
Chapter 9
Penganut ilmu hitam
Dengan diam-diam Ruanindya terus mengikuti kemana sosok Gantara dan seorang wanita yang bersamanya itu pergi, dilihat dari pakaian yang dikenakan wanita itu, Ruanindya bisa menduga bahwa wanita itu adalah salah satu penari ronggeng.
Gantara dan Nyai Larasati memasuki sebuah rumah, Ruanindya mengendap-endap seperti pencuri yang hendak mendekati buruannya, berjalan sepelan mungkin supaya tidak menimbulkan suara apapun dan mendekati sebuah jendela pada rumah kayu itu.
Ruanindya mendekatkan matanya pada celah jendela, mencoba mengintip keadaan di dalam lalu matanya terbelalak seketika. Ia melihat wanita itu melapas pakaian atas (baju) Gantara hingga menampilkan otot-otot pada dada, lengan dan perut gantara yang terlihat kekar dan gagah bersinar keemasan di bawah cahaya obor penerang kamar tersebut, kemudian wanita itu menuntun Gantara dan membaringkannya di atas ranjang kayu yang dikerudungi kelambu lembut berwarna putih yang ada di dalam kamar, lalu wanita itu sendiri berbaring di samping Gantara, ia menggunakan satu sikunya sebagai tumpuan dan berbaring ke sisi menghadap Gantara.
"Siapa namamu cah bagus[1]?" Nyai Larasati memainkan jari telunjuknya menelusuri otot-otot yang ada di dada bidang Gantara.
"Gantara Wisesa," Gantara hanya diam terbaring tidak bergerak sedikit pun sambil memandangi wajah cantik jelita Nyai larasati.
Ruanindya mengernyitkan keningnya, ia merasa ada yang aneh dengan tingkah laku Gantara, pendekar tampan itu seolah sedang tidak sadar. Jelas ada hal yang tidak beres sedang terjadi.
"Aku Nyai Larasati," Nyai Larasati memperkenalkan dirinya sambil membelai dengan lembut wajah tampan Gantara dengan jari-jari lentiknya, "Gantara Wisesa? Aku seperti pernah mendengar nama itu, seperti nama Panglima besar kerajaaan Kertalodra."
Ruanindya terkesiap, 'Nyai Larasati? Bukankah itu penari ronggeng yang dibicarakan penduduk karena kecantikan dan kemolekannya yang tersohor.'
"Iya, itu aku Nyai."
"Wow! Aku mendapat tangkapan yang besar," wajah cantik Nyai Larasati tampak sumringah, "Aku tidak menyangka panglima besar akan memilik wajah setampan dan tubuh serupawan ini, terlebih kau masih perjaka. Aku tidak habis pikir bagaimana dengan rupa yang mempesona ini kau masih bisa mempertahankan keperjakaanmu bukankah pastinya banyak wanita yang mengejarmu cah bagus."
'Apa? Jadi Gantara benar-benar masih perjaka? Tapi tunggu! Darimana wanita itu tahu kalau Gantara masih perjaka?' Ruanindya menggaruk pipinya sendiri yang tidak gatal. Ia tak menyangka dirinya yang seorang putri raja harus mengedap-endap dimalam hari untuk mengintip dan menguping kegiatan sepasang pria dan wanita di atas ranjang, dulu ia memang pernah memergoki seorang dayang dan prajurit yang tengah bercinta di gudang tetapi itu dengan unsur ketidaksengajaan sedangkan kali ini ia mengintip dan menguping dengan keinginannya sendiri, betapa memalukannya kalau dunia tahu akan hal itu.
"Nyai, kau sangat cantik." Pujian manis yang terlontar dari mulut Gantara terdengar hampa, seolah datang dari sosok raga tanpa jiwa.
Bibir merah Nyai Larasati melengkung membuat senyuman, "Aku tahu," wanita cantik membelai pipi Gantara dengan lembut.
Ruanindya menutup mulutnya dengan tangannya sendiri, mencegah pekikan atau umpatan keluar dari mulutnya tanpa diminta. Ia mulai bingung apakah ia harus tetap di sana menyaksikan mereka berdua bermesraan yang bisa membuat dirinya semakin merasa kesal atau segera pergi begitu saja meninggalkan Gantara.
Nyai Larasati membelai rambut hitam Gantara, "Aku tidak akan membunuhmu. Aku jatuh hati padamu Gantara Wisesa, aku akan menjadikanmu pendampingku," wanita cantik itu menatap penuh cinta pada lelaki tawanannya kemudian memeluk Gantara.
Ruanindya menatap nanar apa yang ia lihat, Gantara yang hanya diam dipeluk oleh Nyai Larasati entah kenapa membuat hatinya terasa sakit, 'dasar Gantara bajing-- tunggu! apa? Tadi wanita itu bilang tidak akan membunuhnya? Jadi...apakah mungkin...' Ruanindya mulai berpikir tentang desas desus yang dibicarakan penduduk desa, bahwa para pemuda telah hilang, mungkin saja wanita ini yang membunuh mereka semua, 'oh sial!' Ruanindya dengan terburu-buru dan tanpa pikir panjang mendobrak pintu rumah itu sekuat tenaga, kemudian pintu kamar tempat Gantara pun bernasib sama, Ruanindya menendang pintu itu sekuat tenaga hingga pintu itu terbuka dan ia segera masuk kedalam kamar tersebut.
Nyai Larasati yang sedang memeluk Gantara terlonjak kaget, ia melepas pelukannya pada pendekar tampan itu dan menatap sengit pada Ruanindya, "Siapa kau?!" Wanita itu lantas turun dari ranjangnya dan berdiri waspada menghadapi Ruanindya.
"Aku-aku...temannya," Ruanindya menjawab dengan canggung lalu menunjuk Gantara yang masih terbaring di ranjang, "Apa yang kau lakukan padanya? Gantara bangun! Gantara!" Ruanindya berteriak memanggil Gantara mencoba menyadarkan pendekar tampan itu.
"Hahaha..Percuma, seberapa keraspun kau memanggilnya tidak akan ada efeknya. Dia telah aku kemat[2] dengan kematku yang paling kuat, dia hanya akan menurutiku."
Nyai Larasati memicingkan matanya menatap Ruanindya dari atas sampai bawah, "Lelaki yang bertubuh kecil," kemudian wanita itu menyeringai, "Kebetulan sekali, aku tidak ingin membunuh Gantara tapi ada kau sebagai gantinya."
__ADS_1
Ruanindya melotot mendapatkan ejekan 'lelaki bertubuh kecil' dari Nyai Larasati, "Membunuh? Untuk apa kau membunuhku?" Ruanindya mencoba memasang kuda-kuda dan mengacungkan kedua tinjunya yang terlihat amatir untuk bersiaga.
"Untuk mengambil jantungmu lalu aku makan!" Nyai Larasati mengeluarkan belati tajam yang ia simpan di belakang punggungnya kemudian menodongkannya ke arah Ruanindya.
Ruanindya seketika bergidik ngeri mendengar perkataan Nyai Larasati, "Untuk apa kau memakan jantungku?" Ruanindya ingin mengutuk dirinya sendiri, kenapa harus menanyakan hal seperti itu, untuk apapun nanti jika jantungnya diambil tentu saja hal itu akan tetap membunuhnya, kalau wanita di hadapannya ini berhasil melakukannya. Harusnya ia segera lari dari sana tapi ia juga merasa tidak bisa meninggalkan Gantara begitu saja.
Terdengar tawa yang mengerikan dari sosok wanita cantik yang kini tampak berbahaya, "Tentu saja untuk mempertahankan kecantikanku," Nyai Larasati mulai melangkah mendekati Ruanindya, ia tahu kalau 'pemuda' di hadapannya ini tidak mempunyai ilmu silat maupun ilmu kanuragan, sama sekali tidak berbahaya.
"Jangan mendekat!" Ruanindya melangkah mundur sampai punggungnya menyentuh dinding rumah itu. Pada saat seperti ini ia benar-benar merasa tak berguna, hanya melawan sesama wanita saja ia tidak bisa. Tapi wanita ini benar-benar seperti memiliki aura yang menekannya.
"Jangan khawatir, aku akan membuatmu tenang menghadapi kematianmu," mulut Nyai Larasati mulai komat-kamit merapalkan mantra kematnya[2] untuk ia gunakan pada Ruanindya, namun sebelum ia menyelesaikan mantranya sebilah pedang sudah menembus perutnya dari arah belakang, "Akh!" Mata wanita itu terbelalak lebar bergitu merasakan sakit yang teramat sangat di perutnya, ia menunduk melihat pedang yang menembus perutnya lalu menoleh ke belakang, "Ba-bagaimana bisa kau...? kenapa kematku..." pedang yang bersarang pada perutnya tiba-tiba dicabut, Nyai Larasati seketika ambruk ke tanah dan darah segar segera mengucur deras dari lubang di perutnya. Wanita yang tengah sekarat itu menatap orang yang kini berdiri di hadapannya, "Gantara..." Nyai Larasati mengulurkan tangannya yang gemetar mencoba meraih Gantara, ia baru saja jatuh cinta pada seseorang dan orang itu kini sudah membuatnya sekarat.
Mulut Nyai Larasati mulai komat kamit lagi dengan pelan dan pedang Gantara dengan cepat kembali menghujam tubuhnya, tepat di jantungnya. Wanita itu mati seketika.
Sekali lagi Ruanindya melihat sebuah kejadian pembunuhan di depan matanya, dan yang melakukannya adalah orang yang sama, Gantara Wisesa. Pendekar tampan itu sudah membunuh orang-orang di depan matanya, bahkan Ruanindya sendiri lupa sudah berapa banyak, yang pasti bukanlah jumlah yang sedikit. Kali ini Gantara bahkan membunuh seorang wanita dan tetap tanpa belas kasihan sedikit pun, bukankah itu artinya Gantara orang yang kejam dan berdarah dingin juga sangat berbahaya? Tapi anehnya Ruanindya tidak merasa takut sedikit pun pada Gantara karena hal itu, mungkin karena alasan kenapa Gantara membunuh dan siapa yang ia bunuh, semuanya demi melindungi Ruanindya.
Gantara memandang Ruanindya yang hanya tertegun menatap mayat Nyai Larasati, "Kau tidak apa-apa?" Kemudian pendekar tampan itu mencabut pedangnya yang menancap pada jantung sang ronggeng cantik yang kini sudah tidak bernyawa.
Mendengar suara Gantara, dengan perlahan Ruanindya mengalihkan pandangannya pada sang panglima lalu mengangguk pelan, "Aku tak apa," Ruanindya sedikit mendekat pada Gantara dan mayat Nyai Larasati, "Wanita ini kenapa harus memakan jantung para pemuda hanya untuk mempertahankan kecantikannya? Itu mengerikan."
"Dia," Gantara menunjuk mayat Nyai Larasati dengan dagunya, "Jelas penganut ilmu hitam."
"Penganut ilmu hitam?"
"Apa itu?" Ruanindya ikut berjongkok lalu menatap benda yang ada di tangan Gantara dengan penasaran.
"Ini susuk.[3]"
"Susuk?"
"Iya, salah satu benda mistis. Susuk ini susuk untuk menambah daya tarik dan kekuatan mantra kematnya," Gantara menjelaskan, sebisa mungkin membuat Ruanindya mengerti.
Ruanindya mengamati perubahan di wajah Nyai Larasati, wajah cantik jelita itu kini perlahan mulai terlihat menua dengan keriput di sana sini, Ruanindya mengerutkan wajahnya ngeri, "Dia jadi terlihat tua."
"Itu karena pengaruh susuknya hilang."
"Kenapa kau harus repot-repot mencabut benda terkutuk itu darinya?"
"Hanya sedikit berbelas kasihan agar ia sedikit lebih tenang di alam kubur."
Ruanindya sudah tidak tertarik dengan susuk dan alam kubur melainkan dengan hal yang lain, "Oh iya, Nyai Larasati bilang dia telah memberikan kemat yang kuat padamu hingga kau hanya akan menurutinya, lalu kenapa kau bisa bergerak dan membunuhnya?" Ini menjadi pertanyaan besar Ruanindya, sebelumnya ia melihat Gantara hanya diam tak berdaya dan menuruti kemauan Nyai Larasati tapi tiba-tiba pendekar itu bangun lalu membunuh wanita itu.
"Sejak awal aku sudah menggunakan ilmu kanuraganku untuk melindungi jiwa dan kesadaranku, bahkan alam bawah sadarku. Memang aku sempat terpengaruh oleh kematnya yang sangat kuat namun hanya beberapa saat, kemudian ketika memasuki rumah ini kesadaranku kembali, aku merasa ada yang aneh dengan wanita ini jadi aku memutuskan untuk tetap berpura-pura masih dalam pengaruh kematnya."
__ADS_1
Ruanindya terbengong-bengong mendengarkan penuturan Gantara, "Jadi saat ia memelukmu, kau sudah sadar?"
"Ya begitulah..." Gantara berbicara dengan entengnya, wajahnya tetap stabil tanpa terlihat emosi yang berarti.
"Cih! Dasar lelaki hidung belang!" Tunjuk Ruanindya tepat di depan wajah Gantara.
Gantara menyingkirkan tangan Ruanindya dari depan wajahnya, "Aku hanya sedang menunggu bukti, tidak mungkin aku menangkapnya atau membunuhnya tanpa bukti, bahkan mungkin masalah ini tidak akan terpecahkan dan semakin banyak jatuh korban."
Ruanindya berkacak pinggang, "Banyak alasan, bilang saja kau menikmatinya iya kan?"
"Aku tidak."
"Masih mau menyangkal? Walaupun sekarang ia tua," Ruanindya menunjuk-nunjuk mayat Nyai Larasati, "Tapi ketika kalian bermesraan, dia masih terlihat muda, cantik dan montok," Ruanindya masih mencecar Gantara, mencoba memojokan pandekar tampan itu dan membuatnya mengaku. Entah untuk apa Ruanindya melakukan itu ia hanya merasa kesal, dengan memojokan Gantara dan membuatnya mengaku, ia merasa itu akan membuat rasa kesalnya sedikit beralasan, "Kau pasti sangat senang dan berdebar kan? Iya kan?"
Gantara berdecak menghadapi tingkah rewel sang putri, ia lalu mengambil tangan sang putri lalu menaruhnya di atas dada kirinya sendiri, "Apa kau merasa jantungku berdebar cepat?"
Merasakan telapak tangannya menyentuh kulit dada bidang Gantara tanpa penghalang membuat Ruanindya gugup dan malu, "A-apa yang kau lakukan?!"
"Memberimu bukti. Jika aku seperti apa yang kau tuduhkan, jantungku pasti sedang berdebar cepat sekarang," Gantara membalikan tubuhnya, mengambil pakaiannya yang berada di atas ranjang lalu memakainya, kemudian memasukan pedangnya kembali ke dalam sarungnya.
Ruanindya masih menatap tangannya yang tadi sempat menyentuh dada Gantara, sekalipun ia memegang dada bidang Gantara tapi ia tidak bisa secara pasti merasakan detak jantung Gantara berdebar atau tidak karena rasa gugupnya sendiri, tapi seingatnya detak jantung Gantara sangat lah normal, "Ah sudahlah!" Ruanindya dengan menghentak-hentakan kakinya pergi keluar rumah itu dengan perasaan kesal karena mengingat kejadian Gantara yang bermesraan dengan Nyai Larasati, namun ia sedikit lega mengetahui lelaki itu tidak berdebar sedikit pun.
Ketika Gantara membalikan tubuhnya ia hanya melihat punggung kecil Ruanindya yang berjalan ke arah luar rumah, pendekar tampan itu tersenyum lalu tanpa sadar memegang dadanya sendiri, "Dan sekarang ia berdebar," gumamnya dengan rasa kaget.
Tentu saja Ruanindya tidak tahu kejadian itu.
Gantara menyusul Ruanindya lalu membawanya mencari kuwu[4] desa itu, kemudian setelah menemukan orang yang menjabat sebagai kuwu, Gantara lantas menceritakan apa yang terjadi, apa yang menjadi penyebab para pemuda menghilang dan siapa pelakunya, serta memberikan susuk yang ia bawa sebagai bukti, kini masalah selesai dan keresahan itu sudah diatasi.
Malam itu, berita tentang Nyai Larasati sebagai pelaku pembunuhan para pemuda menggemparkan seluruh penduduk desa terlebih sekarang wanita itu sudah mati dengan mengenaskan.
Keduanya -Gantara dan Ruanindya- kembali ke penginapan untuk beristirahat sebelum keesokan harinya mereka kembali melanjutkan perjalanan mereka dalam sebuah pelarian yang masih tanpa tujuan.
[1. Cah bagus \= bocah tampan]
[2. Kemat / Pelet adalah pengasihan yang konon sangat ampuh untuk membuat lawan jenis tergila-gila.]
[3. Susuk merujuk pada suatu cara memasukkan benda asing kedalam tubuh seseorang secara spiritual untuk mendapatkan suatu kelebihan. Benda asing tersebut umumnya berupa jarum kecil. Kelebihan yang dimaksud berupa perlindungan spiritual, penarik lawan jenis, penambah daya tarik, dan kekuatan pada fisik yang kesemuanya merupakan suatu bentuk sugesti seorang yang telah menggunakan susuk tersebut.]
[4. Kuwu \= Lurah.]
Bersambung...
Jangan lupa kasih support untuk author ya dengen cara like, vote, tip, follow & comment. thanks before ^^
__ADS_1