Runaway

Runaway
Chapter 33 - Kepercayaan


__ADS_3

Chapter 33


Kepercayaan


Setelah lama terdiam akhirnya terdengar helaan nafas dari Gantara.


"Apa kau tidak percaya padaku?"


"Apa maksudmu?" Ruanindya bertanya dengan hati-hati, masih takut kalau Gantara mungkin akan marah. Sang Putri membalikan tubuhnya hingga kini dirinya dan Gantara berbaring saling berhadapan, kemudian Ruanindya menatap Gantara.


"Aku tidak akan membiarkanmu terbunuh. Aku akan melindungimu meskipun dengan nyawaku sendiri," ucap Sang Panglima penuh keyakinan.


"Tidak!" Ruanindya menggenggam tangan kekasihnya yang sedari tadi memeluknya, "kau juga harus tetap hidup! Untuk apa aku hidup kalau tidak ada dirimu..." lirihnya.


"Maka dari itu, kau harus percaya padaku."


"Gantara, aku--hmpph!" Ruanindya merasa sangat kaget karena tiba-tiba Gantara membekap mulutnya lalu meniup padam obor kecil yang digunakan sebagai penerang dalam tenda. Dengan mata yang membulat kaget, Ruanindya menatap Gantara dalam kegelapan.


Dalam kegelapan, samar-samar Ruanindya melihat Gantara menempelkan telunjuknya di depan bibirnya sendiri, memberikan isyarat supaya Ruanindya diam dan tidak membuat suara sedikit pun.


Ruanindya mulai merasa tenang dari rasa kagetnya lalu mengangguk mengerti, setelahnya barulah Gantara melepaskan bekapannya pada Ruanindya.


Gantara beranjak bangun dan berjalan tanpa suara ke sisi barat tenda. Pendekar tampan itu terlihat tengah berusaha mendengarkan sesuatu.


Ruanindya melihat Gantara melakukan beberapa gerakan dengan tangannya. Itu salah satu ilmu kanuragan yang Gantara miliki. Ruanindya bisa tahu karena ilmu itu telah berhasil ia pelajari dari Gantara lewat meditasi dan penyaluran tenaga dalam. Ilmu itu adalah ilmu...


Dari dalam tubuh Gantara, sosok yang sama persis melangkah keluar, kemudian sosok tiruan Gantara itu berjalan keluar dari tenda. Sosok itu adalah perwujudan dirinya yang Gantara buat dengan tenaga dalamnya. Sang Panglima biasa menggunakan ilmu kanuragan ini untuk mengecoh musuhnya, seperti saat ini.


Setelah sosok duplikat Gantara keluar dari tenda, tidak berapa lama terlihat sebilah belati tajam menembus kain tenda. Belati itu mengiris kain tenda dari atas terus turun hingga ke bawah membuat robekan yang memanjang dan rapih. Kini Ruanindya mengerti sebab akan sikap dan tingkah laku Gantara yang aneh, rupanya ada penyusup yang mengintai tenda mereka.


Setelah robekan kain tenda cukup besar untuk dilalui, terlihatlah seseorang yang dengan hati-hati memasuki tenda itu.


Melihat sosok asing memasuki tendanya membuat Ruanindya kembali kaget dan rasa takut mulai melingkupi dirinya. Terlebih karena keadaan tenda yang gelap jadi ia tidak bisa melihat sosok penyusup itu dengan jelas.


Kalau saja Ruanindya tidak mengingat keberadaan Gantara bersamanya di dalam tenda yang gelap ini, dengan adanya penyusup itu akan membuat dirinya ketakutan setengah mati dan tidak akan bisa tetap berbaring diam seperti saat ini. Sekalipun dirinya sekarang sudah mempunyai ilmu kanuragan dan ilmu beladiri, namun mentalnya belumlah matang untuk menjadi seorang pendekar dan menghadapi situasi semacam ini, apalagi ia masih minim pengalaman.


Melihat sosok itu mendekat padanya, Ruanindya segera memejamkan matanya untuk berpura-pura tengah tertidur.


Sosok penyusup itu seperti tidak menyadari keberadaan Gantara di sana dan langsung menuju pada Ruanindya yang tengah terbaring.


Orang asing itu mengangkat tangannya dan hendak melancarkan totokan pada tubuh Ruanindya, namun...


Blugh!

__ADS_1


Tubuh si penyusup yang kaku jatuh menghantam tanah.


Ruanindya tercekat, dan untuk sejenak menahan nafasnya karena ketegangan yang menyelimutinya hingga membuat tubuhnya berkeringat dingin.


"Rua."


Setelah mendengar suara Gantara barulah Ruanindya berani membuka matanya dan menghela nafas dalam-dalam. Sang Putri langsung beranjak bangun memeluk Gantara yang kini berdiri di sampingnya.


Gantara membelai punggung kekasihnya dengan lembut, "Tidak apa-apa Rua. Semuanya baik-baik saja. Seperti saat ini, aku akan terus melindungimu jadi jangan khawatirkan hal yang belum terjadi. Buang pikiran burukmu jauh-jauh."


Ruanindya mengangguk dalam pelukan Gantara dan menghirup aroma kayu yang menenangkan dari tubuh kekasihnya, "Aku percaya padamu," Sang Putri megendurkan pelukannya lalu melihat pada sosok yang kini terbaring tidak berdaya di tanah, "ngomong-ngomong, siapa dia?"


"Entahlah. Aku tidak mengenalnya. Yang pasti dia adalah antek patih Gandatala," Gantara melepaskan pelukanya pada Ruanindya yang kini sudah tenang lalu menyeret si penyusup keluar dati tenda dan diikuti oleh Ruanindya.


Para pendekar yang berjaga di sekitar tenda Sang Putri pun kaget melihat Gantara menyeret seseorang.


"Panglima, siapa dia?" tanya salah seorang pendekar yang berjaga penuh dengan rasa penasaran.


Gantara melemparkan si penyusup kehadapan para pendekar yang mendapatkan tugas jaga malam ini, "Ia adalah antek patih Gandatala yang mencoba menyusup ke dalam tenda tuan Putri."


"Apa?!" para pendekar terlihat kaget, kemudian mereka saling pandang satu sama lain dengan wajah pucat.


Para pendekar yang berjaga itu menyatukan telapak tangan mereka di depan dada dan menunduk dalam, tanda mereka tengah meyesal akan kelalaian yang mereka perbuat, "Mohon ampuni kami yang kurang teliti dan ceroboh dalam berjaga hingga membahayakan keselamatan tuan Putri," ucap salah satu pendekar penuh dengan penyesalan mewakili teman-temannya.


Melihat Ruanindya yang bersikap tenang membuat amarah Gantara bekurang, "Lebih waspada. Ikat orang itu dan awasi dia," perintah Gantara dengan tegas.


"Baik Panglima!" jawab para pendekar serempak. Mereka bersyukur karena tidak mendapatkan amukan amarah dari Sang Panglima, terlebih mereka bersyukur karena Putri Ruanindya baik-baik saja.


Malam itu sebagian orang mengetahui tentang kejadian penyusup di tenda Putri dan sebagian lainnya tidak mengetahui akan kejadian itu.


Rombongan mereka sudah tidak aman karena berhasil disusupi oleh antek patih Gandatala, oleh karena itu Gantara merasa harus lebih hati-hati dan waspada.


Di pagi hari setelah semua telah dibereskan dan sebelum kembali melanjutkan perjalanan, Gantara mengumpulkan semua orang dalam barisan besar tanpa terkecuali.


Sang Panglima merasa harus melakukan ini untuk menangkap penyusup lainnya yang kemungkinan masih ada diantara mereka, dan tentu saja membuat semua orang dalam rombongan mengetahui adanya penyusup agar bersikap lebih waspada.


"Semalam telah tertangkap seorang penyusup yang mencoba memasuki tenda tuan Putri," setelah Gantara berbicara dengan lantang, langsung terdengar riuh suara orang-orang yang berbicara. Dan ketika Sang Panglima kembali berbicara, tanpa diminta orang-orang dalam rombongan diam dan kembali mendengarkan, "Kita harus lebih waspada dan hati-hati. sekarang coba lihat orang yang berdiri di samping kiri dan kanan, di belakang dan di depan kalian. Tolong segera memberi tahu kalau ada satu orang saja yang tidak kalian kenal."


Ruanindya hanya diam berdiri di samping Gantara sembari memandang barisan para pendekar.


Orang-orang dalam rombongan yang berbaris segera melakukan apa yang Gantara perintahkan.


Cukup lama kegiatan itu berlangsung hingga akhirnya seruan beberapa orang terdengar.

__ADS_1


"Aku tidak mengenalnya!"


"Aku juga."


"Begitu pun aku."


Gantara melihat ke sumber suara. Seseorang yang ditunjuk oleh ke empat orang di sekitarnya terlihat panik. Orang tak dikenal itu berusaha kabur, namun melawan begitu banyak pendekar yang berkumpul tentu saja akhirnya ia kalah dan tertangkap.


Benar saja kedua orang itu adalah antek patih Gandatala yang menyusup untuk mencari informasi dan kelemahan lawan, dan jika situasinya memungkinkan tentu saja mereka berniat menculik Ruanindya demi penghargaan dan hadiah besar yang akan diberikan oleh Patih Gandatala.


Kedua orang itu bukanlah pendekar berilmu rendah, namun keadaan yang dihadapi keduanya memanglah sulit. Satu orang berhadapan dengan Gantara dan satu orang lainnya berhadapan dengan seluruh rombongan.


Penyusup kedua yang ditangkap sebenarnya tahu bahwa temannya semalam telah tertangkap karena ia tidak kunjung kembali menemuinya hingga pagi menjelang. Sebab dari penyusup kedua tidak segera kabur adalah keyakinan bahwa tamannya yang tertangkap tidak akan membocorkan keberadaannya, begitu pun sebaliknya kalau ia yang lebih dulu tertangkap. Akan tetapi metode yang dilakukan Gantara beberapa waktu lalu benar-benar tidak ia prediksikan. Begini lah jadinya, keduanya ditangkap, bahkan tidak mendapatkan informasi apa pun apalagi mendapatkan Ruanindya dan hanya berakhir sebagai tawanan.


Orang-orang dalam rombongan memuji kecakapan Gantara dalam memimpin, jadi mereka semakin yakin kalau Gantara memang pantas menjadi ketua dalam pasukan gabungan yang telah terbentuk untuk mendukung Ruanindya kembali merebut taktha dari Patih Gandatala.


"Apa yang akan kau lakukan pada kedua penyusup itu? Membunuhnya?" Ruanindya bertanya dengan penasaran akan nasib kedua penyusup yang telah berhasil ditangkap.


"Tidak. Mereka akan lebih berguna dalam keadaan hidup."


Mendengar keputusan Gantara membuat Sang Putri mendesah lega. Sekalipun kedua penyusup itu adalah musuh, namun Ruanindya tidak ingin ada nyawa yang melayang. Andai ia bisa memilih, gadis ayu itu ingin persoalan ini diselesaikan dengan cara yang lebih baik daripada harus berperang dan jatuh banyak korban jiwa baik dari pihaknya ataupun pihak Patih Gandatala. Baik kawan maupun lawan nyawa manusia tetap lah nyawa manusia, sama berharganya.


Setelah kedua orang tawanan diurus dan semua hal dibereskan, rombongan itu kembali melanjutkan perjalanan dengan lebih waspada.


Ruanindya masih tetap berkuda bersama Gantara karena pendekar yang tergigit ular berbisa belum sepenuhnya pulih.


Bukan hanya orang-orang dalam rombongan yang semakin mempercayai Gantara, Ruanindya pun begitu. Sang Putri kini percaya penuh pada pengawalnya, gurunya, Panglimanya, sekaligus kekasihnya, percaya pada Gantara Wisesa.


Seorang pendekar terlihat memacu kudanya ke dalam istana Kertalodra.


Begitu pendekar itu turun dari atas kudanya, ia segera bergegas menemui patih Gandatala.


"Hamba datang menghadap Gusti Prabu," pendekar itu berlutut dan segera menghaturkan sembah pada patih Gandatala yang sekarang tengah duduk di atas singasana raja.


"Bangunlah Samudra. Berita apa yang kau bawa?"


Pendekar yang berparas tampan bernama Samudra itu segera bangun dari posisi berlututnya. Samudra adalah pendekar sakti yang menjadi salah satu orang kepercayaan patih Gandatala. Alasan Samudra bergabung menjadi anak buah patih Gandatala bukanlah demi jabatan atau harta, namun demi tetap dekat dengan Putri semata wayang patih Gandatala. Sudah sejak lama Samudra mencintai Gayatri dan berkeinginan untuk mendapatkannya, namun sayangnya rasa cinta Samudra bertepuk sebelah tangan. Meskipun begitu Samudra tetap lah gigih memperjuangkan cintanya.


"Hamba membawa berita bahwa Putri Ruanindya dan Panglima Gantara tengah menuju kemari beserta pasukannya," Samudra segera memberitahukan apa yang ia tahu pada junjungannya.


"Pasukan? Seberapa besar?"


"Sekitar seribu orang."

__ADS_1


"Ah begitu..." patih Gandatala memang merasa marah pada orang-orang yang akan datang menentang kekuasaannya, namun ia juga merasa senang karena Ruanindya akan datang sendiri padanya tanpa ia harus menculik atau menyeretnya menggunakan anak buahnya yang selalu gagal melakukan perintahnya, "Perketat penjagaan. Siapkan pasukan dan perkuat mereka. Cari pendekar-pendekar hebat untuk bergabung menjadi anak buahku, iming-imingi dengan bayaran yang besar. Anjing mana yang akan menolak majikan yang bisa memberikan mereka daging hahahaha..." tawa congkak patih Gandatala membahana di seisi ruangan, "Ayo kita sambut kedatangan pengantinku dengan meriah!"


__ADS_2