Runaway

Runaway
Chapter 26 - Penyerbuan part 2


__ADS_3

Chapter 26


Penyerbuan part 2


Karena konsentrasi Gantara terbagi antara mengejar penyusup yang menculik Ruanindya dan juga harus menghadapi dua penyusup lain yang terus menyerangnya, akhirnya salah satu dari mereka berhasil menendang Gantara dan mengenai perut sisi kiri Sang Panglima. Andai saja Gantara tidak cukup kuat menerima tendangan itu dan menjaga keseimbangannya sendiri, mungkin saja kini ia sudah tersungkur di tanah.


Gantara dengan kesal mengerahkan tenaga dalamnya untuk menerbangkan Pancasona. Pedang sakti itu dengan cepat melesat dan menusuk perut salah satu penyusup. Melihat pedang lawan terbang dan menusuk perut rekannya, perhatian salah satu penyusup lainnya teralihkan dan Gantara menggunakan kesempatan itu untuk melancarkan pukulan telapak naga (pukulan yang Ruanindya gunakan untuk memukul Antasena). Gantara mengalirkan tenaga dalam dengan pekat pada telapak tangannya lalu ia pukulkan pada dada kiri si penyusup, tepat mengenai jantungnya.


Si penyusup yang terkena pukulan telapak naga memuntahkan beberapa teguk darah kemudian jatuh berguling di atas atap hingga menghempas tanah dengan keras, setelahnya pendekar antek Patih Gandatala itu meregang nyawa karena jantungnya berhenti berdetak seketika.


Nasib penyusup lainnya juga tidak kalah buruk. Kini pendekar itu terkapar di atas atap, mengerang kesakitan sambil memegangi lubang di perutnya yang terus mengeluarkan banyak darah.


Pancasona yang sudah sangat berlumuran darah kini sudah kembali berada dalam genggaman tangan Gantara. Meninggalkan dua lawannya yang sudah ia kalahkan, Gantara kini bisa fokus mengejar orang yang telah menculik Ruanindya.


Penyusup itu sudah cukup jauh membawa Ruanindya pergi, dalam jarak yang hampir tidak terlihat lagi. Namun kali ini Gantara tidak lagi memiliki penghalang untuk mengejar pendekar yang membawa Ruanindya, jadi ia bisa mengejarnya dengan kecepatan tinggi seolah penglima Kertalodra itu berlari di atas angin.


Setelah jaraknya dan pendekar yang menculik Ruanindya sudah cukup dekat, Gantara melompat melewati si penyusup dan mendarat di hadapan antek Patih Gandatala itu untuk menghadangnya.


Si penyusup menghentikan langkahnya dan bersikap waspada.


Gantara menatap tajam pendekar di hadapannya dan berkata dengan dingin, "Kisanak, serahkan orang yang sedang kau bawa itu padaku sekarang!"


"Siapa kau seenaknya memerintahku?!" si penyusup menatap Gantara dengan tatapan menantang lalu menurunkan Ruanindya dan membaringkannya di atas atap, "Lagipula ia akan lebih berguna untukku."


Gantara mengerutkan keningnya, "Apa maksudmu? Kau tidak akan membunuhnya?"

__ADS_1


"Membunuhnya? Yang benar saja? Kalau aku ingin membunuhnya, aku tidak perlu repot-repot menculiknya. Lagipula aku tidak akan melakukan tidakan bodoh seperti itu," si penyusup menunjuk Ruanindya yang masih terbaring tidak sadarkan diri dengan dagunya, terlihat jelas tidak ada sedikit pun rasa hormat pada Sang Putri, "Kalau aku berhasil membawanya dalam keadaan hidup-hidup pada Patih Gandatala, aku akan mendapatkan bayaran yang sangat besar," pendekar utusan Patih Gandatala itu tertawa dengan congkaknya.


Perkataan si penyusup ada benarnya, kalau antek Patih Gandatala itu bermaksud membunuh Ruanindya tentunya ia tidak perlu repot-repot menculik Sang Putri. Karena terlalu panik dan khawatir pada keadaan Ruanindya, Sang Panglima sampai tidak terpikirkan akan hal itu. Di samping itu, Gantara tidak mengerti untuk apa Patih Gandatala menginginkan Ruanindya hidup-hidup? Bukankah akan lebih mudah merebut kedudukan sebagai raja kalau sang pewaris takhta dibunuh? Gantara tidak bisa untuk tidak curiga dan bertanya-tanya.


Menyadari Gantara yang terlihat bingung membuat si penyusup kembali tertawa, "Kau pasti sedang berpikir kenapa Patih Gandatala menginginkan Sang Putri hidup-hidup bukan?" si penyusup menyeringai, "Kuberi kau sedikit bocoran. Aku dengar Patih Gandatala menginginkan Putri Ruanindya untuk menjadi 'tawanan' di kamarnya hahaha... aku pikir patih Gandatala sudah gila karena harus bersusah payah menangkap Sang Putri hidup-hidup. Namun aku mengerti sekarang kenapa Patih Gandatala menginginkan Sang Putri dalam keadaan hidup, ia adalah gadis yang ayu, putih dan wangi. Sangat menggiurkan," si penyusup menjilat bibirnya sendiri dengan menjijikan sambil melirik pada Ruanindya, mencoba memprovokasi Gantara.


Begitulah kebanyakan sifat orang-orang jahat, selalu membual sangat banyak, mengatakan apa pun untuk membanggkan dirinya sendiri. Tanpa si penyusup sadari, itu malah memberikan keuntungan untuk Gantara karena ia tidak perlu bersusah payah memaksa dan membuatnya buka mulut untuk mengatakan apa rencana Patih Gandatala.


Mengetahui alasan Patih Gandatala menginginkan Ruanindya membuat emosi Gantara meledak, "Kurang ajar!" Sang Panglima menggeram marah, namun ia berusaha untuk tetap tenang dalam menghadapi lawannya.


Gantara memasang kuda-kuda lalu menggenggam Pancasona dengan mantap. Tangan kirinya terulur ke depan dan jari jemarinya bergerak membuat gestur memanggil untuk menantang dan balas memprovokasi lawannya, "Kau bisa membawa tuan putri pergi, itu terjadi kalau kau bisa mengalahkanku," Gantara sekilas melirik Ruanindya yang masih terbaring tak sadarkan diri, jelas itu bukan pengaruh totokan, jadi Gantara merasa harus bersikap waspada pada lawan yang sepertinya mempunyai senjata rahasia.


"Cih! Sombong! Akan kupenggal kepalamu!" si penyusup langsung naik pitam karena merasa disepelekan oleh lawannya.


Gantara tersenyum miring, kini keadaan berbalik, ia telah berhasil memprovokasi si penyusup. Kalau seorang pendekar sudah tertelan oleh kemarahannya sendiri, sehebat apa pun ilmu silat atau ilmu kanuragannya, pendekar itu akan lebih mudah dikalahkan karena sudah tidak bisa berpikir jernih tentang langkah yang akan ia ambil dalam menghadapi lawan sehingga banyak celah untuk mengalahkannya.


Mendapati serangannya berhasil ditahan, si penyusup melompat mundur beberapa langkah mewaspadai kalau-kalau Gantara akan melakukan serangan balasan.


Setelah keduanya --Gantara dan si penyusup-- terdiam beberapa saat untuk saling mengawasi gerak-gerik lawan. Akhirnya, keduanya melompat bersamaan dan bertemu dititik tengah dan adu pedang pun tak dapat dihindarkan.


Setelah beberapa jurus saling serang, pendekar antek Patih Gandatala mulai terlihat lelah, kecepatan bergeraknya menurun begitu pula dengan kekuatan serangannya.


Gantara mengalirkan tenaga dalamnya pada Pancasona lalu...


Trang!!!

__ADS_1


Dengan mudah Pancasona berhasil memotong pedang lawan menjadi dua.


"Sial!" umpat si penyusup dengan kesal mendapati bilah pedangnya tak lagi utuh. Sekarang mau tak mau ia harus menggunakan senjata rahasianya. Kalau saja ia tahu orang yang dihadapi sehebat ini, maka sudah sejak awal ia menggunakan senjata rahasia miliknya.


Si penyusup membaca arah angin, lalu berlari menjauh kemana arah angin berhembus. Gantara pun dengan sigap mengejar. Tentu saja si penyusup merasa senang karena itu memang keinginannya. Maksud sesungguhnya ia berlari menjauh memang bukan untuk kabur dari Gantara melainkan demi membuat jarak dimana Ruanindya tengah terbaring tak sadarkan diri. Senjata rahasianya memang ampuh untuk membunuh musuh bahkan yang terkuat sekalipun, namun juga memiliki kelemahan fatal, ia tidak bisa mengontrol sepenuhnya asap beracun miliknya. Ia tidak mau ketika ia melepaskan asap beracun untuk Gantara dalam jarak dekat dengan tempat Ruanindya terbaring, bisa saja angin membawa asap beracun itu dan tanpa sengaja Sang Putri juga ikut menghirupnya. Kalau Ruanindya mati maka ia akan kehilangan bayaran besar yang akan ia dapat dari Patih Gandatala dan semua hal merepotkan ini akan sia-sia.


Si penyusup yang awalnya berlari kemudian berhenti tiba-tiba dan menyerang Gantara dengan mata pedangnya yang hanya tinggal separuh. Gantara menangkisnya serangannya dengan Pancasona. Menggunakan kesempatan saat jaraknya dengan lawan cukup dekat, si penyusup akhirnya melepaskan asap beracun ke arah wajah Gantara. Kali ini benar-benar asap beracun untuk membunuh, berbeda dengan yang ia gunakan pada Ruanindya.


Gantara yang sejak awal sudah selalu waspada dengan senjata rahasia lawannya segera menahan nafas dan melompat mundur menjauh, dan saat ia melompat, Sang Panglima menerbangkan Pancasona. Pedang sakti itu melesat dengan cepat dan menusuk leher si penyusup dengan telak tanpa sempat menghindar. Si penyusup yang fokusnya tetuju pada serangannya pada Gantara tidak menyangka kalau lawannya akan melepaskan serangan balasan disaat genting seperti itu.


Pendekar lawan Gantara jatuh berlutut, tubuhnya bergetar hebat karena rasa sakit yang menggerogotinya hingga akhirnya nafas terakhirnya berhembus di kerongkongannya yang sudah berlubang.


"Uhuk!" Gantara memuntahkan seteguk darah karena pengaruh asap beracun mematikan yang sempat ia hirup walau hanya sedikit. Pendekar tampan itu langsung duduk bersila lalu berkosentrasi menggunakan tenaga dalamnya untuk mendorong racun keluar dari tubuhnya, "uhuk!" sekali lagi Gantara memuntahkan seteguk darah berwarna hitam pekat, racunnya sudah berhasil ia keluarkan.


Sambil memegang dadanya yang sakit, Gantara mengamati si penyusup yang sudah tidak bernyawa. Gantara yakin bahwa pendekar ini dan komplotannya adalah orang-orang yang pernah ia lihat di dalam penglihatan yang dirinya dapat ketika bermeditasi di dalam gua. Pendekar-pendekar itu yang seharusnya ia hadapi di rumah Ling Hua. Mereka memang sudah ditakdirkan bertemu dan saling bertarung, sekali pun terjadi di tempat berbeda tapi setidaknya Rasti tidak harus terbunuh.


Gantara berdiri dari duduknya lalu melihat sekeliling. Padepokan benar-benar sedang dalam keadaan kacau, di sana-sini terjadi pertarungan. Rupanya para penyusup datang dalam jumlah cukup banyak sekitar tiga puluh orang, bahkan mereka merekrut pendekar berilmu rendah hanya untuk membuat keributan dan mengalihkan perhatian para penjaga padepokan yang sudah dibentuk bahkan murid-murid padepokan lainnya, sehingga maksud mereka untuk menculik Ruanindya menjadi lebih mudah, dan memang rencana mereka hampir berhasil kalau saja Gantara tidak berhasil menghentikan ulah si penyusup yang menculik Sang Putri.


"Kakang!" Layung Sari dengan tergesa berlari kearah Gantara dengan pedang yang sudah dikeluarkan dari sarungnya untuk berjaga-jaga dari serangan musuh, "Kau tidak apa-apa?" tanyanya dengan cemas begitu melihat darah di mulut Gantara. Layung Sari baru saja kembali dari desa, ia mengunjungi penjahit langganannya untuk memesan pakaian yang indah agar dirinya terlihat semakin mempesona di mata Gantara. Namun ketika ia kembali ke padepokan, Layung Sari merasa sangat kaget dengan keadaan padepokan yang penuh dengan huru-hara dan pertarungan jadi ia segera mencari Gantara dan Ruanindya, namun ketika sampai di kamar Sang Putri, ia hanya bertemu dengan Antasena --yang masih berwajah pucat karena menahan sakit akibat pukulan Ruanindya tempo hari-- yang saat itu sedang memeriksa dua mayat penyusup. Akhirnya Layung Sari dan Antasena memutuskan untuk berpencar mencari Gantara dan Ruanindya.


Gantara menyeka darah di mulutnya, "Aku tidak apa-apa," mengabaikan rasa sakit di dadanya, pendekar tampan itu berjalan menghampiri Ruanindya yang masih terbaring tak sadarkan diri.


Layung Sari yang baru menyadari keberadaan dan keadaan Ruanindya memekik kaget, "Astaga! Apa yang terjadi dengan tuan putri?" gadis cantik itu segera menyarungkan kembali pedangnya dan mendekat pada Ruanindya. Berjongkok di samping Ruanindya dan menaruh dua jemarinya di depan lubang hidung Sang Putri, "ah, syukurlah... tuan putri masih bernafas," Layung Sari menghela nafas lega. Kalau saja Ruanindya sampai meninggal itu artinya tugas mulia yang padepokannya emban telah gagal karena tidak dapat melindungi keselamatan Sang Putri.


Gantara mengangguk lalu membopong Ruanindya pada kedua lengan kekarnya, "Putri sepertinya hanya terkena bius hingga tak sadarkan diri."

__ADS_1


"Kamar Putri Ruanindya telah rusak dan ada dua mayat di sana dengan banyak noda darah. Lebih baik sekarang Kakang bawa tuan putri ke rumahku, ada satu kamar kosong yang cukup besar untuk tuan putri tempati. Di sana juga akan lebih aman," setelah Gantara mengangguk setuju, Layung Sari segera memimpin jalan menuju rumahnya yang tentunya masih berada dalam kawasan padepokan.


Bersambung...


__ADS_2