Runaway

Runaway
Chapter 28 - Memperkuat diri


__ADS_3

Chapter 28


Memperkuat diri


"Untung saja tidak sedang banyak pasien, dan semua pasienku hanya luka ringan atau tidak sakit parah, jadi begitu murid-murid padepokan datang menjemputku dan bilang kalau mereka adalah utusan Tuan Gantara, aku langsung bergegas untuk ikut dengan mereka. Aku senang akan bisa bertemu dengan Tuan Gantara dan nona Ruanindya, namun aku juga cemas sepanjang perjalanan karena mengkhawatirkan keadaan kalian berdua," ucap Ling Hua panjang lebar begitu bertemu dengan Gantara. Cara bicaranya tidak sekaku dan seformal ketika terakhir mereka bertemu. Tabib hebat itu rupanya sudah banyak belajar bahasa Nusantara, "Apa yang terjadi? Kalian terluka?"


Sementara Ling Hua berbicara, dari belakang tubuh tabib hebat itu Rasti hanya diam sambil memandangi wajah Gantara dengan malu-malu. Wajah tampan yang ingin ia lihat siang dan malam, lelaki yang selalu mengisi mimpi-mimpinya dan orang yang membuatnya merasakan rindu menyesakan setengah mati.


"Tiga hari lalu telah terjadi serangan di sini, dan sepertinya Rua terkena bius musuh," Gantara menjelaskan situasinya secara singkat.


Ling Hua mengamati Ruanindya yang memejamkan mata dan terbaring di atas ranjang kayu tidak jauh dari tempatnya berdiri, "Nona Rua masih belum sadarkan diri?"


Gantara menggeleng, "Tidak, semalam ia sudah sadarkan diri setelah dua hari pingsan. Ia hanya masih tidur. Biar aku bangunkan dulu supaya tabib bisa segera memeriksa kondisinya," Gantara duduk di tepi ranjang di samping Ruanindya lalu dengan lembut membelai lengannya, "Rua, bangun..."


Melihat Gantara yang memperlakukan Ruanindya begitu lembut membuat Rasti menundukan kepalanya dan lebih memilih menatap lantai kayu tempatnya berpijak. Ia merasa iri, namun sama sekali tidak merasa dengki.


Merasakan sentuhan lembut di lengannya dan mendengar suara Gantara membuat Ruanindya terbangun dan membuka matanya perlahan, "Sebentar lagi... aku masih mengantuk," gumam Ruanindya. Sebelum mata indah itu terbuka sepenuhnya, Sang Putri kembali memejamkan matanya.


Mendapati tingkah Ruanindya yang seperti itu membuat Gantara tersenyum. Kalau saja saat ini hanya ada mereka berdua --dirinya dan Ruanindya-- di dalam kamar, mungkin Gantara akan menciumi seluruh permukaan wajah ayu kekasihnya dengan gemas, "Tapi kau harus bangun, ada yang harus kau temui."


"Hmm?" Ruanindya membuka setengah kelopak matanya yang masih terasa berat karena kantuk untuk menatap Gantara dengan malas, "Siapa?"


"Mereka," Gantara mengalihkan pandangannya untuk menatap Ling Hua dan Rasti yang berdiri tidak jauh dari ranjang dimana Ruanindya terbaring.


Ruanindya dengan kelopak mata yang masih setengah terbuka dan setengah tertutup mengikuti arah pandang Gantara, seketika itu mata Sang Putri langsung terbuka lebar dengan binar bahagia, "Tabib Ling Hua! Rasti!" serunya sambil meminta Gantara membantunya untuk duduk dan bersandar dikepala ranjang.


"Senang bertemu dengan anda lagi nona Rua," Ling Hua tersenyum sambil meremas kepalan tangannya di depan dada untuk memberikan salam penghormatan ala negerinya.


"Aku juga senang bertemu dengan kalian lagi," mengabaikan rasa lemas ditubuhnya, Ruanindya berkata dengan antusias, lalu dari Ling Hua pandangannya beralih pada Rasti yang hanya diam sambil tersenyum, "Rasti, kemarilah."


Rasti mengangguk sebagai jawaban, dan ketika gadis mungil itu mendekat kearah ranjang, Gantara beranjak memberikan ruang padanya. Rasti duduk ditepi ranjang di samping Ruanindya, tepat dimana sebelumnya Gantara duduk.


Begitu Rasti sudah ada di hadapannya, Ruanindya memaksakan tubuhnya yang lemas untuk bergerak dan memeluk Rasti dengan gemas, "Akhirnya kita bisa bertemu lagi adinda Rasti," Ruanindya adalah anak tunggal, sering kali ia merasa sangat kesepian apalagi dengan posisinya sebagai Putri tunggal raja yang dijaga dengan ketat, itu memperparah rasa kesepiannya karena bahkan anak pejabat kerajaan pun sungkan berteman dengannya dan hanya Gayatri yang sesekali bermain dengannya. Ia selalu memimpikan dan menginginkan hadirnya seorang adik untuk menemani hari-harinya di istana, bermain bersama, bersenang-senang bersama, dan tempat saling berbagi cerita. Dan dalam sosok Rasti lah, Ruanindya merasakan dirinya menjadi seorang kakak, maka dari itu ia menganggap gadis mungil itu sebagai adiknya sendiri.


Mendapat sebuah pelukan hangat dari Ruanindya dan panggilan 'adinda' membuat Rasti tersipu malu, hingga wajahnya memerah semerah tomat, "Senang bertemu denganmu lagi nona Rua," mata gadis mungil itu kemudian berkaca-kaca karena haru sambil membalas pelukan Ruanindya.


Kedua gadis itu --Ruanindya dan Rasti-- memang terlihat sangat berbeda secara fisik, kalau Ruanindya memiliki wajah ayu dan kulit yang putih, sedangkan Rasti memiliki wajah yang manis dan kulit sawo matang (cokelat) yang bersih, namun keduanya sama-sama memiliki tubuh ramping. Jikalau disandingkan dari pesonanya, Ruanindya dan Rasti pantas menjadi kakak beradik terlepas dari status dan asal-usul keduanya yang jauh berbeda.


Setelah keempat orang itu melepas rindu dan sedikit berbincang sampai Ruanindya tahu kalau alasan Ling Hua dan Rasti berada disini saat ini adalah atas permintaan Gantara, akhirnya tiba saatnya Ling Hua memeriksa kondisi Ruanindya. Ling Hua memegang pergelangan tangan Sang Putri dan merasakan denyut nadinya yang normal, "Apa yang nona rasakan sekarang?"

__ADS_1


"Hanya lemas dan pusing."


Ling Hua mengangguk, "Nona tidak apa-apa, hanya saja pengaruh biusnya belum sepenuhnya hilang jadi itu membuat nona Rua masih merasakan pusing dan lemas. Nona harus banyak beristirahat dan aku hanya akan memberikan ramuan untuk menambah energi."


"Terima kasih tabib," Ruanindya merasa lega mengetahui kondisinya baik-baik saja terlebih Gantara, wajah tampannya terlihat lebih tenang dan terdengar helaan nafas lega lolos dari Sang Panglima.


Ling Hua mengangguk sebagai jawaban lalu mengatakan pada Rasti tanaman herbal apa saja yang dijadikan resep membuat ramuan untuk Ruanindya, setelahnya pandangan tabib hebat itu beralih pada Gantara. Ling Hua menyadari wajah Gantara sedikit pucat, "Sepertinya Tuan Gantara juga perlu aku periksa."


Gantara yang memang sedikit mengalami luka dalam akibat racun yang pernah masuk ketubuhnya ditambah dua hari ini ia hanya sedikit tidur karena terus menjaga Ruanindya yang tidak sadarkan diri membuat kondisinya sedikit menurun. Ia harus tetap kuat untuk bisa menjaga Ruanindya dengan baik jadi Sang Panglima mengangguk setuju dan mengulurkan pergelangan tangannya pada sang tabib.


"Anda terluka dalam," ucap Ling Hua setelah memeriksa kondisi Gantara, "Apakah anda bisa menceritakan penyebabnya?"


Mendengar kata-kata Ling Hua membuat Ruanindya membelalakan matanya menatap Gantara, "Apa? Kau terluka? Kau bohong padaku! Kau bilang bahwa kau baik-baik saja. pembohong!" ucap gadis ayu itu dengan jengkel karena merasa cemas karena baru mengetahui kalau ternyata Gantara terluka dan Sang Panglima malah berbohong padanya tentang kondisi yang sesungguhnya.


"Maafkan aku Rua. Aku hanya tidak ingin membuatmu khawatir karena kondisimu sendiri sedang tidak baik," ucap Gantara penuh penyesalan. Ruanindya hanya merespon dengan melipat tangannya di depan dada dan memalingkah wajahnya, merajuk. Gantara hanya bisa menghela nafas.


Kembali menatap Ling Hua, Gantara tentu saja harus menjelaskan penyebabnya, "Aku sempat terkena racun yang kuhirup dari serangan lawan. Racunnya sudah aku keluarkan, namun dadaku masih terasa sedikit sakit."


Ling Hua mengangguk mengerti, "Itu diibaratkan seperti luka tusukan pedang, sekalipun pedangnya sudah dicabut tetap saja meninggalkan lubang. Aku akan memberi anda penawar racun."


"Terima kasih tabib. Jika tabib tidak keberatan, bisakah tabib juga memeriksa murid padepokan lainnya yang terluka setelah tabib dan Rasti beristirahat?"


Ling Hua dan Rasti adalah orang yang baik, mereka sudah menolong banyak dan melibatkan diri sejauh ini, jadi Gantara merasa harus memberitahu keduanya tentang yang terjadi sebenarnya.


Gantara akhirnya menceritakan semuanya pada Ling Hua dan Rasti tentang siapa dirinya dan Ruanindya, tentang yang sedang terjadi pada Kerajaan Kertalodra dan sang pemberontkan Patih Gandatala hingga menyebabkan Ruanindya dan dirinya harus pergi dalam pelarian di bawah kejaran antek-antek Patih Gandatala.


Mengetahui siapa sebenarnya Ruanindya membuat Ling Hua dan Rasti segera bersimpuh dengan hormat di atas lantai kayu, "Maafkan atas kelancangan hamba selama ini Tuan Putri," Ling Hua memang bukan rakyat Kertalodra, namun ia tahu bagaimana menghormati seorang Putri raja.


Rasti menunduk dalam, sudah sejak awal ia merasa kalau Ruanindya dan Gantara bukan orang biasa dan hari ini terbukti. Dirinya yang hanya rakyat jelata sama sekali tidak bisa jika dibandingkan dengan keduanya.


Wajah Ruanindya menjadi muram melihat kedua orang yang sudah ia anggap seperti keluarganya sendiri harus berlutut di hadapannya, "Tidak. Tidak. Kumohon berdirilah. Aku ingin kalian bersikap seperti biasa, seperti sebelumnya."


"Hamba tidak berani Tuan Putri," Rasti menunduk semakin dalam.


Ruanindya merasa geram, orang yang ia inginkan untuk menghormatinya sebagai Putri raja seperti Patih Gandatala malah melecehkannya, sedangkan orang-orang yang ia harapkan untuk memperlakukannya sebagai teman dan keluarga malah berlutut hormat padanya, "Aku memaksa," intonasinya datar, namun Ruanindya berkata dengan suara yang tegas dan dalam.


Akhirnya mau tidak mau Ling Hua dan Rasti menuruti keinginan Sang Putri, namun kini mereka tahu batasan dan harus mawas diri.


Seperti yang sudah direncanakan, setelah Ling Hua dan Rasti cukup beristirahat mereka segera memeriksa dan mengobati murid-murid padepokan yang terluka termasuk Antasena, yang sebenarnya terluka karena pukulan Ruanindya.

__ADS_1


Satu minggu akhirnya telah berlalu setelah kejadian penyerbuan antek-antek Patih Gandatala, murid-murid yang terluka ringan telah pulih sepenuhnya sedangkan yang terluka parah berangsur-angsur membaik berkat perawatan dan pengobatan Ling Hua dan Rasti.


Nyai Sokawati bersyukur tidak ada korban jiwa dari pihak mereka dalam peristiwa penyerbuan di padepokannya.


Saat ini lapangan yang digunakan untuk area berlatih sudah sangat ramai oleh murid-murid yang sedang berlatih untuk memperkuat diri mereka termasuk Ruanindya dan Gantara juga ada di sana. Gantara mempraktekan ilmu-ilmu yang sudah Ruanindya serap darinya dan setelahnya Sang Putri melakukan apa yang sudah Sang Panglima contohkan.


Setelah berlatih sebentar, Antasena duduk di tepi lapangan. Ia menyeka peluh di keningnya, namun matanya tetap tertuju pada Ruanindya yang tengah berlatih.


Rasti duduk di samping Antasena lalu menyodorkan sebuah cangkir bambu berisi ramuan obat, "Obat Tuan."


Antasena menatap cangkir bambu di hadapannya lalu menoleh pada Rasti di sampingnya sebelum mengambil cangkir bambu yang disodorkan gadis manis itu, "Terima kasih," setelahnya Antasena langsung menenggak ramuan itu hingga tandas, "Rasti, boleh aku bertanya?"


Rasti hanya bergumam, "Hmm?" dan mengangguk sebagai jawaban.


"Apa kau sudah cukup lama mengenal Tuan Putri?" Antasena kini kembali menatap Ruanindya yang kini tengah terlihat sedang berbincang dengan Gantara.


"Tidak cukup lama."


"Bagaimana kau bisa mengenalnya? Apa tabib Ling Hua adalah tabib kerajaan?"


Rasti menggeleng, "Bukan. Tabib Ling Hua bukan tabib kerajaan. Aku bisa mengenal Putri dan Panglima Gantara karena mereka dulu pernah singgah beberapa hari di kediaman tabib Ling Hua."


"Apa kau tahu hubungan seperti apa yang ada diantara Putri dan Panglima Gantara? Hubungan mereka terlihat lebih dari pada hanya sekedar hubungan Tuan dan hambanya."


Benar dugaan Rasti, kalau Antasena menaruh perhatian lebih pada Putri Ruanindya. Ia tidak cukup bodoh untuk tidak menyadari tatapan Antasena pada Ruanindya, tatapan yang hampir sama dengan caranya menatap Gantara, "Lebih dari yang Tuan bayangkan."


Antasena mengalihkan pandangannya, menatap gadis manis di sampingnya, "Maksudmu?"


"Tuan menyukai Putri Ruanindya bukan? Aku menyarankan lebih baik Tuan tidak mengganggu hubungan mereka," Rasti memalingkan wajahnya untuk menatap Gantara, "Mereka tidak akan terpisahkan, bagai malam dan rembulan."


Antasena tercengang, gadis manis yang terlihat lugu itu ternyata sangat pintar membaca dan mengetahui keadaan. Dari pada itu ia juga menyadari tatapan Rasti, tatapan mendamba dan rasa kagum seperti tatapan miliknya untuk Ruanindya "Kau... kau juga jatuh hati pada Panglima Gantara?"


Rasti kembali menatap Antasena, gadis manis itu terdiam cukup lama tanpa berkata apa pun. Ia tengah menimbang apakah akan mengatakan perasaannya yang sebenarnya pada Antasena atau tidak, namun akhirnya Rasti mengangguk. Rasti merasa tidak akan apa-apa memberitahukan perasaannya pada Antasena, pendekar itu tidak akan mencemooh rasa sukanya pada Sang Panglima karena Antasena sendiri menyukai Sang Putri.


Antasena merasa heran pada dirinya sendiri, biasanya ia tidak akan perduli dengan perasaan orang lain, namun kali ini ia merasa sangat penasaran. Dirinya berpikir itu mungkin disebabkan karena hal ini menyangkut tentang Putri Ruanindya, orang yang telah membuatnya jatuh hati.


Rasti beranjak dari duduknya dan berdiri, lalu menepuk bagian celananya yang tertempeli rumput, "Bagaimanapun sekarang aku sudah tidak berniat untuk mendapatkannya apalagi untuk memisahkan mereka berdua. Sampai kapan pun aku tidak akan mampu dan sekarang aku sudah tidak mau. Mereka terlalu baik. Lebih baik Tuan juga begitu."


Antasena merenungkan kata-kata Rasti. Ketika gadis manis itu akan melangkah pergi, Antasena memegang pergelangan tangannya, "Cukup panggil aku kakang."

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2