Runaway

Runaway
Chapter 30 - Kekuatan untuk Sang Putri


__ADS_3

Chapter 30


Kekuatan untuk Sang Putri


Perlahan namun pasti, lima saudara seperguruan yang diundang oleh Nyai Sokawati mulai berdatangan satu per satu membawa serta rombongan yang berisi murid-muridnya yang paling hebat dan tangguh.


Nyai Sokawati merasa senang karena semua saudara seperguruannya dengan keinginan penuh bersedia membentuk kekuatan bersamanya untuk mendukung Sang Putri kembali merebut takhta raja dari Patih Gandatala serta antek-anteknya.


Lima saudara seperguruan Nyai Sokawati itu adalah Empu Abimana, Ki Jayagiri, Ki Manikta, Nyai Sulastri, dan Nyai Sawindu. Mereka semua juga tentunya adalah saudara seperguruan Empu Indrayana, Empu Indrayana adalah kakak tertua di perguruan. Ketika Gantara masih kecil, Empu Indrayana pergi berkeliling membawa muridnya itu untuk menemui semua adik seperguruannya dan meminta mereka mengajarkan satu jurusnya kepada Gantara, dan tentu saja saudara seperguruan Empu Indrayana dengan senang hati mengajari Gantara kecil. Itulah sebabnya Sang Panglima sudah mengenal mereka semua, begitu juga sebaliknya.


Padepokan terasa semakin penuh dan ramai oleh gabungan dari lima murid padepokan yang sedang melakukan latihan bersama.


Gantara tengah membahas kekuatan lawan dari apa yang ia tahu dan dari informasi-informasi yang Sang Panglima peroleh dengan para ketua dari kelompok-kelompok murid yang sudah dibentuk, saat Nyai Sokawati mengutus seorang murid padepokan untuk memanggilnya dan meminta Gantara datang ke kediamannya.


Gantara menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada lalu menundukan kepalanya sebentar untuk memberikan salam hormat pada Nyai Sokawati begitu Gantara sampai di hadapan sang pemimpin padepokan "Ada gerangan apakah Nyai memanggilku?"


"Gantara, orang-orang ini ingin bertemu denganmu," Nyai Sokawati menunjuk enam orang yang duduk di ruangan itu bersamanya.


Gantara memandangi mereka satu per satu, dan tidak ada satu pun orang yang ia kenal, "Kisanak sekalian ini siapa? Dan ada perlu apa mencariku?"


"Salam Panglima," seorang pendekar dengan kumis tipis menghiasi wajah tampannya menyatukan telapak tangannya di depan dada untuk memberi salam penghormatan pada Gantara. Ia adalah salah satu dari enam orang yang mencari Sang Panglima, "Kami adalah perwakilan dari para pendekar yang menentang kekuasaan Patih Gandatala. Dan namaku adalah Adiyaksa, ketua dari perkumpulan para pendekar yang akan memberi dukungan penuh pada Putri Ruanindya dan Panglima Gantara untuk kembali merebut kekuasaan dari Patih Gandatala," Pendekar bernama Adiyaksa itu memperkenalkan diri dan menjelaskan maksud kedatangannya dengan gamblang.


Mendengar penuturan Adiyaksa, sehingga mengetahui maksud kedatangan mereka mencarinya membuat Gantara merasa senang. Dengan kedatangan mereka, itu artinya kekuatan untuk Sang Putri semakin bertambah besar, "Jadi ada perkumpulan para pendekar? Lalu dari mana kalian tahu keberadanku di sini?"


"Iya. Perkumpulan ini segera terbentuk setelah kami mengetahui bahwa Patih Gantarala telah melakukan pemberontakan dan berhasil merebut takhta raja dari Gusti Prabu Arya Tirta Kusuma Winarang. Setelahnya kami tahu bahwa Putri Ruanindya selamat dalam pelarian bersama Panglima Gantara. Semenjak itu kami terus mencari keberadaan Putri dan Panglima, karena Putri dan Panglima Gantara adalah titik kekuatan terbesar untuk kami dalam melawan kekuasaan Patih Gandatala," Adiyaksa menatap pada teman-teman pendekarnya satu persatu, "Kami sempat kesulitan mencari Putri dan Panglima karena kalian terus berpindah, namun suatu hari kami mendengar padepokan Nyai Sokawati telah di serang para antek-antek Patih Gandatala yang mencari tuan Putri. Kami kemari untuk memastikan, dan ternyata benar tuan Putri berada di sini."


Gantara mengangguk mengerti, "Lalu bagaimana keadaan wilayah di sekitar istana?"


"Patih Gandatala menaikan jumlah pajak hingga membuat rakyat semakin menderita. Dan yang lebih parahnya lagi adalah mereka tidak segan-segan menghukum mati bagi siapa pun yang berani menentang kekuasaan Patih Gandatala sebagai seorang raja baru Kertalodra, lalu mempertontonkan mayatnya di depan istana."


"Biadab!" Gantara mengepalkan tangannya kuat-kuat dan rahangnya mengeras seiring emosinya yang meletup, "Kertalodra akan benar-benar hancur kalau lebih lama berada di bawah kekuasaan Patih pengkhianat itu! Lalu bagaimana keadaan di dalam istana? Apa Kisanak tahu?"


Wajah Adiyaksa menjadi muram, ia sangat tahu apa yang akan disampaikannya akan membuat Sang Panglima semakin murka, "Dari yang aku dengar, Patih Gandatala telah memenjarakan Gusti Prabu Arya Tirta Kusuma Winarang di penjara bawah tanah. Permainsuri Dewi Ayu Galuh Ningtyas beserta seluruh abdi yang menentang Patih Gandatala juga telah dimasukan ke dalam penjara."


Mata Gantara memerah karena amarah, "Jaha--"


"Apa yang baru saja kau katakan? Ayahanda raja... Ibunda..."

__ADS_1


Gantara begitu pula Nyai Sokawati dan keenam pendekar yang ada di sana mengalihkan pandangan mereka bersamaan kearah sumber suara. Mereka melihat Ruanindya berdiri di ambang pintu dengan wajah pucat dan mata terbelalak yang sudah digenangi lapisan air mata.


Ruanindya seolah kehilangan kekuatan kakinya untuk berdiri, Sang Putri merosot dan jatuh terduduk. Nafas Ruanindya memburu cepat, pandangan matanya terlihat kosong dan gamang, kesedihan tergambar jelas di wajah Sang Putri. Air mata tanpa diminta mengalir deras di pipi putihnya karena memikirkan nasib kedua orang tuanya yang menjadi pesakitan di dalam penjara.


"Putri!" Gantara panik dan cemas melihat keadaan kekasihnya yang mendengar kabar buruk tentang kedua orang tuanya. Pendekar tampan itu segera beranjak menuju Ruanindya dan membantunya berdiri lalu memapah Sang Putri yang tengah kalut, "Kisanak, aku undur diri dulu," setelah berpamitan pada tamunya Gantara segera membawa Ruanindya ke dalam kamar, sementara para pendekar dan Nyai Sokawati hanya bisa memandang cemas pada Sang Putri.


Gantara kini berbaring di atas ranjang sambil memeluk Ruanindya untuk menenangkannya. Sang Putri masih terisak sambil mencengkram baju Gantara dibagian dada untuk melampiaskan perasaannya yang tengah sedih dan kalut.


Ruanindya tidak perduli kalau orang-orang yang menyaksikannya menangis menganggapnya gadis yang cengeng. Seorang anak mana yang akan tahan mendengar kedua orang yang sangat dicintainya kini tengah menderita di dalam penjara? Yang pasti bukanlah Ruanindya, karena saat ini dirinya benar-benar tengah merasa hancur, sedih, marah dan khawatir.


Siang itu Ruanindya tengah menemui Rasti dan membantunya meramu beberapa obat, setelahnya ia pergi untuk menemui Gantara di tempat berlatih, namun Sang Putri tidak menemukan Gantara di sana. Seorang murid padepokan bilang bahwa Gantara telah dipanggil oleh Nyai Sokawati ke kediamanya. Dan ketika ia menyusul kekasihnya, Ruanindya malah mendapatkan berita buruk tentang kedua orang tuanya yang sangat ia rindukan. Seolah mendapatkan sambaran petir disiang bolong yang meluluh lantakannya seketika.


"Ayahanda... Ibunda..." panggil Ruanindya dengan lirih dan pilu.


Gantara terus mengelus punggung Ruanindya dengan lembut untuk menenangkannya, "Rua tenanglah. Kita akan segera menyelamatkan dan membebaskan Prabu Arya Tirta Kusuma Winarang dan permainsuri."


"Bagaimana aku bisa tenang kalau kedua orang tuaku tengah menderita di dalam penjara? Mimpiku waktu itu tentang Ayahanda ternyata benar-benar terjadi," Ruanindya masih tetap terisak, dadanya terasa sangat sesak seolah batu besar tengah menindihnya.


Gantara sangat mengerti apa yang tengah dirasakan Ruanindya, sekali pun ia tidak mempunyai orang tua. Pendekar tampan itu membelai rambut Ruanindya dengan penuh kasih sayang lalu mencium kening kekasihnya itu, "Aku berjanji kita akan segera menyelamatkan mereka. Aku janji..."


"Bagaimana keadaan tuan Putri?" Nyai Sokawati bertanya dengan wajah yang terlihat sangat cemas.


Setelah Gantara duduk, Sang Panglima menghela nafas dalam, "Tuan Putri benar-benar kalut dan sedih, tapi saat ini ia sudah tertidur."


Nyai Sokawati ikut menghela nafas, "Keadaan ini memang benar-benar buruk untuknya."


"Maafkan aku yang telah menyampaikan berita buruk ini dan membuat Putri Ruanindya menjadi kalut dan sedih," Adiyaksa menunduk merasa bersalah.


"Tidak. Ini bukan salah kisanak," Gantara menepuk bahu Adiyaksa yang kebetulan duduk tepat di sampingnya, lalu Sang Panglima menatap Nyai Sokawati, "Nyai, sepertinya kita harus segera bersiap menyerbu istana untuk kembali merebut takhta dari Patih Gandatala dan membebaskan para tawanan terutama Gusti Prabu Arya Tirta Kusuma Winarang dan permainsuri."


Nyai Sokawati mengangguk setuju, "Mari kita mempersiapkan semuanya dengan matang dan segera menggulingkan Patih pemberontak itu."


***


Seseorang berpakaian prajurit mendekati penjara di mana prabu Arya Tirta kusuma Winarang di sekap. Ia membawa sebuah layah berisi makanan yang tidak layak dikonsumsi apalagi untuk seorang raja. Terdengar deritan ketika pintu jeruji dibuka. Prabu Arya Tirta Kusuma Winarang Sekilas mengangkat kepalanya untuk melihat siapa yang masuk ke dalam penjara, sebelum kembali menunduk lemah.


Prajurit itu berjongkok di hadapan sang raja, ia meringis melihat keadaan penguasa Kertalodra yang mengenaskan. Ia sebenarnya ingin memberikan penghormatan yang layak, namun keadaan sangat tidak memungkinkan, penyamarannya bisa saja terbongkar kalau ia melakukan itu.

__ADS_1


Seseorang yang menyamar menjadi prajurit itu meletakan layah berisi nasi di hadapan sang raja, itu adalah nasi aking[1] yang lebih pantas untuk pakan unggas dari pada untuk dimakan oleh manusia.


"Gusti prabu, makanlah," bukan layah berisi nasi aking yang disodorkan oleh si prajurit melainkan sebuah bungkusan daun pisang berisi singkong rebus yang masih hangat yang ia sembunyikan di balik bajunya. Ketika prajurit yang menjaga pintu masuk ke penjara bawah tanah menemukan bungkusan singkong itu ketika memeriksa tubuhnya sebelum memasuki penjara, dan menanyakan tentang maksud keberadaan singkong itu di dalam bajunya, ia menjawab bahwa itu jatah makan siangnya yang belum sempat ia makan. Beruntung, para penjaga itu percaya.


Melihat singkong hangat di hadapannya, Prabu Arya Tirta Kusuma Winarang mengangkat kepala menatap prajurit di hadapannya, "Siapa kau?"


Sebelum berbicara si prajurit mengedarkan pandangannya ke sekeliling penjara, merasa keadaanya aman ia segera berbisik, "Hamba adalah salah satu pendekar yang sedang menyamar. Hamba adalah pendukung Gusti prabu, jadi hamba mohon Gusti Prabu mau memakan singkong ini."


Tanpa bertanya apa pun lagi, Prabu Arta Tirta Kusuma Winarang segera memakan singkong yang disuapi oleh si pendekar dengan lahap. Sang raja tidak merasa curiga bahwa singkong itu akan diracuni. Kalau Patih Gandatala ingin membunuhnya, bukankah tidak perlu menggunakan racun karena Patih pemberontak itu bisa membunuhnya secara langsung dengan mudah.


Sembari menyuapi rajanya, sang pendekar mengamati luka di tubuh Prabu Arta Tirta Kusuma Winarang. Ia kembali meringis melihat luka tusuk di perut sang raja yang sudah bernanah. Luka itu pasti sangat sakit.


Setelah sang raja menghabiskan singkong yang ia bawa, si pendekar segera mengeluarkan sebuah pil, "Gusti Prabu, makanlah pil ini. Pil ini akan mengobati luka Gusti Prabu dari dalam. Hamba tidak bisa mengobati luka Gusti Prabu dari luar karena penyamaran hamba akan terbongkar, atau bisa saja para pemberontak akan lebih menyakisa Gusti Prabu."


Begitu Prabu Arya Tirta Kusuma Winarang mengangguk, si pendekar segera menyuapkan pil itu dan memberikan segelas air di cangkir bambu yang ia bawa.


"Terima kasih."


"Hamba yang rendah ini tidak pantas menerima rasa terima kasih dari Gusti Prabu Arya Tirta Kusuma Winarang," si pendekar menunduk dalam untuk menunjukan rasa hormatnya pada sang raja.


"Hamba harus segera pergi, tapi sebelum hamba pergi ada satu hal lagi yang ingin hamba sampaikan. Gusti Prabu harus bertahan karena tuan Putri baik-baik saja."


Mendengar itu, tatapan mata yang semula terlihat kosong kini kembali memiliki binar kehidupan dalam sorotnya. Prabu Arya Tirta Kusuma Winarang kembali mengangguk. Ia sebenarnya ingin menanyakan banyak hal tentang Putri semata wayang kesayangannya, namun sang raja tidak mau membahayakan si pendekar yang sedang menyamar jadi ia menahan keinginannnya.


Prabu Arya Tirta Kusuma Winarang merasa sangat bersyukur, keputusannya menyerahkan keselamatan Ruanindya pada Gantara adalah keputusan yang sangat tepat.


***


Mereka yang akan segera menyerang Patih Gandatala telah sampai ke telinga Ling Hua dan Rasti, maka tabib hebat dan muridnya itu segera membuat pil-pil dan berbagai macam ramuan obat untuk perbekalan. Mereka berdua memang bukan pendekar dan tidak bisa ikut bertempur di medan laga, namun setidaknya mereka ikut berpartisipasi dengan cara mengobati para pendekar yang terluka.


Rasti sedang memeriksa tanaman-tanaman herbal yang sedang dijemur, saat seseorang tiba-tiba membekapnya mulutnya lalu membopong tubuh mungilnya.


"Hmmph!!!" Rasti mencoba meronta, namun perlawanannya sama sekali tidak berarti.


[*1. Nasi aking adalah makanan yang berasal dari sisa-sisa nasi yang tak termakan yang dibersihkan dan dikeringkan di terik matahari. Nasi aking biasanya dijual sebagai makanan unggas. Tetapi belakangan masyarakat pun mulai mengonsumsi nasi aking.]


Bersambung*...

__ADS_1


__ADS_2