Runaway

Runaway
Chapter 32 - Ketakutan Ruanindya


__ADS_3

**Chapter 32


Ketakutan Ruanindya


Novel ini adalah fiksi.


Peristiwa, tokoh, karakter, tempat dan lokasi yang digambarkan dalam novel ini hanyalah fiksi semata.


Adanya kemiripan dengan peristiwa, tokoh, karakter, tempat dan lokasi yang ada di dunia nyata hanyalah kebetulan semata**.


"Argh!"


Mendengar teriakan itu, Gantara langsung memasang sikap waspada. Bagaimanapun dirinya adalah ketua dari rombongan ini, "Apa yang terjadi?" tanya Gantara dengan lantang.


"Ada seseorang yang terluka," jawab salah seorang murid padepokan Nyai Sokawati yang ikut dalam rombongan.


"Dimana dia?" tentu saja Gantara harus menanyakan keberadaan orang yang terluka itu karena rombongannya bukanlah rombongan yang kecil. Rombongan yang dipimpinnya adalah rombongan yang lumayan besar, berjumlah seribu orang lebih.


"Di sini!" sepasang tangan melambai memberikan tanda, membuat orang-orang menyingkir memberikan jalan pada Gantara, Ruanindya, Antasena, Ling Hua, dan Rasti.


Kelima orang penting dalam rombongan itu berjalan beriringan menuju tempat dimana seseorang tengah terbaring dan mengerang kesakitan.


"Dia kenapa?" tanya Ling Hua cepat setelah mereka berdiri di samping orang yang terbaring dan terlihat kesakitan.


"Dia terkena gigitan ular di kakinya," jawab salah seorang teman pendekar yang terkena gigitan ular.


"Tolong bantu ia duduk. Jika ini luka gigitan ular berbisa maka bekas gigitan harus lebih rendah dari jantung," perintah Ling Hua tegas dan tanpa ragu.


Pendekar yang semula hanya berjongkok di samping temannya segera membantu pendekar yang terkena gigitan ular untuk duduk lalu menyangganya.


Ling Hua dan Rasti langsung berjongkok di samping kaki orang yang terkena gigitan ular.


"Kau harus tetap tenang dan jangan banyak bergerak," instruksinya pada pendekar yang terkena gigitan ular dan hanya mendapat anggukan lemah dari pasiennya sebagai jawaban. Tabib hebat itu mencari bekas gigitan ular dan menemukannya di kaki kanan si pendekar. Ling Hua langsung merobek celana pendekar itu hingga ke lutut supaya lebih memudahkannya untuk mengobati luka.


Ling Hua memeriksa bekas gigitan ular di kaki si pendekar. Kalau yang menggigitnya adalah ular berbisa maka bekas gigitan hanya akan meninggalkan dua titik luka karena ular yang berbisa itu hanya memiliki dua taring penyuntik bisa di atas dinding mulutnya, sedangkan jika bentuk bekas gigitan seperti tapal kuda atau dengan titik-titik luka yang banyak itu artinya yang menggigitnya adalah ular yang tidak berbisa.


Ling Hua menemukan dua titik bekas gigitan pada kaki pendekar itu. Jelas itu gigitan ular berbisa.


Rasti dengan sigap membuka buntalan kain yang ia bawa. Buntalan kain itu berisi peralatan pengobatan milik Ling Hua dan berbagai macam ramuan obat.

__ADS_1


Dengan cekatan Ling Hua mengambil kain panjang yang ada di dalam buntalan lalu mengikatkan kain itu di kaki si pendekar. Kain itu diikatkan di atas dari luka gigitan agar mencegah racunnya menyebar. Ling Hua mengikatnya dengan pas, tidak terlalu kencang ataupun kendur untuk mencegah racun ular agar tidak menyebar, namun tidak sampai menghentikan aliran darah. Pengikatan yang salah berpotensi untuk membuat seluruh jaringan yang ada di bawah ikatan yang sangat kuat mati. Matinya seluruh jaringan adalah karena peredaran darah yang terhenti secara total. Tidak boleh bertindak gegabah karena amputasi adalah akibat dari kematian jaringan.


Rasti menyodorkan pisau kecil pada Ling Hua. Pisau kecil itu sangat tajam dan sudah disterilkan sebelumnya.


Ling Hua tanpa ragu menyayat tepat pada bekas luka gigitan ular. Setelahnya tabib hebat itu menekan-nekan area di sekitar sayatan yang ia buat hingga darah berwarna merah gelap mengucur dari sayatan itu. Darah berwarna gelap itu adalah darah yang sudah terkontaminasi oleh racun ular.


Ruanindya yang melihat itu hanya bisa meringis dan tanpa sadar meremas lengan Gantara. Sedangkan Gantara yang merasakan remasan di lengannya hanya membiarkan itu dan tetap memperhatikan apa yang dilakukan oleh Ling Hua. Menurut Gantara, apa yang dilakukan Ling Hua saat ini adalah ilmu pengetahuan yang sangat berguna baginya, apalagi ia harus menjaga orang yang ia cintai. Gadis ayu yang kini tengah meremas lengannya.


Ling Hua terus menekan area di sekitar sayatan yang dibuatnya hingga darah yang keluar terlihat merah segar barulah tabib hebat itu berhenti. Racun ular telah berhasil dikeluarkan semua dari dalam tubuh si pendekar. Ling Hua mengambil kain bersih yang kering lalu menyeka luka di kaki pasiennya hingga bersih lalu mengoleskan obat buatannya untuk meringankan pembengkakan. Tabib hebat itu melepaskan ikatan di kaki si pendekar agar peredaran darahnya kembali lancar, dan setelahnya luka itu dibalut dengan rapih.


"Pfiuh... untunglah kita tidak terlambat," setelah membersihkan tangannya sendiri, Ling hua menyeka buliran-buliran keringat di keningnya.


"Terima kasih telah menyelamatkan salah satu rakyatku. Tabib Ling Hua benar-benar hebat," puji Ruanindya tanpa ragu. Sang Putri merasa sangat lega pendekar itu selamat.


"Tuan Putri terlalu berlebihan. Sudah tugasku untuk menolong mengobati orang yang sakit," sejujurnya Ling Hua merasa senang dan tersanjung mendapat pujian dari Putri raja pemilik negeri yang tengah ia tinggali.


Antasena menatap Rasti dalam diam. gadis mungilnya itu tidak terlihat takut sama sekali, tetap tenang, dan cekatan. Di mata Antasena, Rasti sudah terlihat seperti seorang tabib yang hebat. Antasena menyunggingkan sebuah senyum.


"Awasi dia. Mungkin ia akan demam atau merasakan panas-dingin," Ling Hua memberikan nasihat pada teman dari si pendekar yang terkena gigitan ular.


"Lebih baik untuk semantara ia naik di kereta kuda bersama tabib Ling Hua agar lebih terpantau," usul Ruanindya.


"Benar kata Tuan Putri. Biar aku nanti yang menumpang pada kuda salah satu pendekar," Rasti setuju dengan ide Ruanindya. Dirinya masih segar bugar jadi tidak masalah kalau harus berkuda. Nalurinya sebagai calon tabib tentu akan lebih mengutamakan orang yang sakit.


Mau tidak mau semua orang setuju dengan keputusan Ruanindya. Hanya satu orang yang sebenarnya sangat tidak setuju dengan keputusan Sang Putri, yaitu Antasena. Niatnya yang ingin berkuda dengan Rasti menjadi gagal total.


Ruanindya melirik Gantara sembari tersenyum. Gantara membalas lirikan kekasihnya, 'Pintar mengambil kesempatan dalam kesempitan.'


Layung Sari sebenarnya tahu tentang keributan itu. Tetapi ketika gadis cantik itu akan mendekat, ia melihat Gantara dan Ruanindya sudah berada di sana jadi layung Sari membatalkan niatnya dengan wajah masam. Nyai Sokawati yang melihat tingkah Putrinya hanya bisa merasa khawatir.


Setelah semuanya cukup beristirahat, makan dan minum, rombongan kembali melanjutkan perjalannya.


Seperti yang sudah disepakati sebelumnya, si pendekar yang terluka untuk sementara dibawa dalam kereta kuda bersama Ling Hua dan Rasti karena kemungkinan ia akan mengalami pembengkakan atau merasakan panas-dingin.


Sementara Ruanindya sendiri sekarang berkuda bersama Gantara seperti yang ia inginkan. Hal yang sejak awal selalu Ruanindya ributkan kini malah ia nikmati dan sudah tidak jadi masalah lagi baginya. Duduk di depan Gantara saat berkuda. Ruanindya sudah tidak peduli lagi dengan pandangan semua orang, yang ia inginkan sekarang adalah menghabiskan waktu sebanyak mungkin dengan Gantara sebelum mencapai istana Kertalodra.


Apa yang akan Ruanindya hadapi ketika kembali ke istananya adalah sebuah peperang, sebuah pertempuran untuk merebut kembali takhta dari para pemberontak. Siapa yang tahu apa yang akan ia hadapi nanti, bisa saja kemenangan, kekalahan, atau bahkan mungkin kematian. Maka dari itu, kalau ia harus mati nanti, dirinya ingin lebih banyak menghabiskan waktu untuk bersama dengan kekasihnya.


Ruanindya tengah takut. Ini adalah pertempuran pertamanya sebagai seorang Putri dan seorang pendekar. Tapi yang paling ia takutkan adalah berpisah dengan Gantara.

__ADS_1


Ruanindya sangat percaya akan kemampuan dan kekuatan Gantara, kekasihnya itu pasti akan bisa tetap hidup. Namun dirinya sendirilah yang Ruanindya khawatirkan tidak bisa mempertahankan hidupnya. Kalau dirinya terbunuh dalam peperang ini, maka ia akan berpisah dengan Gantara untuk selamanya. Ketakutan itu akhirnya berubah menjadi kesedihan di hati Ruanindya.


"Apa kau ingin pindah duduk di belakangku?" Gantara mempertimbangkan keinginan Sang Putri selama ini. Biasanya dalam perjalanan mereka hanya berdua, namun sekarang mereka dalam rombongan seribu orang lebih, itu mungkin akan membuat Ruanindya sangat malu. Lagi pula kalaupun Ruanindya duduk di belakangnya, punggung kekasihnya akan aman karena banyak pendekar dalam rombongan yang berkuda di belakang mereka.


"Aku tidak mau. Biarkan saja begini," Ruanindya berkata dengan lirih. Diam-diam ia memegang tangan Gantara yang sedang menggenggam tali kekang Beliung.


Gantara merasa tingkah Ruanindya tidak biasa. Sang Panglima melirik wajah Ruanindya dan ia bisa melihat dengan jelas ada gurat kesedihan di paras ayu kekasihnya, "Kau tidak bisa berbohong padaku Rua."


Ruanindya hanya menundukan kepalanya dalam diam. Tidak berniat membalas perkataan Gantara.


Ketika malam menjelang, atas perintah Gantara rombongan kembali menghentikan perjalanan. Sang Panglima ingin agar orang-orang dalam rombongan tidak kelelahan dan menjaga kondisi tubuh mereka tetap prima untuk perang nanti.


Perang ini bukan perang yang terlalu mendesak jadi lebih baik mereka bertindak dengan hati-hati dari pada harus gegabah dan terburu-buru, namun malah menjauhkan mereka dari kemenangan.


Orang-orang dalam rombongan berbagi tugas. Ada yang membersihkan area untuk mereka bermalam, ada yang mendapat tugas untuk memasak, berjaga, membuat api unggun, dan mendirikan beberapa tenda. Tenda yang paling besar tentu saja didirikan untuk Sang Putri.


Setelah makan malam, ada sebagian yang berbincang dan ada sebagian lainnya yang memutuskan untuk langsung beristirahat, Ruanindya salah satunya.


Ruanindya merasa lelah, bukan karena perjalanan yang ia tempuh melainkan karena pikirannya sendiri.


Ruanindya berbaring menyamping dan Gantara memeluknya dari belakang. Kepala Sang Putri berbantalkan lengan kekar kekasihnya. Benar-benar posisi yang nyaman untuk keduanya sekalipun hanya beralaskan tikar.


"Katakan padaku apa yang sedang kau pikirkan," Gantara berkata dengan suara rendahnya tepat di samping telinga Ruanindya.


Hembusan nafas Gantara yang menerpa tengkuk dan telinganya, juga suara rendah Sang Panglima membuat Ruanindya merinding, "Hmm..." gadis ayu itu menggigit bibir bawahnya. Ragu untuk memberitahukan pada Gantara apa yang tengah membebani pikirannya. Ruanindya takut kalau Gantara akan marah bila mendengarnya, "Aku... tidak apa-apa."


"Masih mau mengelak? Dari raut wajahmu saja sudah terlihat bahwa ada hal yang membebani pikiranmu."


"Haa? Apa benar-benar jelas terlihat?" Ruanindya dengan polosnya menyentuh wajahnya sendiri.


"Iya. Sangat terlihat. Maka dari itu, lebih baik kalau kau menceritakannya padaku."


Ruanindya mencebikan bibirnya. Apa ia tidak bisa berbohong pada Gantara atau tidak bisa menyembunyikan sesuatu darinya? Kekasihnya itu benar-benar jeli dan tahu akan dirinya, "Tapi kau harus janji untuk tidak marah."


Gantara mengerutkan keningnya hingga kedua alis tebalnya terajut, "Apa kau telah melakukan sesuatu yang buruk?"


Ruanindya menggeleng cepat, "Tidak. Tidak. Bukan begitu. Hanya... berjanjilah saja dulu."


Sang Panglima menghela nafas. Mau tidak mau ia harus mengalah kalau dirinya ingin tahu apa yang Sang Putri pikirkan, "Baiklah. Aku berjanji tidak akan marah."

__ADS_1


Ruanindya sebenarnya masih merasa ragu dan takut untuk mengatakan apa yang membebani hatinya. Tapi bukankah Gantara seorang pendekar yang jantan? Tentu Gantara tidak akan mengingkari janjinya, "Aku takut... aku takut kehilanganmu. Dalam perang ini aku takut tidak bisa mempertahankan hidupku dan harus berpisah denganmu. Aku sangat takut Gantara..."


Gantara terdiam cukup lama, dan membuat Ruanindya semakin takut menantikan reaksi seperti apa yang akan ia dapatkan dari kekasihnya.


__ADS_2