
Chapter 20
Padepokan Nyai Sokawati
Gantara merasa lega, dua hari perjalanan menuju padepokan Nyai[1] Sokawati berjalan dengan lancar dan tidak ada hambatan berarti.
Ruanindya juga terlihat semakin bugar, kulit putihnya kini terlihat lebih merona dan menambah pesona sang putri di mata Gantara.
Melihat pintu gerbang padepokan sudah dekat, Ruanindya menggenggam tangan Gantara yang tengah memegang tali kekang Beliung.
"Gantara."
"Ya?"
"Bolehkah aku sekarang pindah duduk di belakangmu? Aku akan malu kalau masuk ke padepokan menunggang kuda dengan posisi seperti ini. Aku kan sedang menyamar menjadi laki-laki sekarang," Ruanindya menoleh kebelakang dan menatap Gantara dengan tatapan penuh permohonan.
Gantara menaikan sebelah alisnya dan membalas tatapan Ruanindya, "Setelah sekian lama, ini masih menjadi pembahasan? Bukankah kau sudah tahu jawabannya."
Ruanindya mengangguk, "Iya tapi...ayo lah, sekali ini saja," Sang putri mengedip-ngedipkan mata bulatnya yang jernih dalam usaha membujuk Sang Panglima, berharap Gantara akan luluh.
Menatap wajah Ruanindya dengan tatapannya yang menggemaskan membuat hati Gantara tergelitik, namun ekspresi wajahnya tetap tenang seperti biasa, "Tidak."
Ruanindya mendengus kesal lalu mencebikan bibirnya, "Kau menjengkelkan!" Sejak awal perjalanan sampai hari ini, Gantara tidak sekalipun mengabulkan keinginannya untuk duduk di belakang ketika mereka menunggangi Beliung.
Ketika mereka sampai di depan gerbang padepokan, kedua murid padepokan Nyai Sokawati yang bertugas menjaga gerbang hanya menanyakan nama Gantara dan setelah Gantara menyebutkan namanya, mereka langsung membukakan gerbang dan mempersilahkan Gantara dan Ruanindya untuk masuk.
Dengan perilaku kedua penjaga gerbang padepokan, Gantara menduga kalau Nyai Sokawati sudah mengetahui akan kedatangannya.
Benar saja, ketika Gantara dan Ruanindya turun dari atas Beliung, seorang wanita cantik datang menghampiri dengan sebuah senyuman, "Anakku Gantara."
Gantara mengamati wanita yang berjalan semakin mendekat kearahnya. Ia mengenalinya, wanita cantik itu jelas Nyai Sokawati, namun yang membuatnya takjub adalah Nyai Sokawati tidak menua sedikit pun. Terakhir kali ia melihat wanita itu ketika berumur delapan tahun dan tidak ada perbedaan sedikit pun dari sosoknya saat itu dengan sosoknya hari ini, "Nyai Sokawati, murid Gantara meminta maaf datang tanpa pemberitahuan."
Nyai Sokawati terkekeh lalu memeluk Gantara, "Tidak usah terlalu sungkan. Kau sudah kuanggap sebagai anak laki-lakiku sendiri. Lagipula Kakang Indrayana telah memberitahuku tentang kedatangan kalian dan tentang apa yang sedang kalian hadapi," terdengar ketulusan dari nada bicara Nyai Sokawati. Setelah melepaskan pelukannya pada Gantara, ia segera mengalihkan pandangannya pada sosok bertopeng yang hanya berdiri diam di samping Gantara. Nyai Sokawati mengamati penampilan orang itu, penampilan seorang pendekar laki-laki, namun ia sudah sangat tahu dengan jelas siapa orang di balik topeng putih itu. Nyai Sokawati menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada lalu sedikit membungkukan badan memberikan salam penghormatan pada putri Kertalodra, "Selamat datang di padepokan hamba yang sederhana ini putri. Hamba turut berduka dengan apa yang menimpa kerajaan Kertalodra."
Ruanindya sebenarnya merasa tertegun, wanita yang masih terlihat cantik dan muda ini adalah adik seperguruan Empu Indrayana yang seharusnya seorang nenek, namun masih segar seperti seorang wanita muda. ketika Nyai Sokawati berbicara padanya baru lah Ruanindya tersadar, "Nya-nyai sudah tahu siapa aku?"
Nyai Sokawati tersenyum, "Hamba diberitahu oleh Kakang Indrayana bahwa Gantara akan datang bersama Putri. Dan yang datang bersama Gantara hanya ada satu orang, itu artinya orang itu sudah pasti adalah sang putri."
"Ah, begitu..." Ruanindya mengangguk-anggukan kepalanya mengerti, "Oh iya, Nyai tidak usah terlalu formal denganku. Panggil saja Rua."
"Tidak bisa begitu putri. Anda adalah anak dari Raja Arya Tirta Kusuma Winarang, Hamba tidak mungkin bersikap lancang."
__ADS_1
Ruanindya meringis. Dulu mungkin ia akan sangat senang ketika orang menghormatinya sebagai seorang putri raja, namun sekarang ia malah merasa canggung dengan apa yang dilakukan Nyai Sokawati, "Aku memaksa Nyai, lagipula sekarang aku sedang menyamar menjadi adik sepupunya," Ruanindya terkekeh sambil menunjuk Gantara.
"Adik sepupu?" Nyai Sokawati memandang keduanya bergantian lalu ikut terkekeh, "Baiklah," Nyai Sokawati menyetujui, namun tetap enggan menyebut nama sang putri secara langsung.
Nyai Sokawati menjentikan jarinya, "Oh iya, ayo aku tunjukan kamar kalian selama tinggal di sini," tapi sebelum Nyai Sokawati menunjukan kamar untuk Gantara dan Ruanindya ia memanggil salah satu muridnya untuk membawa Beliung ke kandang kuda padepokan.
Gantara dan Ruanindya mengikuti Nyai Sokawati masuk kedalam padepokan. Wanita cantik itu membuka sebuah pintu dan masuk kedalamnya diikuti Gantara dan Ruanindya, "Ini adalah kamar terbagus dan terbesar yang kami miliki, memang tidak layak untuk seorang putri tapi aku harap putri akan betah tinggal di sini," kamar itu memang kamar yang paling bagus dan paling luas yang ada di padepokan. Kamar yang memang disediakan untuk tamu penting atau tamu agung seperti Ruanindya.
Ruanindya melihat ke sekeliling kamar. Kamar itu luas. Sebuah ranjang kayu besar ada di sana, sebuah lemari dan beberapa perabotan yang lumayan bagus walaupun tentunya tidak sebanding dengan yang ada pada kamarnya di istana kerajaan Kertalodra, namun kamar ini sangat layak untuk dihuni, "Kamar ini sangat bagus. Terima kasih atas kemurahan hati Nyai Sokawati," Ruanindya tersenyum.
"Tidak usah sungkan, anggap saja rumah sendiri," Nyai Sokawati kemudian menepuk lengan Gantara, "Nah sekarang ayo aku tunjukan kamarmu."
"Bisakah aku mendapatkan kamar tepat di sebelah kamar ini? Aku tetap harus sedekat mungkin dengan putri untuk menjaga keselamatannya," sebenarnya Gantara ingin satu kamar dengan Ruanindya, karena dengan begitu ia akan lebih mudah menjaga keselamatan sang putri. Toh selama ini dirinya dan Ruanindya selalu berdua, meskipun begitu ia akan merasa kurang sopan dan tidak enak pada Nyai Sokawati kalau harus meminta satu kamar dengan seorang gadis yang bukan istrinya terlebih gadis itu adalah seorang putri raja. Jadi meminta kamar yang berada di sebelah kamar Ruanindya adalah pemecahan masalah terbaik dan tentunya hanya lah formalitas belaka, sudah dipastikan nantinya Gantara akan menghabiskan waktunya untuk berjaga di depan kamar sang putri.
Mendengar kata-kata Gantara, Ruanindya merasa bahagia hingga wajahnya merona merah. Dirinya pun tidak ingin jauh dari Gantara, lebih dari sekedar perasaan ingin dilindungi, "Iya, Gantara harus melindungiku Nyai."
Wanita cantik yang awet muda itu mengernyitkan kening, melihat interaksi keduanya --Gantara dan Ruanindya--. Nyai Sokawati tahu kalau hubungan keduanya bukan hanya sekedar seorang putri dan pengawalnya. Nyai Sokawati tersenyum penuh arti, "Baiklah. Kebetulan aku memang menyiapkan kamar untuk Gantara tepat di sebelah kamar ini."
Sementara ketiganya sedang bercakap-cakap, seorang gadis yang tak kalah cantik dari Nyai Sokawati dan telihat mirip dengannya memasuki kamar, "Ibunda, apakah ini Kakang Gantara murid dari paman Indrayana?"
Nyai Sokawati mengangguk, "Iya, ini Gantara Wisesa," Nyai Sokawati menunjuk Gantara lalu beralih pada Ruanindya, "Dan yang ini adalah putri Ruanindya Galuh Winarang," kemudian Nyai Sokawati merangkul bahu Gadis cantik itu, "Perkenalkan. Ini adalah putri semata wayangku, Layung Sari."
Ruanindya mengibaskan tangannya sambil tersenyum, "Ah, tidak. Tidak. cukup panggil saja aku Rua."
Layung Sari mengerutkan keningnya tidak mengerti kemudian menatap Ibunya seolah mencari persetujuan akan kata-kata Ruanindya, Nyai Sokawati mengangguk, "Baiklah," pandangan gadis cantik itu kemudian beralih pada Gantara. Matanya berbinar menatap lelaki tinggi, kekar dan memiliki wajah yang sangat tampan itu, "Kakang Gantara, senang bertemu denganmu. Aku selalu penasaran tentang bagaimana rupa murid Paman Indrayana, ternyata memang sangat luar biasa," puji Layung Sari dengan senyuman mengembang di bibir merahnya.
Gantara membalas senyuman Layung Sari, "Pujian Adinda Layung Sari terlalu berlebihan. Aku hanya lah orang yang biasa-biasa saja."
Mendengar pujian Layung Sari untuk Gantara disertai senyuman genitnya, ditambah Gantara yang membalas senyuman gadis cantik itu membuat Ruanindya kesal dan hanya bisa menggerutu dalam hati. Wajah sang putri terlihat masam.
Gantara melirik Ruanindya dan mengetahui perubahan ekspresi gadis ayu itu. Gantara tahu bahwa Ruanindya tengah cemburu. Mengetahui hal itu tidak bisa tidak membuat pendekar tampan itu merasa gemas. Tanpa ragu Gantara mengangkat tangannya dan membelai kepala Ruanindya dengan lembut, "Kau lelah?"
Ruanindya terkesiap kaget. Ia tidak menyangka bahwa seorang Gantara Wisesa akan melakukan tindakan selembut itu padanya di hadapan orang lain, tetapi tak dapat dipungkiri itu membuat dirinya merasa senang. Dengan canggung Ruanindya mengangguk.
Layung Sari tertegun melihat tindakan Gantara pada Ruanindya, tindakan lembut penuh perhatian seperti itu tentu saja dambaan setiap gadis yang ingin mereka dapatkan dari lelaki setampan Gantara.
"Ayo, biarkan mereka berdua beristirahat dulu. Mereka pasti sangat lelah setelah menempuh perjalanan yang sangat jauh," Nyai Sokawati membawa putrinya untuk keluar dari kamar di mana Gantara dan Ruanindya berada.
Setelah berjalan cukup jauh dari kamar Ruanindya, Layung Sari menghentikan langkahnya lalu memandang ibunya dengan tatapan penuh tanya, "Ibu, apa kakang Gantara dan putri Rua akan tinggal di satu kamar yang sama? Bukankah masih ada kamar yang kosong?"
Nyai Sokawati menggeleng, "Tidak. Gantara akan tinggal di kamar tepat di sebelah kamar putri Ruanindya karena Gantara harus tetap berada didekat putri untuk melindunginya."
__ADS_1
Layung sari melipat tangannya di depan dada dan wajah gadis cantik itu telihat cemberut. Ia merasa niat dan kesempatannya untuk sering berduaan dengan pendekar tampan itu akan sulit diwujudkan kalau Gantara dan Ruanindya harus saling terus berdekatan, sedangkan ia tidak bisa berbuat ceroboh ataupun seenaknya pada Ruanindya yang seorang putri raja, "Kenapa harus seperti itu? Menyebalkan!" Layung Sari menghentakan kakinya kesal lalu pergi meninggalkan Nyai Sokawati.
Nyai Sokawati hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah manja putri semata wayangnya. Ia tahu dengan sangat baik kalau Layung Sari tertarik pada Gantara.
Ruanindya melepas alas kakinya dan segera berbaring di atas ranjang. Sang putri mendesah lega merasakan nyamannya berbaring di atas kasur empuk. Karena rasa lelah yang dirasakan akhirnya tidak berapa lama kemudian gadis ayu itu segera jatuh terlelap.
Saat waktunya makan malam tiba, Gantara membangunkan Ruanindya dari tidur nyenyaknya. Awalnya sang putri tidak ingin bangun, namun ketika mendengar kata makan malam dengan sigap ia segera bangun dan membuat Gantara menggelengkan kepalanya melihat tingkah Ruanindya.
Ruanindya makan dengan lahap dan mengabaikan fakta bahwa dirinya yang seorang putri raja yang harusnya makan dengan anggun, itu karena Nyai Sokawati menyiapkan begitu banyak makanan lezat untuk menjamu Gantara dan Ruanindya.
"Nyai, harusnya anda tidak usah repot-repot untuk menyiapkan hidangan sebanyak ini," Gantara berucap dengan sungkan menyebabkan Ruanindya meringis dan memperlambat kecepatan makannya.
"Ah, tidak apa-apa. Jangan sungkan. Aku sengaja menyiapkan ini semua sebagai perjamuan untuk menyambut kalian berdua," Nyai Sokawati tersenyum dan berkata dengan ramah. Mendengar itu Ruanindya kembali meningkatkan kecepatan makannya dengan penuh semangat.
Gantara yang melihat tingkah Ruanindya hanya tersenyum samar, hatinya benar-benar terasa tergelitik, semua perilaku Sang putri tidak henti-hentinya selalu membuat dirinya merasa gemas, "Rua, makan lah dengan perlahan atau kau bisa tersedak," ucap Gantara bertujuan untuk menggoda Ruanindya.
"Uhuk!" Ucapan Gantara malah seperti sebuah perintah dan membuat Ruanindya tersedak. Gadis ayu itu menepuk-nepuk dadanya sendiri.
Gantara segera mengambil sebuah cangkir bambu berisi air dan memberikannya pada Ruanindya. Sang putri segera meminumnya sampai tandas kemudian mendesah lega.
Tingkah keduanya membuat Nyai Sokawati terkekeh geli. Sedangkan Layung Sari hanya mencebikan bibirnya, entah kenapa dirinya tidak suka melihat interaksi antara Gantara dan Ruanindya, gadis itu merasa ada hal mencurigakan di antara keduanya.
Setelah makan malam, Gantara mengantar Ruanindya untuk mandi.
Ketika Ruanindya akan memasuki bilik kamar mandi, lengan Gantara membentang menghalangi pintu kamar mandi. Pendekar tampan itu menatap Ruanindya, "Apa perlu aku ikut masuk kedalam?"
Ruanindya membalas tatapan Gantara, ia bertanya dalam hati, 'Apa Gantara sedang menggodaku?'
Gantara memang bermaksud menggoda Ruanindya, namun ekspresi wajahnya tetap datar dan tenang seperti biasanya, sangat tidak sesuai dengan kata-kata godaan yang ia lontarkan.
"Pfftt!" Ruanindya sekuat tenaga menahan ledakan tawanya, 'Cara menggoda yang sangat kaku,' batinnya dengan geli.
"Kenapa?" Gantara mengerutkan keningnya hingga alis tebalnya terajut.
"Tidak apa-apa," Ruanindya menggeleng, lalu menepuk dada bidang Gantara, "Panglima, terima kasih atas kebaikanmu, tapi lebih baik kau berjaga di luar," gadis ayu itu mengedipkan sebelah matanya, menyingkirkan lengan Gantara yang menghalangi pintu lalu masuk ke kamar mandi dan dengan santai menutup pintu kamar mandi di depan wajah Gantara.
Ruanindya mendesah nyaman merasakan guyuran air hangat di tubuhnya dan membuat otot-otot lelahnya menjadi rileks. Setelah sekian lama akhirnya ia bisa kembali merasakan mandi menggunakan air hangat, terakhir ia mandi menggunakan air hangat adalah malam di mana terjadinya pemberontakan. Sementara Ruanindya menikmati waktu mandinya, Gantara dengan sabar menunggu dan berjaga di luar bilik kamar mandi.
[1. Nyai adalah sebutan umum di Jawa Barat, khususnya bagi wanita dewasa.]
Bersambung...
__ADS_1