruanindya langsung berbaring di atas dipan yang dilapisi kasur dari kapuk yang tipis, dipan itu cukup besar untuk ditempati oleh dua orang, namun tentu saja Gantara tidak berniat untuk tidur diatas dipan itu juga. Karena rasa lelah dan rasa nyaman berbaring di kasur yang cukup empuk --jika dibandingkan tempatnya berbaring beberapa hari ini-- membuat Ruanindya segera jatuh tertidur.

__ADS_1


Gantara memandangi wajah Ruanindya yang sudah tertidur, wajahnya masih sedikit pucat. Gantara merasa untuk ukuran seorang gadis berumur delapan belas tahun Ruanindya terlalu cengeng dan penakut, tapi bagaimanapun Gantara tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Ruanindya. Ruanindya adalah seorang Putri Raja, apalagi ia adalah satu-satunya anak yang Raja miliki, dari kecil hingga usianya saat ini ia selalu dimanjakan, mendapatkan kasih sayang yang penuh dari orang-orang disekitarnya, apapun yang ia inginkan bisa ia dapatkan, tidak pernah terlibat pertempuran dan tidak pernah melihat darah dan pembunuhan sebelumnya, semua yang Ruanindya rasakan adalah kenikmatan dunia yang membuatnya menjadi seseorang yang polos dan manja. Tetapi di luar istana, di dunia persilatan yang kejam ini Ruanindya adalah orang yang sangat lemah karena tidak mempunyai ilmu silat apalagi ilmu kanuragan jadi wajar kalau ia menjadi seorang yang pengecut, karen itulah alasan Gantara di sini, untuk melindunginya, memastikan keselamatannya hingga kelak ia bisa kembali hidup nyaman di istananya.


Tapi yang sampai saat ini menjadi pertanyaan Gantara adalah kenapa Ruanindya tidak diajarkan ilmu silat atau ilmu kanuragan barang sedikitpun guna melindungi dirinya sendiri disaat-saat genting, bahkan menunggang kuda pun Ruanindya tidak bisa, sebenarnya penyakit apa yang Sang Putri itu derita?


Keesokan paginya Ruanindya bangun dengan kondisi yang lebih baik dan segar berkat tidurnya yang cukup lama, ia bahkan melewatkan waktu makan malamnya.


Setelah merapikan diri, Ruanindya dan Gantara kembali ke warung yang dimiliki penginapan untuk menikmati sarapan mereka.


Ketika keduanya sedang menyantap makanannya, terdengarlah desas desus dari beberapa pengunjung warung.


Desas desus itu rupanya cukup meresahkan, dari apa yang mereka dengar bahwa akhir-akhir ini beberapa pendekar muda telah hilang, bukan hanya pendekar muda bahkan pemuda yang hanya berstatus petani atau pedagang pun juga turut menghilang.


Gantara mengernyitkan dahinya hingga alisnya terajut, ia merasa aneh, kalau saja hanya para pendekar (laki-laki) muda yang hilang, itu tidaklah terlalu mencurigakan, wajar bila para pendekar di dunia persilatan saling bertarung lalu salah satunya terbunuh dan hilang, tapi ini bukan hanya para pendekar muda yang hilang bahkan para pemuda yang bukan pendekar pun turut hilang. Ia merasa ada yang tidak beres sedang terjadi.


"Kabarnya pemuda-pemuda itu menghilang setelah datang ke pertunjukan ronggeng[1] yang terkenal itu."


"Ah, aku menduga mereka dirampok setelah pulang dari sana lalu dibunuh dan mayat mereka dibuang jauh-jauh."


"Bukannya nanti malam ada pertunjukan ronggeng itu lagi? Kita lihat apa akan ada pemuda yang hilang lagi malam ini."


"Alah bilang saja kau ingin melihat tarian Nyai[2] Larasati yang molek itu kan hahaha..."


Gantara mendengarkan perkataan orang-orang dengan seksama dan serius, kecurigaannya semakin besar. Ia memang sedang dalam pelarian tapi bagaimanapun juga ia seorang panglima, bukan hanya harus menang di medan perang tapi juga harus bisa menjaga keselamatan rakyat kerajaan tempatnya mengabdi tapi...ia kemudian memandang Ruanindya yang tengah menyantap makanannya. Gantara harus menjaga Ruanindya, ia takut menyelidiki masalah ini akan membawa Ruanindya dalam bahaya.


Merasa diperhatian, Ruanindya menghentikan acara makannya lalu balas menatap Gantara, kali ini ia cukup mengerti apa yang sedang dipikirkan Gantara. Ruanindya mendekat kearah Gantara lalu berbisik pelan, "Kenapa? Kau ingin mengelidiki masalah ini? Aku tidak keberatan, aku sudah tidak apa-apa. Lagipula aku juga ingin melihat pertunjukan ronggeng itu seperti apa," mendengar itu Gantara mengangguk, kini ia sudah yakin untuk menyelidiki masalah ini dan kalau bisa ia ingin memecahkan dan menyelesaikan desas-desus meresahkan ini sampai tuntas.


[1. Ronggeng adalah jenis kesenian tari yang berkembang di Tatar Pasundan atau Jawa di mana pasangan saling bertukar ayat-ayat puitis saat mereka menari diiringi musik dari rebab atau biola dan gong.]


[2. Nyai adalah sebutan umum di Jawa Barat, khususnya bagi wanita dewasa.]


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa like, vote, tip, follow & comment untuk support author ya ^^


__ADS_2