
Chapter 15
Afrodisiak
Menatap Rasti yang masih memeluknya, Gantara menghela nafas. Akhirnya ia tidak bisa menemukan cara yang baik untuk menolak gadis manis itu.
Pendekar tampan itu memegang kedua lengan Rasti yang melingkar di pinggangnya lalu melepaskan pelukan gadis yang beberapa waktu lalu baru saja mengungkapkan cinta padanya.
"Kita kembali," ucap Gantara tanpa kompromi. Tetapi baru selangkah melewati Rasti, pendekar tampan itu menghentikan langkahnya. Tanpa menoleh, kembali berkata dengan dingin, "Dan jangan ulangi perbuatanmu. Mengintip," setelahnya ia langsung keluar dari sungai, kembali memakai pakaiannya dan menaruh pancasona di punggungnya .
(Pengingat : Pancasona adalah pedang sakti milik Gantara.)
Tangan Rasti menggantung di udara, tubuhnya kaku dan gadis itu tanpa sadar menahan nafasnya. Bukan hanya ia yang merasa baru saja ditolak oleh lelaki yang dicintainya tapi Gantara juga mengetahui bahwa dirinya telah mengintip Gantara dan Ruanindya yang sedang berciuman tadi malam.
Matanya yang semula menatap kosong, perlahan mulai berkaca-kaca dipenuhi dengan air mata.
Rasti membalikan tubuhnya dan menatap punggung kekar dan lebar lelaki yang sangat ia damba. Dengan langkah lemah karena kakinya yang terasa lemas, Rasti keluar dari sungai.
"Kakang..." panggil Rasti dengan lirih pada Gantara yang tengah berdiri memunggunginya, menunggunya keluar dari sungai. Karena bagaimana pun Gantara tidak bisa meninggalkan Rasti sendirian karena rasa tanggung jawab akan keselamatannya. Gadis itu tidak ingin memanggil Gantara dengan sebutan Tuan lagi, karena dengan memanggil Gantara dengan panggilan Kakang itu membuat ia merasa lebih dekat dengan pendekar tampan itu, "...Maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk mengintip apa yang tengah Kakang lakukan dengan nona Rua," ucapnya sarat akan nada penyesalan.
"Aku maafkan. Sebaiknya hal ini tidak usah kita bahas lagi," Gantara mengambil bambu runcing yang penuh dengan ikan lalu berjalan kembali pulang ke kediaman Ling Hua, sedangkan Rasti hanya mengikutinya dari belakang dalam diam.
Tanpa terasa tujuh hari sudah berlalu. Tersisa tiga hari lagi untuk menyelesaikan rangkaian meditasi dan penyaluran tenaga dalam untuk menyembuhkan Ruanindya.
Malam setelah Gantara dan Ruanindya berciuman, keduanya sempat mengalami kecanggungan, namun seiring berjalannya waktu kecanggungan itu perlahan mencair. Bahkan kadang-kadang tanpa kata keduanya sudah saling bertukar ciuman.
Ling Hua masih dengan rajin memberikan ramuan untuk Ruanindya dan memeriksa keadaannya. Sedangkan untuk keadaan Gantara sendiri, tabib awet muda itu tidak bisa berkata apa-apa dan hanya bisa merasa takjub. Kekuatan tenaga dalam Gantara bisa ia katakan seperti monster. Tenaga dalam pendekar tampan itu begitu mengalir deras, pekat, dan sangat kuat bahkan tidak bisa ia ukur seberapa besarnya.
Sedangkan Rasti, gadis itu seperti biasa masih menjalankan tugasnya sebagai asisten dan murid Ling Hua dengan baik sambil melayani juga mengurusi keperluan Gantara dan Ruanindya. Namun perhatian dan perlakuannya pada Gantara lebih istimewa, seperti memperhatikan dan mengurus seorang kekasih. Sedangkan sikap Gantara sendiri semenjak kejadian di sungai tidak berubah sedikit pun, tidak mencoba menghindari Rasti ataupun memperlakukannya lebih baik, hanya acuh tak acuh seolah tidak pernah terjadi apa-apa pada hari itu di sungai.
Bahkan Ruanindya yang polos --cenderung bodoh-- menyadari perilaku Rasti. Sang putri tidak bisa tidak mengernyitkan keningnya, membuat alisnya bertaut lalu mulai menebak-nebak dan membuat kesimpulan sendiri.
Ruanindya duduk di atas dipan di dalam pondok kecil. Melalui pintu pondok yang terbuka ia bisa melihat Gantara yang tengah duduk bersila di atas tikar anyaman pandan di depan pondok. Pendekar tampan itu tengah mengelap pedang kesayangannya. Sedangkan Rasti duduk di sampingnya diam menatap Gantara tanpa berkedip.
Ruanindya kembali mencomot sepotong irisan tebu yang tersaji di atas layah lalu menempelkan potongan tebu itu di bibir merahnya yang tipis kemudian menyesap air tebu yang terasa manis. Akan tetapi perhatian sang putri tetap pada kedua orang di depan pondok.
Menurut Ruanindya, tatapan Rasti pada Gantara adalah tatapan memuja atau...
Yah mungkin saja Rasti mengagumi Gantara dan ingin menjadi pendekar hebat sepertinya. Begitu anggapan Ruanindya.
Ruanindya mengangguk-anggukan kepalanya, mencoba setuju dengan pemikirannya sendiri.
Melihat kedua orang itu lagi membuat wajah Ruanindya tertekuk, entah kenapa semakin dilihat ia semakin merasa kesal.
__ADS_1
Ruanindya mengunyah potongan tebu untuk melampiaskan rasa kesalnya, namun sedetik kemudian ia meringis karena merasakan ngilu di giginya.
Ruanindya meninggalkan camilannya --potongan-potongan tebu manis-- dan beranjak bangun, menepuk dan merapikan pakaiannya yang terlipat, lalu keluar dari pondok dan duduk di antara Gantara dan Rasti.
Sekilas Ruanindya seperti melihat tatapan tidak senang dari Rasti begitu ia duduk, namun ketika ia kembali memastikan apa yang ia lihat, wajah gadis itu nampak biasa saja. Ruanindya mengira ia hanya salah lihat saja.
"Kenapa kau membersihkan Pancasona? Apa baru saja digunakan? Kau tadi bertarung?" tanya Ruanindya bertubi, mencoba membuka pembicaraan.
"Tidak. Aku hanya sedang merawatnya," Gantara menjawab dengan santai tanpa mengalihkan pandangan dari pedangnya.
"Oh, aku kira--"
"Jadi nama pedang Kakang itu Pancasona?" Kali ini Rasti yang bertanya dan telah berhasil memotong kata-kata yang akan Ruanindya katakan, sehingga membuat sang putri menahan rasa kesal dihatinya.
Ruanindya menatap Gantara. Sebelum panglima besar itu membuka mulutnya, Ruanindya segera mendahuluinya untuk menjawab pertanyaan dari Rasti, "Iya, nama pedang milik Gantara itu Pancasona. Itu pedang yang sakti," Ruanindya mengacungkan jempolnya.
Pembalasan sudah impas.
Ruanindya tersenyum bangga.
Rasti yang sebenarnya mengharapkan jawaban langsung dari Gantara hanya menanggapi dengan 'oh' dan sebuah senyuman yang terlihat dipaksakan.
******
Dimalam kedelapan, setelah selesai bermeditasi dan penyaluran tenaga dalam dan kembali ke pondok kecil, Gantara dan Ruanindya mendapati Ling Hua duduk di depan pondok mengawasi Rasti yang sedang memanggang kambing guling.
Ketika di istana dulu, ia bisa kapan saja meminta kambing guling atau makanan apapun yang ia ingin makan. Namun sekarang ia dalam pelarian jadi makanan yang ia makan hanya makanan sederhana rakyat jelata jadi begitu dihadapkan dengan kambing guling air liurnya seolah langsung deras menetes.
Ruanindya melompat turun dari punggung Gantara yang tengah menggendongnya lalu berlari kecil ke arah Ling Hua, "Tabib, ini... ini..." Ruanindya menunjuk-nunjuk kambing guling yang masih dipanggang di atas api oleh Rasti. Otaknya seolah sudah kalah dengan rasa lapar di perutnya sehingga terlalu susah untuk merangkai kata dan bertanya dengan benar.
Ling Hua yang mengerti maksud Ruanindya langsung tersenyum, "Ah, kambing itu aku dapat sebagai hadiah dari salah satu pendukuk desa karena berhasil menyembuhkan anaknya. Aku tidak bisa mengurus kambing jadi lebih baik aku menjadikannya kambing guling dan mengadakan makan-makan untuk kita."
"Itu ide yang bagus!" Ruanindya memekik senang. Akhirnya malam ini ia bisa menikmati lagi rasanya daging kambing guling.
Gantara hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Ruanindya, namun ia sangat mengerti tingkah sang putri yang seperti itu. Sejauh ini Ruanindya yang ia anggap putri raja yang sangat manja telah melewati hari-harinya dalam pelarian dengan cukup baik dan menjalaninya dengan sedikit keluhan.
Ruanindya duduk di sisi kanan Ling Hua, dan Gantara duduk di samping Ruanindya, sedangkan Rasti duduk di antara Ling Hua dan Gantara. Mereka berempat duduk mengelilingi daging kambing guling yang sudah matang.
Rasti terlihat kesulitan mengiris kambing guling yang masih panas jadi Gantara mengambil alih pisau yang gadis itu pegang dan menggantikan tugasnya memotong-motong kambing guling dengan mudahnya.
Ling Hua menjentikan jarinya, "Makan daging tidak lengkap tanpa arak. Aku mempunyai arak yang aku buat sendiri, kalian harus mencicipinya," setelah menunjuk Gantara dan Ruanindya, Ling Hua mengalihkan pandangannya pada Rasti, "Tolong ambilkan arak di kendi besar yang aku simpan di gudang ramuan."
Rasti mengangguk dan langsung pergi menjalankan perintah Ling Hua untuk mengambil arak.
__ADS_1
Tidak berapa lama Rasti kembali dengan kendi besar yang ia bawa beserta empat cangkir bambu.
Ling Hua yang melihat araknya datang, menggosok tangannya dengan senang, "Nah ini dia arak buatanku, aku jamin rasanya pasti enak."
Ruanindya juga menatap kendi yang baru saja diletakan Rasti dengan tatapan penuh minat, ia tidak sabar untuk mencicipi rasa arak khas negeri seberang buatan Ling Hua.
Gantara awalnya menolak untuk ikut minum arak. Bagaimana pun ia harus tetap dalam keadaan sadar dan tidak boleh mabuk untuk tetap menjaga keselamatan Ruanindya, namun karena Ling Hua bahkan Ruanindya sendiri memaksanya minum mau tidak mau akhirnya Gantara juga ikut menikmati arak buatan Ling Hua.
Ruanindya makan daging kambing guling dan minum arak sampai perutnya terasa akan meledak. Wajah putih sang putri memerah karena mabuk. Ia sudah terbaring tak berdaya sambil mengelus-elus perutnya sendiri yang membuncit karena kekenyangan sembari meracau tidak jelas.
Sedangkan Ling Hua, Tabib itu sudah sejak lama tertidur karena terlalu mabuk oleh arak buatannya sendiri.
Gantara memang masih dalam posisi duduk, namun kesadarannya sudah memudar karena mabuk. Ia mengambil cangkir terakhir berisi arak yang disodorkan padanya lalu menenggaknya hingga habis.
Kepalanya terasa pusing, namun ringan dalam bersamaan, seolah melayang dan segala beban yang ia punya menghilang seketika.
Gantara perlahan membuka matanya, ia ternyata sudah terbaring di atas ranjang kayu berukuran kecil dan keadaannya jelas masih mabuk. Nafas pendekar tampan itu memburu cepat dan ia merasakan tubuhnya sangat panas terutama dibagian selakangannya yang terasa seolah terbakar.
Gantara menyentuh selakangannya sendiri dan mendapati kejantanannya telah menegang sempurna, pendekar tampan itu mendengus kesal lalu dengan linglung berusaha untuk duduk kemudian melepas baju yang ia kenakan demi meringkankan rasa panas yang mendera tubuhnya.
Setelah melapas bajunya, Gantara bersandar ke kepala ranjang. Tubuhnya basah karena peluhnya yang bercucuran dari setiap pori-pori di tubuhnya, membuat otot-ototnya mengkilap dengan mempesona.
Gantara mengangkat pandangannya dan melihat seseorang memasuki kamar itu. Ia mengedipkan matanya dan menggelengkan kepalanya beberapa kali karena pandangannya terasa buram. Semakin dekat orang itu berjalan kearahnya, semakin ia bisa melihat sosok familiar yang ia kenal.
Gantara tersenyum pada orang yang kini duduk ditepi ranjang, pendekar tampan itu mengulurkan tangannya untuk membelai pipi halus orang yang duduk di hadapannya.
Gantara menarik tubuh ramping itu dan membaringkan dengan lembut di atas ranjang lalu memindihnya, mengungkung tubuh itu dalam kuasanya kemudian menatap mata orang di bawahnya penuh dengan kerinduan, "Kau membuatku selalu memikirkanmu."
Kata-kata Gantara membuat orang di bawahnya tersenyum senang, "Aku juga selalu memikirkanmu setiap waktu."
"Ruanindya... Kau membuat pikiranku kacau."
Gadis di bawah Gantara sempat terdiam beberapa saat dan senyumnya menghilang, sebelum mengangkat tangan rampingnya untuk membelai dada bidang Gantara hingga perutnya yang kencang dan memiliki delapan otot perut. Tubuh yang begitu melelaki dan perkasa yang selalu ia dambakan.
Gantara tanpa ragu melucuti pakaian yang melekat di tubuh Ruanindya, kemudian menjamah setiap inchi kulit halus pada tubuh ramping yang terasa semakin membuatnya mabuk. Melakukan perbuatan intim yang seharusnya tidak ia lakukan.
Gantara benar-benar sedang kehilangan akal dan kesadarannya, ia bahkan tidak bisa membedakan dan menyadari bahwa gadis yang tengah ia jamah bukanlah Ruanindya melainkan Rasti.
Perbuatannya yang mencuri bubuk afrodisiak[1] milik Ling Hua dan menaruhnya pada arak yang diminum Gantara di dalam cangkir terakhir yang ia berikan padanya, lalu pendekar tampan itu tenggak sampai tandas ternyata tidak sia-sia.
Rasti melakukan ini untuk memperjuangkan cinta yang ia rasakan untuk Gantara dan tidak mau kalau sampai kehilangan pendekar tampan itu.
Reaksi seperti apa yang akan diberikan Gantara keesokan pagi kepadanya, seperti apa pun itu sudah menjadi konsekuensinya.
__ADS_1
[1.Afrodisiak adalah zat yang mampu meningkatkan gairah seksual. Istilah ini diturunkan dari bahasa Yunani, ἀφροδισιακόν, aphrodisiakon, dari aphrodisios, i.e. "berkaitan dengan Aphrodite" (dewi cinta Yunani.)]
Bersambung...