Runaway

Runaway
Chapter 23 - Empat hati


__ADS_3

Chapter 23


Empat hati


"Andai saja kau bukan seorang putri raja..."


Ruanindya mengernyitkan keningnya, ia kemudian menangkup pipi Gantara lalu menatap langsung ke dalam mata tajam milik sang panglima besar Kertalodra, "Apa yang baru saja kau katakan?"


Gantara tersenyum lalu menggeleng, "Bukan apa-apa."


Ruanindya tahu, Gantara sedang mengelak, "Andai saja aku bukan seorang putri raja?" Ruanindya melontarkan tatapan menuntut pada Gantara, "Jelaskan padaku!"


Gantara menghela nafas lalu balas menangkupkan kedua telapak tangannya pada pipi putih dan halus sang putri, dengan lembut ibu jarinya membelai pipi Ruanindya, "Andai saja kau bukan seorang putri, aku tidak akan ragu sedikit pun untuk menjadikanmu milikku."


Ruanindya tertegun mendengar perkataan Gantara, lalu segera semburat merah menghiasi pipi putihnya. Gadis ayu itu tersenyum dengan lembut, "Jadi sekarang kau masih ragu? Gantara Wisesa apa kau bodoh?"


"Hmm?" Alis tebal Gantara terajut, menatap tidak mengerti pada Ruanindya.


"Sejak kejadian di dalam gua itu, aku sudah menjadi milikmu..." Ruanindya tersipu malu menundukan kepalanya kemudian kembali membenamkan wajahnya di dada bidang Gantara. Dengan posisi seperti itu, Ruanindya bisa mendengar detak jantung Gantara yang begitu cepat, namun terdengar seperti alunan musik yang lembut hingga menimbulkan sensasi bahagia dan hangat di hatinya.


Gantara terdiam untuk beberapa saat kemudian tangannya terulur untuk membelai rambut hitam Ruanindya, "Aku hanya seorang Panglima, bahkan asal-usulku tidak jelas. Sedangkan kau adalah seorang putri raja anak tunggal dari Gusti Prabu Arya Tirta Kusuma Winarang. Kita sangat jauh berbeda."


Ruanindya merengut mendengar perkataan Gantara kemudian kembali menatap wajah tampan sang panglima, "Apa itu masalahnya? Bukankah saat kita saling mencintai itu artinya kita bisa menerima pasangan kita apa adanya? Dan menghadapi masalah yang ada bersama-sama? Aku tahu bahwa kau bukan seorang pangeran, tetapi aku masih tetap mencintaimu. Begitu pula dirimu, kau jelas tahu bahwa aku adalah seorang putri raja, namun kau tetap berani mencintaiku. Aku mohon jangan sesali itu, ayo kita perjuangkan hubungan ini bersama."


Gantara tertegun dengan perkataan Ruanindya lalu tersenyum. Tangannya dengan lembut membelai rambut Ruanindya yang menjuntai di bahunya, "Sejak kapan tuan putriku ini jadi sangat dewasa?"


Ruanindya mencebikan bibirnya, "Kau meledekku?"


Gantara terkekeh, akhirnya suasana diantara ia dan Ruanindya kembali mencair, "Aku tidak meledekmu."


"Lihat! Setelah meledekku, kau bahkan menertawaiku. Kau menyebalkan!" Ruanindya beranjak bangun dari pangkuan Gantara lalu berdiri membelakangi sang panglima sambil melipat kedua tangannya di dada dengan kesal.


Gantara tersenyum melihat sikap manja Ruanindya kembali. Ia sebelumnya pasti tidak akan pernah mengira bahkan hanya dalam mimpinya sekalipun bahwa ia yang dulu sangat membenci sikap manja sang putri justru kini benar-benar suka dan dibuat gemas oleh sikap manja Ruanindya. Gantara beranjak dari duduknya, mendekat pada Ruanindya lalu memeluknya dari belakang, mendekap perut ramping sang putri dengan lengan kokohnya, "Bukankah aku orang yang paling pemberani diseantero Kertalodra? Memiliki nyali yang besar untuk memeluk sang putri raja seperti ini," godanya, kemudian Gantara memberikan sebuah kecupan di bahu Ruanindya, "Dan melakukan hal ini."

__ADS_1


Blush!


Wajah Ruanindya seketika memerah bak kepiting rebus. Sang panglima yang kaku itu kini sudah berhasil menggodanya. Apa ini sisi lain dari Gantara Wisesa yang baru ia tahu?


"Ka-kau bahkan telah mencium bibirku, memelukku seperti ini tidak ada apa-apanya," Ruanindya merutuki dirinya sendiri di dalam hati, apa yang barusan ia katakan?


Kata-katanya sendiri benar-benar telah membuatnya tersipu malu hingga leher dan telinganya ikut memerah.


"Kau benar. Malam itu kita telah berciuman bibir sangat dalam," untuk pertama kalinya dalam hidup, Gantara melontarkan kata-kata yang menurutnya tidak senonoh, namun ia sendiri tidak dapat menahan untuk membisikannya di telinga Ruanindya yang memerah. Menggoda sang putri mungkin kini telah menjadi hobi barunya.


"Di-diam!" Ruanindya merasakan pipinya memanas dan jantungnya berdetak dengan cepat. Lelaki tampan yang tengah memeluknya ini benar-benar telah mencuri hatinya. Lupakan angan dan mimpinya tentang bertemu dengan seorang pangeran tampan berkuda putih yang ia inginkan untuk mempersuntingnya, seorang Gantara Wisesa bahkan lebih indah dan menakjubkan dari seorang pangeran berkuda putih.


"Baiklah aku akan diam dalam artian tidak berbicara, namun untuk hal lain sepetinya aku tidak bisa diam Rua..." Gantara membalikan tubuh Ruanindya hingga kini mereka berdua saling berhadapan, lalu memeluk pinggang sang putri dengan erat hingga tubuh mereka benar-benar menempel satu sama lain.


Sang panglima meraih dagu Ruanindya lalu perlahan mengangkatnya hingga membuat gadis ayu itu mendongak.


Ruanindya menatap mata elang Gantara dengan mata bulatnya yang jernih untuk sesaat sebelum ia dengan cepat segera memejamkan matanya. Ruanindya sangat tahu apa yang akan dilakukan Gantara dan ia sendiri tentunya tidak akan menolak sama sekali. Ruanindya meremas baju bagian belakang yang Gantara kenakan demi meredam rasa gugupnya dan juga jantungnya yang berdetak cepat seperti genderang perang.


Perlahan Gantara mendekatkan wajahnya pada wajah Ruanindya hingga akhirnya kedua bibir itu kembali bertemu pada satu titik dengan lembut.


Pagi itu Gantara tengah berlatih di depan kamar Ruanindya. Bagaimanapun ia tidak bisa hanya bersantai dan membiarkan otot-ototnya mengendur. Ia harus tetap kuat dan tangkas untuk bisa melindungi sang putri dengan baik.


Pada latihan jurusnya yang kelima, Layung Sari dan Antasena datang menghampiri sang panglima. Gantara segera menghentikan latihan dan mengambil sebuah kain untuk menyeka peluh yang bercucuran di tubuhnya.


Mata Layung Sari berkilau menyaksikan Gantara yang tidak mengenakan pakaian atasnya dan menampilkan otot-otot tubuhnya yang terbentuk sempurna, peluh yang kini bercucuran membasahi tubuh pendekar tampan itu justru membuatnya terlihat semakin maskulin dan menggoda. Layung Sari menyunggingkan senyum di bibir merahnya begitu sampai di hadapan Gantara, "Selamat pagi Kakang."


"Selamat pagi," setelah menyeka peluhnya, Gantara segera kembali mengenakan bajunya.


"Dimana tuan putri?" tanya Layung Sari basa-basi, namun Antasena lah yang sebenarnya ingin sekali tahu jawaban dari pertanyaan yang Layung Sari ajukan pada Gantara.


"Tuan putri masih tidur di dalam kamar, sepertinya ia kelelahan," kata-katanya sendiri membuat Gantara mengingat ciumannya dengan Ruanindya semalam. Gantara berdehem demi meredakan euforia yang tiba-tiba meledak di hatinya.


Mata Layung Sari berbinar, ini adalah kesempatan emas untuknya supaya bisa berduaan dengan Gantara, "Kakang aku dengar kudamu sangat bagus, bolehkan aku melihatnya sekarang?" Layung Sari menggamit lengan Gantara dan bergelayut manja, "Kuda betinaku memasuki masa kawin, sepertinya kudamu adalah pejantan yang sangat bagus untuknya," Layung sari tersenyum menggoda dan menatap Gantara sambil mengigit bibir bawahnya.

__ADS_1


Laki-laki mana pun yang melihat keelokan dan kemolekan Layung Sari apalagi dengan kata-kata dan tingkahnya yang menggoda menyiratkan hal yang intim yang sangat jelas pasti membuat mereka bertekuk lutut padanya dan mengerti maksud dari perkataan gadis cantik itu, namun tidak dengan Gantara.


"Tunggu lah sampai putri bangun," Gantara tentu tidak mau meninggalkan Ruanindya sendirian apalagi dalam keadaan sang putri yang masih tidur.


Layung Sari cemberut, "Itu mungkin akan lama, biarkan Kakang Antasena yang akan menjaga tuan putri. Kakang jangan khawatir dengan keselamatan tuan putri karena kakang Antasena adalah murid ibunda yang terhebat."


Gantara mengalihkan pandangannya pada Antasena. Antasena mengangguk, bibirnya melengkung membentuk sebuah senyuman, "Aku akan menjaga tuan putri dengan baik. Panglima bisa mengantar Dinda Layung untuk melihat kudamu."


Gantara menghela nafas, sekalipun ia tidak bisa mempercayakan keamanan Ruanindya begitu saja pada orang lain, namun ia juga harus membalas kebaikan hati Nyai Sokawati yang telah memberi dirinya dan Ruanindya tempat tinggal dan tempat perlindungan bahkan sampai membentuk kekuatan untuk mendukung sang putri. Ia harus lah bisa membawa diri dan membalas budi, "Baiklah."


Mendengar jawaban Gantara, Layung Sari bersorak dalam hati, "Mari Kakang," ajaknya dengan semangat.


Gantara dan Layung Sari akhirnya pergi ke kandang kuda bersama, dengan Layung Sari yang menggamit lengan Gantara dengan manja disepanjang perjalanan. Gantara sudah mengingatkan Layung Sari supaya melepas pelukan pada lengannya karena ia merasa tidak enak pada para murid padepokan yang melihat mereka, namun Layung Sari tidak perduli dan mengabaikannya, tidak melepaskan lengan Gantara dari pelukannya barang sebentar saja.


Sepeninggalan Gantara dan Layung Sari, Antasena menajamkan pendengarannya dan ia dapat mendengar hembusan nafas teratur di dalam kamar. Ruanindya benar-benar masih tertidur di dalam sana.


Dengan perlahan Antasena membuka daun pintu tersebut dan masuk ke dalam kamar kemudian kembali menutup pintunya.


Sesampainya di dalam kamar ia mendapati Ruanindya yang masih terbaring di atas ranjang, tengah tertidur dengan nyenyak.


Antasena mendekat dan berdiri di samping ranjang dan mengamati Ruanindya. Wajah ayu dan putih itu tampak tenang dan lugu, rambut hitam panjangnya tergerai indah di atas bantal, bibir tipis semerah mawarnya sedikit terbuka, tubuh ramping gadis ayu itu tengah terbaring dengan tenang di atas ranjang.


Niat awal Antasena yang hanya ingin melihat Ruanindya dari dekat telah berubah dengan pemandangan indah yang tersaji di hadapannya. Akal sehatnya telah berkurang dan diisi oleh hasrat.


Antasena duduk di tepi ranjang di sisi Ruanindya. Perlahan ia membungkukan tubuhnya dan mengecup bibir merah sang putri, melihat tak ada reaksi dari Ruanindya membuat Antasena lebih berani untuk kembali mencium bibir gadis berparas ayu itu.


"Mmh..." Ruanindya melenguh, namun tetap tidak membuka kedua mata indahnya yang terpejam ketika ia telah bangun dari tidurnya. Ia menikmati ciuman itu, Ruanindya mengira orang yang tengah menciumnya adalah kekasihnya, Gantara.


Namun ketika kesadarannya mulai terkumpul, Ruanindya merasa ada yang salah, aroma ini... bukan lah aroma tubuh Gantara.


Ruanindya membuka matanya dan seketika itu matanya terbelalak lebar karena kaget melihat wajah lain yang kini tengah menciumnya. Dengan refleks Ruanindya mengaliri telapak tangannya dengan tenaga dalam yang pekat lalu memukul dada orang yang kini tengah menciumnya hingga ciuman itu terlepas dan tubuh orang itu terpental beberapa langkah ke belakang.


"Uhuk!" Antasena memuntahkan seteguk darah dari mulutnya.

__ADS_1


Ruanindya menyambar Pancasona yang sengaja diletakkan Gantara di sampingnya. Sang putri melompat turun dari ranjang dan berdiri dengan waspada, mencabut Pancasona dari sarungnya dan menghunuskan pedang sakti itu kearah Antasena. Tatapannya memerah karena amarah, "Lancang!" ucap Ruanindya murka sambil menyeka bibirnya kasar dengan lengan bajunya.


Bersambung...


__ADS_2