Runaway

Runaway
Chapter 19 - Telepati


__ADS_3

**Chapter 19


Telepati


Novel ini adalah fiksi.


Peristiwa, tokoh, karakter, tempat dan lokasi yang digambarkan dalam novel ini hanyalah fiksi semata.


Adanya kemiripan dengan peristiwa, tokoh, karakter, tempat dan lokasi yang ada di dunia nyata hanyalah kebetulan semata**.


Gantara memandang wajah Ruanindya di hadapannya, wajah ayu itu terlihat sangat lelah.


'Mungkin ini sudah sampai batasnya,' Gantara merasa khawatir akan kondisi gadis ayu itu. Sepertinya Ruanindya sudah pada batasnya dalam menjalani pelarian ini. Gantara merasa harus segera mencari tempat perlindungan yang tetap untuk Sang putri atau kalau tidak Ruanindya akan semakin kelelahan. Apalagi Gantara yakin Ruanindya masih memikirkan mimpinya kemarin tentang Raja Arya Tirta Kusuma Winarang yang disiksa oleh Patih Gandatala.


Di kedalaman hutan itu akhirnya Gantara melihat sebuah gua. Ia menghela nafas lega. Hari ini adalah malam terakhir dari proses meditasi dan penyaluran tenaga dalam untuk penyembuhan Ruanindya, jadi mereka membutuhkan tempat yang lumayan tersembunyi dan aman.


Sang Panglima dengan cekatan mengarahkan Beliung memasuki gua. Setelah sampai di dalam gua, Gantara segera melompat turun dari atas Beliung dan seperti biasa membantu Ruanindya turun setelahnya. Ketika Gantara mengangkat tubuh ramping Sang putri, ia merasa tubuh Ruanindya semakin ringan jika dibandingkan dengan saat mereka dulu baru meninggalkan istana Kertalodra. Setelah pendekar tampan itu mengamati tubuh Ruanindya, ia baru menyadari kalau tubuh Sang putri semakin telihat kurus.


Setelah turun dari kuda, Ruanindya segera duduk di atas batu yang hanya setinggi lututnya. Gadis ayu itu hanya diam dan tidak banyak bicara seperti biasanya.


"Kau lapar?" Gantara berjongkok di hadapan Ruanindya sambil membawa buntalan kain perbekalan mereka. Sang panglima menengadahkan wajahnya memandang paras ayu sang putri yang saat ini nampak murung dan terlihat ada guratan kesedihan di mata beningnya.


Ruanindya hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Ia merasa tidak memiliki nafsu makan sama sekali saat ini.


Gantara menghela nafas, "Tapi kau tetap harus makan," pendekar tampan itu membuka buntalan kain perbekalannya lalu mengeluarkan buah-buahan yang ia temui dan ia petik selama dalam perjalan menembus hutan di mana mereka berada saat ini. Gantara mengambil sebuah pisang lalu mengupas setengah kulitnya dan menggenggamkan pisang itu pada tangan Ruanindya, "Makan lah."


Ruanindya tanpa berkata apa pun menuruti kata-kata Gantara dan memakan pisang yang kini berasa di genggaman tangannya.


Melihat Ruanindya memakan pisang yang ia berikan membuat Gantara mendesah lega. Pendekar tampan itu lalu mengambil Pancasona di punggungnya kemudian meletakan pedang itu di pangkuan Ruanindya. Gantara sudah mengisi pedang sakti itu dengan tenaga dalamnya dan Pancasona akan bisa mendeteksi bahaya yang akan mengancam Ruanindya dan melakukan serangan untuk melindungi sang putri.


"Aku akan mencari kayu bakar di depan gua. Kau tunggu lah di sini," setelah Ruanindya mengangguk sebagai jawaban, Gantara segera pergi keluar gua dan mencari ranting-ranting dan batang pohon kering untuk dijadikan kayu bakar karena malam akan segera datang menjelang.


Ketika Gantara pergi keluar gua dan meninggalkan Ruanindya sendirian, air mata dengan cepat jatuh bergulir di pipi putih Sang putri. Ia tengah merindukan Ayahanda dan Ibundanya, ditambah mimpinya kemarin di mana ia memimpikan Raja Arya Tirta Kusuma Winarang disiksa oleh Patih Gandatala menyebabkan hati Ruanindya sakit dan merasakan firasat buruk, membuat ia semakin merindukan kedua orang tuanya dan ingin segera kembali ke istana kerajaan Kertalodra.


Begitu mendengar langkah kaki memasuki gua, Ruanindya segera menyeka air matanya dan melanjutkan memakan pisang yang hanya baru setengah ia habiskan.


Hanya dengan sekali melihat wajah Ruanindya, Gantara tahu kalau sang putri raja baru saja menangis, namun ia tidak ingin menanyakan atau membahas perihal Ruanindya yang menangis. Gadis ayu itu menangis diam-diam saat ia pergi mencari kayu bakar itu artinya Ruanindya tidak ingin tangisnya dilihat atau diketahui olehnya, jadi untuk saat ini Gantara hanya akan diam dan menunggu Ruanindya untuk bicara padanya lebih dulu tentang hal yang membuatnya bersedih dan menangis.


Karena keadaan gua semakin gelap, Gantara segera menyusun kayu bakar dan membuat api unggun. Sang panglima juga tidak lupa untuk membuat penghalang tak kasat mata di mulut gua dengan ilmu kanuragannya.


Sementara Gantara membentangkan sebuah kain di atas tanah untuk alas mereka bermeditasi, Ruanindya meminum ramuan yang diberikan Ling Hua sampai habis karena ini malam terakhir dari proses rangkaian meditasi dan penyaluran tenaga dalam untuk penyembuhannya.

__ADS_1


Setelah semuanya siap, Gantara dan Ruanindya segera memulai meditasi mereka. Gantara dengan cepat menyalurkan tenaga dalamnya yang besar pada Ruanindya melalui telapak tangan mereka yang terhubung, energi alam mulai berputar dengan kuat di sekitar tubuh keduanya dan dengan perlahan terserap ke dalamnya.


Tubuh keduanya semakin panas dan bercucuran keringat terlebih tubuh Ruanindya.


"Akhh!" Setelah satu jam berlalu Ruanindya melepas telapak tangannya yang terhubung dengan telapak tangan Gantara. Gadis ayu itu berteriak keras lalu meringkuk memeluk tubuhnya sendiri dengan matanya yang terpejam erat, rasa sakit yang sangat amat mendera Ruanindya seolah beribu jarum menusuk tubuhnya dari luar hingga ke dalam tanpa ampun. Simpul terakhir yang membuat tenaga dalamnya kacau tengah terlepas dan memang akan menimbulkan rasa sakit yang sangat besar.


Gantara yang melihat Ruanindya kesakitan menjadi panik. Ia segera menarik tubuh Ruanindya ke dalam pelukannya, "Rua, buka matamu! Apa yang terjadi?!"


Ruanindya mengatupkan giginya, rahangnya mengeras, tubuhnya menggigil, keringat dingin mengalir, dan nafasnya memburu dengan cepat karena menahan rasa sakit yang mendera tubuhnya kemudian setelah satu menit kesakitan, ia memuntahkan seteguk darah berwarna hitam pekat.


Melihat Ruanindya memuntahkan darah berwarna hitam membuat Gantara semakin panik. Kalau saja nafas Ruanindya tidak terdengar kembali menjadi stabil, tubuh tegangnya perlahan rileks, dan gadis ayu itu membuka kedua matanya, bisa saja Gantara akan menjadi gila karena telalu panik dan memacu Beliung secepat mungkin membawa Ruanindya kembali ke rumah Ling Hua.


"Rua, Kau baik-baik saja?" Gantara menatap Ruanindya dengan tatapan khawatir, cemas, dan takut akan terjadi hal-hal buruk pada gadis ayu dalam pelukannya.


Melihat wajah panik Gantara membuat Ruanindya tersenyum. Ia mengulurkan tangannya untuk membelai pipi lelaki tampan di hadapannya, "Aku baik-baik saja. Bahkan sekarang aku merasa sangat sehat."


"Kau yakin?"


Ruanindya mengangguk, "Sangat yakin," setiap bermeditasi di mulai dari malam pertama ia memang merasakan sakit tetapi sakitnya tidak seberapa dan bisa ia tahan jadi Ruanindya tidak mengeluh pada Gantara. Akan tetapi tadi ia benar-benar merasa sangat kesakitan, namun setelah ia memuntahkan darah hitam itu sakitnya menghilang begitu saja dan ia merasa sehat bahkan Ruanindya merasa ada kekuatan mengalir dalam tubuhnya.


Gantara menghela nafas lega, "Syukurlah..." Gantara mendekap Ruanindya di dadanya yang bidang. Tadi ia benar-benar merasa sangat ketakutan, ia takut kehilangan Ruanindya. Dalam hidupnya Gantara tidak pernah merasa gentar apalagi sampai ketakutan bahkan saat menghadapi perang atau musuh yang kuat sekalipun, namun tadi untuk pertama kalinya Ruanindya berhasil membuat ia ketakutan setengah mati. Ruanindya selalu menjadi yang pertama dalam hidupnya, orang pertama yang merebut ciuman pertamanya dan orang pertama yang mengisi hatinya.


Ruanindya untuk sesaat memejamkan mata dan menikmati hangatnya dekapan Gantara, namun kemudian dengan tersipu malu ia menepuk dada bidang Gantara, "Lepaskan. Darahku mengotori pakaian dan tubuhmu."


"Ck ck ck. Kau berani mengatai seorang putri raja Kertalodra dengan sebutan bodoh? Sungguh lancang," Ruanindya menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Kau adik sepupuku," balas Gantara santai kemudian menggunakan kainĀ  basah di tangannya untuk menyeka darah di mulut dan tubuh Ruanindya.


Ruanindya menyeringai, "Mana ada kakak sepupu berciuman di bibir begitu intim dengan adik sepupunya sendiri."


Blush!


Menyadari kata-kata yang baru saja ia ucapkan membuat wajah Ruanindya memerah padam, ia tersipu malu karena ucapannya sendiri.


Mereka berdua masih duduk sangat dekat, bahkan dirinya masih berada dalam dekapan Gantara dan ia malah menyinggung soal berciuman? Bisa saja Gantara salah paham dan menganggap dirinya memberikan sebuah isyarat kalau ia menginginkan hal itu.


Gantara menatap Ruanindya dengan tatapan yang sulit diartikan, "Kau--"


"Ja-jangan salah paham! A-aku tidak menginginkannya," Ruanindya mengibas-ngibaskan tangannya. Wajah putihnya semakin memerah.


Gantara tersenyum miring, "Salah paham tentang apa? Kau terlalu banyak berpikir," pendekar tampan itu menyentil kening Ruanindya pelan, "Tidur lah. Kau butuh istirahat."

__ADS_1


Ruanindya mencebikan bibirnya sambil mengusap-usap keningnya lalu tanpa protes gadis ayu itu berbaring kemudian terlelap.


Melihat Ruanindya yang dengan cepat telah terlelap, sepertinya sang putri benar-benar kelelahan. Karena keadaan sudah kembali tenang Gantara kembali duduk bersila dan memejamkan mata lalu berkosentrasi.


'Guru...' Gantara memanggil Empu Indrayana dalam pikirannya. Sang panglima tengah mencoba melakukan telepati[1] dengan Gurunya, 'Guru, apa kau mendengarku?'


'Anak nakal, ada apa kau memanggilku?'


Terdengar suara familiar di dalam kepala Gantara. Ia telah berhasil melakukan telepati dengan Empu Indrayana.


'Guru, aku sedang dalam keadan yang tidak baik.'


'Apa yang terjadi?'


Gantara menceritakan apa yang telah terjadi pada Kerajaan Kertalodra, yang menyebabkan dirinya mendapat tugas untuk melindungi putri Ruanindya Galuh Winarang dalam pelarian.


'Sudah sejak lama aku menduga hal ini akan terjadi. Aku melihat ambisi dan keserakahan di mata Gandatala, bahkan ketika aku membuat Pancasona ia sempat memaksaku untuk memberikan Pancasona padanya. Lalu sekarang apa masalahnya?' Empu Indrayana menduga alasan Gantara melakukan telepati padanya bukan hanya karena ingin memberitahukan pemberontakan Patih Gandatala, pasti ada hal lain.


'Putri Ruanindya terlihat sangat kelelahan karena pelarian ini. Ia membutuhkan tempat tinggal sementara yang aman dan kuat menahan serangan para pendekar antek-antek Patih Gandala. Apakah Guru mempunyai saran?'


Senyap untuk sesaat, sepertinya Empu Indrayana tengah berpikir, 'Kau ingat adik seperguruanku Sokawati?'


'Iya, aku ingat Guru.'


'Pergilah ke padepokannya[2]. Sokawati pasti akan dengan senang hati menerima kedatanganmu karena ia menganggapmu sudah seperti anaknya sendiri. Sokawati dan murid-muridnya pasti juga akan melindungi putri.'


'Baiklah. Terima kasih banyak atas petunjuk Guru.'


'Jaga dirimu anak nakal.'


Setelah suara Empu Indrayana tidak terdengar lagi, Gantara segera membuka matanya dan menghela nafas lega.


Besok ia akan segera membawa Ruanindya ke padepokan Nyai Sokawati. Tempat itu kebetulan tidak terlalu jauh dari tempat mereka berada sekarang, sekitar dua hari perjalanan menunggang kuda. Dengan kecepatan Beliung, Gantara yakin mereka akan sampai di sana lebih cepat.


Gantara menatap wajah Ruanindya yang sedang terlelap lalu dengan lembut membelai rambut halus Sang putri yang sudah mengisi hatinya, "Bertahanlah..."


[1. Telepati adalah kemampuan untuk berkomunikasi atau saling menukarkan informasi dengan orang lain tanpa menggunakan indra. Dalam film-film populer, telepati digambarkan begitu fantastis.]


[2. Padepokan adalah tempat untuk menuntut ilmu. Dalam padepokan terjadi interaksi belajar mengajar antara Guru dan Murid.]


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa dukung author dengan cara vote, like, comment & follow. Thanks before.


__ADS_2