Runaway

Runaway
Chapter 8 - Nyai Larasati


__ADS_3

Chapter 8


Nyai Larasati


Menunggu malam tiba, Gantara dan Ruanindya hanya menghabiskan waktu di kamar yang mereka sewa untuk beristirahat.


Gantara tengah duduk di atas dipan sambil menggosok mata pedangnya, sedangkan Ruanindya duduk di pinggir jendela dan hanya memperhatikan orang-orang yang lalu lalang di luar sana.


Ruanindya menghela nafas, "Ini terlalu membosankan,"


"Lalu kau mau apa? Jalan-jalan keluar?" Gantara bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari mata pedangnya.


Ruanindya menggelengkan kepalanya, "Tidak, aku juga terlalu malas untuk keluar, lagipula nanti malam kita akan keluar untuk menyaksikan pertunjukan ronggeng. Tetapi diam seperti ini terlalu membosankan, bagaimana kalau kau ceritakan kehidupanmu?" Wajah Ruanindya terlihat antusias menatap Gantara.


"Apa yang mau kau tahu? Tak ada yang menarik untuk diceritakan dari kehidupanku."


Karena Ruanindya tahu kalau Gantara tidak akan begitu saja menceritakan kehidupannya maka ia berinisiatif untuk bertanya, "Kenapa kau belum menikah? Padahal kau sudah cukup umur dan sukses."


"Karena ada hal yang lebih penting yang harus aku pikirkan dan aku lakukan."


"Apa itu?"


"Menjaga keamanan kerajaan dan memenangkan peperangan."


Ruanindya memutar bola matanya malas, Gantara benar-benar tipe seorang prajurit sejati. Tiba-tiba niat jahil melintas dipikirannya, "Ah...jadi diumurmu yang sekarang kau masih perjaka? Pfftt...tak aku sangka."


Gerakan tangan Gantara yang menggosok pedang terhenti sementara, "Itu tidak perlu aku jawab kan?" jelas kata-kata Gantara bukan sebuah pertanyaan.


Ruanindya terkekeh lalu menggosok dagunya sendiri dan terlihat sedang berpikir, "Tapi aku lihat banyak wanita-wanita mengejarmu, dan pria dewasa berdarah panas sepertimu tidak mungkin tidak meniduri salah satunya kan?" Ruanindya mengabaikan tata krama ucapannya sebagai seorang putri raja. Ia sekarang bahkan baru menyadari, sepanjang perjalanannya mata para wanita selalu memperhatikan Gantara.


"Aku terlalu sibuk dengan para prajuritku."


Ruanindya berdecih, berpikir kalau Gantara tidak mau mengakui perbuatan yang ia tuduhkan, dan sekalipun misalnya Gantara bilang bahwa ia masih perjaka tentu Ruanindya tidak akan percaya sedikitpun, "Apa yang kalian lakukan di medan perang? Kadang kalian selama berbulan-bulan tidak pulang kan?"


"Kami tentu saja berjaga, bertahan, dan menyerang musuh."


"Kalian para prajurit, apakah membawa wanita kalian jika pergi berperang?"


"Tentu tidak, itu akan membebani."


"Lalu bagaimana kalian yah..." Ruanindya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sebelum melanjutkan kata-katanya, "...memenuhi hasrat lelaki kalian?" Ruanindya pernah mendengar beberapa kali selentingan ini dari para dayang, namun ia benar-benar penasaran dan ingin tahu kebenarannya secara langsung dari sang panglima.


Ruanindya sebenarnya mempunyai kebiasan buruk untuk kabur dari kediamannya, menjelajahi setiap sudut istana, bahkan ia pernah tanpa sengaja memergoki seorang dayang dan seorang prajurit tengah bercinta di dalam gudang kerajaan.


Tentu saja apa yang ia lihat dan apa yang ia dengar akan ia simpan sebagai rahasianya sendiri.

__ADS_1


Gantara menatap Ruanindya, "Kau benar-benar ingin tahu tentang hal semacam ini?"


Ruanindya mengangguk dengan antusias, "ya, ya, aku ingin tahu."


Gantara menghela nafas, ia tidak habis pikir ternyata seorang putri raja yang begitu dijaga memiliki pikiran kearah hal-hal yang erotis seperti itu, tapi toh sang putri sudah cukup dewasa untuk membicarakan dan mengetahui hal-hal seperti ini, "Ini rahasia umum diantara para prajurit. Kalau mereka membutuhkan pelampiasan hasrat, mereka akan membantu satu sama lain."


"Membantu satu sama lain? Saling 'memegang' maksudmu?"


Gantara mengangguk, "Tepat."


"Kau juga pernah melakukannya?"


"Tidak."


"Kau pasti berbohong. Kau seorang panglima, hanya tinggal tunjuk dan perintah saja pasti prajurit-prajurit itu akan mematuhimu," tuduh Ruanindya dengan sengit sambil menunjuk-nunjuk Gantara.


"Aku tidak," Gantara memang tidak berbohong, kalau ia mendapatkan waktu luang di arena peperangan, ia akan gunakan untuk menyusun strategi perang, jadi sang Panglima tidak punya waktu untuk merasakan hasrat lelakinya.


"Kau sendiri bagaimana? Sang putri yang pasti masih perawan," goda Gantara, menyerang balik secara telak.


"A-apa?" Wajah Ruanindya memerah semerah tomat matang karena pembahasan hal sensitif seperti ini malah berbalik pada dirinya sendiri, "Tentu saja aku masih perawan," cicit Ruanindya, "Tapi bukan berarti aku tidak pernah berciuman," bohongnya untuk mempertahankan harga diri.


Gantara memicingkan matanya menatap Ruanindya, Gantara tahu sang putri hanya membual, dan ia terlalu malas untuk berdebat, "Aku akan tidur sebentar, kau jangan keluar dari kamar dan berteriaklah kalau terjadi sesuatu," Gantara menyimpan pedangnya di sampingnya lalu mulai merebahkan diri di atas dipan.


"Baiklah," Ruanindya tidak melanjutkan perdebatnya lagi, ia membiarkan Gantara beristirahat karena ia tahu sudah berhari-hari Gantara menjaganya tanpa tidur.


Karena rasa bosan yang kembali melanda ditambah melihat Gantara yang tertidur nyenyak membuat Ruanindya menguap dan merasakan kantuk, akhirnya ia menutup jendela lalu menguncinya demi keamanan lalu memutuskan untuk berbaring di samping Gantara di atas dipan karena ia tidak mungkin tidur di lantai kayu yang kasar, setelah ia berbaring sebentar akhirnya sang putri pun ikut terlelap.


Ruanindya mencoba membuka matanya yang masih mengantuk, ia merasa sedang memeluk sebuah bantal guling yang berukuran besar.


Ruanindya mencoba memfokuskan matanya pada 'bantal guling' yang ia peluk, dan seketika itu pula matanya terbelalak dan kesadarannya terkumpul sepenuhnya secara cepat dan paksa. Ia bukan tengah memeluk sebuah bantal guling yang berukuran besar melainkan memeluk Gantara Wisesa!


Ruanindya segera melepaskan pelukannya pada tubuh Gantara yang masih terlelap kemudian beranjak bangun dari atas dipan dengan cepat, wajah ayu sang putri kini kembali memerah seperti kepiting rebus.


*****


Menjelang malam Gantara terbangun dari tidurnya, ia segera melihat ke sekeliling untuk mengetahui keadaan lalu menemukan Ruanindya yang terlihat kikuk di bawah tatapannya, "Ada apa? Apa terjadi sesuatu?"


"Ti-tidak, tidak terjadi apapun," Ruanindya tergagap dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Gantara memicingkan matanya dan menatap Ruanindya penuh selidik, "Kau yakin?"


Ruanindya menganggukan kepalanya beberapa kali, "Sangat yakin," ucapnya setenang mungkin mencoba meyakinkan Gantara.


Ketika Gantara bangun lalu merenggangkan tubuhnya, Ruanindya melirik tubuh Gantara yang kekar dan tegap, yang membuatnya gelagapan dan gugup sendiri.

__ADS_1


Tanpa Ruanindya sadari, Gantara mengetahui kalau Ruanindya tengah meliriknya, dan ia hanya menyembunyikan seringainya, "Ayo kita pergi."


"Kemana?"


"Tentu saja melihat ronggeng," Gantara merapikan pakaian yang ia pakai lalu menyampirkan pedangnya di belakang punggungnya.


Ruanindya melompat berdiri dari duduknya dan berseru dengan semangat, "Ayo berangkat!"


"Woah..." Ruanindya menatap kagum suasana di sekitar tempat pertunjukan ronggeng, begitu ramai dengan banyak orang yang ingin melihat pertunjukan ronggeng, juga para pedagang-pedagang yang menjajakan dagangannya menambah semarak suasana di sana.


Gantara juga mengawasi keadaan sekitarnya tapi bukan untuk mengagumi suasana ramai di sana, melainkan untuk melihat apakah ada hal-hal yang mencurigakan. Gantara kemudian memegang lengan Ruanindya untuk mendapat perhatiannya lalu mendekatkan wajahnya ke telinga sang putri, "Apapun yang terjadi, jangan jauh-jauh dariku."


Ruanindya sedikit kaget lalu mengangguk patuh, kemudian menutupi telinganya yang memerah.


Semakin malam orang-orang mulai berkumpul mengelilingi area pertunjukan termasuk Gantara dan Ruanindya.


Musik mulai terdengar dan empat penari yang semuanya adalah gadis muda yang cantik mulai menari melenggak lenggokan tubuh gemulainya, sorak sorai penonton riuh terdengar.


Ruanindya tersenyum dan bertepuk tangan dengan antusias, hal-hal yang dulu ia hanya impikan di dalam istana kini menjadi nyata, berbaur dengan rakyat biasa, menikmati hal-hal sederhana namun terasa menakjubkan.


Ruanindya menoleh kearah kanan dan mendapati Gantara yang terlihat fokus menikmati pertunjukan ronggeng, Ruanindya berdecih, "Dasar mata lelaki," setelahnya ia menoleh ke arah kiri dan mendapati seorang bocah laki-laki yang tengah memakan kacang rebus yang terbungkus dalam daun pisang yang dikerucutkan, itu hanya makanan rakyat yang sederhana tapi mampu membuat Ruanindya meneteskan air liurnya.


Bocah laki-laki yang ditatap sedemikian rupa oleh Ruanindya akhirnya sadar kalau dirinya sedang diamati, ia menoleh lalu menatap pendekar bertopeng di sampingnya, "Mau?" tanyanya sambil menunjuk kacang rebus miliknya.


Ruanindya mengangguk antusias sebagai jawaban.


"Beli sendiri wleeee!" bocah itu mengejek dengan memeletkan lidahnya lalu berlari kabur meninggalkan Ruanindya.


"Aih...Dasar bocah nakal!" sungut Ruanindya kesal.


Mengabaikan Gantara yang terlihat fokus menonton ronggeng, akhirnya Ruanindya pergi membeli kecang rebus itu sendirian.


Di sisi lain, di arena pertunjukan muncul lagi seorang penari ronggeng, seorang wanita yang sangat cantik, tubuhnya begitu molek dan gemulai. Ketika penari wanita itu muncul, keempat gadis penari segera menyingkir ke samping dan duduk tenang dikeempat sudut. Seketika itu pula tempat itu menjadi sepi, tak ada satu orangpun yang berbicara seolah tersihir dan hanya terdengar alunan musik yang terasa semakin terasa mistis.


Wanita penari ronggeng yang sangat cantik dan molek itu, yang diketahui adalah Nyai Larasati menyapukan pandangan mata indahnya ke sekeliling penonton dan matanya bertemu dengan sosok tegap Gantara.


Nyai Larasati melenggak lenggokan tubuhnya menari dengan gemulai sambil mendekati Gantara dengan senyuman menggoda menghiasi bibir bergincu merahnya, setelah sampai di hadapan pendekar tampan itu, Nyai Larasati menyampukan selendang lembutnya kewajah Gantara.


Ketika selendang itu menyapu wajahnya, tatapan Gantara seketika kosong hanya untuk beberapa detik sebelum tatapan itu berubah menjadi tatapan penuh gairah menatap tepat pada sang penari ronggeng di hadapannya.


Setelah membeli kacang rebus dan menikmatinya sepanjang jalan dengan tidak sabar, Ruanindya kembali ke tempat dimana ia sebelumnya menonton pertunjukan ronggeng dengan Gantara, namun ketika sampai di sana, ia tidak menemukan Gantara.


Ruanindya melihat empat gadis penari masih menari dan orang-orang terdiam dan seolah sangat terfokus pada keempat penari itu, Ruanindya mengernyitkan keningnya merasakan suasana yang sangat aneh, "Astaga bulu kudukku merinding," ia mengusap-usap tengkuknya sendiri.


Ruanindya kembali keluar dari kerumunan orang-orang yang menonton ronggeng lalu melihat sekeliling mencari keberadaan Gantara, dan pandangannya jatuh ke sebuah jalan kecil, terlihat di sana siluet Gantara berjalan dengan seorang wanita, "Cih, menyuruhku untuk tidak jauh-jauh darinya, sedangkan ia sendiri malah bermain dengan wanita," dengusnya kesal dan mulai mengikuti kedua orang itu diam-diam.

__ADS_1


Bersambung...


Mind to vote, tip, like, follow & comment?


__ADS_2