
Chapter 21
Membentuk kekuatan
Pagi itu Nyai Sokawati mengumpulkan murid-murid terkuatnya dan telah membentuk lima kelompok. Tiap kelompok masing-masing berisi dua puluh orang yang dipimpin oleh seorang ketua, dan para ketua itu berada di bawah kepemimpinan seorang murid terkuat Nyai Sokawati yaitu Antasena Jati. Antasena jati adalah seorang pendekar yang memiliki sosok tinggi dan tampan, wajahnya terlihat ramah tapi kilatan matanya terlihat licik dan berbahaya, hampir semua murid wanita di padepokan menyukainya dan tergila-gila padanya, sedangkan para murid laki-laki menjadinya panutan karena ingin seperti dirinya dan tidak sedikit pula yang iri pada Antasena.
Jika Antasena dibandingkan dengan Gantara, dalam hal rupa ia hanya satu tingkat di bawah Gantara, namun dalam hal kekuatan fisik mencangkup ketangkasan bela diri dan ilmu kanuragan Antasena mungkin berada tiga tingkat di bawah sang panglima.
Tetapi dalam hal tenaga dalam, Antasena belum bisa dibandingkan dengan Gantara, mungkin bahkan tenaga dalam Nyai Sokawati pun masih sangat jauh bila harus dibandingkan dengan sang panglima besar Kertalodra.
Tanpa Gantara menjelaskan, Nyai Sokawati sudah tahu maksud kedatangan Gantara yang membawa Ruanindya ke Padepokannya dari Empu Indrayana ketika kakak seperguruannya itu melakukan telepati padanya sebelum kedatangan Gantara. Ia merasa senang dan tersanjung bisa mengemban tugas penting dan mulia untuk melindungi Sang putri walaupun hal ini juga memberikan beban berat tersendiri karena ia takut ia akan gagal dalam mengemban tugas besar ini.
Maka dari itu, Nyai Sokawati sudah terlebih dahulu mengambil langkah awal membentuk kelompok yang akan secara bergilir siang dan malam berpatroli menjaga padepokan untuk memastikan keamanan padepokan terutama keamanan sang putri raja.
"Mulai hari ini, kita akan mengemban tugas mulia, namun berat. Seperti yang kalian ketahui, kita akan melindungi putri Ruanindya dari kejaran para pemberontak kerajaan," Nyai Sokawati berdiri di hadapan murid-murid padepokan yang berbaris rapih bersama kelompoknya masing-masing, sedangkan murid-murid lainnya yang tidak termasuk dalam kelompok yang akan berpatroli berbaris di belakang mereka. Wanita cantik itu berbicara dengan lantang dan tegas, "Dan kita juga akan membentuk kekuatan untuk membantu putri kembali merebut kerajaan Kertalodra dari para pemberontak biadab itu! Kalian siap?"
"SIAP GURU!!!" jawab murid-murid Nyai Sokawati dengan serempak.
"Tapi ingat! Jangan sampai informasi ini bocor keluar padepokan untuk sementara waktu. Dan kalian yang tidak masuk dalam kelompok inti juga memiliki tugas yang sama yaitu menjaga padepokan dan putri dari serangan musuh. Di samping itu tetap giat lah berlatih dan jadi lah lebih kuat!"
Setelah Nyai Sokawati membubarkan murid-muridnya, ia memanggil Antasena dan mengajaknya menemui Gantara dan Ruanindya. Di tengah perjalanan mereka bertemu dengan Layung Sari, gadis cantik itu memaksa ibunya untuk menjadikannya wakil dari Antasena. Mau tidak mau Nyai Sokawati setuju, dan Antasena sendiri juga tidak keberatan karena Layung Sari adalah putri dari guru yang sangat ia hormati apalagi baginya Layung Sari sudah seperti adiknya sendiri jadi ia tidak segan-segan memanjankannya.
Akhirnya ketiga orang itu --Nyai Sokawati, Layung Sari dan Antasena-- sampai di depan kamar Gantara dan Ruanindya.
Di sisi lain, Ruanindya yang akhirnya baru bertemu kembali dengan benda bernama sisir merasa sangat senang dan sangat bersyukur Nyai Sokawati menyediakan sebuah sisir kayu di kamar padepokan untuknya. Selama diperjalanan ini Ruanindya hanya menyisir rambut panjangnya menggunakan jari-jari rampingnya.
Karena di istana dulu Ruanindya terbiasa menyisir rambut dibantu oleh para dayang jadi sekarang ia merasa kesulitan menyisir rambut panjangnya sendiri. Melihat Gantara yang hanya menatapnya, akhirnya Ruanindya sambil tersenyum manis berinisiatif meminta bantuan sang panglima.
Gantara dengan kaku dan canggung menerima sisir kayu dari Ruanindya kemudian berdiri di belakang gadis ayu itu, memegang rambut lembut sang putri dan mulai menyisir rambutnya. Sesekali jari jemarinya tanpa sengaja menyentuh kulit leher Ruanindya yang halus dan lembut.
"Aww! Pelan-pelan Gantara. Ini sakit," Ruanindya meringis merasakan perih di kulit kepalanya karena Gantara terlalu kuat menyisir rambutnya yang agak kusut.
"Maaf. Aku tidak terbiasa dengan hal ini. Aku baru pertama kalinya melakukannya," Gantara ikut meringis. Ia seorang panglima, biasa berperang dan berurusan dengan pedang, bagaimana mungkin ia bisa ahli dalam pekerjaan para dayang?
Nyai Sokawati, Layung Sari dan Antasena jati yang baru saja sampai di depan pintu kamar Ruanindya hanya bisa saling tatap satu sama lain mendengar percakapan ambigu antara Gantara dan Ruanindya di dalam kamar.
Nyai Sokawati berdehem sekali kemudian dengan sedikit ragu mengetuk pintu kamar di hadapannya.
Selang beberapa detik pintu kamar terbuka dan nampak lah Gantara yang membukakan pintu, ia memandang ketiga orang yang berdiri di depan kamar sang putri, "Nyai, ada yang bisa aku bantu?"
"Aku ingin berbicara denganmu dan putri Ruanindya."
__ADS_1
Ruanindya yang mendengar namanya disebut segera memunculkan kepalanya dari belakang tubuh besar Gantara, "Ada apa? Nyai ingin berbicara denganku?"
Melihat tingkah menggemaskan Ruanindya dengan wajah ayunya yang polos membuat Nyai Sokawati tersenyum lalu menganggukan kepalanya, "Iya putri."
"Baiklah. Silahkan masuk," Gantara melangkah mundur dari ambang pintu, membuat Ruanindya yang berdiri di belakangnya juga ikut mundur, memberi ruang pada tamunya untuk masuk.
Nyai Sokawati, Layung Sari dan Antasena segera masuk dan duduk di kursi sederhana yang mengelilingi sebuah meja bundar kecil. Mereka bertiga termasuk Gantara duduk di kursi, sehubungan dengan jumlah kursi yang hanya ada empat jadi mau tidak mau Ruanindya duduk di atas ranjangnya.
"Perkenalkan ini muridku Antasena Jati. Ia yang akan memimpin semua murid untuk menjaga padepokan dan putri Ruanindya," tanpa basa-basi Nyai Sokawati langsung memperkenalkan muridnya, dan setelahnya ia juga memperkenalkan kedua tamu pentingnya pada Antasena, "Antasena perkenalkan, ini adalah Gantara Wisesa, murid Kakang Indrayana dan seorang panglima besar kerjaan Kertalodra," Nyai Sokawati menunjuk Gantara lalu kemudian menunjuk Ruanindya dengan sopan, "Dan yang di sana, beliau adalah putri Ruanindya Galuh Winarang, putri dari Raja Arya Tirta Kusuma Winarang."
Antasena tersenyum, "Senang bertemu denganmu panglima Gantara," setelah Gantara menangguk sebagai jawaban, kemudian padangan Antasena beralih pada Ruanindya, ia menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada lalu menunduk hormat, "Suatu kehormatan bagi hamba untuk bisa bertemu dengan putri Ruanindya Galuh Winarang."
Ruanindya mengibaskan tangannya, "Jangan sesungkan itu. Di sini aku yang akan merepotkanmu dan murid-murid padepokan lainnya."
Antasena kembali menegakan tubuhnya lalu menatap Ruanindya dengan lekat, "Hamba merasa tersanjung bisa mendapatkan tugas yang mulia untuk melindungi putri."
Ruanindya tersenyum, namun kemudian mengerutkan keningnya sampai alisnya terajut. Ia merasa pandangan Antasena padanya terasa tidak biasa.
Sedangkan Gantara tidak begitu mengamati gerak gerik Antasena karena Layung Sari terus mengajaknya bicara.
Sebenarnya Antasena sempat tertegun ketika melihat Ruanindya untuk pertama kalinya di depan pintu beberapa saat lalu.
Begitu banyak wanita yang mengejarnya, namun tidak satu pun yang berhasil menarik perhatiannya. Akan tetapi hanya dengan sekali melihat, gadis pemilik mata bening itu telah berhasil menarik perhatiannya. Dulu menurutnya yang paling cantik di seantero Kertalodra adalah adik seperguruannya Layung Sari, namun kali ini menurutnya kecantikan Layung Sari bahkan kalah oleh wajah Ayu Sang putri.
Pendekar tampan murid Nyai Sokawati itu sibuk dengan pemikirannya sendiri tentang Ruanindya, sedangkan Ruanindya memalingkan wajahnya menghindari tatapan Antasena yang membuatnya tidak nyaman.
"Sebagai langkah awal, setiap harinya, siang dan malam, lima kelompok berisi dua puluh orang akan terus bergantian untuk berpatroli dan menjaga Pandepokan," Nyai Sokawati mengetuk-ngetukan jarinya di atas meja, wajahnya nampak serius, "Selain itu kita juga sedang membangun kekuatan untuk membantu putri kembali merebut kerajaan dari para pemberontak."
Ruanindya tertegun, ia tidak menyangka Nyai Sokawati akan melakukan hal sejauh itu untuknya, ia mengira wanita cantik itu hanya akan membantu memberinya tempat tinggal untuk sementara waktu. Sang putri tidak bisa tidak merasa terharu, tenyata selain Gantara masih ada orang-orang yang mau membantunya.
Menyadari dan mengerti akan tatapan Ruanindya terhadapnya, Nyai Sokawati tersenyum, "Sudah tugasku sebagai rakyat Kertalodra untuk melakukannya putri. Terlebih aku adalah pendukung Raja Arya Tirta Kusuma Winarang."
"Aku sangat berterima kasih Nyai," ucap Ruanindya dengan suara tulus dan lembutnya kemudian tersenyum.
Nyai Sokawati mengangguk dan mengulangi perkataanya, "Sudah tugasku putri," kemudian setelahnya wajah Nyai Sokawati kembali serius memandang Gantara dan Antasena, "Kemudian aku akan mengirim utusan untuk pergi ke padepokan-padepokan saudara seperguruanku untuk meminta bantuan dan membangun kekuatan lebih besar."
Gantara mengangguk setuju, "Itu ide yang sangat bagus Nyai. Walaupun aku masih kecil ketika guru membawaku menemui adik dan kakak seperguruannya, aku ingat kalian semua memiliki padepokan yang besar dan hebat. Guru bilang hanya dirinya yang tidak memiliki padepokan dan hanya mempunyai satu murid." Gantara masih mengingat, pada awal Empu Indrayana membawanya dalam sebuah perjalanan ia baru berusia delapan tahun. Sang guru membawa dirinya sebagai murid satu-satunya berkeliling menemui saudara seperguruannya untuk meminta mereka menghadiahkan satu jurusnya pada Gantara dan mereka dengan senang hati menerima permintaan Empu Indrayana apalagi melihat bakat Gantara yang begitu memukau. Setelah bertahun-tahun berkelana, baru lah mereka kembali ke dalam istana Kertalodra. Empu Indrayana kemudian menempatkan Gantara sebagai prajurit Kertalodra.
Nyai Sokawati mengangguk, sebuah senyuman kembali mengembang di bibirnya, "Iya, hanya memiliki satu murid dan murid itu begitu sangat hebat dan menakjubkan seperti dirimu," puji Nyai Sokawati tanpa ragu.
Gantara menggeleng, "Nyai Sokawati terlalu melebih-lebihkan."
__ADS_1
Sebelum Nyai Sokawati kembali berbicara, Layung Sari dengan cepat menyela, "Ibunda, apa pembicaraannya sudah selesai? Aku ingin mengajak Kakang Gantara dan putri Ruanindya berburu di hutan."
Nyai Sokawati mengelus rambut putri manjanya dengan sayang, "Untuk saat ini pembicaraannya sudah selesai," Nyai Sokawati setelahnya berpamitan dan segera pergi meninggalkan keempat orang itu di dalam kamar sang putri.
Sekalipun sangat manja dan seenaknya tetapi Layung Sari adalah gadis yang pintar, kalau ia mengajak Gantara secara langsung pasti pendekar tampan itu akan menolaknya dengan alasan harus melindungi sang putri, jadi ia terlebih dulu harus membujuk Ruanindya, "Tuan putri, ayo pergi berburu di hutan. Hasil buruan bisa kita panggang untuk makan malam. Ah, apalagi di dalam hutan ada pohon mangga yang begitu besar sedang berbuah dan kebetulan buahnya sudah matang dan pasti rasanya sangat manis."
Mendengar kata-kata Layung Sari membuat Ruanindya membayangkan daging panggang yang lezat dan buah mangga yang manis hingga hampir membuat air liurnya menetes. Ruanindya mengangguk dengan semangat. Saat ini ekspresi wajah Ruanindya lebih terlihat seperti rakyat jelata yang kelaparan dari pada seorang putri raja.
Akhirnya mereka berempat pergi ke hutan yang letaknya tidak jauh dari padepokan. Tiga kuda melaju dengan kecepatan sedang. Layung Sari menunggang kudanya sendiri begitu juga dengan Antasena, sedangkan Ruanindya tetap seperti biasa duduk di atas Beliung di depan Gantara. Wajah ayunya tertekuk kesal, ia benar-benar merasa malu apalagi ada seorang gadis lainnya di sana dan gadis itu bahkan menunggang kudanya sendiri. Gantara menolak dengan keras saat Ruanindya bilang akan menunggang kuda sendiri, bahkan Gantara --seperti biasa-- menolak permintaan Ruanindya untuk duduk di belakangnya ketika menunggangi Beliung menuju hutan, jadi seperti ini lah keadaannya tetap tidak berubah sama sekali.
Ketika memasuki hutan mereka mulai berburu, memanahi dengan tepat binatang seperti rusa, kelinci dan ayam hutan. Ruanindya yang hanya bisa melihat keahlian memanah ketiga orang itu --Gantara, Layung Sari dan Antasena-- merasa sangat takjub.
Mereka semakin masuk jauh kedalam hutan, dan akhirnya mereka berhenti di bawah sebuah pohon mangga yang sangat besar.
Ruanindya memandang pohon mangga itu dari bawah hingga ke atas, kepala Sang putri bahkan sampai harus mendongak, kemudian Ruanindya berucap dengan kekaguman, "Woah... aku baru kali ini melihat pohon mangga sebesar ini."
Mereka bisa melihat begitu banyak buah mangga yang terlihat menguning dan itu tandanya buah mangga tersebut sudah matang, bahkan diantaranya sudah dimakan beberapa binatang dan hanya menyisakan bijinya tergantung begitu saja.
Antasena melompat turun dari kudanya dan mendekati pohon mangga besar itu, ia mulai mengarahkan telapak tangannya kearah batang pohon mangga.
Gantara yang mengerti maksud Antasena yang akan menggunakan kekuatan tenaga dalamnya untuk menjatuhkan buah mangga segera melompat turun dari atas Beliung dan menahan tangan Antasena tepat sebelun telapak tangan Pendekar itu sampai menapak pada batang pohon, "Jangan menggunakan tenaga dalam, kau akan merusak pohonnya. Lebih baik mengambil buahnya dengan cara biasa," setelah melepaskan tangan Antasena, Gantara segera melompat keatas pohon. Melompat dari satu dahan ke dahan lain dengan lincah dan ringan.
Ruanindya tersenyum menyaksikan kebaikan hati Gantara lalu ia memandang takjub pada Sang Panglima yang melompat dengan ringannya seperti seekor burung dari satu dahan kedahan yang lainnya. Karena merasa begitu terpesona dengan gerakan Gantara, tanpa sadar Ruanindya melompat dari atas Beliung langsung pada dahan pohon mangga besar di hadapannya. Dengan senyuman masih menghiasi bibirnya yang sewarna mawar yang sedang mekar, Ruanindya terus melompat dari satu dahan kedahan lain dengan ringannya meniru gerakan yang Gantara lakukan dan mencoba mengejar Gantara di atasnya.
Gantara berhenti disebuah dahan dan mulai mengambil buah mangga yang matang, merasa ada yang mendarat pada dahan yang sama di sampingnya ia mengira itu adalah Layung Sari atau Antasena, namun aroma tubuh yang ia cium sangatlah familiar. Dengan cepat Gantara menolehkan wajahnya dan dugaannya tidak meleset sedikit pun, "Rua, kau..."
"Hmm? Aku kenapa?"
"Kau bisa naik kemari mengejarku?"
"Apa?" Ruanindya mengedipkan matanya dengan tidak mengerti.
"Kau bisa memanjat pohon mangga besar ini dengan cepat dan mengejarku," Gantara masih menatap Ruanindya antara heran dan takjub.
Kali ini Ruanindya sedikit mengerti dengan apa yang dikatakan Gantara. Ia memandang sekelilingnya yang dipenuhi daun-daun dan buah mangga yang matang. Dirinya kini mengerti kalau ia ada di atas pohon mangga, tetapi begitu sang putri melihat kebawah, Ruanindya tidak pernah menyangka ia akan bisa memanjat setinggi itu, "Wa-waow!" karena tiba-tiba kakinya gemetar, membuatnya oleng dan terpeleset jatuh dari atas dahan yang tengah ia pijak, "Aaaaa!" jerit Ruanindya antara takut dan panik.
Gantara yang melihat Ruanindya jatuh segera membuang mangga yang tengah ia genggam. Sang panglima melompat turun untuk mengejar tubuh Ruanindya, dengan cekatan tangan kirinya menangkap dan memeluk pinggang sang putri dengan kuat sedangkan tangan kanannya menggapai dahan pohon terdekat dengan cepat.
Ruanindya yang merasakan pelukan di pinggangnya dan tubuhnya berhenti di udara segera membuka matanya dan langsung mendapati wajah tampan Gantara di hadapannya. Setelah menyadari kini dirinya tengah tergantung dengan Gantara yang menyangganya, Ruanindya segera memeluk Gantara dengan kuat. Takut bahwa dirinya akan jatuh.
"Tsk! Ceroboh."
__ADS_1
Bersambung...
Vote untuk support author ya. Thanks before ^^